The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 41


__ADS_3

Hembusan angin menerpa rambut pirang milik seorang gadis yang tengah berdiri di balkon apartemennya. Rambut bergelombang itu bergoyang-goyang hingga menghalangi pandangannya.


Jasmine kembali mengeratkan cardigan yang di pakainya untuk menghalangi hawa dingin yang menusuk kulit, meski percuma.


Sejak Evan mengajaknya pergi ke makam ibunya, ia jadi rindu dengan ayah dan ibunya juga di New York. Jasmine juga ingin mengunjungi makam sang ibu, tapi Evan melarangnya.


Menyebalkan sekali bukan?!


Sudah beberapa menit berlalu Ia berdiri di balkon, tapi Evan tak kunjung menyuruhnya masuk. Sebenarnya apa yang di lakukan pria itu di dalam sana? Kenapa lama sekali.


"Ev..." Perkataan-nya terhenti begitu sosok pemilik nama sudah membuka pintu dan berdiri di hadapannya.


"Kenapa lama sekali sih?" Jasmine menggerutu.


"Aku minta maaf, ayo masuk lah." Evan meraih tangan Jasmine dan mbawa wanita itu masuk.


Jasmine tercengang untuk sesaat, ruang tamunya berubah lebih rapih dari sebelumnya, dan kini sudah tersedia berbagai macam masakan di atas meja makan.


"Ini semua kau yang menyiapkan?" Jasmine menoleh sekilas ke arah Evan dan kembali menatap ruangan yang sudah di dekorasi oleh pria itu.


"Tentu saja aku. Siapa lagi?" Evan mengikis jaraknya dengan Jasmine, berdiri di belakang wanita itu. "Kau menyukainya?"


Jasmine pun mengangguk mantap degan mata berbinar, "aku sangat menyukainya. Terimakasih."


"Sekarang aku meminta imbalan ku" Bisiknya di telinga Jasmine, membuat tubuh gadis itu menegang seketika.


"I-imbalan apa?" Jasmine mencoba ketus meskipun gagal, karena nyatanya ia gugup setengah mati.


Lantas Evan menarik bahu Jasmine hingga gadis itu berubah posisi berhadapan dengannya.


"Selamat ulang tahun sayang." kecupan singkat mendarat di kening Jasmine, lalu berpindah di bibirnya.


Wanita itu cukup terkejut dengan aksi Evan barusan. Tapi, ia lebih terkejut dengan keahlian Evan mencari tau data seseorang.


"Kau tau hari ulang tahun ku?" Jasmine menatap tidak percaya.


"Aku tau segala tentangmu, bahkan ukuran dadamu aku juga tau." Kekehnya geli. Ia sering sekali tidak sengaja menyentuhnya saat memeluk gadis itu ketika tidur.


Jasmine menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan mendelik tajam. "Bagaimana bisa kau tau?"


"Aku tidak sengaja menyentuhnya saat kau tertidur." Evan berucap santai seolah-olah itu hanya hal sepele. Bahkan pria itu terkikik geli melihat ekspresi Jasmine.

__ADS_1


"Kau!!! Dasar tidak sopan!!" Jasmine meraih garpu yang tergeletak di atas meja dan mengarahkannya pada Evan.


Bukannya menyerang, Jasmine justru terhipnotis dengan tatapan Evan yang seolah menyihirnya, saat Evan menahan pergelangan tangannya. Gadis itu tak berkedip, bahkan ketika Evan mendekatkan wajahnya pun Jasmine malah memejamkan mata.


"Kenapa kau menutup mata? Kau berharap aku akan mencium mu lagi?" Evan terkekeh geli melihat tingkah Jasmine. "Kau gagal untuk menyakiti ku darling."


Jasmine berdesis dan berbalik arah. Lebih baik ia duduk dan makan, daripada harus meladeni si pria gila itu.


"Make a wish. Jangan lupakan itu" Evan menghentikan pergerakan Jasmine yang hendak memakan omlette buatannya.


Jasmine mendelik tajam saat piring omlette itu di rebut oleh Evan, lalu menghembuskan nafas kasar dan meraih kue kecil dengan satu lilin menancap di atasnya.


Jasmine memejamkan matanya sejenak untuk berdoa, membuat sebuah harapan. Harapannya adalah ingin bertemu dengan orang tuanya.


"Sudah" kata Jasmine setelah membuka matanya.


"Good girl" Evan menepuk-nepuk kepala Jasmine seperti anak kecil.


"Aku bukan anak kecil! Singkirkan tangan mu!" Jasmine merengut dan kembali meraih omlette itu dan langsung melahapnya. Masa bodoh dengan image atau tata krama, ia sudah lapar. Terlebih sejak beberapa jam yang lalu ia harus menahan lapar karena menunggu di balkon, di temani hembusan angin yang begitu dingin.


"Pelan-pelan saja." Evan memperingati Jasmine setelah mendudukkan diri di samping wanita itu.


Evan hanya menggelengkan kepalanya takjub dengan sikap masa bodoh Jasmine, dan itu lah yang membuat ia tidak bisa melepaskan wanita itu begitu saja. Tidak akan.


Makan malam itu begitu syahdu, Evan benar-benar memperlakukan Jasmine layaknya manusia. Dan Jasmine sendiri begitu menikmati kebersamaan itu. Hingga malam berlalu dan Evan berpamitan pulang. Karena ia ada urusan organisasi dengan Jonathan pagi-pagi sekali, dan tidak akan cukup waktu jika harus menginap bersama kekasihnya.


"Aku pamit, jangan lupa kunci pintu. Dan hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Jasmine mengangguk, lalu berjinjit untuk mengecup sekilas bibir Evan. "Terimakasih atas kejutannya"


Evan tak mampu lagi menahan rasa gemasnya, lantas ia kembali meraup bibir ranum yang menggoda itu. Mencecap-nya beberapa kali hingga ia nyaris kembali masuk ke dalam apartemen Jasmine dan meniduri gadis itu. Sayangnya tuntutan pekerjaan setan sudah menunggunya.


Benjamin sialan!


***


Pagi-pagi sekali Jasmine sudah terbangun dan bersiap-siap. Setelah tau bahwa Evan akan pergi ke luar negri beberapa hari untuk urusan bisnis, ia akan memanfaatkan waktu itu untuk menjenguk orang tuanya.


Jasmine akan kembali sebelum Evan kembali lebih dulu. Semoga saja pria itu tidak tau dengan rencananya ini.


Di dalam taxi Jasmine terus bergerak gelisah, ia takut jika Evan tau, dan mengejarnya. Tidak bisa di bayangkan bagaimana murkanya Evan jika tau kalau ia melarikan diri.

__ADS_1


"Sudah sampai Nona" kata pengemudi itu, dan seketika membuyarkan lamunan Jasmine. "Cepat sekali."


Pengemudi taxi itu tertawa mendengar gumaman Jasmine, padahal tadi mobilnya sempat terjebak macet karena ada kecelakaan.


"Terimakasih"


Jasmine turun dari dalam taxi, dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam Bandara. Langkah sesekali terjegal oleh kakinya sendiri karena tidak fokus, matanya mengedar ke seluruh area Bandara. Takut takut Evan mengikutinya, dan akan membawanya kembali ke rumah.


Saking tidak fokusnya Jasmine sampai menabrak tubuh seseorang.


Brukk


"Aww" Jasmine memekik kesakitan, sembari mengusap lututnya yang sakit.


"Maaf Nona, aku tidak sengaja. Apa kau baik baik saja?"


Suara bariton itu terdengar menelusup ke dalam indra pendengaran Jasmine, membuat dirinya semakin takut.


Jasmine mendongak ketika pria itu membantunya untuk berdiri. Pakaian pria itu serba hitam, mambuat jantung Jasmine berhenti berdetak beberapa detik.


"Apa kau terluka Nona?" Pria itu kembali bertanya, dan mengembalikan kesadaran Jasmine bahwa pria di depannya ini bukan lah Evan, atau saudaranya.


"Huft..." Jasmine menghembuskan nafas lega.


"Heii, kau kenapa? Wajah mu pucat sekali Nona? Apa kau sedang dalam bahaya?"


Jasmine menggeleng, "tidak, aku baik baik saja." Jasmine kembali meraih kopernya hendak berlalu dari sana.


"Tunggu! Kau wanita di supermarket tempo hari bukan?" Pria itu menghentikan langkah Jasmine yang nyaris berlalu.


"Supermarket?" Jasmine mengerutkan keningnya, "apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Pria itu tersenyum lebar menampilkan ketampanan yang hakiki. "Aku Jasson, kau lupa?"


"Jasson?"


🍁🍁🍁


To be continued...


__ADS_1


__ADS_2