The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 64


__ADS_3

Jasmine terus bergerak mundur dengan tangan yang siap menusukan pisau ke lehernya, rasa takut yang mulai menggelayuti Jasmine membuat benda tajam itu basah oleh keringat.


Jujur saja Jasmine takut untuk membayangkan pisau itu menancap di lehernya, ia hanya berpura-pura berani saja.


Jika ia mati seketika mungkin tidak akan tau rasa sakitnya, tapi jika tidak mati bagaimana?


"Kemarikan pisau itu." Pinta Xelo sembari mengulurkan tangannya.


"No!" Jasmine semakin menekan ujung pisau itu ke lehernya. Hingga membuat Xelo panik namun berusaha tetap tenang.


"Kau yakin sanggup menahan rasa sakitnya?"


"Te-tentu." Sahut Jasmine gugup.


Xelo terus membujuk dengan memanipulasi pikiran Jasmine. Perlahan-lahan melangkah mendekati gadis itu yang semakin tersudut.


Sementara Jake diam diam berjalan ke samping, ketika melihat kesempatan saat Jasmine dan Xelo berdebat. Lalu dengan gerakan cepat ia mengambil alih pisau itu lalu membuangnya, dan memutar tangan Jasmine kebelakang punggung.


"Aww... shit!!" Jasmine memekik kesakitan, karena Jake begitu kasar.


"This hurts, stupid!!"


"Kau terlalu banyak bicara." Balas Jake. Pria itu tak memperdulikan umpatan Jasmine, Jake tetap berbuat seenak jidatnya tanpa peduli jika tangan Jasmine nantinya akan patah.


"Kau menyakitinya bodoh!! Kau lupa jika dia miliku sekarang?!" Xelo marah.


"Kau dengar itu bodoh?!!" Jasmine ikutan marah. Tidak peduli dengan ucapan Xelo tentang dirinya menjadi milik pria aneh itu, yang penting ia di bela.


"Cih, sejak kapan kau lemah dengan wanita?" Balas Jake tak mau kalah.


"Sudah cukup, kalian jangan berdebat lagi. Evan dan brian sudah berhasil masuk ke pertahanan kita di lantai bawah" Tuan Anderson yang baru saja masuk langsung menghentikan perdebatan itu.


Dan mereka berdua pun langsung diam.


Evan dan Brian ada disini? ucap Jasmine dalam hati. Dan senyum tipispun terukir di bibirnya hingga memancig Xelo untuk berbicara.


"Ini adalah hari terakhir mu melihat bajingan kecil itu hidup. Karena aku akan mengirimnya ke Neraka"


Jasmine tak merespon, hanya diam. Biar saja pria itu berucap semaunya, ia tidak peduli. Karena ia yakin Evan tidak akan mudah mati begitu saja. Iya yakin itu, karena Evan titisan Iblis.


"Bawa gadis itu keluar" Titah tuan Anderson.


Xelo dan Jake pun menuntun Jasmine keluar dari ruangan.


"Lepas! aku bisa jalan sendiri!" Jasmine meronta. Namun sama sekali tak di indahkan oleh Jake yang justru semakin mengeratkan cekalan-nya sambil menyeret tubuh Jasmine.


Sepanjang berjalan di lorong mansion, Jasmine terus meronta sambil berteriak meminta di lepas.

__ADS_1


"Diam kau!" Bentak Jake keras hingga membuat Jasmine berjengit kaget.


Mereka pun berhenti tepat di tepian pagar pembatas di lantai dua. Kemudian mendorong tubuh Jasmine hingga setengah tubuhnya menggantung di pagar.


"Aaa..." Jasmine memekik keras, membuat perhatian dua pria di lantai bawah yang sedang bertarung pun teralihkan.


"Jessy" seru Evan dan Brian bersamaan sembari menatap Jasmine khawatir. Sedangkan di sekelilingnya para pria bergerombol dengan membawa masing masing senjata di tangannya.


Di saat Kaka beradik itu lengah, Tuan Anderson memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Mereka mengayunkan besi dan stik baseball itu dengan beringasnya tanpa henti hingga membuat Evan dan Brian kualahan.


"Evan!!!" Jasmine memekik keras dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Stop it, please!!" Pintanya penuh harap pada para bajingan itu.


Baik Jake maupun Xelo tak menghiraukan ucapan Jasmine, terlebih tuan Anderson. Meski gadis itu sampai menangis darah sekalipun, mereka tidak peduli.


Sementara Brian dan Evan berusaha menyerang balik, meski mereka tak di beri kesempatan sedikitpun.


Melihat Evan yang tak kunjung menyerah, lantas  Jake menyeret tubuh Jasmine untuk turun ke lantai bawah, dimana Evan dan Brian berada. Meski Xelo tidak setuju dengan cara kasar Jake terhadap Jasmine, tapi ia cukup menikmati kesakitan yang Evan rasakan karena hal itu.


"Menyerah, atau wanita mu akan merasakan siksaan terlebih dulu sebelum menemui ajalnya!" Ancam Jake sembari menekan pisau di bawah dagu Jasmine. Bahkan sedikit darah mulai terlihat karena Jake terlalu dalam menekan pisau itu.


Jasmine berusaha semampunya menahan rasa perih yang semakin nyata. Meski matanya tak bisa berbohong.


"Don't touch my girl!" Evan geram dan  bergerak maju ingin menghajar Jake dengan tinjunya.


Namun sayang, Tuan Anderson lebih dulu menembak kaki Evan hingga jatuh berlutut. Kemudian di susul anak buah yang lain ikut memukuli.


"Maju lah" Kata Jake memancing amarah Evan.


"sekali kau sentuh wanita ku, maka aku akan menguliti mu hidup-hidup." Balas Evan dengan urat yang menonjol di sekitar lehernya.


"Terlebih kau Xelo" tambahnya.


Rasa sakit yang luar biasa menyiksa di sekujur tubuhnya, tidak berarti apa apa. Lebih menyakitkan jika harus melihat Jasmine di sakiti seperti itu di depan matanya. Jasmine adalah kekuatan sekaligus kelemahannya.


"Cih, dasar pengecut!!" Seru Brian. Pria itu tidak peduli meski  di depannya sudah berdiri para pecundang menjijikan yang siap membunuhnya kapan saja. Tapi Evan dan Brian tak takut sedikitpun. 


Mereka semua pun tertawa lantang, mentertawakan omong kosong kedua  anak Ben. Di tambah melihat darah dan luka robek yang menghiasi wajah tampan Evan dan Brian serta bagian tubuh lainnya yang mungkin juga retak.


"Bicaralah sesukamu, aku akan sedikit berbaik hati padamu sebelum mengirim mu ke neraka sana." Kata tuan Anderson.


"Aku tidak takut, Lakukanlah jika kau mampu pak tua!" Balas Evan dengan nada santai, meski bibirnya robek.


"Ternyata ini kemampuan mu? Hanya banyak bicara" Pria paruh baya dengan rambut kecoklatan itu berucap dengan nada penuh ejekan. Kemudian menarik rambut Evan kebelakang hingga mendongak.


"Dimana kekuatan mu yang selalu di banggakan oleh bajingan tua itu?"


Evan meludahi wajah Anderson diiringi senyuman mengejek. "Itu kemampuan ku."

__ADS_1


Anderson yang marah lantas menghempaskan kepala Evan ke bawah dengan keras hingga membentur lantai. Kemudian mengusap wajah bekas ludah Evan dengan ujung baju anak buahnya. Dan anak buah itu hanya pasrah menerimanya.


Sementara Brian yang melihat sang adik di perlakukan seperti itu pun tidak terima, ia pun berontak dan bergerak maju hingga membuat penjaga yang memeganginya terhempas.


"Bastard!!" Serunya seraya meninju wajah Tuan Anderson.


Bugh!!


Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Brian sebelum tinjunya mendarat sempurna


Dan, seketika tubuh kekar itu kehilangan keseimbangan, kemudian jatuh ke lantai.


"Brian!!" Jasmine menatap perih tak kuasa. Tubuhnya sampai lemas.


Sedangkan Evan hanya diam tanpa ekspresi, wajahnya datar dengan sorot mata tajam. Ia melihat noda merah mulai membasahi rambut Brian hingga mengotori lantai.


Dan detik kemudian, satu persatu dari para penjaga yang memegangi Evan pun tumbang secara tiba-tiba. Bagian kening mereka berlubang dan mengeluarkan darah.


Tentu saja membuat yang lain panik, karena wujud yang menyerang mereka tidak terlihat. Tuan Anderson melihat ke sekeliling dengan raut kesal.


"Keluar kau!! Aku tau ini ulah mu Ben!!"


Suara langkah kaki dan tepukan tangan mulai terdengar dari arah depan, dan munculah beberapa pria berseragam hitam. Serta dua sosok pria bertubuh tegap dengan rambut pirang yang menghiasi dagunya berjalan di barisan paling depan.


"Mari kita selesaikan masalah ini secara jantan... ladies..."


🍁🍁🍁


To be continued...


Maaf lama, aku beberapakali hapus part ini, sampe bener-bener dapet rasanya.


Semoga kalian gak bosen.


Evan.



Brian.



Joe



Papa Ben.

__ADS_1



__ADS_2