
Jasmine bergerak gelisah di atas tempat tidurnya, atau lebih tepatnya tempat tidurnya bersama Evan. Terhitung sudah satu Minggu, semenjak pria tampan itu bergabung dengan perusahaan pria bernama Benjamin, Evan jadi mengabaikan dirinya dan tidak pernah pulang.
Jasmine merasa kesepian. Kemudian ia bangkit terduduk ketika teringat album foto yang ia temukan di perpustakaan kecil bekas menyimpan koleksi barang aneh milik Evan dulu.
Tangannya terulur meraih album foto berwarna putih itu di atas nakas dan langsung membuka halaman pertama.
"Kenapa kau datang kalau hanya membuat ku melayang lalu hilang."
Jasmine berbicara sendiri sembari menatap foto Evan sambil mengusapnya pelan.
Di dalam foto tersebut Evan masih berusia kanak-kanak, dan di sampingnya berdiri seorang wanita cantik yang sedang tersenyum manis.
"Apakah wanita ini ibunya Evan? Cantik sekali. Aku yang wanita saja terpesona melihatnya." Jasmine memuji kecantikan wanita di dalam foto tersebut, lalu membalik lembaran berikutnya.
Tidak jauh berbeda, di dalam foto selanjutnya Evan masih nampak ceria bersama wanita itu. Senyumnya yang khas denga lesung pipi di kedua pipinya menambah kadar ketampanan pria itu.
"Ternyata kau memang tampan sedari kecil ya." Puji Jasmine sambil terkekeh geli.
"Akhirnya kau mengakui ketampanan ku Nona blushing."
Jasmine mengangkat wajahnya dengan raut terkejut, sosok pria yang sejak tadi menguras pikirannya sedang berdiri bersandar di kusen pintu dengan senyum smirk yang menyebalkan bagi Jasmine.
"Evan? Sejak kapan kau disitu?"
"Sejak kau memandangi foto ku" sahut Evan santai dan berjalan mendekat ke arah Jasmine.
"Jadi kau tau semuanya?"
"Tentu, bahkan aku juga tau kalau kau merindukanku."
Jasmine tidak mengelak, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Bahkan Jasmine tak segan untuk meloncat dari atas tempat tidur dan memeluk Evan, hingga pria itu terhuyung kebelakang.
"Oowhh, sabar sayang, aku tidak akan kemana-mana" Evan Kuawalahan menangkap tubuh Jasmine yang menemplok di tubuhnya seperti bayi koala.
"Kau jahat! Aku benci padamu." Jasmine berucap parau, menahan tangis. Ia terus memukuli punggung tegap Evan sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu.
"Kau begitu merindukan ku, hmm?" Evan mengusap punggung Jasmine sembari menghirup aroma tubuh wanita itu yang begitu menenangkan.
"Aku sangat membenci mu" Jasmine mengelak.
"Ahh, baiklah. Kalau begitu aku pergi saja, karena kau membenciku"
"No!" Jasmine menyela cepat, dan Evan tak kuasa menahan tawanya.
"Te Amo babe" Bisik Evan dengan bahasa Spain, dan Jasmine menatap Evan bingung karena tidak mengerti artinya.
"Apa artinya?"
"Kau sangat kurus sayang."
Jasmine marah, dan Evan tertawa kencang. Padahal bukan itu artinya, namun Evan sengaja membuat wanitanya itu kesal.
__ADS_1
Jasmine semakin kesal karena Evan terus mentertawakan dirinya, bahkan Jasmine sampai menangis karena saking bahagianya bisa melihat pria menyebalkan itu lagi.
"Luv you Mr. Psycho" bisik Jasmine tepat di depan bibir Evan, dan langsung di sambut oleh pria itu dengan menciumnya lembut.
Detik-detik berlalu baik Jasmine maupun Evan sama-sama tak ingin menyudahi adegan itu. Mereka saling menumpahkan rindu lewat kecupan itu.
Evan membaringkan tubuh Jasmine di atas ranjang dengan posisi menindih wanita itu. Kecupan ringan itu semakin panas dan menuntut. Bahkan kecupan itu sudah berpindah ke area lain membuat Jasmine tak hentinya mendesah akibat kecupan panas di sertai sentuhan nakal jemari Evan di tubuhnya.
Melihat reaksi Jasmine yang mulai gusar, semakin membuat Evan bersemangat.
"Ahh... S-stop!" Jasmine tak kuasa menahan lagi jika kegiatan itu jika terus di biarkan. Tangan pria itu nyaris melucuti pakaiannya.
Evan mengangkat wajahnya dari ceruk leher Jasmine, menatap wanita itu bingung. "Why?"
Jasmine menggeleng, "aku tidak bisa lebih dari ini."
"Kau takut?"
Jasmine tak menjawab, dan Evan mengerti kebungkaman wanita itu.
"Percayalah padaku, ini tidak menakutkan."
Evan berucap masih pada posisinya di atas tubuh Jasmine dengan kedua sikunya sebagai tumpuan.
Sedang Jasmine terpaku dengan paras tampan pria itu. Mata tajamnya yang sedang menatap ke arahnya membuat nafas Jasmine memburu menahan hasrat yang sudah memuncak.
Jasmine memejamkan matanya, dan Evan mulai memainkan jemarinya di atas tubuh Jasmine. Jari nakal itu menyusuri rahang, mengusapnya lembut.
Sentuhan itu berhenti di bagian pusar Jasmine, dan mengusap lembut permukaan kulit itu hingga Jasmine kesusahan menahan nafasnya.
Dan, ketika jemari Evan mulai membuka kancing celananya serta menarik turun resletingnya, mata Jasmine terbuka sempurna.
Jasmine menggelengkan kepalanya dengan dadanya yang naik turun seolah baru saja lari maraton.
"Nikmati saja, ini tidak sakit."
Evan mendaratkan bibirnya di sana dengan matanya yang terus menatap Jasmine seolah memberi kekuatan melalui sorot matanya.
"Aahh..." Jasmine meremas sprai di sampingnya ketika Evan menghisap kulit di bawah pusarnya. Rasanya bagai melayang di udara.
Sengaja Evan menurunkan sedikit celana Jasmine hingga menyisakan kain tipis nan menerawang berwarna merah. Dan, Evan sengaja meninggalkan jejak panas disana, membuat Jasmine kehilangan kewarasannya.
"Say my name babe"
"Ev..." Jasmine mengerang.
"hm..."
Evan tersenyum, lalu menghentikan kegiatan itu dan duduk menatap raut Jasmine yang sudah di penuhi gairah.
__ADS_1
"Tidur lah ini sudah malam."
Jasmine melongo, ketika pria itu benar-benar membaringkan tubuh di sampingnya sambil memeluk erat. Setelah apa yang sudah pria itu lakukan padanya, dengan seenaknya pria itu menyuruhnya tidur tanpa dosa?
"Kau tidur sungguhan?"
"Hem, lalu apa lagi? Ini sudah malam sayang." Evan menahan tawanya di balik ceruk leher Jasmine.
"Ta-tapi..."
Evan mengangkat kepalanya dan menatap wajah merona Jasmine sembari berucap pelan "Tidak untuk sekarang Nona blushing."
Ok fix. Jasmine baru saja memperlihatkan sisi jalangnya pada pria itu tanpa di pikir lebih dulu.
Ternyata memang benar, jika seorang psycho memiliki sifat memanipulasi hingga tanpa sadar si korban menurut saja.
"Heii...jangan begini, menyingkir lah! Kepala mu berat sekali." Jasmine mendorong kepala Evan menjauh dari dadanya, tapi pria itu justru semakin mengusel di belahan dadanya membuat Jasmine geli.
Tak menghiraukan kicauan sang kekasih, Evan justru memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Jasmine dengan sedikit menghisap benda kenyal itu.
"Aww..."
***
"Kemana bocah itu?" Benjamin bertanya pada Jonathan.
"Dia langsung pergi begitu saja, setelah mendarat di landasan." Jonathan menjawab jujur.
"Dasar anak itu!" Benjamin kesal, "apa dia masih bersama wanitanya itu?" Benjamin bertanya lagi.
"Benar Tuan, Evan menyembunyikan wanitannya itu di mansion-nya. Dan Brian lah yang selama ini melindunginya di saat Evan tidak ada."
Benjamin tidak merespon, pria parubaya itu terdiam dengan wajah datar-nya. "Apa yang lain-nya ikut melindungi?"
"Maksud anda, Tuan Petter, Lucas dan Lionel?"
"Hm"
"Sepertinya tidak." Jonathan menjawab dengan yakin. Dan menjamin mengangguk paham.
"Kau awasi terus dia, karena akan ada banyak yang mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Evan melalui wanitannya itu." Kata Benjamin memerintah.
"Baik."
"Keluar lah." Usirnya. Dan Jonathan pun keluar dari ruangan itu dengan helaan napas lega.
Bagaimana ia bisa meluangkan waktu untuk mencari wanita, jika setiap saat ia harus mengawasi anak-anak Benjamin yang tak terhitung jumlahnya.
CK, bahkan Jonathan sudah lupa kapan ia bermain dengan wanita, setidaknya hanya sekedar untuk mengasah kejantanan-nya saja sebelum berkarat.
Menyedihkan.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Mau di bantu ngasah gak bang Joe😂😂