
Sejak beberapa menit yang lalu Joe berdiri di balik pohon, mengamati sebuah bangunan sederhana. Ia kembali melihat layar ponselnya, menyamakan alamat yang tertera di sana dengan bangunan di depannya.
Sama. Berarti Evan berada di dalam rumah itu. Joe pun mencari kontak Evan dan mencoba menghubungi nya.
Cukup lama Joe menunggu, namun panggilan itu tak kunjung tersambung. Sepertinya Evan memang sengaja mematikan ponselnya agar tidak di ganggu.
Joe pun akhirnya berjalan mendekati rumah itu, namun belum sepenuhnya kaki menapak di halaman rumah Jasmine. Joe melihat sosok pria bertubuh tinggi sedang berdiri di teras rumah itu dengan membawa sebilah pisau yang sengaja di sembunyikan di balik sakunya.
Tentu saja Joe tau kemana arah selanjutnya. Lantas dia pun mempercepat langkahnya hingga menyenggol bahu Jasson.
"Sial!! Heii berhenti!" Jasson berseru, dan Joe pun menoleh ke arah sumber suara.
Bukannya meminta maaf, Joe malah memberikan senyuman menyebalkan dan berjalan mendekat ke arah Jasson.
"Ada apa?" Joe bertanya dengan nada datar. Dan, itu cukup membuat jasson sedikit gentar.
"Apa kau saudara Jasmine?" Jasson bertanya dengan menahan kesal, karena ia tidak ingin menjatuhkan imagenya sebagai calon suami Jasmine. Pria itu berpikir jika joe adalah keluarga Jasmine.
"Aku ingin bertamu, untuk menemui pria yang di cintai kekasih mu itu." Ucapan Joe membuat Jasson berpikir keras. Apa jangan-jangan pria di depan ini adalah keluarga pria tidak sopan itu.
"Kau keluarga dari pria yang tidak ber-etika itu?" Tanya Jasson dengan alis bertaut.
Namun, Joe tak menjawabnya, ia berbalik melanjutkan langkahnya setelah melemparkan senyum menjengkelkan yang membuat Jasson bertambah kesal.
"Dasar botak menyebalkan!" Jasson mengeram kesal, dan menyusul langkah Joe yang sudah lebih dulu mencapai pintu rumah Jasmine.
Sementara di dalam rumah. Evan, Jasmine dan ayahnya sedang makan malam bersama. Namun, mereka menghentikan makan malam itu karena mendengar keributan di luar sana.
Ayah Jasmine beranjak lebih dulu dari kursinya, lalu di susul Evan dan Jasmine yang berjalan beriringan di belakang sang ayah.
Pemandangan pertama yang di lihat oleh ayah Jasmine adalah, Jasson sedang mencengkeram kerah baju seseorang dengan wajah mengeras. Seolah sedang terbakar emosi.
"Ada apa ini?" Tanya ayah Jasmine setelah beberapa detik terdiam memperhatikan Jasson.
Cepat-cepat Jasson melepaskan tangannya dari kerah baju Joe dan berpura-pura mengusap dada pria botak itu, seolah menghilang kan debu.
__ADS_1
"Paman, maaf mengganggu. Aku hanya sedang berbicara dengan paman ini." Tutur Jasson menjelaskan sambil menunjuk Joe, agar calon ayah mertuanya tidak salah paham.
Sementara Evan hanya menggelengkan kepalanya melihat sosok kacung ayahnya berdiri di depan pintu rumah Jasmine. Namun, sorot matanya penuh ancaman pada joe yang sedang memasang tampang bodohnya yang sangat menyebalkan.
"Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku?" Joe langsung bertanya tanpa permisi pada Evan, pria yang sedang bersandar di kusen pintu dengan wajah tanpa dosa.
"Aku tidak membawa ponsel." Sahut Evan sekenanya.
"Kau kan bisa meminjam ponsel kekasih mu itu, apa susahnya menghubungi ku. Kau sungguh merepotkan." Joe berucap datar sembari melirik ke arah Jasmine sekilas, Lalu beralih menatap Evan yang justru terlihat santai tanpa beban.
"Jangan membuat masalah disini. lebih baik paman bawa anak paman itu pergi dan jangan mengganggu calon istri ku lagi." Jasson menyela berdebat antara Evan dan joe dengan sindiran keras.
Joe menoleh dengan raut tidak suka, "Ini urusan ku, kau tidak perlu ikut campur"
Evan menahan tawanya dengan susah payah melihat Joe yang terlampau baik menghadapi Jasson. Biasanya joe tidak akan bersuara, tapi pisaunya yang mengambil peran.
"Sudah, sudah... sebenarnya ada apa ini?" Ayah Jasmine menghentikan perdebatan itu, menatap Evan da joe bergantian.
"Apa dia benar ayah mu Evan?" Ayah Jasmine bertanya pada Evan, dan Evan sendiri hampir terbahak mendengar nya, begitu juga Jasmine. Namun, Joe hanya mendengus menahan kesal.
Tentu saja pria botak dengan penampilan bak preman itu hanya memasang wajah kaget bercampur malas, namun mau tau mau ia pun mengiyakan ucapan Evan. "Benar, aku ingin bertemu dengan kekasih anak ku itu."
Jasmine yang tau siapa itu Joe hanya bisa melongo menatap dua pria berbeda usia itu dengan tatapan bingung. Permainan macam apa ini?
"Baiklah, kalau begitu mari masuk. Kebetulan sekali ada yang ingin aku bicarakan dengan mu Tuan. Ini mengenai anak anak kita." Ayah Jasmine mengajak Joe masuk, lalu bergantian mengajak Jasson.
"Kau juga Jasson, mari masuk, kita makan malam bersama."
***
Mendengar berita tentang perginya Evan tanpa permisi dan meninggalkan kursi kepemimpinannya. Membuat seorang pria yang tengah bertelanjang dada di depan balkon apartemennya tersenyum menang.
Dia, Axelo. Salah satu saudara Evan yang sangat menginginkan kursi kepemimpinan yang kini di jabat oleh Evan.
"Pergilah yang jauh, dan jangan pernah kembali lagi. Bila perlu ke neraka sana" Axelo meremas pagar pembatas dengan handuk masih melilit pinggangnya.
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud untuk pergi ke Neraka sayang?" Wanita cantik bersuara merdu bertanya pada Axelo sembari memeluk pria itu dari belakang.
Axelo pun membalikan tubuhnya, dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita cantik yang hanya memakai lingerie hitam tembus pandang itu.
"Bukan siapa siapa sayang, tidak usah kau pikirkan. Lebih baik kita coba permainan baru." Axelo mendaratkan kecupan singkat di bahu wanita itu, dengan perlahan menurunkan tali lingerie hingga memperlihatkan dua buah benda kenyal yang amat menggoda.
"Kau selalu membuat ku lemah sayang. Aku tak bisa menolak untuk yang satu itu." Ara, wanita itu mengalungkan tangannya di leher Axelo, dan menyatukan bibirnya dengan pria itu.
Ara membiarkan Axelo membawa dirinya entah kemana, Ara yakin jika kesenangan yang akan ia dapatkan nantinya. Maka itu Ara hanya pasrah saat Axelo membawa dirinya masuk ke dalam ruangan yang lembab dan harum.
Ketika Ara membuka matanya, ia langsung merasakan gemercik air yang membasahi tubuhnya.
"bathroom?" Ara bertanya, dan di balas kecupan singkat di bibir oleh Axelo.
"Kita coba bermain disini sayang. Kau pasti akan menyukainya." Bisik Axelo di telinga Ara, dengan sedikit jilatan disana, membuat Ara menggigit bibirnya menahan hasrat.
Ara menutup matanya ketika Axelo mulai menghimpit tubuhnya di dinding kamar mandi dengan kedua tangannya yang di cekal ke atas kepala.
"Ahhh"
Axelo tersenyum menyeringai mendengar suara lembut itu, dan kembali melanjutkan aksinya dengan mengecup lengan Ara sembari satu tangannya meraba perut datar Ara.
Tidak ada alat alat yang biasa Axelo pakai disini, Axelo benar-benar mencumbu Ara dengan lembut tanpa berniat menyakiti. Ia terbuai dengan kelembutan dan sikap malu malu Ara, bahkan Axelo butuh tenaga ekstra untuk membawa wanita itu untuk bermalam di apartemennya.
Mungkinkah seorang masokis seperti dirinya bisa berbuat lembut dengan satu wanita? Entahlah, Axelo merasakan sesuatu yang berbeda dengan Ara. Seperti daya tarik sendiri yang membuat Axelo tidak ingin menyakiti wanita itu.
"I love you" Bisiknya.
🍁🍁🍁
Pengen bales, tapi yang ngomong kang Axelo. Gak jadi ahh.😂
__ADS_1