
Benedict menggebrak mejanya kuat, dengan rahang yang mengeras. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang tidak terbendung lagi.
Bagaimana tidak? Putra kebanggaan-nya yang menjadi pewaris perusahaan Matias, justru pergi meninggalkan tugas kepemimpinannya begitu saja. Tanpa permisi.
"Kau cari anak itu, dan bawa kembali malam ini juga." Titah Ben mutlak. Dan Joe hanya bisa pasrah menyanggupi perintah sang atasan.
"Dasar anak itu, merepotkan saja." Ben menghempaskan tubuhnya di sofa.
Dan Joe pun berlalu dari ruangan itu dengan bibir menggerutu. "Ayah dan anak sama sama menyusahkan ku saja."
Sambil berjalan menuju lift Joe menghubungi seseorang untuk mendapatkan alamat kekasih Evan_Jasmine.
Tujuan Joe saat ini adalah Peter, hanya pria itu satu-satunya yang bisa membantu Evan.
Begitu benda yang ditunggunya terbuka, Joe pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Ia menekan angka pada panel lift, dan menyandarkan tubuhnya di dinding, di kepalanya sudah tersusun rencana untuk menemukan Evan dan ancaman apa yang akan ia pakai untuk membawa Evan kembali ke hadapan Si iblis tua itu.
Tepat ketika pintu lift terbuka, sosok duplikat Ben yang lain berdiri di hadapan Joe dengan raut menjengkelkan.
Axelo, pria itu masuk ke dalam lift dengan sengaja menyenggol bahu Joe. Percaya lah, dari semua anak anak Benedict hanya Evan yang menurutnya lebih baik. Meski sadis dan tidak tanggung-tanggung untuk menghabisi musuhnya, tapi Evan istimewa dari segi apapun menurut Joe.
"Kacung!" Sindir Axelo dengan senyum meremeh.
Joe hanya tersenyum tipis menanggapi-nya, dan berlalu pergi dari hadapan Axelo. Tidak penting meladeni psikopat lemah seperti Axelo, membuang tenaga saja.
Lebih baik Joe bergegas menemui Peter, lalu menyusul Evan dan segera membawanya pulang.
Mobil hitam yang di naiki Joe melesat jauh meninggalkan area parkir saat itu juga.
Dan dalam hitungan menit sudah sampai di depan bangunan dominasi warna putih dan abu abu itu.
Joe sudah menebak dimana keberadaan Peter, karena pria itu lebih suka menghabiskan waktunya di rumah jika tidak ada konser girlband favorit pria itu.
Joe memasuki rumah Peter tanpa permisi, menerobos akses keamanan bangunan itu. Joe menyelonong masuk sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok pria bertahi lalat di bawah bibir itu.
"Ada apa kau datang kesini?" Suara Peter terdengar menelusup ke dalam telinga Joe. Sontak pria itu menoleh ke arah sumber suara, dimana Peter sedang duduk di kursi dengan ponsel di tangannya.
"Aku butuh informasi keberadaan Evan, ini atas perintah ayahmu." Kata Joe tanpa basa basi.
"Cari saja sendiri." Kata Petter tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Tentu. Tapi tunjukan dimana saudara mu itu berada." Joe melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Petter yang di penuhi dengan poster.
__ADS_1
"Tidak bisa kah kau melepaskan kami? membiarkan kami bebas melakukan apapun yang kami mau."
"Katakan saja itu pada ayah mu. Karena aku hanya menjalankan perintahnya saja." Joe mendudukkan diri di sofa berhadapan dengan Petter.
"Kau bisa menyampaikan nya bukan? Dan katakan pada setan tua itu untuk melepaskan kami dari lingkaran terkutuk itu." Petter sudah tidak bisa lagi berdiam diri, ia sudah lelah hidup di bawah bayang bayang organisasi yang di bentuk oleh Ben.
"Akan aku coba katakan, tapi sekarang kau beritahu dimana Evan berada." Joe mencoba bernegosiasi, agar ia langsung menuju tempat itu tanpa harus repot-repot mencarinya.
Petter mengetikan sesuatu di atas layarnya, lalu mengirimkan-nya pada ponsel Joe. Dan pria itu pun langsung mengecek benda pipih yang bergetar di sakunya.
"Pergilah, aku ingin istirahat." Petter mengusir, lalu bangkit dari sofa dan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap.
Joe pun beranjak pergi dari sana setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Petter.
***
Suara derap langkah dari ruang depan tak terdengar oleh dua manusia yang sedang memadu kasih di atas sofa. Evan masih setia bermain di atas perut datar Jasmine, mengecupi kulit halus nan mulus itu dengan penuh cinta. Dan perlahan membuka kancing celana milik Jasmine hingga memperlihatkan kain tipis berenda di baliknya.
"Jessy? Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara bariton dari balik punggung Evan, mengejutkan dua manusia yang sedang di rasuki hasrat itu.
Jasmine membelalakan matanya lebar melihat sosok yang berdiri di balik punggung Evan dengan raut wajah yang benar-benar mengerikan.
"Kalian ini, astaga! Apa kalian sudah melakukannya?" Tanya ayah Jasmine setelah mendudukkan dirinya di sofa bersebrangan dengan Jasmine dan Evan.
Evan menoleh ke arah Jasmine, begitu juga Jasmine yang bingung bagaimana cara menjelaskan pada ayahnya yang begitu over protective padanya.
"Ka-kami belum..."
"Benar, Kami sudah melakukannya, bahkan ini sudah yang kesekian kali." Evan menyela, memotong penjelasan Jasmine dengan menggali kuburan sang kekasih.
"aku minta maaf tuan" Evan memasang raut bersalah saat mengatakan itu.
Jasmine membuka rahangnya lebar mendengar penjelasan Evan, Sementara sang ayah melemas hingga punggungnya bersandar pada sofa.
Ayah mana yang tidak lemas mengetahui kelakuan putrinya yang sudah melakukan hubungan terlarang dengan pria yang bukan suaminya. Mungkin mereka memang tinggal di negara bebas, tapi tetap ayah Jasmine menjaga kehormatan putrinya dan melarang anak gadisnya untuk berperilaku tidak baik.
"Menikahlah kalian secepatnya, sebelum ada anak yang hadir di antara kalian" kata sang ayah dengan nada rendah, lalu beranjak dari sofa dengan wajah murung.
"Kau!! Lihat kan ayah ku jadi salah paham" Jasmine mengeram kesal sambil mencengkeram kerah baju Evan.
__ADS_1
Dan pria itu hanya mengedikan bahunya acuh dengan senyum menjengkelkan.
"Ayah tunggu, ini semua tidak benar. Evan hanya bercanda." Jasmine bangkit dari sofa berlari kecil mengejar sang ayah.
Berharap pria itu mau mendengarkan penjelasan-nya, agar tidak berpikir yang tida tidak tentang dirinya yang tinggal di negara terpisah.
"Ayah dengarkan Jessy dulu." Jasmine berdiri di depan sang ayah, menjegal langkah pria parubaya itu.
Ayah Jasmine terpaksa berhenti, dan menghela napas panjang sebelum akhirnya berucap.
"Ayah lebih percaya dengan bukti yang sudah jelas terlihat di depan mata. Mungkin kalau ayah tidak pulang kalian akan berlanjut."
"Tidak yah, itu tidak seperti yang ayah lihat. Kami tidak pernah lebih dari itu, kami belum pernah melakukan-nya."
Jasmine masih berusaha menjelaskan. Meski ia mencintai Evan, dan ia tidak menolak jika harus menikah dengan pria itu, tapi setidaknya ayahnya tidak berpikir negatif tentang pergaulannya.
"Ayah akan tetap meminta pria itu untuk menikahi mu. Tentunya setelah ayah bertemu dengan keluarga kekasih mu itu." Kata ayah Jasmine serius. Dan tentunya itu membuat Jasmine semakin kalang kabut.
Ia bagai berdiri di tepian jurang, bergeser sedikit saja maka ia akan jatuh ke bawah dan hancur.
Bagaimana tidak? Evan saja tidak akur dengan ayahnya. Di tambah kelakuan keluarga Evan yang di luar kata normal.
Dan Ben? Pria itu iblis yang tega membunuh istrinya sendiri dengan menjerumuskan anaknya, lalu bagaimana nasib ayahnya nanti jika bertemu dengan ayahnya Evan.
"Tidak bisa kah semuanya di tunda dulu sampai aku lulus kuliah ayah?" Jasmine meminta kelonggaran waktu.
"Ayah akan bertemu lebih dulu, dan membicarakan-nya dengan orang tua kekasih mu itu secepatnya. Sebelum pria itu melarikan diri dan meninggalkan mu begitu saja."
Damn!
Jasmine mematung di tempat.
🍁🍁🍁
Tenang yah, Oby bantu doa dari sini biar aman 😂
Evan pas ke cyduk😂
Petter
__ADS_1