The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 40


__ADS_3

Jasmine memperhatikan raut wajah Evan yang berubah sendu, padahal sebelumnya pria itu memasang wajah menyebalkan.


Apa itu karena ia menanyakan tentang ibu?


"Evan"


Pria itu mendongak, masih dengan tatapan sendu ia menoleh pada Jasmine. Dan, gadis itu menatap balik dirinya dengan ekspresi bingung, sepertinya gadis itu menyadari perubahan raut wajahnya.


"Apa?" Evan menyahut pelan.


"Maaf sudah membahas topik yang membuat mu murung seperti ini" Jasmine berucap tulus.


Evan menggeleng pelan dengan senyum samar, "its ok."


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, dengan Evan yang masih menundukkan kepalanya seolah menutupi sisi lain Evan yang lemah. Sementara Jasmine sendiri masih merasa tidak enak hati karena sudah membahas tentang keluarga, padahal dari awal Evan sudah mengatakan jika pria itu tidak suka pembahasan tentang keluarga.


Sebenarnya apa yang terjadi hingga Evan begitu sedih ketika ia membahas tentang ibunya? Dulu Evan pernah menangis dan memeluknya sambil memanggil-manggil nama 'ibu'.


Jasmine mengerutkan dahi, dan mulai mengerti sesuatu yang baru ia sadari saat ini. Evan memang monster, tetapi semenyeram kan apapun Evan dia akan menjadi sentimentil jika membahas tentang keluarga, terlebih ibu.


Jasmine menjadi semakin merasa bersalah, karena Evan tak kunjung mengangkat wajahnya setelah bermenit-menit lamanya.


"Jessy"


Jasmine tersadar dan mendongak. "Ya?"


"Apa kau bisa menemani ku ke suatu tempat?" mengusap lembut pipi gadis yang duduk di hadapannya.


Jasmine pun meraih tangan Evan yang mengusap pipinya, merasakan kehangatan yang Evan salurkan padanya "kemana?"


"Kau akan tau nanti"


Dan Evan tiba-tiba memeluk Jasmine, "ibu" gumamnya kemudian.


"Kau merindukannya?"


"Tentu" sahut Evan dari balik punggung Jasmine.


"Aku juga merindukan ibuku"


Terdorong perasaan yang sama untuk saling memeluk satu sama lain, bahkan Jasmine sampai lupa jika dirinya masih segan dengan Evan.


"Mau bercerita tentang ibu mu?" Jasmine bertanya ketika pelukan Evan terasa mengendur.


"Aku tidak tau" sahut Evan.


"Tidak tau? maksud mu?"


"Aku tidak tau harus menceritakan ibuku atau tidak, yang jelas ini tidak sesederhana yang kau kira" tutur Evan pelan.


"Sepertinya rumit."

__ADS_1


Evan tidak dapat menahan senyumnya mendengar pernyataan Jasmine, belum lagi ekspresi polos gadis itu yang terkesan bodoh dan konyol.


"Iya, sangat rumit." Jawabnya.


"Kau menyayangi ibumu?"


Evan mengangguk, "tentu saja."


"Lalu kenapa kau membenci ayah mu?" tanya Jasmine.


"Karena tingkahnya tidak seperti seorang ayah."


Ekspresi-nya kesal saat mengatakan itu. Dan Evan segera bangkit berdiri sembari meraih tangan Jasmine.


"Kita pergi sekarang."


"Kemana?" Tanya Jasmine.


"Bertemu ibuku."


****


Jasmine memilih diam saja saat Evan menggenggam tangannya, sebelum berjalan menjauh dari mobil. Mereka kini sedang di suatu tempat yang Jasmine sendiri tidak tau di mana tepatnya. Disana hanya terlihat rerumputan yang sudah tinggi. Setelah berjalan lebih jauh lagi, barulah Jasmine melihat beberapa gundukan tanah yang Jasmine yakini itu adalah makam.


Evan seolah tau apa yang ada di pikiran Jasmine, lantas ia membuka suara "ini tanah milik ibu ku, dan ini adalah pusara mereka."


Jasmine turut berjongkok setelah Evan melakukannya lebih dulu di salah satu makam.


"Ini ibu ku" Evan menatap gundukan tanah itu dengan raut sendu.


Pikiran Evan seolah tak menentu, memikirkan segala hal. Setelah kembali lagi ke organisasi, maka hidupnya tidak akan tenang. Selalu di kelilingi bahaya yang bisa mengancam nyawa orang yang di cintainya.


Cukup lama Evan memandangi pusara itu, larut bersama semilir angin yang berhembus menerpa rambut kecoklatan milik pria itu.


Jasmine tidak menyangka jika pria seram bagai Iblis seperti Evan bisa terlihat menyedihkan juga.


"Kau mau mendengar-nya?"


"Apa?" Jasmine menatap Evan.


"Tentang ibu ku" Evan menghembuskan nafas berat "aku rasa kau menang harus tau, karena sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Evan." Tuturnya dengan senyum menyebalkan.


Jasmine sendiri cukup terkejut dengan ucapan Evan, tapi ia tidak merespon. Jasmine lebih fokus dengan niatan Evan yang ingin bercerita.


"Katakanlah, aku akan mendengarkan." 


Evan beranjak dari sana bersama Jasmine, dan duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon besar tidak jauh dari makam sang ibu.


Evan menarik nafasnya dalam, mencoba mengingat kenangan pahit beberapa tahun yang lalu, dimana ia menghabisi nyawa sang ibu dengan tangan-nya sendiri.


"Kau tau? Aku yang sudah menghabisi nyawa ibu ku" Evan berucap parau seolah menahan sesak di dadanya yang begitu menyiksa.

__ADS_1


Jasmine terkejut mendengar pengakuan Evan. Jasmine ingin tidak percaya, tapi mana mungkin pria itu melucu menyangkut nyawa orang, terlebih nyawa ibunya sendiri.


"Ma-maksud mu?"


Evan mengangkat wajahnya menatap Jasmine sekilas, "aku yang sudah membunuh ibu ku."


Jasmine menggeleng, "tidak mungkin. Kau sendiri mengatakan bahwa kau menyayangi ibumu, dan merindukan ibu mu bukan?"


"Aku sungguh-sungguh." Ujarnya meyakinkan.


Masih dengan akal sehatnya, Jasmine berpikir kemungkinan kedua. Yaitu sebuah dorongan kuat, yang membuat Evan melakukan hal keji itu.


"Apa alasan mu membunuh ibu mu?"


Evan merubah posisinya menjadi lebih tegak, menatap Jasmine lekat. "Apa kau akan membenci ku setelah mendengar nya?"


Jasmine terdiam sesaat, sebelum akhirnya membuka suara "mungkin, terkecuali alasanmu masuk akal."


"Aku sudah menduganya" Evan menarik nafasnya lagi, dan kembali menunduk seperti tadi. Kemudian Evan mulai bercerita.


"Sore itu, Joe mengajak ku ke taman belakang untuk berlatih melempar pisau. Saat itu masih berumur tujuh tahun, aku tidak tau jika ayahku merencanakan sesuatu."


Jasmine tidak bersuara, tidak ingin mengganggu pria itu. Membiarkan Evan mengeluarkan seluruh isi hatinya, dan menceritakan segala sesuatu yang mengganjal sejak lama.


Evan kembali membuka suara setelah beberapa menit menjedanya, kali ini ekspresi Evan berubah marah.


"Joe menutup mataku, dan meminta ku untuk melempar pisau pada sebuah apel yang sudah di siapkan dengan jarak tidak begitu jauh. Dengan alasan melatih ku agar lebih pandai mengincar target meski tanpa melihat. Aku melakukannya dengan sangat baik, bahkan pisau ku tidak ada yang meleset satupun, menancap dengan sempurna. Dan kau tau?Ternyata yang ku bidik itu bukan apel, melainkan ibu ku." Evan berucap sambil menitikkan air mata yang begitu pilu.


Jasmine menganga lebar, tidak mampu lagi menahan keterkejutannya. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana reaksi Evan kecil saat itu.


"Ba-bagaimana keadaan ibumu saat itu?" Tanyanya bergetar.


"Ibu ku meninggal di tempat, dengan beberapa pisau ku yang menancap di tubuhnya."


Evan menangis tanpa suara, namun rahangnya mengeras seolah kesal, benci dan sedih menjadi satu. Masih jelas di ingatan-nya bagaimana kondisi sang ibu, yang tergeletak bersimbah darah dengan derai air mata yang masih membekas di wajah pucat nya.


"Apa kau tidak mendengar teriakan ibumu?"


Evan tersenyum kecut sambil menatap gundukan tanah sang ibu. "Ibu ku di ikat oleh Ben di kursi kayu, dengan mulut tersumpal kain."


Jasmine tidak mampu berkata-kata, ia syock. Bahkan Jasmine mual dan pusing membayangkan-nya.


"Apakah ayahmu sudah gila dengan menjadikan ibumu sebagai target?" Tanya Jasmine geram setelah berhasil menetralkan rasa mual dan pusingnya.


Evan tertawa, jenis tawa yang mengerikan, seolah kesurupan penunggu pohon besar itu.


"karena Ben bukan manusia, tapi iblis"


🍁🍁🍁


To be continued...

__ADS_1


Maaf lama 🙏



__ADS_2