The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 38


__ADS_3

Evan mendengus keras saat melihat Joe yang terlihat berdiri sambil menatapnya tajam di dalam lift.


"Masuklah, aku di perintahkan untuk menjemputmu agar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi."


Evan melangkah masuk ke dalam lift, dengan langkah malas. "Tidak akan ada yang terjadi di dalam lift, kecuali orang itu sudah bosan hidup."


Joe tersenyum tipis seraya menekan tombol paling atas pada panel lift sambil berkata, "itu kau tau."


"Tidak ada orang bodoh yang akan melakukan hal itu, kau tau bukan seberapa gilanya Ben?"


Memang benar, Benedict mempersiapkan segala sesuatunya dengan teliti. Mulai dari kamera pengawas dengan fitur canggih, dan anak buah yang tak terhitung jumlahnya. Belum lagi persediaan senjata di tempat-tempat yang tersembunyi.


"Sebenarnya ada apa Ben menyuruhku untuk datang?"


Joe mengangkat bahunya, "lihat saja nanti, ku harap kau bisa menjaga sikapmu di sana."


Evan menoleh kesamping, "katakan, ada apa sebenarnya? Kenapa aku harus menjaga sikap?"


"Aku tidak tau pasti, tapi beberapa orang-orang organisasi berkumpul disana."


Evan mengerutkan dahinya dalam, sebenarnya apa lagi yang sedang Benedict rencanakan? Ia bosan menjadi boneka setan tua itu. Terlebih jika di paksa harus bersikap manis, dan sopan dengan orang yang tidak ia sukai.


Dan, setelah benda kotak itu berhenti, Evan mengikuti Joe keluar dari dalam lift. Terlihat beberapa pria berpakaian serba hitam berjajar di sisi kanan dan kiri lorong, dan langsung menunduk hormat ketika Evan melewatinya.


Joe menuntun langkahnya sampai di depan sebuah ruangan yang sangat luas. Disana terlihat beberapa orang duduk di kursinya masing-masing.


Evan tidak tertarik sedikitpun untuk bergabung disana, terlihat membosankan.


Benedict yang menyadari kehadiran Joe dan Evan di luar pintu pun menoleh dengan senyum lebar.


"Kemarilah..." Titah Ben.


Evan pun sempat terkejut, namun akhirnya ia memilih melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan itu dengan santai dan tanpa ekspresi.


Evan sudah terbiasa melatih diri untuk tetap bersikap tenang, meski dalam keadaan kesal sekalipun. Menarik nafasnya secara teratur, dengan segaris tipis di bibir seolah tersenyum.


"Dialah calon penerus ku, namanya Evan Leandro Matias. Dia adalah anaku yang paling pantas menggantikan kedudukan ku." Kata Ben memperkenalkan Evan dengan bangganya.


Evan dapat melihat pandangan orang-orang yang ada di ruangan itu,Β  Semuanya nampak terkejut. Sebagian lagi ada yang terlihat melempar senyum mengejek. Semua yang ada di ruangan itu adalah laki laki.


Telat. Ben sudah memperkenalkan dirinya sebagai penerus perusahaan Matias, ia sudah tidak bisa bebas lagi seperti dulu. Gerak geriknya pasti akan di pantau oleh mereka. Menyebalkan!.


"Dia sangat mirip dengan mu, wajah datar dan angkuh." Kata seorang pria bertubuh gempal sambil terkekeh pelan.


"Tentu saja, karena dia anakku" ucap Benedict dengan senyum sombong.


"Tapi aku tidak berniat memperlihatkan penampilannya yang memang menarik, aku ingin kalian melihat sendiri cara kerjanya nanti."

__ADS_1


"Boleh bertanya sedikit paman?" Seorang pria muda dengan tindik di telinganya, melempar pertanyaan.


Benedict mengangguk sekilas. "Silahkan"


"Aku ingin bertanya pada Evan"


Evan mengangkat sebelah alisnya, lalu kemudian mengangguk tanda setuju. "Tanyakanlah."


"Kenapa aku tidak pernah mendengar tentang mu sebelumnya sebagai anak Paman Ben?"


Evan nyaris saja mentertawakan pria berpenampilan preman itu.


"Kurasa tidak perlu di kenal orang banyak, jika hanya untuk menyombongkan diri dengan status keluarga. Lebih baik tidak terlihat, tapi memiliki prestasi." Kata Evan menyindir.


Pria bertindik itu mengangkat bahunya, "satu pertanyaan lagi..."


"Silahkan..."


"Memang prestasi apa yang kau punya? Kenapa aku tidak pernah tau, padahal kau anak dari seorang pemimpin yang cukup di takuti."


Evan sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tersenyum lebar, "Kau boleh tanyakan itu pada ayahku, atau mungkin ayahmu. Mereka tidak buta dan tuli bukan?"


Pria berkulit kecoklatan yang bernama Jake ituΒ  akhirnya terdiam, ia nampak kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Evan.


Evan ingat pernah beberapa kali melihat pria itu_Jake, dia sering mabuk dengan perempuan random di kelab malam bersama Axelo.


Ternyata hanya seorang bajingan.


Pria berumur dengan kulit kecoklatan yang tak lain ayah dari pria muda itu pun bertepuk tangan, begitu juga pria yang lain.


"Setelah mendengar anakmu berbicara, aku semakin yakin jika prestasinya bukan hanya omong kosong belaka. Dia sangat cerdas seperti mu Ben."


Benedict tertawa pongah, lalu menepuk bahu Evan dan merengkuhnya. "Dia memang anaku yang membanggakan."


Evan menahan diri untuk tidak berdecih, ia muak mendengar ucapan pujian dari Ben si iblis tua. Sandiwara yang sempurna.


Evan hanya bisa melempar senyum tipis meski datar, lalu berpamitan kepada ayahnya dan tamu yang lain untuk pergi dari ruangan itu.


Jadi sekarang bisa di bilang, kalau dirinya adalah seorang penerus tahta.


***


"Heii, kau sudah pulang?"


Evan mendesah ketika baru saja dua langkah dirinya masuk ke dalam rumah dan suara Lucas terdengar menelusup ke dalam telinganya.


"Tidak usah bertanya jika sudah tau."

__ADS_1


Lucas melebarkan senyumnya melihat raut bosan saudaranya itu,


"Ada apa? Kau terlihat lelah sekali?" Lucas bertanya sembari tangannya mengiris buah apel di balik kitchen set.


"Tidak mungkin kau tidak tau." Balasnya ketus, dan Lucas kembali tertawa.


"Makanlah, agar kau tidak marah-marah terus." Lucas melemparkan apel yang baru saja di potongnya pada Evan.


Dengan cekatan Evan menangkap potongan buah apel itu dan mulai memakannya. Setidaknya, itu sedikit membantu meredakan kekesalannya.


Kepalanya terasa sakit jika mengingat dirinya di nobatkan sebagai penerus tahta, rasanya seperti mau pecah. Dan ia butuh Jasmine untuk meredakan rasa sakit itu.


Evan memandangi potongan di tangannya sambil terkekeh, ia jadi ingat dengan Jasmine yang suka sekali memakan apel. Ah ia jadi rindu wanita keras kepala itu.


"Kau tau Daren sudah pulang tadi? tapi aku yakin dia lebih memilih untuk mendekam di kamar ketimbang bergabung dengan kita." Lucas terus berbicara, meski Evan sama sekali tidak meresponnya.


"Omong-omong, kapan aku bisa bertemu dengan kekasih mu? Dia lucu, aku menyukainya."


Perkataan Lucas baru saja membangkitkan amarah Evan, "Kau mau mati? Jangan pernah menyukai kekasih ku, walau dalam mimpi sekalipun."


Lucas berjalan mendekat ke arah Evan yang terduduk di sofa, "memangnya kenapa? Masa menyukai saja tidak boleh?" Lucas protes.


"Jelas tidak boleh, karena dia kekasihku, jadi hanya aku saja yang boleh menyukainya." Evan ngotot.


Lucas menganggukkan kepalanya seolah mengerti, padahal ia tetap tidak akan berubah. Baginya Jasmine itu lucu dan menggemaskan, seru untuk di ajak berdebat. "Baiklah, aku akan menyukainya secara diam diam, tanpa sepengetahuan mu."


"Kau!!"


Lucas segera berlari menjauh dari Evan sambil tertawa, sedangkan Evan meraih pisau di sakunya dan mulai membidik tubuh Lucas.


"Entah kau dari muka bumi."


"Jangan terlalu percaya diri dude, kali ini sasaran mu meleset." Lucas kembali tertawa sembari menaiki undakan anak tangga.


"Sial!! Awas saja kau nanti, tidak akan ku beri ampun." Sumpahnya dengan raut wajah mengeras. "Jika aku sampai tau kau memikirkan kekasihku, akan ku potong kepalamu!"


"Itu tidak akan pernah terjadi, kau akan sibuk nanti dengan pekerjaan dari Ben. Hahaha."


Sial!!! Lucas benar. Dasar setan tua bedebah!!.


🍁🍁🍁


To be continued...


Evan


__ADS_1


Lucas.



__ADS_2