The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love
TDSOL-BAB 33


__ADS_3


Jasmine baru saja bersin ketika Evan membawa nasi merah beserta lauk pauknya. Jasmine tersenyum senang melihat apa yang di bawakan oleh Evan.


"Jika aku tidak ada, apa kau juga makan selarut ini?" Evan bertanya sembari meraih remote televisi di samping Jasmine, dan mengganti channel-nya.


"Hm, aku akan menahannya hingga pagi" jawabnya dengan raut sendu.


"Jangan lakukan hal itu lagi. Kau bisa menghubungi Petter jika kau merasa lapar. Kau lupa jika kau ini pemilik restauran bintang lima di kota ini?" Jelas Evan, dan Jasmine melongo. Ia bahkan sudah melupakan hal itu, dan hanya menganggap-nya bercanda.


Jasmine mengedikkan bahunya sambil memakan nasi merah tersebut dengan lahap. Matanya terus mengikuti layar plasma di depan matanya yang sedang berganti saluran.


"Stop!" Jasmine berucap dengan mulut penuh, menghentikan pergerakan tangan Evan.


"Kenapa?" Evan menautkan kedua alisnya bingung.


"Film ini bagus, kau harus menontonnya"


"Tidak mau" Evan mendesah pelan, lalu memilih membaringkan kepalanya di paha Jasmine sebagai bantalan.


"Ya sudah" Jasmine menonton dengan fokus sambil memakan nasinya, sesekali ia tertawa saat melihat adegan konyol dalam film tersebut.


Dengan iseng Evan bertanya, "apa judul filmnya?"


"The pursuit of happiness. Kau harus menonton ini Evan"


"Memang apa bagusnya?" Evan bangun kembali duduk.


"Makna film ini tentang seorang ayah." Jawab Jasmine cepat, yang langsung membuat tubuh Evan menegang.


"Tentang seorang ayah?" Evan berucap lirih, namun masih bisa di dengar oleh Jasmine.


"Disini kau akan tahu seberapa besar kasih sayang seorang ayah itu." Jelas Jasmine ketika melihat reaksi Evan yang malah mematung.


"Kasih sayang seorang ayah ya?" Tanya Evan yang terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri.


"Iya" sahut Jasmine.


"Lalu?"


"Sebaiknya kau tonton saja sendiri, aku ingin meletakan piring kotor ini dulu." Jasmine beranjak dari sofa meninggalkan Evan yang termenung menatap televisi.


Disana terlihat si ayah sedang memeluk anak laki-laki-nya sangat erat. Dapat terlihat jelas kasih sayang yang mereka tunjukkan walaupun itu hanya sebuah adegan film.


Dalam hati Evan bertanya-tanya, benarkah kasih sayang seorang ayah itu ada? Dari kehidupannya yang pahit, ia menyaksikan itu. Untuk ayah orang lain mungkin 'iya', tapi baginya tidak sama sekali. Setan tua bernama Benjamin itu hanya mementingkan organisasi dan perusahaannya saja, entah mengenai anak-anaknya. Evan sendiri tidak habis pikir.


Kalau boleh jujur, ia ingin sekali merasakan yang di namakan kasih sayang seorang ayah. Apakah rasanya menyenangkan?

__ADS_1


"Aku jadi merindukan ayahku di Amerika" celetuk Jasmine yang datang dengan membawa dua gelas minuman bersoda di tangan-nya, satu untuk dirinya, dan satu untuk Evan.


"Thanks" Evan menerima minuman itu dengan pikirannya yang masih berputar tentang sosok ayah.


"Ayah mu seperti apa orangnya?" Tanya Evan kemudian, setelah beberapa saat hanya suara televisi yang terdengar.


"Tubuhnya tinggi, rambutnya kecoklatan, dan wajahnya..."


"Maksud ku sifatnya" Evan memotong ucapan Jasmine.


"Ohh, dia baik, penyayang, pekerja keras, selalu tersenyum dan sedikit konyol."


Penjelasan Jasmine mengenai ayahnya, tidak ada yang sama dengan ayah Evan sendiri.


Baik? Apa yang di lakukan Benjamin selama ini lebih pantas di sebut sebagai kelakuan pengikut setan.


Lalu, penyayang? Ah, tidak. Tidak mungkin.


Selalu tersenyum? Senyum mengejek iya, Evan bahkan ragu jika Benjamin pernah tersenyum dengan tulus.


Pekerja keras? Rasanya hanya itu sifat positif yang laki-laki itu punya.


Kadang-kadang ia tak habis pikir, mengapa ibunya sampai harus menikah dengan Benjamin. Ayahnya jelas-jelas bukan pria yang baik, segala tindak tanduknya sangat jauh berbeda dengan orang kebanyakan.


"Memangnya apa pekerja ayahmu?" Jasmine membenarkan anak rambutnya lebih dulu sebelum menjawab. "Dia hanya seorang buruh."


"Lalu bagaimana kau bisa sampai sekolah disini?"


"Lalu mengapa kau memilih masuk psikologi?" Evan bertanya lagi.


Jasmine tersenyum tipis, "karena menurutku menarik, mempelajari karakter orang lain itu menyenangkan. Aku juga belajar, bagaimana tidak memperhatikan penampilan seseorang sebagai tolak ukur sifatnya, seperti kau."


Evan menaikan sebelah alisnya ketika Jasmine menunjukkan dirinya, "apa?"


"Kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang psikopat, penampilan mu terlalu bagus. Malah kadang-kadang terlihat terlalu sempurna." Jasmine memuji.


"Asal kau tau, psikopat itu selalu berlindung di balik topengnya yang sempurna."


"Aku tau setelah mengenal mu, lagi pula seringai mu juga mengerikan. Apa yang lain juga seperti itu?"


Evan mendekat dan merangkul Jasmine, "seperti kata ku tadi, biasanya seorang psikopat akan terlihat seperti orang kebanyakan. Bahkan mereka terlihat dermawan dan baik hati, mereka pandai berpura-pura."


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan ayahmu?"


Evan menoleh mendengar pertanyaan Jasmine, "apa?"


"Tadikan kau bertanya tentang ayah ku, sekarang giliran aku bertanya tentang ayah mu." Jasmine menjauhkan wajahnya ketika Evan hendak mencium pipinya .

__ADS_1


"Sekarang ceritakan padaku tentang dia."


"Kau memaksa ku?" Evan bertanya dan Jasmine mengangguk polos, "iya"


Evan mendengus "aku tidak suka menceritakan tentang dia, lagi pula aku juga tidak pernah menganggap-nya sebagai ayah ku"


"Tidak boleh begitu, seburuk apapun perlakuan-nya padamu, dia tetap seorang ayah. Bisa saja dia menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda."


"Jika kau melihat dia, pemikiran mu akan sama dengan ku." Jasmine mengerutkan dahinya bingung, kenapa Evan terlihat begitu membenci ayahnya. Memangnya apa yang terjadi antara mereka di masa lalu?


"Seperti apa orangnya? Maksud ku fisiknya atau apalah..."


"Dia tinggi, berambut pirang, hidungnya seperti paruh burung elang." Jelas Evan.


Mendengar itu Jasmine malah membayangkan Evan, bagaimana sosok Benjamin yang sangat mirip dengannya.


"Lalu sifatnya?" Jasmine bertanya.


"Ku rasa hal itu tidak perlu di jelaskan."


Jasmine mengangguk paham, jika Evan saja kelakuannya seperti iblis yang keluar dari neraka. Ayahnya sudah pasti jauh lebih parah.


"Apa kau membencinya?" Jasmine bertanya lagi, dan Evan menatap lurus kedepan seolah termenung.


"Sangat."


***



Pagi-pagi sekali Evan berpamitan dengannya ketika ia masih setengah sadar, karena sangat mengantuk. Dan ketika ia terbangun Evan sudah tidak ada di sampingnya.


Jasmine sendiri tidak tau pria itu akan pergi kemana, jadi ia hanya bisa diam di mansion menatap televisi di depannya dengan pandangan bosan.


Hari ini ia tidak ada kelas, sehingga Jasmine kehabisan ide mengenai apa yang akan ia lakukan di mansion Evan yang megah itu.


Dengan iseng ia berjalan kesana kemari, lalu menyentuh pajangan di mini bar, dan menghidupkan keran lalu mematikannya kembali. Seperti orang bodoh.


Kemudian ia teringat dengan perpustakaan kecil di lantai dua, yang kini menjadi tempat favoritnya.


Jasmine segera pergi ke ruangan itu dengan membawa minuman dan camilan di tangannya, untuk menemani-nya membaca buku disana.


Siapa tahu ia menemukan sesuatu tentang keluarga Evan_atau mungkin tentang ayah Evan.


Jasmine lupa, jika rasa penasaran yang berlebihan itu tidak baik. Karena bisa merusak kesehatan jantung dan pikiran, juga bisa memperpendek umur.


🍁🍁🍁

__ADS_1


To be continued...


Bocoran, besok part Axelo, siapin Paracetamol.😂😂


__ADS_2