
Jasmine berlari tak tentu arah menghindari Evan, rasa mual di perutnya akibat bau anyir darah dari tubuh Charlotte membuat kepalanya menjadi pusing. Beberapa kali langkahnya terjegal oleh bebatuan dan ranting pohon yang berserakan di dalam bangunan kosong itu.
Seruan Evan memanggil namanya pun terasa berdenging ditelinga, hingga membuat matanya berkabut dan tanpa sadar menabrak dinding dan terpelanting ke belakang.
Bruk...
"Jasmine... Jasmine..wake up"
Evan menggoyangkan tubuh Jasmine yang tergeletak di bawah, dengan cekatan pria itu membopong tubuh Jasmine dalam dekapannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Bertahanlah sayang"
Evan segera menstater mobilnya dan melajukan benda roda empat itu dengan kecepatan penuh, meninggalkan area sepi itu.
Hanya dalam hitungan menit saja mobil Evan sudah terparkir sempurna di pelataran mansion mewah yang berada di tengah hutan itu.
Segera Evan membawa tubuh Jasmine keluar dari dalam mobil dan membawanya masuk kedalam mansion.
Meskipun agak sulit, nampaknya Evan bisa membuka pintu dengan pasccode itu dan langsung berjalan cepat menaiki undakan anak tangga.
Meletakan tubuh Jasmine dengan hati hati di atas tempat tidur, lalu menyiapkan alat untuk mengompres kekasihnya itu.
Pertama Evan membersihkan diri dari darah wanita ja**** itu, kemudian mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Jasmine. Menggantinya dengan keos kebesaran miliknya.
Tidak ada niatan nakal sedikitpun di kepalanya, meski Evan akui tubuh wanita itu cukup menggoda. Rasanya tidak bergairah bermain dengan wanita yang sedang tak sadarkan diri, bagai bermain dengan benda mati.
"Jasmine sadarlah sayang..." Ujar Evan seraya meletakan handuk yang sudah di beri air hangat ke atas kening Jasmine.
Mengusap telapak tangan Jasmine, serta menciumi punggung tangan wanita itu dengan raut khawatir.
Jasmine mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang menusuk indra penglihatannya. pandangannya menyusuri ke sekeliling ruangan yang nampak terang benderang. Seingatnya ia berada di dalam bangunan kosong yang gelap gulita. Apakah ia sudah berada di syurga?
"Akhirnya kau sadar" ujar pria itu ketika melihat Jasmine membuka mata. Evan mengecup kening Jasmine, namun wanita itu sudah menepisnya lebih dulu.
"Jangan sentuh aku!" Jasmine bergerak menjauh menghindari Evan "kau iblis, pembunuh! Aku sangat membencimu!!"
Jasmine berseru lantang dengan mata berkaca-kaca, ingatan tentang wajah Charlotte berputar di kepalanya, bagaimana Evan dengan sadis memainkan pisaunya di wajah Charlotte.
__ADS_1
Jika orang lain yang mengatakan itu, mungkin Evan tidak akan ambil pusing, dan langsung mengirimnya ke neraka. Tapi, karena yang mengatakan itu adalah Jasmine, wanita yang sangat di cintainya, tentu membuat Evan kalang kabut.
Rasanya menyakitkan sekali di benci oleh wanita yang di cintainnya.
"Kau membenciku?" Evan berdecih "padahal aku melakukan semua itu Karena membela dirimu."
Jasmine mengerutkan dahinya dalam, "membela? Apa maksudmu?"
"Wanita itu dan temannya sudah menghina dan menyakitimu pagi tadi bukan?"
Jasmine melongo tidak percaya, "bagaimana kau bisa tau?"
"Sudah aku katakan bahwa aku mengawasi mu, dan aku tau apapun yang terjadi denganmu"
Jasmine menggelengkan kepalanya tidak percaya, kenapa ada manusia seperti Evan hidup di muka bumi ini.
Ah, Jasmine hampir saja lupa jika pria di depannya ini bukan manusia, melainkan iblis.
"Mereka hanya mendorong dan menghina ku . Dan itu bukan kejahatan besar. Jadi kau tidak seharusnya membunuh Charlotte." Ujar Jasmine menjelaskan kebenarannya.
"Jadi kau menerimanya begitu saja?" Evan menaikan sebelah alisnya penuh tanya. "Aku jadi menyesal membunuh wanita itu dengan cepat. Harusnya aku menyiksanya lebih dulu."
"Aku sudah tidak sanggup lagi berada di dekat mu. Aku tidak ingin orang lain mati di tangan mu hanya karena kesalahan kecil saja. Lebih baik aku mengakhiri hidup ku "
Jasmine menyambar botol minuman yang tergeletak di atas nakas, memecahkan sebagian botol itu ke dinding hingga menyisakan setengah botol yang runcing. Lalu mengacungkan-nya di depan wajah Evan.
"Hei...hei...stop! Jessy apa yang kau lakukan? Letakkan benda itu." Panik, Evan mengangkat kedua tangannya ke udara, menenangkan Jasmine agar mau meletakan benda itu.
"Kau lihat ini?" Jasmine menempelkan bagian tajam benda itu di pergelangan tangannya.
"Ss-sstop! Please don't do it!" Evan mengerang kesal. "Shit!" Memukul dinding dengan tinjunya.
"Ok, ok fine...katakan apa yang kau inginkan? Asal kau tidak melakukan hal bodoh itu" ujar Evan dengan raut frustasi.
"Lepaskan aku, biarkan aku hidup bebas seperti dulu tanpa gangguan darimu." Jasmine berucap dengan lantang dan seketika itu juga tangan Evan sudah berada di rahangnya, mencengkeramnya kuat.
Entah sejak kapan pria itu bergerak dari tempatnya, hingga benda tajam di tangan Jasmine pun sudah berpindah tempat tanpa disadarinya.
__ADS_1
"Kau ingin meninggalkan ku, hum?" Evan mengeratkan giginya menahan kesal, degan tangan masih setia di rahang gadis itu. "Tidak akan pernah terjadi, selama aku masih bernapas."
Evan mengacungkan sisa botol runcing itu yang sempat di pegang oleh Jasmine, kemudian menempelkan ujung bagian yang runcingnya di leher Jasmine dengan sedikit menekannya.
Jasmine meringis kesakitan saat benda tajam itu menggores kulit lehernya.
"Bunuh aku" Jasmine berteriak dengan derai air mata.
Napasnya tersendat serta matanya memerah menahan air mata bercampur marah takut. Sontak Evan melempar botol itu ke dinding dengan keras.
Evan mendengkus kesal, dengan napasnya memburu ia menghempaskan tubuh Jasmine menjauh hingga terbaring di atas tempat tidur.
"Arghhhh!!" Evan melempar wadah kaca bekas mengompres gadis itu hingga pecah tak berbentuk.
Ucapan Jasmine bagai kiamat untuknya, gadis itu meminta kebebasan saja teramat menyakitkan. Lalu bagaimana jika gadis itu pergi untuk selamanya?
Tidak! Tidak boleh terjadi.
"Kau milikku selamanya, tidak ada yang bisa merebut mu dari ku. Bahkan kematian sekalipun!" Evan berucap tepat di depan wajah Jasmine sembari menarik tengkuknya.
Jasmine berjengit kaget mendengar perkataan pria itu, selain gila Evan juga menentang takdir Tuhan.
Tak pernah sekalipun terbayang di benaknya ia akan bertemu dengan makhluk seperti Evan. Ini lebih buruk dari sekedar kematian. Jasmine akan terus berada di bawah rantai cinta yang Evan ikatkan di lehernya kuat. Hingga Jasmine merasa kesulitan bernapas namun tidak juga mati.
Setelah mengatakan itu, Evan membuka laci di samping tempat tidur. Pria itu tergesa-gesa mencari sesuatu di dalam sana hingga menimbulkan suara yang membuat jantung Jasmine nyaris copot.
Evan mengangkat sebuah borgol yang menggantung di tangannya, seringai licikpun terukir di sudut bibir pria itu.
Segera Jasmine bergerak mundur seraya menggelengkan kepalanya kuat ketika Evan mendekat ke arahnya dengan membawa benda besi itu.
"Apa yang akan kau lakukan? Ku mohon... jangan lakukan itu"
Evan tak mengindahkan permohonan wanita itu, dengan cepat ia menarik paksa tangan Jasmine dan memasangkan benda itu di tangan Jasmine, dan satu lagi tangannya.
"Selesai" senyum puas tercetak di sana, dan Jasmine bertambah bingung. Kenapa Evan juga memasang benda itu di tangannya? Apa yang sedang pria itu rencakan?
"Tidur lah, ini sudah larut" titah Evan seraya menarik tubuh Jasmine untuk berbaring bersamanya. Dengan terpaksa Jasmine menurutinya, sebelum Evan kembali menggoreskan botol runcing itu di bagian tubuhnya yang lain.
__ADS_1
🍁🍁🍁
to be continued...