The Hope

The Hope
Chapter 01


__ADS_3

Musim dingin di Amerika selalu membuat Cessa cemberut.



Bukan berarti dia tidak suka musim dingin. Sejak menginjakkan kakinya di New York, ia selalu terpesona pada setiap sudut indah kota tersebut di berbagai musim.



Sayangnya, tubuhnya yang lama tinggal di negeri tropis membuatnya tak tahan dengan cuaca musim dingin di Amerika yang kadang tak bersahabat. Buktinya, sekarang dia terbaring di tempat tidur dengan kompres di dahi dan wajah memerah karena flu.



Flu sialan, umpat Cessa dalam hati.



Padahal hari ini dia ada pertemuan penting dengan owner ALV Corp. Yang menginginkannya mendesain gaun pengantin untuk putri tirinya, Heavylia Verleon.



Sebagai seorang desainer, mendapat kesempatan untuk merancang gaun pengantin wanita Verleon adalah suatu kehormatan. Banyak desainer lain yang lebih andal dan berbakat, tetapi yang dipilih adalah dirinya. Cessa menganggap itu sebagai suatu kehormatan yang begitu besar, terlebih karena Heavylia Verleon akan menikah dengan Trace Randolf, seorang ahli waris Randolf yang juga tak kalah berpengaruh.



Cessa merinding jika dia mengingat betapa berkuasanya Verleon atas setiap aspek kehidupan orang-orang di Amerika. Bukan hal aneh mengetahui seperti apa Alexander Verleon dan keluarganya, terutama anak-anaknya. Cessa bahkan tahu rumor mengenai nasib setiap wanita yang dinikahi oleh laki-laki dari keluarga Verleon meninggal akibat kutukan, yang kemudian dipatahkan oleh istri dari putra pertama Verleon yang meninggal karena diracun, bukan karena kutukan seperti yang selama ini mereka sangka.



"Bukan saatnya memikirkan itu," gerutunya sambil menggelengkan kepala.



Tapi ... tindakannya itu malah membuat kepalanya bertambah sakit. Pening yang ia rasakan bahkan kian makin menjadi, padahal dia masih berbaring di tempat tidur. Matanya melirik ke arah jam berbentuk stroberi di atas meja dekat tempat tidur dan mengumpat ketika dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan.



"Oh, shit!"



Memaksakan diri untuk bangun, Cessa berjalan ke kamar mandi, menanggalkan gaun malam putihnya dan mengelap tubuh dengan air hangat. Ia mandi secepat dan semampunya karena tubuhnya yang masih terlalu lemah.



Sekali lagi, Cessa harus merutuki tubuhnya yang tak tahan udara dingin, padahal dia memiliki setengah darah Amerika di tubuhnya.



Jika orang-orang melihatnya pertama kali, ia selalu dikira sebagai orang Asia karena tubuhnya yang lebih pendek ketimbang rata-rata orang Amerika, dan juga karena wajahnya yang seperti boneka membuatnya sering dikira siswa high school ketimbang wanita berusia dua puluh lima tahun.



Ia keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaiannya yang terbaik untuk hari ini. Sebuah dress coklat tua dengan turtle neck, blazer abu-abu dan juga sepatu bot kulit berwarna sama dengan dress-nya. Cessa juga mengenakan stocking hitam, menambah kesan seksi pada kedua kakinya.



Cessa berusaha menata rambutnya dan mendecak ketika menyadari tatanan rambut mana pun membuatnya tampak suram. Dengan jengkel dia menggerai rambutnya dan menambahkan jepit rambut kupu-kupu bertabur berlian di sisi kanan rambutnya, kemudian berdandan seadanya. Setidaknya wajahnya tidak akan terlihat pucat seperti mayat.



Setelahnya, ia menghubungi managernya untuk segera menjemput sementara ia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi dan roti bakar sebagai sarapan.



***



Mobil yang memasuki kawasan apartemen mewah itu berhenti tepat di depan pintu masuk, Seorang pria dengan rambut pirang dan mata hijau keluar dari dalam mobil tersebut dan memeriksa ponselnya sekilas sebelum memasuki lobi apartemen.



"Halo, Hudson."Pria itu menyapa seorang petugas keamanan yang berdiri tak jauh dari pintu masuk.



"Selamat pagi, Tuan Scott," ujar Hudson.



"Menjemput Nona Princessa, 'kan?"



"Seperti biasa." Christopher Scott tersenyum lebar. "Di mana wanita mungil yang selalu membuatku kesusahan itu?"

__ADS_1



Hudson tertawa dan melihat ke arah pintu lift yang terbuka, menampilkan seorang wanita berambut coklat dan juga pakaiannya yang serba coklat pula. Chris juga melihatnya, dan kemudian langsung menghampiri wanita yang tak lain adalah Cessa.



"Astaga, Cessa. Kenapa dengan wajahmu itu?"



Cessa menutup kedua telinganya karena teriakan Christopher, managernya terdengar begitu keras. Bahkan, sampai membuat beberapa orang di lobi apartemennya menoleh ke arah mereka.



"Chris, bisa pelankan suaramu? Telingaku jadi sakit mendengarnya," kata Cessa sambil memperbaiki letak syal merah tua yang ia kenakan.



Managernya itu tampak ngeri melihat wajah Cessa yang pucat. Kenapa Cessa muncul di hadapannya dengan wajah kuyu dan pucat seperti ini? Apa jangan-jangan pesta tadi malam membuat kekebalan tubuh wanita itu melemah hanya dalam waktu semalam?



"Aku pantas berteriak karena melihat wajahmu yang pucat seperti vampire," balas Chris. "kau tidak tidur semalaman? Masih memikirkan pertemuan hari ini?"



"Flu," jawab Cessa pendek.



Chris menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai teman sekaligus manager seorang desainer bernama Princessa Angelia ini, dia nyaris lupa kondisi wanita itu di kala musim dingin, tetapi dia sendiri tidak bisa membuat Cessa diam sedetik saja. Sifat workaholic wanita itu sering membuatnya khawatir kalau-kalau Cessa akan hancur seperti gelas kaca yang pecah. Bahkan Christopher yakin, andai dia tahu  kalau Cessa sedang sakit, dia akan membatalkan setiap janji yang dibuat mereka untuk klien.



Melihat gelagat Chris yang diam seperti itu membuat Cessa mengibaskan tangannya.



"Jangan coba-coba untuk membatalkan jadwalku hari ini, Chris," kata wanita itu. "bekerja akan membuatku berkeringat dan aku akan sembuh dengan cepat."



"Aku khawatir padamu, Cessa. Jika aku tahu kau sedang sakit, aku akan membatalkan janji yang sudah kita buat dengan para klien," keluh Chris.




Chris menatap punggung mungil Cessa yang berjalan mendahuluinya, kemudian mengembuskan napas pasrah.



"Lain kali, aku harus merantai kedua tangan dan kakinya agar tidak workaholic seperti ini," keluh pria itu.



Mereka berdua berjalan melewati Hudson yang menganggukkan kepala pada mereka dan masuk ke dalam mobil. Cessa melesakkan tubuhnya ke kursi penumpang dan bersandar pada punggung kursi. Chris yang duduk di sebelahnya mengisyaratkan supir yang berada di belakang kemudi untuk segera berangkat.



***



Grim mengembuskan napas dan menatap para bawahannya yang berdiri di hadapannya. Wajah mereka menunduk, tidak berani menatap pemimpin mereka. Sementara itu, Spade tengah membaca buku di sofa tak jauh dari tempat adegan itu berlangsung.



"Jadi ...," kata Grim. "kalian sudah mendapatkan informasi tentang desainer yang diminta oleh Daddy?"



"Ya, Tuan."



"Kalian yakin semua informasi ini benar?" tanya Grim lagi.



"Kami sangat yakin. Dia adalah desainer terbaik saat ini, prestasinya di bidang fashion tak bisa dianggap remeh. Karena itulah calon Nyonya Verleon merekomendasikannya untuk merancang gaun pengantinnya."



"Hmmm ...."

__ADS_1



Grim menyandarkan punggungnya dan menatap foto seorang wanita berambut coklat panjang lurus di antara berkas-berkas yang diberikan bawahannya.



Princessa Angelia.



Itu nama desainer yang diminta oleh untuk merancang gaun pengantin untuk Ivy. Grim sudah membaca semua berkas yang berhubungan dengan wanita itu, memastikan bahwa Princessa Angelia bukanlah mata-mata atau seseorang yang berpotensi untuk menghancurkan keluarganya. Jika memang wanita itu punya niat demikian, Grim akan langsung menyingkirkannya tanpa ampun.



"Kalau begitu pergilah. Dia akan bertemu dengan kami satu jam lagi di perusahaan Daddy."



Para bawahannya mengangguk, kemudian keluar dari ruangan. meninggalkan Grim dan Spade yang masih asyik dengan buku di tangannya.



Pria itu lalu mengamati foto Princessa.



Manis.Itulah kesan pertama Grim melihat wajah Princessa lewat foto. Dengan wajah seperti boneka, mata berwarna kecokelatan, dan juga rambut lurus coklat. Dalam pandangan Grim, Princessa Angelia lebih terlihat seperti boneka hidup ketimbang manusia.



Bagaimana jika dia berada di bawah dan tunduk padaku? Mungkin itu menyenangkan juga.



"Hei, Kak."



Grim mendongak, melihat Spade yang sudah menutup bukunya dan kini balik menatap ke arahnya.



"Kau yakin desainer kali ini bisa dipercaya?" tanya Spade.



"Kupastikan begitu," balas Grim mengedikkan bahu.



"Jika tidak, kita bisa langsung membereskannya, atau Zerfist yang akan melakukannya. Aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti dilakukan saudara tertua kita itu."



Spade terkekeh.



Ini memang sudah desainer ke sepuluh yang mereka cari karena desainer-desainer pilihan Zerfist sebelumnya, ternyata punya pekerjaan ganda seperti mata-mata bagi perusahaan saingan mereka, atau dari pihak lain yang membuat mereka harus menyingkirkan mereka secepat mungkin. Bagi mereka, para lelaki Verleon, lebih susah mencari orang yang terpercaya dan tidak terikat pada siapa pun yang berpotensi atau memiliki hubungan pada setiap orang yang ingin menyingkirkan nama Verleon. Jika saja bukan karena desakan ibu tirinya. Baik Grim, Spade, maupun Zerfist, takkan bersusah payah mencari desainer gaun pengantin untuk Ivy, saudara kembar Eve.



Grim mendecak lagi. Setiap dia mengingat Eve, dia selalu merasakan sakit di dadanya.



Spade lalu berdiri dan mendekati meja Grim. Dilihatnya foto Princessa dengan wajah datarnya.



"Dia lumayan. Wajahnya seperti boneka," kata Spade. "Hei, dan tingginya pun jauh dari rata-rata orang Amerika. Apa dia blasteran, huh?"



"Baca saja sendiri," kata Grim menyodorkan berkas-berkas itu.



Spade membacanya dengan cepat, kemudian bergumam.



"Dia tipe yang kau sukai, Grim," kata Spade lagi. "tak salah kau menaruh perhatian bahkan saat melihat fotonya."


__ADS_1


Grim memutar bola matanya dan berdiri dari kursi."Kita pergi ke perusahaan Dad sekarang," ujarnya tak terbantahkan.


__ADS_2