
Show demi show, membuat desain terbaru, mengunjungi beberapa sponsor yang menyiarkan acara tanpa diliput secara luas adalah kegiatan sehari-hari Cessa. Kadang dia memang merasa lelah dan sempat pingsan beberapa kali karena anemia. Tetapi karena pada dasarnya wanita mungil itu memang keras kepala dan seorang pekerja keras, tidak ada yang bisa menghentikan gerakannya, bahkan Grim sekalipun.
Kali ini Cessa mendapat seorang klien yang ingin membuat sebuah gaun pengantin, dan klien ini tidak tanggung-tanggung, berasal dari keluarga Verleon. Pria tampan yang selalu menggendong anak kecil manis bernama Lamia setiap kali mereka bertemu.
Siapa lagi kalau bukan Zerfist?
Tapi kali ini, Zerfist tidak sendiri. Ada seorang wanita cantik yang pernah Cessa lihat juga menggendong Lamia di beberapa kesempatan. Siapa namanya kalau tidak salah? Bella? Isabella? Pria itu datang bersama wanita yang kelihatan sekali aura lembutnya, bahkan lebih lembut dari soft cheesecake yang sering dipesan Chris ketika ingin cemilan.
"Aunty!" gadis kecil yang menggelayut dalam gendongan Zerfist mengulurkan tangannya menggapai Cessa yang duduk di balik meja kerjanya.
"Hai, Lamia," Cessa tersenyum lebar dan menyentuh pipi gadis kecil itu, "Kau tampak lucu setiap kali aku melihatmu. Kau juga makin cantik."
Lamia balas tersenyum lebar dan mengoceh tanpa henti. Zerfist berusaha menenangkan Lamia agar mereka bisa berbicara ketika wanita di samping pria itu menawarkan diri untuk menggendong putri Zerfist tersebut. Berpindah tangan, Lamia menjadi lebih diam dan tenang. Ia asyik bermain dengan bunga kering yang diberikan wanita itu.
"Silakan duduk,"
Cessa memanggil office girl lewat intercom untuk mengantarkan minuman dan cemilan ke ruang kerjanya. Setelahnya, wanita mungil itu duduk di sofa di seberang Zerfist dan Bella yang masih menggendong Lamia.
"Jadi ..., inikah wanita pilihanmu?" tanya Cessa.
"Jangan banyak bicara. Aku ingin kau membuatkan sebuah gaun pengantin untuk Bella," kata Zerfist, "Pastikan itu sesuai dengan seleranya."
"Oke ...," Cessa mengambil secarik kertas dan pensil di dekatnya, lalu menatap Bella, "Kau suka bunga apa?"
"Bunga lili."
Cessa manggut-manggut dan merancang sebuah gaun di kertas di tangannya, "Bunga lili, ya? Aku juga suka bunga lili, terutama Lily of The Valley."
"Aku suka bunga itu. Tidak ada alasan khusus, hanya saja aku memang suka bunga itu," ujar wanita itu sambil tersenyum. "Terutama yang warna putih. Karena aku juga suka makna dari warna putih."
"Oh ya? Apa itu?" tanya Cessa tanpa mendongakkan kepalanya.
"Perasaan sayang pada seseorang yang kita cintai dengan tulus,"
Ucapan itu membuat tidak hanya gerakan tangan Cessa berhenti, tetapi juga menarik perhatian Zerfist yang duduk di samping Bella.
Bella melihat Zerfist dan Cessa sama-sama terdiam, "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Cessa berdeham dan menggeleng, "Tidak. Tidak apa-apa," katanya, kemudian mendongakkan kepala, "Kurasa kata-katamu itu ... benar. Perasaan sayang seseorang itu adalah sesuatu yang abadi."
Bella tersenyum sebelum perhatiannya teralihkan pada Lamia yang menarik-narik kalung yang ia pakai.
Cessa termenung sebentar memikirkan ucapan Bella barusan. Perasaan. Ya ..., bagi sebagian besar orang, mungkin itu adalah hal yang mendekati kata abadi. Mungkin perasaan yang dia rasakan saat ini pun sama dengan definisi yang diberikan oleh Bella.
Tangan wanita mungil itu kembali bergerak. Kali ini dalam waktu singkat, Cessa selesai membuat satu sketsa gaun pengantin yang tampak seperti bunga lili yang tengah mekar, persis seperti gambaran bunga yang disukai Bella. Ia menyerahkan sketsa itu pada wanita tersebut untuk dimintai pendapat.
"Gaun ini indah sekali. Sederhana, tapi elegan." Kata Bella.
Cessa hanya tersenyum tipis, dia melirik Zerfist yang juga ikut melihat sketsa tersebut.
"Terlalu sederhana," komentar pria itu, "Buat lagi yang lebih mewah."
"Oh, oke," Cessa mengambil kertas lagi dan menyelesaikan dua sketsa sekaligus, "Pilihlah dari dua rancangan ini, mana yang menurutmu lebih bagus, Zerfist?"
Pria itu mengamati dua sketsa yang baru dibuat Cessa dan menggeleng. Cessa kali ini mengerjap. Ia melirik Bella yang tampak tidak membantah ketika pria yang duduk di sampingnya itu menggeleng tanda tak setuju.
Sepertinya ini tidak akan mudah, Cessa membatin sambil kembali membuat sketsa berikutnya.
Nyaris sepuluh sketsa yang ia buat dan tidak ada satupun yang menarik perhatian Zerfist. Bella, di sisi lain hanya diam sambil terus menjaga Lamia dalam pelukannya. Anak perempuan itu sudah terlelap sejak Cessa membuat sketsa kelima, dan sampai sekarang Zerfist belum juga memberikan tanda bahwa sketsa yang ia buat bisa diterima.
Pada sketsa ke sebelas, akhirnya Zerfist tampak menerima sketsa tersebut. Ketika Bella ikut melihatnya pun, wanita itu mengangguk setuju. Cessa diam-diam bersorak dalam hati karena berhasil membuat rancangan sesuai selera, setelahnya ia hanya perlu mencari bahan yang berkualitas dan membuat sketsa itu menjadi gaun nyata dalam waktu sebulan.
Setelah menyelesaikan diskusi mereka, Zerfist dan Bella langsung pamit pergi. Cessa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lagi. Dia kembali merasakan perasaan tak enak yang menggelayut di hatinya. Kali ini lebih kuat daripada biasanya.
Apa-apaan ini? Kenapa perasaanku sering tidak enak seperti ini?
Tengah Cessa merenungi perasaannya yang selalu tidak enak, seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya dan memeluk wanita itu dari belakang. Cessa yang memang sedari tadi membelakangi pintu segera menoleh dan mendapati wajah suaminya yang bersandar di ceruk lehernya.
"Grim!"
"Kau baru saja bertemu Zerfist?" tanya pria itu, "Ada urusan apa dia kemari?"
__ADS_1
"Dia memintaku merancang gaun pengantin untuk Bella," kata Cessa, "Bukankah mereka akan menikah?"
"Ah, benar juga," Grim manggut-manggut, "Lalu? Kau berhasil lolos dari cengkeraman saudaraku itu?"
"Well, nyaris," Cessa tertawa geli, "Zerfist ternyata lebih kaku dari yang kubayangkan selama ini."
"Hmm ..., dia memang selalu seperti itu," Grim menarik kepalanya dari ceruk leher istrinya, "Ayo kita makan siang. Aku sudah memesankan tempat di restoran yang menyediakan makanan kesukaanmu."
Cessa menggeleng mendengarnya, "Aku tidak lapar,"
"Kau harus mau ikut makan siang. Aku tidak mau kau berubah menjadi tengkorak berjalan hanya karena jarang makan."
"Hei, aku selalu makan teratur! Kau, Chris, bahkan Latiava selalu mengingatkanku soal makan," gerutu Cessa sambil memutar bola matanya, "Kalian bertiga benar-benar seperti babysitter."
"Itu lebih baik, daripada aku harus melihatmu kurus dan buah dadamu tidak bisa kunikmati lagi."
"Grim!!"
Pria itu tergelak dan mencium daun telinga Cessa yang memberengut kesal, "Atau kau mau aku langsung memakan hidangan utama?"
"Maksudmu?" wanita mungil itu mengerutkan keningnya, bingung.
"Kita bisa membuat alasan agar kau mau makan dengan melakukan terapi terlebih dulu," seulas senyum jahil tersungging di bibir Grim, "Dengan begitu, aku yakin kau tidak akan menolak untuk pergi makan siang setelahnya."
"Ap—tidak mau! Aku tidak mau!"
"Kau tidak bisa menolak," ciuman Grim beralih ke leher Cessa, salah satu titik lemahnya, "Mumpung masih ada waktu setengah jam, bagaimana kalau kita mulai terapi saja?"
Cessa hendak protes lagi ketika pria itu dengan cepat membungkam mulutnya dengan ciuman panas. Dan selama setengah jam, Cessa benar-benar dibuat kelaparan dan tidak bisa menolak untuk pergi makan siang setelahnya.
***
Chris mengerutkan kening ketika Latiava datang kepadanya dan mengajaknya makan siang. Suatu hal yang aneh, mengingat wanita pirang itu sedang berada di tengah pemotretan dan harus mengejar jadwalnya yang padat seharian.
Hal ini juga yang membuat Chris semakin heran saat melihat di meja plastic di samping kursi wanita itu terdapat beberapa macam makanan yang sedari tadi belum tersentuh.
"Kau berencana mengajakku berkencan?" tanya Chris bergurau sambil duduk di kursi di sisi lain meja plastic tersebut.
"Oh," Chris mendengus, "Kau memintaku menghabiskan makanan yang seharusnya milik orang lain."
Latiava tidak menggubris sindiran dari pria itu dan terus memakan buah-buahan yang ada. Chris kemudian mengambil sepiring bolognase pasta dan memakannya pelan-pelan. Mata Chris memperhatikan kesibukan yang terjadi di studio tersebut dan sempat melempar senyum pada beberapa kru wanita yang bekerja di sana.
"Aku hanya butuh teman untuk makan," Latiava tiba-tiba berujar, "Dan untuk menghabiskan makanan yang seharusnya kumakan bersama Grim."
"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja," Chris menelan satu suapan pasta lagi, "Tumben sekali kau tidak mengambek karena Verleon itu berada entah di mana."
"Aku tidak sedangkal itu untuk terus menangis meraung-raung, kalau itu yang ingin kau katakan," balas Latiava, "Aku juga tahu diri. Lagipula aku hanya salah satu perisai untuk si pendek itu agar aman dari musuh-musuh Verleon."
Chris diam. Dia sudah tahu alasan pernikahan Latiava dan Grim berdasarkan apa. Jadi dia tidak banyak memberi komentar bila wanita pirang itu sudah mengatakan bahwa dirinya adalah 'perisai'.
Latiava mengambil sepiring kecil fish and chips, "Dan kurasa aku punya firasat buruk tentang beberapa hal menyangkut mereka berdua."
"Oh ya?"
Wanita pirang itu mengangguk, "Cessa pernah bilang padaku kalau belakangan ini perasaannya selalu tidak enak, entah karena alasan apa. Dia juga bilang kalau firasatnya sering menjadi kenyataan, apalagi firasat buruk."
Chris mengangguk setuju. Firasat Cessa selalu akurat bila berhubungan dengan hal-hal buruk. Chris tidak tahu dari mana Cessa memiliki kemampuan berfirasat yang bisa menjadi kenyataan, tapi mengingat dulu ia pernah melihat sendiri firasat yang dirasa wanita itu menjadi kenyataan, ia tidak pernah tidak percaya lagi pada ucapan Cessa.
"Cessa bilang akan ada sesuatu yang terjadi, tapi dia tidak tahu apa," Latiava menyuap satu keripik kentang ke dalam mulutnya, "Menurutmu, firasat apa yang dipikirkan si pendek itu?"
"... entahlah," kata Chris dan berdeham, "Firasat Cessa selalu menjadi kenyataan. Jika dia sudah berkata kalau ada sesuatu yang akan terjadi, maka itu benar-benar akan terjadi."
Latiava manggut-manggut, "Menurutmu, apa orang mati bisa dihidupkan kembali?"
"Apa maksudmu?"
Wanita pirang itu menggeleng pelan, menyadari kekonyolan pertanyaannya barusan, "Tidak. Aku sedang memikirkan tawaran untuk mengisi peran di salah satu film horror."
Chris mengerutkan kening, menatap lekat-lekat wajah Latiava yang persis sama seperti raut wajah Cessa ketika sedang melamun tanpa arah. Tangan pria itu terjulur melewati meja dan mendarat tepat di kepala Latiava, yang menatap Chris dengan tatapan kaget.
"Tidak perlu memikirkan hal-hal berat, setidaknya kau harus memikirkan dirimu sendiri sebelum memikirkan orang lain."
__ADS_1
Darimana pria itu tahu apa yang sedang dipikirkan Latiava? Wanita itu melongo dengan wajah yang terlihat seperti orang bodoh dan membuat Chris tertawa, "Wajahmu mirip dengan wajah Cessa ketika si mungil itu memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri."
"A—kau menyamakanku dengan si pendek itu?" tanya Latiava tidak terima.
"Well, kau cocok menjadi kakak perempuan Cessa, apalagi dengan mulut super pedasmu itu," Chris terkekeh, "Dia paling benci dengan orang yang cerewet, tapi juga tidak senang bila tidak ada orang yang berbicara di dekatnya. Dia butuh ketenangan, tapi juga butuh keramaian."
"Terlalu rumit untuk kumengerti," kata Latiava.
"Memang," Chris tertawa, "Tapi setidaknya, dia tidak pernah berubah dalam satu hal."
"Oh ya? Apa itu?"
"Dia dikelilingi oleh pria aneh, dengan kekurangan mereka masing-masing," senyum Chris kali ini terlihat aneh di mata Latiava, "Kau tahu, Evander, aku punya sisi lain yang hanya diketahui oleh Cessa, dan sekarang mungkin aku akan berbagi padamu."
Latiava bergidik melihat senyum tak wajar pria itu. Dia hampir melompat pergi ketika Chris tertawa terbahak-bahak.
"Astaga, wajahmu benar-benar mengekspresikan apa yang sedang kau rasakan." Ujar pria pirang itu, "Persis seperti Cessa."
"Kau berani sekali menertawakanku, setelah membuatku ketakutan dengan senyum anehmu barusan!" gerutu Latiava, "Kau nyaris membuatku memanggil keamanan, kau tahu?"
"Ya, ya ..., aku sudah pernah diancam seperti itu, tapi kali ini, kaulah yang mengundangku kemari. Bukan aku."
Latiava melongo mendengarnya. Chris kembali tertawa melihat wajah lucu wanita itu ketika terbengong-bengong persis seperti kucing yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Jangan khawatir," Chris kembali berkata, "Aku tidak akan mengatakan apa keanehanku padamu saat ini. Belum. Tetapi ketika saatnya tiba, mungkin saat itu ... kau tidak akan pernah bisa melihat dunia lagi."
"Kata-katamu terdengar seperti dialog dari film thriller. Itu tidak menakutkan." Balas Latiava.
Chris hanya tersenyum mendengar ucapan Latiava. Ia mengambil gelas kertas berisi kopi di atas meja dan menyesapnya pelan, "Kuharap kau tidak menyesali kata-katamu itu, Evander."
"Kenapa aku harus menyesalinya?"
"Karena mungkin saja, sesuatu yang difirasatkan Cessa akan berubah menjadi kenyataan dan membuat Cessa dan mungkin dirimu juga, dalam bahaya."
***
Cessa mengerutkan kening saat melihat hari sudah sore dari jendela ruang kerjanya. Ia meringis, menatap tangan yang memeluk pinggangnya dengan erat dari belakang. Ia menoleh melewati bahunya dan melihat Grim yang tidur dengan tenang. Kepalanya mengingat-ingat lagi apa yang terjadi sebelum mereka berakhir tidur berpelukan seperti ini dan tanpa sehelai pakaian.
"Ah, ya ..., makan siang," gerutu Cessa sambil menghela nafas, "Kau benar-benar membuatku menjadi makan siangmu, Grimvon."
"Hm? Kau mengatakan sesuatu?"
Cessa berjengit kaget dan kembali menoleh ke belakang, mendapati Grim sudah terbangun dan sedang menatapnya dengan raut jahil di wajahnya.
"Main dish-ku ternyata luar biasa enak," goda pria itu sambil mencium daun telinga Cessa, "Caramu menyebut namaku juga lebih baik dibanding dulu. Itu hal yang bagus."
Wanita mungil itu memutar bola matanya dan mencubit punggung tangan Grim yang masih melingkari pinggangnya, "Dan kau sukses membuatku kelaparan."
Grim tertawa dan mencium pipi Cessa sebelum kemudian bangun dan membantu wanitanya itu duduk di pangkuannya, "Aku memang bertujuan membuatmu lapar, Princess. Dan aku berhasil, bukan?"
"Lebih dari berhasil," Cessa mengedikkan bahu, "Tapi sekarang sudah sore. Berarti waktu makan siang sudah lewat."
Grim ikut memperhatikan langit sore dari jendela, "Tidak ada kata terlambat, Princess. Kau mau kita pergi makan sekarang? Kau benar-benar lapar?"
"Sangat,"
"Kalau begitu pergilah mandi lebih dulu. Aku akan menunggumu ...," Grim terdiam sebentar, "Bagaimana kalau kita mandi bersama saja?"
Mata Cessa langsung mendelik menatap suaminya sementara pria itu tergelak, "Aku hanya bercanda, Princess. Sekarang pergilah mandi, kemudian kita akan pergi ke suatu tempat untuk makan."
"Kau sendiri tidak mandi?" tanya Cessa.
"Kau mau menerima tawaranku mandi bersama?" balas Grim.
"Tidak, tetapi kau juga harus mandi." Kata wanita mungil itu, "Setelah aku mandi, kau juga harus mandi."
"Hei, ini pertama kalinya kau menyuruhku melakukan sesuatu." Grim tersenyum lebar, "Aku akan mandi setelahmu, sekarang pergilah ke kamar mandi."
Cessa memungut gaunnya yang teronggok di lantai dan melesat ke kamar pribadinya. Grim masih berada di tempatnya sambil memandangi langit menjelang sore. Mendadak saja pikirannya kembali mengingat Eve, dan itu membuat Grim mengerang jengkel.
"Kenapa aku masihteringat pada Eve?"
__ADS_1