
Kalimat itu sangat menggoda, menggelitik benak Cessa. Tapi dia tahu pasti kalau Grim melakukannya bukan dengan niat tulus. Cessa tidak buta. Dia sangat tahu reputasi Grimvon Verleon, bahkan pegawai di butiknya selalu membicarakan putra kedua dari keluarga Verleon itu di depannya.
"Tidak perlu. Aku sudah cukup senang dengan kehidupanku sekarang." kata Cessa, "Tidak perlu merepotkan dirimu. Jadi, apa hanya itu yang ingin dibicarakan? Kalau iya, segera antar aku pulang dan jangan pernah menemuiku lagi."
"Aku belum bilang pembicaraan kita selesai. Kau bahkan belum menerima tawaranku untuk membantumu sembuh dari traumamu." Balas Grim, "Aku punya metode tersendiri untuk membuatmu sembuh. Mau mencobanya?"
"Tidak, terima kasih. Aku lebih baik tidur di rumah dan memikirkan film apa yang akan kutonton besok daripada memikirkanmu membantuku sembuh." Cessa mencibir, "Aku tahu reputasimu sebagai playboy, Grim. Jadi sebaiknya enyahkan pikiran kalau kau bisa membantuku sembuh, alih-alih tidur denganku."
"Memang itu yang ingin kulakukan." Balas Grim pendek.
Cessa memutar bola matanya, jengah dengan sikap tak peduli yang sedang dilakukan Grim. Entah apa kesalahannya sampai-sampai pria ini terus membuntutinya akhir-akhir ini. Yang jelas, ini berakibat buruk bagi kesehatan mentalnya.
Grim tidak melihat ekspresi wajah Cessa dan membelokkan mobilnya ke arah berlawanan. Cessa yang melihat jalan yang mereka lewati bukan jalan yang biasa ditempuh untuk sampai ke apartemennya menatap Grim dengan mata disipitkan. "Kau mau membawaku ke mana?"
"Aku sudah bilang, aku akan membantumu sembuh, atau ..., begini saja, aku akan membuat sebuah kesepakatan untukmu." Kata Grim.
"Kesepakatan apa? Kau ingin aku menjual diriku padamu? Jangan harap." Balas Cessa.
"Tidak, aku tidak akan mau melakukannya walau aku sangat ingin menyarankan itu." Grim tersenyum lebar, "Aku tidak akan melakukannya, kesepakatan yang ingin kutawarkan adalah kau bersedia membantuku mengenal dirimu dan menyembuhkan traumamu, atau rahasia yang kau simpan rapat-rapat kusebarkan kepada public dan mereka akan tahu kalau kau punya aib yang memalukan seperti diperkosa ayah dan kakak tirimu."
Sekali lagi tubuh Cessa menegang. Matanya menatap Grim dengan tatapan setajam pisau. Pria ini ..., pria ini jelas mengancamnya. Itu bukan kesepakatan. Bagi Cessa, bila mengambil satu di antara dua pilihan itu hasilnya sama saja.
"Kau sedang mengancamku?" desis Cessa, "Kau pikir hanya karena kau seorang Verleon, kau bebas memutuskan apa yang terbaik untuk seseorang?"
"Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi aku harus mengoreksi sedikit ucapanmu, aku tidak pernah benar-benar bebas memutuskan yang terbaik untuk seseorang. Terakhir kali aku melakukannya, aku kehilangan dirinya."
__ADS_1
Cessa mengerutkan kening ketika Grim mendadak terdiam. Tetapi itu tidak lama, karena pria itu berdeham dan kembali menatapnya, "Jadi, kau mau menerima tawaranku, Princess?"
"Kalau aku menjawab tidak?" tantang Cessa.
"Kalau begitu aku akan memaksamu." Grim membelokkan mobilnya ke sebuah bangunan hotel yang merupakan salah satu investasi milik keluarga Verleon.
Cessa langsung waspada ketika Grim melepas seat belt-nya dan keluar dari mobil. Ia tidak membiarkan Grim membantunya turun. Dengan gerakan cepat dia membuka seat belt-nya sendiri dan membuka pintu mobil. Kakinya bersiap membawanya kabur saat kedua tangan Grim memeluk pinggangnya dan menggendong wanita itu dengan gerakan yang lebih cepat dibanding refleks Cessa.
"Turunkan aku!"
Grim diam dan tidak mengindahkan protes Cessa yang berontak dalam gendongannya. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan penuh minat yang diperlihatkan karyawan hotel dan beberapa pengunjung yang ada di pintu masuk. Dengan santainya pria itu membawa Cessa menuju sebuah lift khusus setelah memberikan kunci mobilnya pada salah seorang keamanan di hotel tersebut.
"Lepaskan aku, Grim! Lepas!" Cessa masih melancarkan protes dan memukul dada Grim. "Lepaskan aku, Grimvon Verleon!"
"Tidak. Kau harus ikut aku." balas Grim tenang. "Jadi diamlah dan jangan terus memberontak atau aku akan merobek pakaianmu di sini sekarang juga."
Pintu lift terbuka dan Grim melangkah melewati koridor yang dilapisi karpet berwarna abu-abu. Hanya ada beberapa pintu di lantai itu dan semuanya kosong. Lantai tiga puluh lima atau lantai tertinggi di hotel itu adalah milik pribadi dirinya dan kedua saudaranya. Grim bahkan sering menghabiskan malam-malam jenuh setelah bekerja bersama beberapa wanita penghibur di lantai ini.
Grim membawa Cessa ke salah satu pintu, mengambil kartu kunci dari saku jasnya dan menggunakannya untuk membuka pintu. Pria itu lalu masuk ke dalam dan mendudukkan Cessa dengan lembut di sisi tempat tidur yang dilapisi sprei putih di kamar tersebut.
"Kau mau apa membawaku ke sini?" Cessa menatap interior ruangan itu dengan sedikit takjub. Dia jarang menginap di hotel karena memang tidak suka bepergian jauh. Dia bahkan lebih memilih hotel yang lebih murah karena itu bisa membuatnya tidak terlalu menjadi pusat perhatian kalau memang harus pergi ke luar negeri untuk menghadiri show yang menggunakan pakaian rancangannya.
Grim duduk di sebelah Cessa dan membuat wanita itu terkesiap kaget. Cessa hendak beringsut menjauh tetapi tangan Grim sudah lebih dulu meraih pinggangnya dan menariknya lebih dekat dengan pria itu.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!"
__ADS_1
"Princess, diamlah. Walau kau berteriak sekalipun tidak ada yang akan mendengar suaramu di sini. Di lantai ini tidak ada CCTV, tidak ada petugas keamanan, dan terutama di sini adalah lantai paling tinggi di hotel ini." kata Grim, "Kau mau kabur pun juga percuma. Hanya aku yang memiliki kunci di lantai ini."
Wajah Cessa mulai berubah pucat. Dia kemudian berusaha melepaskan diri dari Grim, sayang pelukan pria itu terlalu erat dan membuatny menggigil ketakutan. "K-kau bilang kau hanya ingin berbicara ..., tapi kenapa kau malah memaksaku ke sini?"
Cessa menundukkan kepalanya. Ketakutan mulai menghiasi raut wajahnya yang seperti boneka. Grim tahu tubuh mungil Cessa gemetaran. Dia melonggarkan pelukannya dan mengelus rambut Cessa yang masih terikat karet rambut. "Aku membawamu ke sini bukan untuk menakutimu. Sudah kubilang aku akan membantumu sembuh dengan caraku sendiri."
Grim mendongakkan wajah Cessa dengan jari telunjuknya. Mata wanita itu dipenuhi ketakutan dan bibirnya terkatup rapat. Grim yakin saat ini pikiran Cessa tertutup rapat dan traumanya sedang mencoba untuk bangkit sekali lagi.
"Tidak apa-apa, Princess. Aku janji tidak akan menyakitimu. Kau bisa percaya padaku." kata Grim tenang, "Katakan, apa kau percaya padaku?"
Cessa tidak bisa menjawab. Dia menepis jari Grim yang berada di dagunya dan mencoba melepaskan diri, tetapi Grim tidak membiarkannya. Ditahannya pinggang Cessa dan membuat wanita itu tersentak kaget. Mata Cessa menatap nanar ke sekeliling dan merasakan paranoia yang membuatnya gemetar lebih keras.
"Ssshh ..., Princess." Grim memeluk Cessa dan mencium rambut wanita itu, "Tidak apa, tidak ada siapa-siapa di sini selain kita berdua."
"Lepaskan aku, kumohon ...." Pinta Cessa gemetar, "Aku janji aku tidak akan nakal ..., aku tidak akan lari ..., tolong, lepas ...."
"Princess, hei," Grim kali ini menangkup wajah Cessa, "Di sini tidak ada ayah dan kakak tirimu. Yang ada hanya aku. Aku tidak akan membiarkan kedua bajingan itu menyentuhmu, paham?"
Tetapi Cessa sudah tidak bisa berpikir jernih. Wanita itu kembali menepis tangan Grim dan berusaha menjauh. Grim menghela nafas dengan kasar. Cessa benar-benar sudah jatuh kembali ke dalam traumanya. Wanita itu mulai meracau sambil terus berusaha melepaskan diri darinya. Airmata mulai keluar dari sudut mata Cessa.
"Tidak ada cara lain." gumam Grim.
Dengan satu gerakan, kini Cessa berada di bawah tubuhnya. Mata bulat itu menatapnya dengan sinar ketakutan. Saat ini sebenarnya membuat Cessa tampak menggoda dengan rambutnya yang nyaris terlepas dari ikatan rambutnya dan blusnya yang sedikit terangkat, menampilkan kulit perutnya yang putih mulus. Grim menarik nafas dan menahan geraman yang nyaris keluar dari mulutnya. Ditatapnya Cessa yang balas menatapnya dengan ekspresi ketakutan.
"Aku sudah bilang untuk percaya padaku, Princess. Dan ketika aku mengatakannya, aku bersungguh-sungguh."Kata Grim, sebelum kemudian melumat bibir Cessa.
__ADS_1