
Ketika bangun di pagi hari, Cessa merasa nyaman dalam pelukan Grim. Pria itu benar-benar memeluknya sepanjang malam dan membuat senyum terukir di bibirnya.
"Grim," Cessa menyentuh pipi pria yang kini menjadi suaminya, "Bangun. Sudah pagi."
Grim mengerang dan malah memeluk Cessa lebih erat. Wanita itu merengut lucu. Dia yakin Grim sudah terbangun karena dia ingat kalau pria itu punya kebiasaan langsung terjaga saat seseorang membangunkannya satu kali.
"Jangan berpura-pura tidur, Grim. Bangunlah. Aku mau mandi." ujar wanita itu lagi dengan nada sedikit manja.
"Kalau aku mau kau di sini dan menemaniku seharian di ranjang, bagaimana?" lirih pria itu tanpa membuka matanya.
Cessa mendengus dan mencubit lengan Grim, "Kau pasti memikirkan berbagai cara untuk membuatku tetap di ranjang seharian, tapi aku tidak mau menjadi pemalas. Sekarang bangunlah! Aku mau mandi. Badanku terasa lengket."
Pria itu tertawa dan membuka sebelah matanya sebelum mendaratkan ciuman kecil di pipi Cessa, "Baiklah, aku akan bangun. Tapi aku juga akan mandi bersamamu."
"Terserah kau," Cessa bangkit untuk berdiri dari ranjang dan langsung berlari ke kamar mandi diikuti oleh Grim.
Pria itu melihat tubuh telanjang Cessa dan tertawa geli, sepertinya wanita itu lupa kalau dia tidak memakai sehelai benang pun. "Princess, apa kau sedang menggodaku?"
"Eh?" Cessa menoleh kearah Grim dan detik itu juga dia memalingkan wajahnya. Dia lupa kalau Grim tidak memakai apa-apa di tubuhnya. Dan juga ... tunggu sebentar. Matanya menunduk ke bawah dan baru sadar dia sendiri tidak memakai apa pun.
Pipi wanita itu langsung memanas dan dia menggunakan botol sabun di dekatnya untuk dilemparkan pada Grim yang langsung mengelak.
"Maniak!" desis wanita itu sambil menutupi dadanya.
"Hei, apa salahku? Bukankah kita sudah menjadi suami-istri? Ini hal yang wajar, Princess." balas Grim, "Astaga, aku tidak tahu kau sepolos ini. Padahal kau sudah sering melihatku telanjang, 'kan?"
Cessa mencebik. Grim benar-benar terlalu percaya diri. Dan sayangnya pria ini sudah menjadi suaminya. "Kenapa kau makin menyebalkan?"
"Karena aku menyayangimu, Princess," Grim tersenyum lebar dan mendekati Cessa, memeluknya dari belakang, "Jangan malu seperti itu. Kau malah membuatku tidak bisa menahan diri."
"Hentikan," Cessa memutar bola matanya, "Kita mandi saja dan jangan melakukan apa pun. Setelah ini aku ingin pergi keluar."
"Kau mau pergi ke mana?"
"Ke mana saja. Aku ingin berjalan-jalan di luar," balas wanita itu, "Apa kau punya tempat yang bagus untuk kita bepergian?"
Grim memiringkan kepalanya. Jarang sekali Cessa meminta pendapat padanya. Mungkin setelah menunjukkan dia benar-benar menyayangi wanita ini dan melamarnya bahkan sampai menikah, Cessa menjadi lebih terbuka.
"Sini, biar aku yang menggosok punggungmu," kata Grim ketika Cessa hendak menyabuni tubuh moleknya itu, "Jangan merengut begitu. Aku sedang menjadi suami yang baik untukmu, Princess."
"Oh, kau berencana menjadi suami yang jahat?" balas Cessa.
"Kau terlalu curiga padaku," kekeh pria itu, "Ayolah, jangan terus menggodaku. Kita selesaikan mandi kita dan setelahnya pergi jalan-jalan."
Seulas senyum lebar tersungging di bibir wanita itu. Ia membiarkan Grim menggosok punggungnya dan mereka melakukannya bergantian. Pagi yang manis seperti ini membuat Cessa bahagia. Dicintai seperti ini adalah mimpinya sejak ia mendapatkan trauma. Dan sekarang dia mendapatkannya dari Grim, yang ia kira akan berperilaku sama seperti kedua pria yang membuatnya trauma parah.
Setelah mandi, mereka berdua mengenakan pakaian santai yang agak tebal. Udara dingin di awal musim dingin sering membuat Cessa sakit-sakitan. Grim sudah menyelidiki hal ini dan dia tidak akan membiarkan istri mungilnya itu sakit di awal bulan madu mereka.
__ADS_1
"Terima kasih," Cessa tersenyum manis saat Grim melingkarkan sebuah syal abu-abu tua di lehernya.
"Untuk Princess-ku, apa yang tidak akan kulakukan?" Grim mencium kening Cessa, "Ayo, kita sarapan lalu pergi jalan-jalan."
Cessa mengangguk senang dan melingkarkan lengannya di lengan Grim. Hatinya berbunga-bunga. Dan dia menyukai setiap sensasinya.
***
Berjalan-jalan tanpa tujuan sejak dulu adalah impian Cessa. Bahkan saat kecil dia pernah bercita-cita menjadi traveler yang berkeliling dunia dan menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan Negara yang ia kunjungi. Dan kini, dia bisa mewujudkan sedikit mimpi masa kecilnya itu bersama Grim.
Pria itu membawanya ke tempat-tempat yang indah yang belum pernah Cessa lihat. Mereka pergi berjalan-jalan tanpa tujuan dan ketika waktu makan siang tiba, Grim membawanya ke sebuah restoran kecil yang menyediakan makanan Asia yang disukai Cessa. Menyadari Grim memperhatikan apa saja yang ia sukai membuat hati Cessa membuncah. Pria itu juga tidak pernah melepaskan tangannya kecuali saat mereka makan. Yang jelas, hari ini Cessa merasa seperti ratu karena diperlakukan dengan manis oleh Grim, suaminya.
"Setelah ini bagaimana kalau kita pergi ke taman yang agak sepi? Aku pernah dengar ada taman di dekat sini, katanya taman itu sangat indah dengan bunga-bunga mawar putih yang ditanam di sana." kata Grim sambil meminum kopi pesanannya.
"Benarkah?" mata Cessa berbinar mendengarnya, "Kita akan ke sana?"
"Kau mau ke sana?"
"Tentu saja!" wanita itu menganggukkan kepalanya, "Aku suka mawar putih, bukankah kau juga menyukainya?"
"Memang. Kalau begitu kita akan ke sana setelah makan siang." kata pria itu sambil tersenyum, "Habiskan makananmu. Aku tidak mau kau kembali lapar dan merengek minta makan."
"Hei, kau pikir aku anak kecil?" sungut Cessa, "Kau sendiri kenapa tidak makan? Apa makanan ini tidak sesuai dengan lidahmu?"
"Aku tidak terlalu suka makan makanan Asia," pria itu menggeleng, "Aku lebih suka macaron."
"Tentu saja aku mau. Saat kita sudah kembali ke mansion kita, kau bisa menggunakan dapur untuk membuatkan makanan itu untukku." Grim berkata sambil mengangguk.
"Baiklah. Aku berjanji akan membuatkanmu makaron ketika kita berada di mansion," balas Cessa, "Tapi sekarang kau harus makan, Grim. Makanlah sepiring saja."
"Suapi aku," Grim tersenyum lebar, "Aku ingin kau menyuapiku, Princess."
"Apa?" Cessa tersenyum geli, "Grim, kau bukan anak kecil lagi. Untuk apa kau minta disuapi?"
"Ayolah, aku ingin disuapi istriku yang seksi dan mungil ini," pria itu merengek, "Ayolah, Princess. Kali ini saja."
Ini pertama kali Cessa melihat pria itu merengek seperti anak kecil, dan wajah Grim tampak lucu jika seperti ini. Membuatnya tidak bisa menahan tawa. "Kau benar-benar seperti anak kecil saja. Sini! Buka mulutmu dan katakan 'aaaahh'."
Pria itu tersenyum lebar dan membuka mulutnya, Cessa menyuapkan sesendok nasi pada Grim dan mengangkat alisnya ketika melihat raut wajah pria itu tampak menikmati.
"Rasanya enak," ujar Grim, "Lagi. Suapi aku lagi."
"Makan saja sendiri, Grim. Kau bukan anak kecil lagi." wanita itu tertawa.
"Makan makanan yang disuapi olehmu lebih menggoda dibanding makan sendiri." balas pria itu sambil tersenyum, "Atau ... kita perlu mencari tempat sepi untuk hidangan penutup?"
Mata wanita itu langsung mendelik penuh peringatan sementara Grim tertawa, "Astaga, matamu itu mengekspresikan segalanya," kata pria itu, "Kau benar-benar lucu, Princess."
__ADS_1
"Dasar maniak bercinta! Kenapa hal satu itu tidak pernah bisa lepas dari otakmu?" balas Cessa.
"Itu sudah menjadi hal yang naluriah bagi kaum pria, Sayang. Seharusnya kau tahu."
"Baiklah, baiklah. Tolong jangan ceramahi aku soal itu. Telingaku yang polos ini akan ternodai oleh ucapanmu." wanita boneka itu menutup kedua telinganya dan berpura-pura bertingkah polos, membuat tawa Grim makin melebar.
"Astaga, Princess, aku tak tahu kau bisa bercanda juga," katanya, "Kau sudah selesai makan?"
Cessa menatap makanannya yang hampir habis dan mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke tempat selanjutnya." Grim berdiri disusul oleh Cessa. Mereka berdua berjalan keluar bersama dari restoran tersebut diiringi tatapan iri oleh beberapa pelanggan wanita, yang disadari oleh Cessa.
***
Setelah berjalan-jalan seharian dan menghabiskan waktu berduaan saja, Grim mengajak Cessa menuju mansionnya. Cessa menatap mansion besar di hadapannya dengan kening berkerut. Jujur saja, ia merasa gugup saat ini. Benaknya masih dipenuhi pikiran apa dia harus senang atau tidak bersama Grim sekarang ini. Dia tidak tahu kenapa ia harus memikirkan hal itu, hanya saja otaknya selalu memikirkan itu.
Grim berdiri di samping wanita itu dan merengkuh pinggangnya, "Ada apa, Princess?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa gugup." Cessa tersenyum manis.
"Seharusnya kau tidak perlu gugup, Nyonya Verleon. Wajah gugupmu itu bisa menggoda imanku." pria itu mencium sudut mata Cessa, "Aku punya kejutan di dalam. Ayo, kita masuk."
Grim membawa Cessa masuk ke dalam dan wanita itu menatap ruang tamu yang luas. Diam-diam Cessa menertawakan dirinya sendiri. Mansion Grim lebih luas dibanding perkiraannya dan dia tidak bisa tidak mengagumi interior di setiap ruangan yang ditunjukkan Grim. Baru ketika pria itu membawanya ke lantai atas, Cessa dibawa ke satu ruangan di ujung koridor.
"Di sini?" Tanya wanita itu menunjuk pintu di depan mereka.
"Ya, bukalah."
Cessa memegang kenop pintu dan membukanya. Ketika melihat apa yang ada di baliknya, wanita itu mengerjap. Ruangan itu didominasi oleh warna abu-abu tua dan lantainya dilapisi karpet putih susu. Dan yang membuat Cessa tak menyangka adalah banyaknya kain-kain yang tak terhitung jumlahnya, beberapa patung manekin, sebuah meja panjang dan berbagai alat jahit termasuk sebuah mesin jahit berwarna putih di sudut ruangan. Pemandangan di luar jendela ruangan itu pun menghadap ke taman bunga yang berada tepat di sebelah mansion.
"Astaga, Grim, ini ...."
"Hadiah pernikahanku untukmu," kata pria itu, "Aku memutuskan untuk membuatkanmu sebuah ruang kerja sendiri ketika di sini, jadi kau bisa melakukan pekerjaanmu di rumah kalau kau sedang sakit dan tidak bisa pergi ke butik."
Cessa menatap pria itu, yang balas menatapnya dengan senyuman, "Kau benar-benar memperhatikanku." kata wanita itu, "Dengan apa aku harus membalasnya?"
"Kau mau membalasnya dengan apa?" tanya Grim balik sambil memeluk wanita itu dari belakang. Bibirnya mendarat di tengkuk Cessa yang terbuka lebar karena rambutnya disampirkan ke sisi kanan, "Bagaimana kalau dengan tidur siang?"
"Hanya itu?"
"Tidak hanya itu, Princess. Aku mau kau menemaniku setiap pergi ke universitas setelah kau tidak ada kegiatan di butik." bisik Grim, "Dan mungkin, aku bisa mencoba berbagai gaya yang ingin kulakukan bersamamu saat bercinta."
"Astaga, mulut dan pikiranmu itu ... ahh, Grim!"
Grim tidak mengindahkan protes Cessa. Dengan satu gerakan ia menutup pintu di belakangnya dan mencumbu wanita itu sampai malam tiba.
__ADS_1