
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun saat dia menghinamu?" tanya Bella pada Cessa ketika mereka berkumpul di ruangan lain yang biasa digunakan sebagai ruang tamu.
"Memangnya apa yang harus kukatakan?" balas Cessa datar.
"Kau ..."
"Hentikan, Bella," ujar Ivy, "Kau mau apa, Princessa?"
"Aku tidak menginginkan apapun," Cessa menjawab, "Aku hanya ingin kembali ke rutinitasku dan melupakan masalah ini."
"Tapi kau tidak bisa kembali," sela Plasidia, "Kita harus membuat Eve merasakan apa yang kita rasakan selama ini. Dia pikir kita ini semacam bayangan pengganti untuknya di mata suami kita? Apa kau mau terus-terusan dianggap pengganti?"
Cessa menatap Plasidia. Walau perkataan adik iparnya itu benar, tetapi Cessa tidak mau mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, terutama ... di hatinya.
Benaknya mengatakan apapun yang mereka lakukan kali ini akan menemui akhir. Akhir yang buruk. Terutama melihat tatapan Eve padanya tadi. Eve seakan bisa melihat isi hatinya dan mengatakan kalau dia akan mengakhiri segalanya.
Cessa gemetar, merinding karena pemikiran yang mungkin saja bisa menjadi kenyataan itu. Untuk hal satu ini dia benci dengan firasatnya yang selalu menjadi kenyataan.
"Kita akan kembali menyiksa Eve besok," kata Ivy, "Untuk malam ini, kalian beristirahat saja. Sampai jumpa besok."
Ivy bangkit dari kursi yang dia duduki dan berjalan keluar dari ruangan itu, menyisakan mereka berempat.
"Aku mau keluar," kata Bella.
"Aku ikut," Plasidia mengikuti Bella ikut keluar ruangan.
Cessa hanya menatap mereka, kemudian memejamkan mata. Gawat. Di saat seperti ini traumanya ingin muncul ke permukaan.
"Pendek,"
"Hm?"
"Kau ... kau memercayaiku?"
Cessa menoleh menatap Latiava, "Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya menanyakan apa yang terlintas dalam pikiranku," Lataiva mengedikkan bahu, "Kau tahu, aku tidak pernah menyerah untuk Grim, bahkan walau aku menjadi istri keduanya."
Cessa mendengus dan bersandar pada punggung sofa. Dia menatap Latiava yang balas menatapnya dengan tatapan serius, "Lalu, kau mau mengatakan apa? Meminta maaf? Bukankah itu sudah terlambat?"
"Aku tidak pernah meminta pengampunan," balas Latiava, "Yang ingin kukatakan adalah, sebejat apapun, sebrengsek apapun Grim, dia tetap pria yang kucintai. Dan aku yakin kau juga berpikiran sama."
"Lantas, kenapa?" Cessa mengerutkan kening, "Kenapa kau mengatakan seolah kau perlu mengatakan hal yang sebenarnya tidak penting itu?"
"Karena aku ingin Grim kembali," Latiava tersenyum, membuat Cessa tersentak.
Senyum Latiava begitu tulus sampai-sampai ia berpikir kalau wanita pirang di hadapannya ini bukanlah Latiava Evander yang selalu mengejek dan menghinanya ... sekaligus melindunginya. Cessa sangat sadar bahwa di balik sikap ketus, kata-katanya yang tajam bagai pisau, Latiava selalu melindunginya bahkan tanpa dia sadari.
"Latiava?"
"Tetapi sampai mati, aku tidak akan menyerah. Aku akan mencoba merebut hati Grim lagi dan mendepakmu dari posisi istri pertama," Latiava kali ini tersenyum lebar, "Setelah semua ini usai, aku akan kembali melancarkan seranganku pada Grim. Bersiaplah, Pendek."
Mata Cessa mengerjap, dia kemudian tertawa kecil sambil memiringkan kepalanya.
"Akan kunantikan hal itu terjadi."
***
Cessa merenung sambil memandang ke arah langit malam tanpa bintang di depannya. Semua orang sudah tidur, tetapi hanya dia sendiri yang tidak bisa tidur. Tatapan mata Eve dan juga kata-katanya menghantui pikiran Cessa. Entah kenapa dia kembali ragu kepada siapa ia harus percaya, pada Ivy, atau pada Eve?
Helaan napas keluar dari bibir Cessa sambil matanya tetap melihat langit malam.
"Kau tidak tidur?"
Cessa menoleh melihat Plasidia berjalan ke arahnya. Adik iparnya itu mengerutkan kening dan duduk di sebelahnya, "Kau sedang memikirkan apa?"
"Tidak memikirkan apa-apa," balas Cessa, "Hanya mengira-ngira kapan semua ini akan berakhir."
"Semua akan berakhir saat Eve mati," ujar Plasidia, "dan para suami yang brengsek itu harus kembali disadarkan bahwa Eve bukan lagi orang yang mereka kenal. Dia jalang licik dan penuh tipu daya."
"Begitukah?"
Plasidia menatap Cessa yang setengah melamun menatap langit malam di luar. Wanita mungil itu tampak persis seperti boneka ketika diam seperti sekarang.
"Cessa?"
"Kalaupun semua ini berakhir dan Grim kembali padaku pun ... kurasa tidak akan semudah kelihatannya," kening Cessa berkerut, "Aku punya firasat, tidak ada akhir bahagia dalam hidupku."
"Kau tidak boleh pesimis," kata Plasidia, "Seharusnya kau bersikap optimis."
Cessa kembali diam, kemudian dia berbicara lagi, "Tidak apa-apa. Kurasa aku akan pergi tidur sekarang. Bagaimana denganmu?"
"Aku akan mengantarmu ke kamar."
"Tidak perlu,"
Cessa memberikan senyum sekilas pada Plasidia sebelum kembali ke kamarnya. Dilihatnya Latiava sedang tidur di atas kasurnya. Ia berjalan memutar dan duduk di sisi tempat tidur. Matanya menatap ke depan, dia yakin saat ini pikirannya tidak bisa menuju alam mimpi karena apapun yang dia lakukan selalu mengingatkannya pada para pria yang sudah hadir dalam hidupnya.
"Glenn ..., lalu Grim ..., kemudian Chris," Cessa menghembuskan nafas keras, "Kenapa aku selalu dikelilingi pria tidak waras?"
"Chris tidak waras?"
Kepala Cessa sontak menoleh ke arah Latiava. Wanita itu menatapnya dengan mata setengah mengantuk, "Apa aku membangunkanmu?"
"Tidak. Tapi aku penasaran kenapa kau menyebut Chris tidak waras," sahut Latiava.
"Itu hanya masalah lama," Cessa meringis, "Aku tidak mungkin menceritakannya pada orang lain. Chris akan membunuhku jika aku sampai menceritakannya."
"Kau ini ...," Latiava mencibir, "Berikan saja aku satu petunjuk dan aku akan menebaknya."
"Kau yakin mau mendengarnya?" balas Cessa lagi.
"Katakan saja, Pendek."
Cessa terkekeh mendengar nada jengkel yang dikeluarkan Latiava, "Chris pernah memperkosa seseorang."
"Kau ..., tunggu. Apa?" Latiava langsung terduduk tegak dan menatap Cessa, "Hanya itu?"
"Hanya itu," Cessa tertawa, "Sudah kukatakan itu hanya masalah lama. Bahkan di sini, masalah seperti itu tidaklah penting."
__ADS_1
Latiava menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Dia pikir Cessa akan mengatakan bahwa Chris mengidap penyakit parah atau kelainan. Ternyata hanya...
"Tapi kalau hanya masalah seperti itu, kenapa kau menyebutnya tidak waras?" tanya Latiava lagi, menyadari ada yang janggal dari ucapan wanita mungil itu.
"Kau ini, aku sudah bilang kalau aku tidak bisa menceritakannya. Chris akan membunuhku." Kata Cessa.
"Oh, baiklah ..., baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi." Latiava menggaruk-garuk kepalanya, "Yang jelas dia pernah memerkosa seseorang. Apa wanita yang pernah bersamanya itu masih hidup?"
"Tidak, orang itu sudah meninggal." Jawab Cessa.
"Baiklah," Latiava mengangguk, "Aku akan tidur lagi. Kau sebaiknya juga tidur, Pendek."
"Aku tidak bisa tidur,"
"Terserahlah."
Latiava kembali berbaring dan mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Cessa masih tidak bisa memejamkan mata bahkan walau dia sudah mencoba memosisikan tubuhnya agar rileks dan dapat tidur. Namun, rasa kantuk tidak pernah datang menghampirinya malam ini.
***
Cessa mencuci wajahnya dengan air dingin di wastafel. Air dingin cukup membantu membuat pikirannya terjaga sepenuhnya. Setelah nyaris semalaman tidak bisa tidur dan baru bisa pergi ke alam mimpi saat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Ia menatap cermin dan menghela napas, ada kantung mata di kedua matanya, dan karena Latiava menyeretnya ke tempat ini tanpa persiapan, Cessa tidak sempat membawa peralatan make up-nya.
Wanita mungil itu mengambil sebuah handuk kecil dan menyeka air yang masih mengalir di wajahnya. Latiava sudah tidak ada di tempat tidur, sepertinya sudah bangun lebih dulu dan mungkin berkumpul bersama yang lain di ruang utama.
Dia baru membalikkan badannya saat Latiava nyaris bertabrakan dengannya.
"Latiava,"
"Pendek, kau ikut juga,"
"Ha? Ada apa?" tanya Cessa bingung.
"Minggir, kalian!"
Ivy menerobos di antara mereka dan berderap menuju ruangan tempat Eve berada. Latiava segera menyusulnya, sementara Bella dan Plasidia mengekori di belakang. Cessa juga tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka.
Begitu sampai di depan ruangan Eve, Ivy dan Latiava langsung masuk dan melihat Eve yang sudah tidak lagi terikat di kursi.
"Bagaimana kau lepas dari ikatan itu? Dan lukamu itu, bagaimana bisa?" Latiava menatap Eve tidak percaya, tidak ada satu pun luka bekas siksaan mereka kemarin ada di tubuh wanita itu.
Cessa datang bersama Plasidia dan Bella, matanya juga melihat Eve yang terlihat sangat sehat dan tidak terluka sedikit pun. Keningnya sempat berkerut, apa Eve punya obat yang bisa mempercepat penyembuhan atau sejenisnya?
"Sial, kau berisik sekali." Jawab Eve.
Latiava tersulut amarahnya. Dia berjalan cepat dan menghampiri Eve. Tangannya mencengkeram rambut wanita itu dan menariknya dengan kasar. Sebelah tangannya menggenggam sebuah pisau, yang kemarin juga dia gunakan untuk menusuk Eve. Kini dia kembali menusukkan benda tajam itu ke tubuh wanita yang ada di hadapannya.
"Dasar jalang tidak tahu diri!" Latiava menancapkan pisau itu dalam-dalam sebelum mencabutnya dengan kasar, kemudian menendang perut Eve hingga terjatuh ke belakang.
Namun, alih-alih meringis kesakitan atau menunjukkan sedikit ekspresi, Eve diam dan menatap datar ke depan. Cessa merinding melihat tatapan Eve yang tidak memperlihatkan rasa sakit. Dia juga melihat luka di bahu wanita itu, Latiava membuat tubuh Eve kembali bernoda darah.
Latiava melihat ekspresi datar Eve dan geram. Dia hendak menusuk Eve lagi saat telinganya mendengar suara letusan pistol, disusul rasa sakit yang membuat sekelilingnya menggelap seketika.
DORR!
"Latiava!!"
Cessa memekik melihat kepala Latiava berlubang karena muntahan peluru yang dilepaskan pistol di tangan Trace yang muncul entah dari mana. Sepertinya pria itulah yang membuat Eve terbebas dari ikatannya.. Ia cepat-cepat menerobos dan menopang tubuh Latiava. Wanita pirang itu sudah tidak bernyawa, dengan mata membelalak dan dahinya yang berlubang. Tangan Cessa gemetar saat melihat sorot mata Latiava yang tampak terkejut, tidak menyadari bahwa dia akan mati saat ini juga.
"Aku sudah katakan untuk tidak menyentuh Eve!" desis Trace dan maju menendang Ivy hingga tubuhnya membentur meja.
BRAAKK!
Ivy mendesis, keningnya mengernyit karena kesakitan, namun dia berusaha berdiri.
"Ugh, sial!" desisnya sambil berdiri dan menatap Trace dengan tatapan dingin.
"Seharusnya sejak dulu saja aku membunuhmu, Ivy." Lanjut Trace, membuat Cessa dan yang lain merinding dan berubah pucat.
"Hahaha, kau tidak akan bisa membunuhku, Trace. Eve akan membencimu jika dulu kau melakukan itu," kekeh Ivy sambil menatap Eve yang hanya berwajah datar dang drama yang entah siapa yang memulainya lebih dulu.
"Dan saat ini aku tidak peduli jika pun ia membenciku. Aku akan tetap mencintainya seperti dulu hingga saat ini." Jawaban Trace membuat Eve yang berdiri di dekatnya membeku.
Cessa melihat Eve, yang walaupun berwajah datar tapi masih dapat terlihat bahwa wanita itu mengetahui sesuatu.
"Hentikan," gumam Eve menatap datar Ivy dan Trace.
Hal selanjutnya yang Cessa lihat adalah sesuatu yang mungkin bisa dikategorikan pertengkaran antar-saudara.
Namun, daripada disebut begitu, ini lebih tepat disebut 'pelampiasan'. Ivy dan Eve saling serang. Tidak memerdulikan orang-orang yang menatap mereka dengan ngeri, walau Cessa juga termasuk di dalamnya. Tetapi dia cukup tahu bagaimana mengatur ekspresinya.
Tetapi tetap saja ... pertarungan antara Ivy dan Eve terlalu sulit dia ikuti.
"Tidak kusangka kau bisa sekuat itu, Eve." Kekeh Ivy sementara Eve diam dan bersiap dengan kuda-kudanya untuk menyerang Ivy lagi.
"Empat tahun cukup untuk meningkatkan kekuatanku, Ivy." Balas Eve sambil kembali melompat dan menerjang Ivy.
Eve kembali menyerang, tendangannya ditahan oleh Ivy. Eve melompat hingga kakinya yang satu lagi dapat menendang rahang bawah kembarannya. Suaranya terdengar cukup keras, membuat Cessa berjengit.
DUGH!
"Argh!"
Trace yang melihat mereka berdua hanya bisa mengerjapkan mata. Seharusnya Ivy bisa melawan dengan mudah setiap serangan Eve, namun mengapa dia tidak melakukannya sejak tadi?
"Maaf, aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Ivy." Kata Eve, yang langsung menembak Ivy tepat di perut wanita itu.
DORR!
"Ugh!" Ivy menahan rasa sakit yang menjalar dengan cepat dari perutnya yang tertembak.
Tidak hanya itu, Eve mengarahkan pistolnya ke dada Ivy dan kembali menembak, "Seharusnya ini yang aku lakukan sejak dulu!"
Eve melemparkan pistol di tangannya pada Trace dan menoleh kepada Cessa dan yang lain. Cessa kembali berjengit karena tatapan bengis dari Eve.
"Kalian," kata Eve, "Ikuti aku dan jangan berbuat macam-macam, meski kalian adalah kakak iparku aku tidak akan segan-segan melubangi kepala kalian!"
Plasidia dan Bella mengangguk cepat dengan ancaman Eve. Cessa juga mengangguk, bukan karena takut, tapi karena firasatnya menjadi kenyataan.
Semua tidak berakhir dengan baik.
__ADS_1
Trace menghampiri Eve, yang tangan dan kakinya mengeluarkan darah. Eve menatap pria itu sebentar, "Trace, kau tetap di sini dan urus wanita itu."
"Ke mana kau akan pergi, Eve?" tanya Trace khawatir.
"Menyelamatkan ketiga kakak tiriku yang bodoh itu," jawab Eve dengan gumaman.
"Tetapi lukamu—"
"Aku akan baik-baik saja," Eve memotong ucapan Trace dengan memeluknya erat-erat sebelum kemudian melepasnya sambil tersenyum manis, "Sampai jumpa Kakak."
Eve berbalik meninggalkan ruangan itu, diikuti Cessa, Plasidia, dan Bella. Cessa sempat melihat ke mayat Latiava yang ditinggalkan di sana. Dia sempat menoleh pada Trace dan mengangguk samar. Setelah semua ini selesai, dia akan membawa mayat Latiava untuk dimakamkan.
Untuk sesaat, Cessa kembali merasakan rasa kehilangan kareana Latiava yang sudah dia anggap keberadaannya, tewas di depan matanya sendiri.
Eve menghampiri mobil Ivy, setelah sebelumnya mengambil kunci mobil itu dari ruang tamu. Ia mengisyaratkan ketiga wanita yang mengikutinya untuk masuk ke dalam. Cessa memutuskan untuk duduk di kursi penumpang di samping Eve, sementara Plasidia dan Bella duduk di kursi belakang.
Eve menyalakan mesin mobil dan langsung meninggalkan tempat itu. Cessa melirik ke arah Eve yang fokus menyetir.
"Kau tahu ... kita akan ke mana?" tanya Cessa.
"Menyelamatkan mereka bertiga, tentu saja." Kata Eve.
"Di ... mana?" tanya Cessa lagi, "Apa kau tahu apa yang akan terjadi pada mereka?"
Eve kembali diam, matanya tetap fokus ke depan.
"Berdoalah suamiku dan dewan tertinggi Roulette tidak membunuh mereka sebelum kita datang." Tandas Eve.
***
Eve mengemudikan mobil menembus jalanan kota New York. Wanita berambut panjang itu tidak memerdulikan kondisinya yang cukup membuat Cessa mengernyitkan kening karena ngeri. Darah dari luka Eve terus keluar tetapi wanita itu tidak terlihat kesakitan.
Eve melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, mengabaikan lampu merah, dan hampir saja menabrak mobil lain yang datang dari arah berlawanan.
"Eve, kau ingin membunuh kami!?" teriak Plasidia yang dibalas Eve dengan satu lirikan sekilas.
Cessa tidak berkomentar. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana nasib Grim, bila apa yang diucapkan Eve tadi menjadi kenyataan? Firasatnya yang mengatakan bahwa semua ini ... tidak berakhir baik?
Mencapai hutan yang melindungi mansion tempat dia disekap sebelumnya oleh ketiga Verleon, Eve mengernyit melihat kepulan asap yang membumbung tinggi dari hutan. Belum lagi suara letusan senjata api yang saling beradu semakin terdengar jelas. Dia menepikan mobil ke sisi hutan yang tidak terbakar. Bau anyir darah tercium begitu kuat saat mereka semua keluar dari mobil.
Cessa keluar dan merinding ngeri melihat mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar mereka. Bau darah dan hutan yang terbakar menambah efek yang membuatnya ingin muntah karena masih belum terbiasa dengan pemandangan di hadapannya.
"A-apa yang terjadi?" tanyanya ngeri.
"Kalian cari suami kalian di dalam mansion! Aku tidak yakin mereka masih hidup, setidaknya salah satu dari mereka harus hidup," ujar Eve sambil membalikkan tubuhnya dan berlari memasuki mansion.
"Apa maksudnya?"Cessa berbalik menghadap Plasidia dan Bella.
"Kita berdoa saja kalau mereka baik-baik saja, meski aku tidak yakin mereka akan baik-baik saja," kata Plasidia sambil menarik tangan Cessa untuk mengikutinya.
Cessa hanya diam, masih bingung apa yang harus dia lakukan. Mereka berdua memasuki mansion yang nyaris seluruhnya terbakar. Suara retakan dari berbagai sisi bangunan itu membuat mereka harus bergegas mencari suami mereka masing-masing.
"Di mana mereka? Sial! Tempat ini juga bisa sewaktu-waktu runtuh bila kita tidak menemukan mereka dengan cepat!" keluh Plasidia sambil menghindari retakan yang hendak mengenai mereka.
Cessa menoleh-noleh, memastikan mayat-mayat yang mereka lewati bukanlah Grim ataupun Spade. Hampir beberapa lama berkeliling, mereka mendengar suara retakan besar disusul dengan suara ledakan yang membuat mereka berdua menutup telinga saking kerasnya.
"Ledakan itu ... dari sana!"
Kaki Cessa melangkah cepat ke sebuah ruangan asal suara ledakan tersebut berada. Matanya mengerjap melihat hampir seluruh ruangan itu tertutup puing-puing atap. Dia sempat melihat Bella yang mencari-cari di antara puing-puing.
"Apa ini? Kenapa ..." Plasidia yang baru sampai juga melihat pemandangan di depan mereka.
"Kalian berdua ..." Eve melihat ke arah mereka berdua, " ... bawa tubuh Spade dan Grimvon keluar dari tempat ini."
Mata Cessa mencari-cari sosok Grim, dan menemukannya di salah satu puing. Cessa bisa melihat dengan jelas tubuh Grim di antara puing atap yang runtuh. Berdekatan dengan tubuh Spade yang tidak bergerak di samping pria itu.
"Spade ... dan Grim di sana."
"Apa?"
Cessa berlari, kali ini mengabaikan panasnya api yang mengelilingi mereka dan menghampiri tubuh Grim.
"Grim!"
Cessa berlutut, menahan tangis saat dilihatnya tangan kiri dan kaki pria itu tidak ada lagi di tempatnya, mengeluarkan darah yang sangat banyak. Dia tidak sempat melihat Plasidia yang juga menemukan suaminya. Fokus mata Cessa hanya pada Grim yang ada di depannya.
"Grim, kau bisa mendengarku? Grim? Grim!?"
Cessa menepuk-nepuk pipi Grim, berharap sedikit saja pria itu sadar dan mendengar suaranya. Kondisi pria itu membuat Cessa menahan isak tangis. Kaki kanannya hancur, dan kedua tangannya berlumuran darah. Entah apakah darah itu berasal dari luka atau bukan, Cessa tidak mau memikirkannya sekarang.
Doanya terkabul. Pria itu membuka matanya. Mata Grim langsung bertumbuk dengan mata Cessa yang kini berlinang air mata.
"Prin ... cess?"
"Grim ..." Cessa menutup mulutnya, menahan isak tangis yang nyaris keluar.
"Kenapa ... kau menangis?" Grim terkekeh lemah dan dengan sebelah tangan menyentuh pipi Cessa, "Kau tidak perlu ... menangis."
"Aku berhak menangis, suami bodoh," Cessa menyeka air mata yang sayangnya tidak mau berhenti mengalir, "Kita pergi dari sini."
"Tidak ... kau yang pergi," kata Grim, "Aku tidak bisa ... uhuk!"
Grim batuk darah dan Cessa menggeleng kuat melihat kondisi suaminya, "Tidak, kau harus ikut aku. Kita akan keluar dari sini!"
Cessa meraih sebelah tangan Grim dan membantu pria itu berdiri. Cukup sulit karena tubuh Grim yang dua kali lebih berat darinya. Tetapi dia bisa mengatasinya. Dulu dia sering memapah Chris saat pria itu terlibat perkelahian. Memapah Grim saat ini bukanlah masalah yang besar, walau masalah utamanya adalah api yang mengelilingi mereka.
Ia menoleh, melihat ke arah Plasidia yang juga sedang menyeret Spade yang tetap diam tidak bergerak. Terlihat lubang menganga di kepala pria kutu buku itu, tanda bahwa Spade dipastikan telah tewas. Plasidia memapah suaminya dengan wajah menahan tangis. Dia juga melirik ke arah Cessa dan mengangguk.
"Kalian menemukan Grim dan Spade?" Bella menghampiri mereka dengan Zerfist yang juga sedang dipapahnya, "Kita pergi dari sini. Ayo!"
Mereka bertiga memapah suami mereka keluar dari mansion itu, sambil menghindari puing-puing atap yang runtuh juga mayat-mayat yang bergelimpangan. Asap dan api yang masih membumbung tinggi juga membuat mereka sempat menyerah untuk keluar dari tempat itu hidup-hidup.
Satu chapter lagi menuju ending!!!
__ADS_1