The Hope

The Hope
Chapter 38


__ADS_3

Grim menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah villa bergaya kuno. Ia melihat gerbang besar villa tersebut agak terbuka. Dari celah yang ada, ia bisa melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Grim teringat ucapan pengawalnya soal Chris yang bergerak lebih dulu menyelamatkan Cessa.



Pria itu menoleh kearah para pengawalnya yang keluar dari mobil, "Bantu Christopher di dalam,"



Grim membuka pintu gerbang lebar-lebar dan disuguhi pemandangan yang membuatnya takjub. Chris dan seorang pria berwajah Asia sedang bertarung dengan tangan kosong. Mata Grim melihat tubuh-tubuh yang ia duga penjaga villa ini, bergeletakan di mana-mana. Dan melihat Chris yang berdiri sendirian mau tidak mau membuat Grim takjub.



Pasti Chris yang membereskan nyaris lima puluh orang lebih penjaga ini sendirian. Stamina pria pirang itu tidak pernah disangka bisa sekuat itu.



Mata Chris melihat kedatangan Grim dan para pengawalnya. Ia mendecih dan melayangkan sebuah tendangan pada Glenn yang sekali lagi terdorong mundur, "Untuk apa kau datang kemari, Grimvon?"



"Menjemput Princess," kata Grim, lalu pandangannya beralih kearah Glenn, "Diakah yang bernama Glenn?"



Glenn melihat Grim dengan mata disipitkan, "Rupanya kau yang seenaknya mengklaim Hime sebagai milikmu. Maafkan ketidak-sopananku karena menyambutmu dengan berantakan seperti ini, Tuan Verleon."



Grim mengerutkan kening tak suka mendengar nada yang digunakan oleh Glenn. Ia mengisyaratkan para pengawalnya untuk mengepung Glenn sementara ia sendiri berjalan mendekat kearah mereka berdua. Ia berdiri di depan Chris dan menatap Glenn dengan sorot mata dingin, "Dan kau bajingan yang membuat Princess-ku terluka,"



Glenn mendengus, "Aku melakukannya agar ia bergantung padaku."



"Kau sakit," desis Chris.



"Ya, aku sakit karena Hime. Lalu kau mau apa? Membunuhku seperti ucapanmu sebelumnya?" tantang Glenn.



Chris hendak melayangkan pisaunya yang tergeletak tidak jauh dari kakinya ketika Grim mengisyaratkan untuk tidak melakukan hal tersebut. Sebaliknya, Grim melayangkan satu tendangan tepat di ulu hati Glenn, membuat pria Asia itu tersentak dan nyaris terjerembab jatuh.



"Kau ...,"



"Aku tidak akan semudah itu mengotori tanganku hanya untuk berhadapan dengan sampah macam dirimu," ujar Grim, "Asal kau tahu, Princess adalah istriku, milikku. Kau yang bukan siapa-siapa sebaiknya tidak perlu berkhayal memilikinya!"



Glenn terkekeh mendengar ucapan bernada kepemilikan dari Grim. Pria itu meludahkan darah di dalam mulutnya dan merapikan pakaiannya yang berantakan karena bertarung dengan Chris tadi, "Apa kau pikir semua yang tumbang di sini adalah semua yang aku punya untuk mencegah tikus masuk?"



Setelah berujar demikian, dari berbagai penjuru muncul sekelompok pria yang masing-masing memegang senjata di tangan mereka. Chris mendecih melihat banyaknya orang-orang yang muncul. Jika ia tidak salah hitung, ada sekitar dua ratus orang yang mengepung mereka saat ini.



Grim, di lain pihak, tampak tenang. Ia menatap orang-orang yang mengepung mereka dengan ekspresi biasa.



"Kurasa kau adalah pengecut yang sebenarnya, Glenn Lahemian," ujar Grim, "Orang-orang suruhanmu ini tidak bisa menghentikanku."



"Oh, benarkah? Bagaimana kalau kita mencobanya? Biarkan para pengawalmu menghadapi mereka, dan kau akan menghadapiku."



"Cukup adil,"



Grim hendak maju ke depan ketika Chris menyelanya, "Ini urusanku, Grimvon. Sebaiknya kau tidak ikut campur."



"Kau sendiri sudah kepayahan. Dengan kondisi begini kau ingin menyelamatkan Princess?" sindir Grim.



Chris memicingkan matanya dan untuk ke sekian kalinya mendecih, "Glenn adalah urusanku. Aku punya dendam sendiri untuknya."



"Dan aku pun juga begitu," balas Grim.



Chris diam. Ia tidak tahu apakah Cessa atau Grim yang lebih bebal. Urusannya dengan Glenn masih belum selesai. Ia masih ingin menghajar pria brengsek di hadapannya ini dengna beberapa pukulan lagi.



Pria pirang itu menghembuskan nafas kesal, "Kau cari Cessa. Aku tadi menyuruh Latiava mencarinya juga."



"Kau menyuruh Latiava?" Grim memicingkan matanya, "Bagaimana bisa kau membawa Latiava?"



"Karena dialah yang cukup dekat dengan Cessa akhir-akhir ini," balas Chris, "Untuk kali ini aku terpaksa mengalah. Kau boleh menyelamatkan Cessa,"



"Kau mengatakannya seolah-olah akulah yang bersalah di sini."



"Kau memang bersalah. Kau dan Glenn, kalian berdua sama." Desis Chris, "Menyingkir dari sini, Grimvon."



Chris tidak memberikan kesempatan untuk Grim membalas ucapannya. Begitu ia bergerak, Glenn juga ikut bergerak, pun dengan orang-orang suruhannya yang mulai menghajar para pengawal Grim.



Pria itu menatap pertarungan di depannya dengan ekspresi tak suka. Ia perlu melemaskan otot-ototnya. Ia perlu menghajar sesuatu karena gelisah memikirkan di mana Cessa selama ini. Kalau Grim mau, ia bisa saja mengabaikan ucapan Chris barusan dan ikut bertarung.



Princess.


__ADS_1


Satu kata itu membuat akal sehat Grim kembali. Ia menatap Chris yang kembali menghadapi Glenn dan terpaksa mundur. Seperti kata pria pirang itu, sebaiknya ia mencari Cessa sekarang dan membawa wanita mungil itu pergi dari sini.



***



"Kau ini bicara apa? kenapa kau tampak menyerah seperti itu?!"



Cessa hanya diam. Dia tidak membalas ucapan Latiava. Wanita itu hanya menatap kosong ke depan.



Latiava yang mendecak kesal mencengkeram kedua bahu Cessa, tidak peduli kalau wanita mungil itu kesakitan, "Apa kau mau menyerah lagi? Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri, Pendek! Kau mau pria seperti Glenn mendominasimu? Pikirkan Grim! Dia suamimu, orang yang harus kau ikuti, 'kan?"



"Memangnya pria bajingan itu bisa apa?" Cessa menunjukkan sinar dingin di matanya, "Pria yang menganggapku sebagai pengganti Eve, memangnya dia bisa apa?"



"Aku bisa saja menghukummu lebih dari yang bisa dilakukan oleh pria brengsek yang melukaimu,"



Suara itu membuat Cessa dan Latiava menoleh. Grim berdiri di depan pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sorot mata pria Verleon itu tampak berbahaya. Latiava bahkan merinding melihat pria tersebut muncul tiba-tiba dengan sorot mata dingin seperti itu.



"Kenapa kau ada di sini?" tanya Cessa.



"Tentu saja untuk menjemput bonekaku," Grim berjalan masuk dan mengerutkan kening melihat luka-luka di tubuh Cessa, "Apa pria itu yang membuatmu terluka seperti ini?"



Cessa tidak menjawab. Ia lebih memilih membuang muka kearah lain saat tangan Grim menyentuh kaki Cessa yang tertutup selimut. Wanita itu merintih kesakitan.



"Kakimu patah," kata Grim, aura gelap seakan menguar keluar dari tubuhnya, "Pria itu yang membuatmu seperti ini."



"Kau juga sama, bukan?" Cessa meringis menatap kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan, "Kalian berdua sama-sama mengekangku. Kalian juga yang membuatku menjadi pembunuh!"



Cessa memekik kaget saat Grim tiba-tiba menggendongnya. Kedua matanya menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya, "Turunkan aku!"



Grim tidak mengindahkan ucapan Cessa, ia berbalik pada Latiava, "Kau periksalah keadaan Chris. Aku yakin saat ini dia kelelahan karena menghabisi lima puluh orang lebih."



"Chris?" Latiava mengerutkan kening, "Baiklah. Aku akan memeriksa keadaannya."



"Grim, turunkan aku!"



"Tidak, kau tidak bisa berjalan," balas pria itu, "Aku tidak mau kau kesakitan saat kita keluar dari sini."




"Kau masih punya tenaga untuk membentakku, itu artinya kau cukup sadar kalau kau saat ini tidak bisa berbuat apa-apa," Grim menyipitkan matanya, "Kau berusaha kabur dariku, Princess. Padahal aku sudah memperingatkanmu."



"Aku tak peduli! Kau bajingan, kau mempermainkan aku!"



Cessa meronta dalam gendongan Grim.Wanita itu tidak peduli luka di kedua pergelangan tangannya terbuka dan membuat perban yang menutupi lukanya berubah merah.



"Princess, hentikan."



"Bunuh aku, Grim, bunuh aku! Aku tidak sudi menjadi pengganti Eve-mu! Kau pikir aku tidak menderita hidup seperti ini!?"



"Princess,"



"Kau pikir aku mau membunuh janinku sendiri saat itu? Itu semua gara-gara kau! Kau yang membuatku hancur!!"



"Princess," sekali lagi Grim memanggilnya.



"Daripada kau membuat hidupku menderita seperti ini, lebih baik kau bunuh aku sekarang!"



"PRINCESS!!"



Cessa tersentak mendengar suara Grim dan langsung terdiam. Nafasnya masih memburu dan matanya menatap balik wajah Grim yang masih suram.



"Sekali lagi kau mencoba menyakiti dirimu sendiri, aku pastikan kau akan kukurung selamanya di atas ranjang." Desis pria itu, "Kau sadar kalau tindakanmu membuat luka-luka di tangan dan kakimu terbuka?"



"Apa pedulimu? Aku memang ingin mati." Balas Cessa.



"Princess," Grim menyandarkan keningnya di kening Cessa, "Tolong jangan berbuat hal nekat yang bisa membuatku terkena serangan jantung."



"Aku sudah bilang padamu, aku mencintai Eve, dulunya. Sekarang, hanya kau yang ada di hatiku." Grim melanjutkan ucapannya.

__ADS_1



"Tapi kau menikahi Latiava. Apa maksudnya kau mencintaiku padahal kau menikahi wanita lain tanpa sepengetahuanku?" Cessa bertanya marah.



"Aku mencintai kalian berdua, aku tidak akan menutupinya," ujar Grim, "Tapi yang memiliki sebagian besar hatiku adalah dirimu. Wanita mungil pekerja keras yang sanggup membuatku terus memikirkannya selama berhari-hari, bahkan ketika kau menghilang."



Cessa diam mendengar ucapan tersebut. Ia tidak membalas ataupun menolak saat pria itu mencium keningnya. Grim mencium kening wanita itu sedikit lebih lama dan Cessa merasakan ada sesuatu yang basah mengenai pipinya.



Apa ini ... airmata?



Mata Cessa melihat sudut mata Grim yang agak basah dan raut suram pria itu berganti menjadi raut sedih, "Tolong jangan buat aku merasakan kehilangan untuk kedua kali."



Lidah Cessa benar-benar kelu mendengar permintaan penuh kesedihan seperti itu.



***



Latiava sampai di depan villa dan melihat Chris berhasil menahan Glenn di bawah tubuhnya. Pria Asia itu tampak kesulitan melawan kekuatan Chris yang sedikit lebih tinggi dan besar dibanding dirinya. Mata Latiava juga melihat para pengawal Grim sudah membereskan orang-orang suruhan Glenn yang lain.



"Di mana Cessa?" tanya Chris tanpa menoleh menatap Latiava.



"Grim sedang membawanya kemari," jawab Latiava, "Mau kau apakan pria itu?"



"Membawanya ke penjara, atau bahkan menyuruhnya untuk kembali ke Jepang dan tidak mengganggu Cessa lagi," kata Chris.



Glenn terkekeh mendengarnya. Waajahnya yangsedikit berantakan malah membuat penampilannya terlihat lebih kacau, apalagi dengan senyum gila di wajahnya, "Kau tidak akan bisa, Chris. Cessa hanya akan terus mengingatku sebagai satu-satunya pria yang memilikinya."



"Katakan saja itu dalam mimpimu," desis Chris, kemudian memukul tengkuk Glenn hingga pingsan.



"Kau benar-benar menghajar mereka semua sendirian," kata Latiava saat Chris berdiri.



"Kau pikir apa gunanya otot-otot di tubuhku kalau bukan untuk menghajar orang-orang seperti Glenn?" tanya Chris sambil merapikan pakaiannya, "Sial, padahal ini pakaian kesukaanku."



Latiava memutar bola matanya ketika melihat Chris lebih mementingkan pakaiannya daripada wajahnya yang agak berantakan karena darah dan beberapa luka lecet, "Kau malah mementingkan pakaian. Seharusnya kau berkaca, lihat wajahmu yang berantakan itu!"



Chris mengedikkan bahu. Ia hendak bertanya di mana Grim dan Cessa ketika dilihatnya kedua orang itu berjalan keluar dari villa. Chris meringis melihat lebam dan perban di tubuh Cessa. Pria pirang itu segera menghampiri mereka dan meninggalkan Latiava yang terlalu terkejut untuk bereaksi melihat kecepatan Chris berlari.



"Cessa,"



Cessa mendongak dan melihat wajah Chris yang terluka, "Chris, wajahmu kenapa?"



"Ini akibat tingkah cerobohmu. Aku jadi harus datang dan menyelamatkanmu kemari." Chris mengatakannya dengan nada bercanda, matanya menatap luka-luka di sekujur tubuh wanita itu, "Keparat itu benar-benar menyiksamu."



Cessa mengulas senyum lemah. Sebelah tangannya terulur menyentuh wajah Chris saat kedua matanya terpejam dan kepalanya terkulai di dada Grim.



"Dia mengalami stress," kata Grim, "Aku akan membawanya ke rumah sakit. Dan sebaiknya kau juga begitu. Luka-lukamu benar-benar kelihatan parah."



"Serahkan Cessa padaku," ujar Chris, "Biarkan aku yang membawa Cessa dan sebaiknya kau menjauh darinya."



"Aku suaminya," Grim menyipitkan mata tak suka, "Dan kau hanya kakaknya. Seharusnya kau memperbolehkanku melakukan apa yang harus kulakukan pada istriku."



"Kau membuatnya menangis," Chris tidak mau kalah, "Apa kau pikir aku akan melepaskannya padamu sekali lagi?"



Grim diam. Ia melengos pergi namun Chris mencegahnya, "Kita belum selesai, Grimvon."



"Prioritas utamaku adalah Princess untuk saat ini," balas Grim, "Kau mau melihatnya terus pingsan selama berhari-hari tanpa mendapat pengobatan yang lebih baik? Kedua kakinya patah karena bajingan bernama Glenn."



Chris terhenyak. Ia menatap kedua kaki Cesa yang membengkak dan diberi perban seadanya. Perban yang melilit kedua kaki wanita itu tampak memerah karena darah dan sepertinya belum sempat diganti.



Melihat Chris tidak lagi mencoba menghalanginya, Grim melanjutkan langkahnya menuju mobil di luar gerbang villa. Ia memerintahkan para pengawalnya untuk membereskan segala kekacauan di sini dan meminta Latiava menemani Chris. Pria pirang itu masih memasang wajah berbahaya saat Glenn dibawa salah satu pengawl Grim pergi dari tempat tersebut.



"Kau harus menyembuhkan lukamu dulu," Latiava menyentuh lengan Chris, "Kita pergi ke rumah sakit. Kau mau berada di dekat Cessa, 'kan?"



"Seharusnya aku bunuh saja Glenn," kata Chris, "Dia berani membuat Cessa tidak bisa berjalan lagi."



"Kaki Cessa akan sembuh," kata Latiava, "Saat ini, kau juga harus mengobati luka-lukamu, Chris. Kau tidak mungkin terus berada di sini seharian."



Latiava kembali menarik lengan Chris. Pria itu menurut dan membiarkan wanita itu membawanya ke salah satu mobil pengawal Grim meninggalkan vila.

__ADS_1




__ADS_2