The Hope

The Hope
Chapter 42


__ADS_3

Hampir setahun sejak berbulan madu, Cessa kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang ternyata menggunung. Walau Chris membantunya menangani segala hal seperti biasanya, tetapi tetap saja Cessa lebih senang mengerjakan pekerjaannya sendiri ketimbang dilimpahkan pada orang lain.



Selama setahun, rumah tangganya dengan Grim kembali damai, dalam artian tidak ada kata-kata kasar atau percobaan kabur yang berakhir dengan percobaan bunuh diri. Setidaknya untuk hal ini Cessa dan Grim sama-sama berusaha, walau terkadang wanita mungil itu masih cemberut ketika Latiava yang berada di dekat Grim.



Namun ungkapan 'Bisa karena biasa' sepertinya berlaku juga dalam urusan seperti ini. Karena itu Cessa lebih memilih untuk memaklumi. Dan hasilnya? Mulut Latiava jarang mengeluarkan kata-kata pedas nan tajam dan lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan dengan Chris, wanita pirang itu menjadi babysitter kedua yang sering membuat Cessa berpikir untuk menjodohkan mereka berdua sekalian.



Tapi, mengingat sisi Chris yang lain, Cessa mengurungkan niat tersebut.



Hari ini Cessa memilih mengerjakan pekerjaannya di mansion. Setelah show koleksi pakaiannya sukses, Cessa memiliki masa tenang selama seminggu sebelum kemudian kembali ke butik.



Ia baru menyelesaikan makan malam ketika Grim datang. Pria itu menghampirinya dan mencium puncak kepala Cessa sebelum duduk di samping wanita itu.



"Di mana Latiava?"



"Pergi ke Boston. Katanya dia ada pemotretan di sana,"



"Oh,"



Beberapa pelayan segera melayani Grim, menyediakan makanan dan menuangkan segelas wine untuk pria itu.



"Besok kita pergi ke pernikahan Spade,"



Cessa yang baru meneguk air langsung terbatuk mendengarnya. Grim terkejut dan menepuk punggung istrinya itu, "Pelan-pelan saja kalau meminum airnya,"



Cessa menggeleng, wanita mungil itu mengatur nafas agar batuknya mereda, "Spade ... menikah? Kau tidak bercanda, 'kan?"



"Kau bisa potong baju ini dan membuangnya ke tempat sampah jika aku berbohong," jawab Grim. "Spade akan menikah besok. Daddy sudah menemukan seorang wanita untuknya."



"Siapa wanita itu?"



"Plasidia Roosevelt."



"Plasidia?" kening Cessa berkerut, "Itu model yang pernah bekerja sama denganku. Dia akan menikah dengan Spade? Wow."



"Yeah, wow," Grim terkekeh melihat ekspresi istrinya, "Kau tidak kelihatan terkejut kalau Spade akan menikahi Plasidia."



"Aku hanya ... kaget, tiba-tiba saja kau mengatakan adik bungsumu itu akan menikah. Bukankah dia lebih memilih buku ketimbang mendekati wanita?"



"Karena itulah pernikahan ini diatur sepenuhnya oleh Daddy dan Keluarga Roosevelt," Grim menjawab, "Besok berdandanlah yang cantik, dan jangan lupa untuk bangun pagi."



"Kenapa kau mengingatkanku soal bangun pagi?"



Grim tertawa, "Karena jika tidak kulakukan, aku yakin kau akan bangun saat hari menjelang sore, terutama karena saat ini masa tenang setelah show koleksimu."



Dan Cessa hanya bisa merengut mendengar ejekan halus dari suaminya tersebut.



***



Keesokan paginya, suara ketukan di pintu membangunkan Cessa. Wanita itu mengerang dan menguburkan kepalanya di bawah bantal. Dia benci bangun pagi ketika mood-nya buruk sebelum tidur. Cessa berniat untuk terus tidur sampai siang ketika mendengar bunyi pintu yang terbuka dan Grim berdiri di depan pintu sambil bersedekap.



"Princess, apa kau sedang menggodaku?"



Cessa merengut. Dia lebih senang tidak diganggu satu hari ini dan tidur sepuasnya. Tapi ....



Pernikahan Spade.



Mengingat dua kata itu membuat Cessa langsung terduduk tegak. Ia melihat jam di atas meja sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Walau Cessa tidak berniat datang, tapi melihat Grim sudah siap dan sepertinya juga siap untuk membuat Cessa terlempar dari tempat tidur detik ini juga.



"Kau mau bersiap-siap sendiri atau kubantu?" tanya Grim lagi dengan senyuman andalannya.



"Aku bisa bersiap-siap sendiri," balas wanita itu, "Pergi dari kamarku!"



Pria itu melengos ke dalam dan duduk di samping tempat tidur Cessa, membuat mata wanita itu mendelik tak suka.



Tapi sekali lagi, Cessa tidak bisa berbuat apa-apa, atau lebih tepatnya dia mengalah. Mood-nya masih terasa buruk dan dia butuh tidur seharian, yang sayangnya harus ia tunda melihat tatapan Grim yang cukup untuk membuatnya merinding.



Hampir setengah jam Cessa menghabiskan waktunya dengan mandi dan memakai gaun berwarna putih dan dihiasi pita berwarna biru di pinggangnya, membentuk bunga mawar yang anggun. Gaun itu adalah salah satu hasil rancangannya. Satu keuntungan yang tak pernah ia lupakan sebagai seorang desainer adalah dia bisa membuat sendiri gaun sesuai selera hatinya.



Dibantu pelayan, Cessa merias dirinya dan mengikat rambutnya agak menyamping dan memberi hiasan pita putih. Sebuah kalung mutiara juga turut menghiasi lehernya yang putih mulus. Riasan wajahnya juga tidak terlalu menonjol dan lebih natural. Cessa tidak pernah suka riasan yang terlalu tebal atau menor.



Grim tetap berada di kamar wanita itu sampai Cessa selesai berdandan. Ketika akhirnya Cessa selesai, dia cukup terpesona dengan wanita itu. Untuk sesaat dia lupa kalau mereka harus segera pergi ke pernikahan Spade.



"Kau mau terus menatapku seperti itu sampai kapan?" tanya Cessa sambil mengambil clutch berwarna putih gading dan mengisinya dengan ponsel dan dompet. Ia mengambil sepasang sepatu dengan heels yang cukup rendah dan memasangnya di kedua kakinya.



"Aku hanya lupa kau terlalu cantik dan seperti boneka saat ini." kata Grim.



Cessa hanya memutar bola matanya. Kini ia sudah siap dan mendongak mendapati Grim mengulurkan tangannya.



"Ayo, kita ke pernikahan Spade."



***



Suasana gereja yang menjadi tempat Spade Verleon akan menikah sudah cukup ramai. Ada banyak orang-oarng penting dan juga beberapa selebriti yang dikenal Cessa berada di sana. Grim menggamit tangan Cessa dan mengajaknya masuk ke dalam gereja.

__ADS_1



Di dalam gereja, Cessa sempat merasa takut. Dia tidak pernah suka keramaian dan sekarang di tempat yang penuh dengan orang-orang ini nyaris membuat Cessa mual dan ingin kabur, kalau saja Grim tidak menahannya dengan memeluk pinggangnya.



"Aku di sini," bisik pria itu, "Tidak perlu takut."



Cessa menatap Grim sebentar, kemudian mengangguk.



Mereka berjalan kearah Alexander Verleon sedang berbicara di sudut gereja. Ada Zerfist, juga Ivy dan Trace. Cessa sempat melihat anak perempuan yang sangat manis dalam pelukan sulung Verleon. Ketika sudah cukup dekat, Cessa terpaku melihat anak perempuan tersebut, begitu mungil dan lucu.



"Kalian datang," kata Ivy, "Halo, Cessa. Bagaimana kabarmu?"



Cessa hanya mengangguk, tapi matanya tetap tertuju pada anak perempuan di pelukan Zerfist. Sulung Verleon itu merasakan tatapan Cessa dan mengerutkan kening, "Kenapa kau menatap Lamia seperti itu?"



Sadar karena suara Zerfist, Cessa mengerjap dan menggeleng pelan, "Tidak. Aku hanya terkejut melihatmu menggendong anak kecil."



Zerfist terdiam, dia melirik Lamia yang mencoba menggapai Cessa, "Kau mau mencoba menggendongnya?"



"Bolehkah?"



"Sepertinya Lamia ingin berkenalan dengan aunty-nya," Zerfist menyerahkan Lamia kepada Cessa yang langsung disambut wanita itu.



Grim melihat ekspresi Cessa yang terpesona pada Lamia. Istrinya itu tersenyum lembut dan menggendong Lamia dengan gerakan lembut, begitu natural seperti seorang ibu yang menggendong anaknya sendiri. Pemandangan itu sempat membuat hatinya meringis, mengingat tindakan nekat Cessa yang meminum obat penggugur kandungan.



Zerfist juga melihat interaksi Cessa dan Lamia yang tampak natural, "Sepertinya Lamia menyukaimu."



"Begitukah? Dia anak yang manis," Cessa tersenyum pada Lamia yang menyentuh pita rambutnya, "Namamu Lamia? Namaku Princessa, sayang. Aunty-mu."



"Aunty ...?" Lamia memiringkan kepalanya, senyumnya yang menawan membius Cessa, "Aunty, pita,"



"Sebaiknya kau membawa Lamia berjalan-jalan sebentar," kata Grim. "Aku akan memanggilmu kalau upacara akan dimulai."



Cessa mengangguk dan menggendong Lamia yang asyik memainkan pita rambutnya. Dia lebih senang berada di tempat yang tidak mengharuskannya mendapat tatapan dari banyak mata untuk saat ini.



***



Dua puluh menit berada di taman gereja sambil menunggu upacara pernikahan dimulai bersama Lamia membuat Cessa merasa lebih baik. Lamia tidak hanya manis dan lucu, tapi juga menggemaskan. Ada saja yang dilakukan bocah kecil itu yang membuat Cessa gemas ingin mencubit pipinya.



Ketika dia melihat Grim dan Zerfist datang bersamaan, Cessa menyerahkan Lamia kembali pada Zerfist. Anak perempuan itu sempat merengek ingin terus bersama Cessa yang dilihatnya mirip seperti boneka. Grim sempat tertawa geli mendengar ucapan cadel Lamia dan dihadiahi sikutan mematikan dari istrinya tersebut.



Upacara pemberkatan akan segera diadakan. Seluruh keluarga Verleon berada di barisan paling depan. Cessa duduk di samping Grim dan menunggu upacara dimulai.



Namun, hampir setengah jam berlalu upacara masih juga belum dilaksanakan membuat para tamu bingung. Cessa juga demikian. Dia sempat melirik kearah pintu gereja, mempelai wanita sama sekali belum datang.




"Masalah?"



Grim menunjuk beberapa pengawal Spade yang ia kenal sedang berlalu lalang di dekat mereka, "Itu pengawal Spade. Kurasa aku tahu apa yang sedang terjadi saat ini."



Cessa masih tidak mengerti. Namun Cessa tidak berani bertanya lebih jauh, apalagi melihat wajah Ivy yang duduk di dekatnya menggelap. Entah apa yang membuat wanita cantik itu tampak marah, tapi ketika seluruh keluarga Verleon di panggil ke belakang gereja, ia baru mengerti apa yang terjadi.



Dilihatnya dua pelayan yang berlutut di hadapan Spade. Kedua pelayan itu gemetar dan Cessa bisa melihat raut ketakuan di wajah keduanya. Trace, suami Ivy, sudah berada di sana lebih dulu dan menatap kedua pelayan tersebut dengan tatapan yang begitu menusuk.



Hal yang selanjutnya dilihat adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir Cessa. Trace menyiksa kedua pelayan itu dan sempat membuat salah satu pelayan yang bernama Mocca, berlumuran darah, begitu juga pelayan yang satu lagi, Sefia. Cessa benci melihat darah dan merapatkan dirinya pada Grim, yang langsung memeluknya.



"Sekali lagi aku tanya, ke mana menantuku itu lari?!" tanya Alexander berang.



Trace yang berdiri di belakang kedua pelayan itu menjambak rambut Mocca dan membuat pelayan wanita tersetbu menjerit kesakitan. Tubuhnya sudah berlumuran darah.



"Ssh... s-saya tt-tid... tidak tahu, Tuan," jawab Mocca menahan pedih.



"Dan kau, sialan!" telunjuk Trace menunjuk Sefia yang sudah tidak berdaya di samping Mocca, "Jika kau masih ingin dirimu dan rekanmu ini selamat, cepat kaakan ke mana wanita itu pergi! CEPAT!!!"



Cessa melihat pelayan bernama Sefia itu berusaha berbicara, tetapi tidak bisa melakukannya. Matanya sempat melihat lidah wanita pelayan itu berdarah. Ia langsung tahu kalau Sefia tadi menggigit lidahnya sendiri, untuk menahan jeritan karena disiksa tadi. Sementara Mocca menangis sesunggukan.



"Grim," Cessa meremat jas suaminya, "Aku mohon, katakan pada Trace, kita bisa tanyakan semuanya baik-baik. Kasihan dua wanita yang tidak tahu apa-apa itu."



Ivy yang mendengar ucapan Cessa mendengus, "Sudah jelas buktinya, jika mereka yang membantu calon istri kakaku lari dari pernikahan. Kau dengan jiwa sok malaikatmu berkata jika dua wanita sial ini tak tahu apa-apa?!" ujarnya tajam, kemudian bertepuk tangan dengan dramatis, "Hebat!"



Cessa diam mendengar ucapan Ivy yang penuh permusuhan itu. Ia melihat wanita berambut pendek itu mendekati Mocca dan Sefia. Ivy mengisyaratkan Trace agar menyingkir dan dia berjongkok di hadapan Mocca dan menolehkan wajahnya, "Kau yakin tidak tahu ke mana dia pergi?"



Mocca gemetar ketakutan di bawah intimidasi Ivy. Wanita itu kemudian mencampakkan wajah wanita pelayan itu dan beralih pada Sefia. Dengan kejam, ia menginjak telapak tangan Sefia dengan ujung sepatu kulitnya yang cukup untuk membuat rekan Mocca itu menjerit tertahan untuk ke sekian kalinya.



Cessa menyembunyikan wajahnya ketika melihat adegan penyiksaan di depan matanya tersebut. Dia menangis ketakutan membayangkan rasa sakit yang diterima kedua pelayan tersebut. Grim mengelus punggung istrinya itu, berusaha menenangkannya.



"Grim, tolong hentikan Ivy," pinta Cessa, "Aku tidak sanggup melihat mereka disiksa seperti itu."



Grim hanya diam. Dia mau saja menghentikan Ivy, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kejadian kali ini murni karena kesalahan kedua pelayan tersebut.



Saat Ivy menyiramkan minuman keras berjenis vodka ke kaki Sefia yang sudah terluka parah, Cessa memejamkan matanya erat-erat. Dia tidak tahan dengan jeritan memilukan Sefia.



"T-tidak ... Sefia... tidak, Nyonya. Kumohon Nyonya, kumohon ampunilah kami, Nyonya, aku ...," Mocca berlutut menahan sakit pada kakinya, ia memohon pada Spade yang berdiri bagai patung, "Saya mohon Nyonya akan... akan saya katakan ke mana nona lari, akan saya beritahukan, asalkan saya mohon, Nyonya... lepaskan kami...."



Ivy hanya diam sambil terus menyiram minuman keras itu ke tubuh Sefia. Wanita pelayan itu menjerit keras.

__ADS_1



"Grim!!" pinta Cessa lagi.



"Ivy, cukup! Kau bisa membunuh mereka," kata Grim.



"Memang itu tujuanku. " balas Ivy dengan suara datar.



Cessa gemetaran. Dia melihat Sefia yang sudah begitu sekarat dan merenggang nyawa.



"Nyonya, saya akan mengatakannya, Nyonya, Nyonya saya mohon..." Mocca histeris sementara Sefia menggelengkan kepalanya memberi kode agar Mocca tidak membuka mulut walau dia sendiri sudah sekarat.



Ivy menghentikan aksinya dan melempar botol yang bersisa sedikit isinya itu ke sudut ruangan, "Katakan!" gumamnya dengan penekanan.



"Ta-tadi kami memberitahukan ja-jjalan setapak d-di hutan belakang gereja, yang nantinya akan menembus pemakaman Jeiro de Bannet. Setelahnya nona akan menemukan jalan beraspal, nona akan mengikuti jalan itu," jelas Mocca sambil terisak.



Cessa hendak menarik nafas lega ketika Mocca akhirnya berbicara jujur saat dia mendengar suara letusan pistol dan lagi-lagi matanya terbelalak melihat kedua pelayan itu kini sudah tidak bernyawa. Ivy menembak mereka berdua dengan pistol yang dipinjamkan Trace. Cessa merasakan sesuatu menghantam kepalanya, kenangan mengerikan yang mulai menyeruak kembali saat melihat genangan darah.



"Aaaaaaarrrghh!!"



***



Sakit. Kepalanya terasa sakit.



Cessa membuka matanya dan hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah wajah Grim yang berada di atasnya, sementara kepalanya sendiri berada di pangkuan pria itu.



"Akhirnya kau sadar." Kata Grim.



Wanita itu mengerutkan kening, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan. Ketika berhasil mengingatnya, Cessa terduduk tegak dan menatap Grim, "Ivy ... membunuh," katanya.



"Aku tahu. Itu wajar." Jawab suaminya itu.



"W-wajar? Kalian menganggap nyawa orang lain seperti mainan!" Cessa setengah menjerit, "Mereka sudah membuka mulut, tapi kenapa harus dibunuh?!"



"Ivy yang melakukannya, bukan aku ataupun Zerfist dan Spade." Balas Grim, "Kemarilah, Princess. Tubuhmu masih gemetar."



"J-jangan mendekat!"



Cessa beringsut mundur dan terkesiap saat menyadari mereka berada di dalam mobil. Punggung Cessa menyentuh pintu mobil dan membuat jantungnya berdetak liar. Bayangan kedua pelayan yang tadi bergenang darah membuatnya mual dan ingin menangis lagi.



Grim menatap Cessa dan menghela nafas. Ia menarik wanita itu secara paksa dan nyaris dihadiahi pukulan kalau saja kedua tangannya tidak cepat tanggap. Kedua tangannya memeluk wanita itu erat-erat, menenangkan gemetar di tubuhnya.



"Darah ..., mereka mati..., aku takut," bisik Cessa, "Aku takut ...."



"Tidak apa-apa, Princess. Tidak apa-apa," Grim mencium puncak kepala Cessa, "Kupastikan kau tidak akan melihat pemandangan seperti itu lagi. Tapi kau juga harus mengerti satu hal, keluarga Verleon sudah biasa berurusan dengan hal-hal seperti ini."



Cessa hanya diam. Dia membenamkan wajahnya dalam pelukan Grim. Berusaha mengusir bayangan kematian dari Mocca dan Sefia yang begitu jelas tergambar dalam ingatannya.



***



Pulang ke mansion, Cessa merasa tidak bersemangat untuk melakukan apapun, bahkan ketika Grim menggendong hingga ke kamar dan tetap memeluknya. Tubuh wanita mungil itu masih gemetaran. Sepertinya syok karena melihat darah membuat wanita itu mengingat segala hal yang tidak menyenangkan.



"Kau mau kutemani tidur?" tanya Grim lembut.



Cessa tersentak mendengarnya kemudian menggeleng, "Kurasa ... tidak perlu," ujarnya, "aku ingin sendirian."



"Jika kau kutinggalkan sendirian, aku yakin kau akan melakukan hal konyol yang membuatku harus mengikat kedua tangan dan kakimu di ranjang."



Cessa langsung terdiam. Grim menghela nafas dan memanggil pelayan untuk membantu Cessa berganti pakaian. Ia sendiri juga mengganti jas dan kemejanya dengan baju santai sebelum kembali memeluk wanita mungil itu sambil tiduran di ranjang.



"Kau tidak perlu takut. Ivy tidak akan mencoba membunuhmu, jika itu yang kau takutkan." Kata pria itu.



"Mocca dan Sefia ... mereka tidak pantas mati," kata Cessa pelan, "Mereka sudah membuka mulut bagaimana mereka membantu Plasidia kabur, tapi kenapa Ivy harus sekejam itu?"



"Itulah cara hidup kami," Grim mengelus surai Cessa, "Hidup kami selalu di ujung moncong pistol. Ke manapun kami, di manapun kerabat kami berada, selongsong peluru selalu mengintai. Karena itulah aku bersyukur aku bisa melindungi dengan baik dari pantauan musuh Verleon. Setidaknya kau tidak berada jauh dariku."



"Karena itukah kau jarang mengajakku pergi ke luar? Dan sebaliknya kau malah mengajak Latiava?" tanya Cessa terkejut.



"Sudah kubilang, pernikahanku dan Latiava itu karena terpaksa," Grim tersenyum, "Tetapi dia dan aku juga pasangan yang lumayan bila di atas ranjang."



Grim langsung mendapat hadiah berupa pukulan di dadanya. Cessa memberengut dan menggigit telinga pria itu.



"Hei, sekarang kau menggigitku!"



"Biar saja. Kau dan pikiran mesummu itu perlu diberi pencerahan sesekali," gerutu Cessa, "Apa kau perlu mengatakan kalau kau dan Latiava adalah pasangan serasi di atas ranjang?"



"Aku hanya mempertegas hubungan kami padamu, Princess. Seharusnya kau tidak perlu cemburu seperti itu."



Cessa mendengus, tindakan yang membuat Grim tertawa.



"Lagipula, Plasidia tidak akan lama berada di luar sana," Grim mencolek pipi Cessa dengan gemas, "Aku yakin esok hari dia akan berada di altar pernikahan lagi bersama Spade. Tidak ada yang bisa bersembunyi dengan mudah bila masih berada di wilayah kekuasan Verleon."



Cessa hanya diam mendengarkan. Dia sepenuhnya percaya dengan ucapan suaminya. Lagipula dibandingkan dengan kedua saudaranya yang lain, Grim jauh lebih 'normal' dalam urusan seperti ini.


__ADS_1



__ADS_2