
Chris memarkir mobilnya dan terburu-buru memasuki rumah sakit. Mendapat telepon di tengah-tengah pekerjaan sampingan membantu ayahnya memeriksa dokumen membuat Chris nyaris tidak bisa bernafas, apalagi ini menyangkut Cessa.
Trauma Cessa kembali kambuh.
Satu kalimat itu sanggup membuat Chris memecahkan gelas di tangannya kala menerima telepon dari Dokter Kristal yang menangani Cessa selama ini. Maka bukan salahnya jika tadi dia sampai harus melanggar lalu lintas hanya untuk ke rumah sakit memastikan telepon yang ia terima tadi benar atau tidak.
Langkah kaki Chris berhenti tepat di depan pintu ruang kerja Dokter Kristal. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum membuka pintu di hadapannya. Keningnya berkerut melihat wanita pirang asing yang sepertinya sedang berbicara serius dengan Dokter paruh baya yang menangani Cessa selama ini.
"Oh, Tuan Scott," Dokter Kristal melihat kedatangan Chris, "Duduklah. Saya sudah menunggu Anda."
Chris hanya diam. Dia melirik sekilas wanita pirang yang menatapnya datar sebelum duduk di samping wanita tersebut. Tanpa basa-basi dia langsung mengajukan pertanyaan, "Di mana Cessa? Kenapa traumanya bisa kambuh lagi?"
"Sebelumnya, Tuan Scott, saya ingin memastikan apakah wanita ini adalah kenalan Anda," kata Dokter Kristal, "Ia berkata bahwa dia adalah sahabat lama Nona Princessa ketika di Jepang."
Kali ini kerutan di kening Chris makin terlihat jelas. Matanya tidak lagi melihat wanita yang duduk di sampingnya sebagai angin lalu, "Kau mengaku-aku sahabat Cessa?"
"Ah, itu ...," Latiava langsung didera rasa gugup.
Astaga ..., dia tidak pernah tahu kalau Christopher Scott, asisten sekaligus kakak angkat Cessa yang sudah ia selidiki ini ternyata begitu menyeramkan jika sedang marah. Ia memang pernah mencari tahu informasi sampai yang terkecil mengenai Cessa. Tapi ini di luar ekspektasinya.
Chris melihat Latiava yang tampak gugup dan mendengus, "Dia bukan sahabat Cessa. Satu-satunya orang yang pernah dekat dengan Cessa hanya saya dan bajingan yang membuatnya trauma seperti sekarang."
Latiava mencelos mendengar nada dingin Chris, walau dia tidak memperlihatkannya begitu kentara.
"Katakan kau siapa dan kenapa kau bisa bersama Cessa," ujar Chris, "Aku akan melupakan kebohonganmu yang barusan disebut Dokter Kristal bila kau mengatakan yang sesungguhnya."
Wanita pirang itu meneguk ludah. Sial. Pria ini benar-benar membuatnya merinding ketakutan.
"A-aku Latiava Evander. Istri kedua Grimvon Verleon,"
Satu detik, dua detik, tidak ada reaksi dari Chris. Namun Latiava bisa merasakan aura mencekam dari pria tersebut. Bahkan tanpa melihat raut wajah Chris, Latiava bisa tahu dengan pasti pria itu sangat marah.
"Kau rupanya satu dari sekian banyak alasan traumanya kambuh," ujar Chris datar.
Latiava hanya bisa diam mendengarnya.
Chris mengepalkan kedua tangannya. Rasanya dia ingin sekali melampiaskan kekesalannya pada sesuatu namun dia menahan diri. Dia tidak boleh marah di saat seperti ini. Yang paling dikhawatirkannya adalah Cessa.
Hanya wanita itu yang harus dikhawatirkannya saat ini.
"Tuan Scott," Dokter Kristal berdeham, "Bila Anda mau, saya akan memperbolehkan Anda dan juga nona ini untuk menjenguk Nona Princessa, hanya dengan izin Anda untuk memberitahu kondisi kesehatan mental Nona Princessa padanya, mengingat dia bilang tadi kalau dia ... ehm, istri kedua Tuan Verleon."
Chris melemparkan tatapan tajam pada sang dokter, yang ditanggapi dengan senyum tenang, "Bila itu bisa membuatnya tidak berbuat terlalu jauh pada Cessa, maka saya izinkan."
"Baiklah," Dokter Kristal mengangguk lalu menatap Latiava, "Nah, Nona ... Latiava, benar? Saya akan menjelaskan secara singkat trauma apa yang diidap oleh Nona Princessa. Dan saya mohon dengan sangat kerja sama Anda agar kondisi Nona Princessa bisa pulih kembali."
***
Mendengarkan penjelasan Dokter Kristal membuat Latiava tercenung.
Wanita sepertinya punya trauma sedemikian parah, dan Grim menerimanya?
Latiava masih diam saat Dokter Kristal mempersilakan Chris yang sudah tidak sabar untuk menengok kondisi Cessa di ruang rawat dan meninggalkannya di belakang. Ia masih tidak percaya kalau Cessa punya trauma parah seperti itu dan menanggungnya selama lebih dari sepuluh tahun.
Sepuluh tahun.
Astaga, itu bukan waktu yang singkat. Dan Cessa melewatinya hingga kini!
Entah Latiava harus kasihan atau malah bersyukur dengan kondisi mental Cessa yang bisa dikatakan terganggu. Namun dia tidak bisa mengabaikan hal seperti ini, karena salah satu penyebab trauma wanita mungil itu bangkit kembali adalah karena dirinya.
Mendadak perasaan bersalah menyelimuti Latiava saat ini juga.
Chris yang berjalan di depan hanya diam sambil sesekali melirik Latiava yang berjalan di belakangnya. Dia tidak peduli kalau wanita pirang itu adalah istri ke sekian Grim atau apa, yang jelas dia tidak bisa menerima dengan mudah kalau pria yang diyakini Cessa dapat dipercaya ternyata berkhianat. Chris meyakinkan diri sendiri bila bertemu dengan Grim dia akan menghajar pria itu hingga babak belur karena membuat Cessa seperti sekarang.
__ADS_1
Trauma Cessa menjadi dua kali lipat lebih parah dari yang sebelumnya karena Grimvon Verleon.
Chris menggeram pelan. Membenci keadaan Cessa yang sekarang. Seharusnya dulu dia tidak merestui hubungan wanita mungil itu dengan Grimvon. Sekarang, lihat hasilnya.
Ketika sampai di ruang rawat tempat Cessa berada, Chris membuka pintu dan melihat Cessa sudah sadar dan duduk bersandar pada bantal-bantal yang sudah diatur di kepala ranjang rawat. Mata wanita itu tampak kosong sementara jari jempol dan jari telunjuk tangan kanannya bergerak-gerak membentuk gerakan memutar. Chris mengetahui itu adalah kebiasaan Cessa bila wanita itu melamun dan memikirkan cara untuk ... bunuh diri.
"Cessa," Chris menepuk tangan Cessa dan menggenggamnya dengan lembut, "Cessa, kau mendengarku?"
Cessa mengerjapkan matanya dan menatap pria itu, "Chris ...?"
Chris tersenyum miris. Bahkan suara Cessa terdengar seperti orang lain.
"Kenapa kau di sini?" tanya wanita mungil itu bingung, "Aku di mana?
"Kau di rumah sakit, bodoh. Dokter Kristal bilang kau pingsan dan langsung dilarikan ke sini," jawab Chris, "Berterima kasihlah pada Latiava. Dia bilang dia yang membawamu kemari."
Mata Cessa langsung terfokus pada Latiava yang berdiri di belakang Chris, "Kau yang membawaku kemari?"
Latiava mengedikkan bahu, "Grim bilang aku harus terus mengawasimu selama dia tidak ada."
"Oh. Terima kasih." Cessa tersenyum samar sebelum menoleh lagi kearah Chris, "Chris,"
"Hm?"
"Boleh aku minum racun?"
"Ap—Cessa, apa-apaan ucapanmu itu!?" bentak Chris terkejut.
Cessa tersenyum tipis sebelum melanjutkan, "Kurasa aku melantur. Lupakan apa yang kukatakan tadi. Aku hanya bercanda."
Chris mengerutkan kening tidak suka. Cessa kembali lagi menjadi pribadi yang dingin dan tidak mau terbuka pada orang lain.
Latiava yang mendengarnya hanya mendengus. Jelas dia tahu bahwa ucapan Cessa tadi hanya bohong. Tapi ..., diam-diam dia merinding mendengar wanita itu mengucapkannya tanpa ekspresi dan seakan memang itu pilihan terakhir yang dia punya.
Cessa sendiri hanya tersenyum. Walau memang dia mengucapkan hal barusan dan mengatakan kalau itu hanya bercanda, tapi dia memang berniat dalam hati: pilihan terakhir bila dia tidak bisa lepas dari Grimvon hanyalah racun.
Mati adalah pilihan terakhirnya.
Pertanyaannya adalah, kapan itu terjadi sementara alasannya untuk hidup sudah tidak ada lagi?
***
Grim meletakkan ponselnya ke atas meja dan menghembuskan nafasnya dengan keras. Dia baru saja mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya yang mengawal Latiavan dan Cessa. Anak buahnya itu melaporkan segala hal yang dilihat dan didengar kepadanya, termasuk ungkapan Cessa tentang meminum racun.
Apa wanita itu tidak bisa lepas dari bayangan masa lalunya?
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Nyaris membanting gelas berisi minuman keras yang menemaninya kali ini.
"Kau kenapa?" Zerfist yang duduk di seberangnya mengerutkan kening melihat tingkah adiknya yang tidak biasa.
"Istriku berbuat ulah." Jawab Grim pendek sebelum menenggak habis minumannya.
Zerfist mendengus, "Siapa suruh kau menikahi boneka?"
"Dia ... bukan boneka," balas Grim, "Princess bukan boneka."
"Oh, begitu?" Zerfist terkekeh, "Ngomong-ngomong soal boneka, aku jadi ingat Eve."
"Please, jangan sebut namanya lagi, Zerfist," Grim menggeram, "Aku tidak mau sampai harus mengkhianati Latiava juga."
"Ah, rupanya kau sudah menikahi Latiava juga." Kali ini Zerfist tertawa, "Kukira kau tidak akan melirik model itu."
__ADS_1
Grim tidak menjawab. Dia kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya dan kembali menenggak minuman beralkohol tinggi itu hingga tandas, "Mau bagaimana lagi. Dia juga punya kemiripan dengan Eve."
Zerfist menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban itu, "Secara tak sadar, kau juga sudah mengkhianati mereka, Grim. Hanya tinggal menunggu waktu kau kembali bosan dan mencari yang baru."
"Kau menyumpahiku?"
"Aku menasehatimu, Adik Tersayang."
Kali ini Grim yang mendengus. Zerfist menenggak minumannya, "Lain kali tetapkan pilihanmu pada wanita yang tepat. Sampai kapanpun, Eve hanya akan menjadi milikku, Grim."
"Aku tahu itu," gerutu Grim, "Aku sangat mengetahuinya, Kakak Tersayang."
***
Berkas-berkas Cessa di rumah sakit diurus dengan cepat. Chris langsung mengantarkan Cessa, dan juga Latiava, ke mansion Grim. Chris tidak bertanya lebih jauh apa Cessa butuh pergi ke apartemen lamanya atau tidak. Wanita mungil itu hanya diam dan berterima kasih pada Chris sebelum masuk ke mansion bersama Latiava.
Cessa langsung menuju kamarnya, kamar tamu di lantai bawah dan mengurung diri. Latiava tidak berani mengganggu, atau lebih tepatnya beradu argument dengan Cessa seperti biasanya. Setelah mendengar trauma yang diidap Cessa sekaligus penyebabnya, Latiava tidak berani mengganggu Cessa lebih jauh. Mendadak ia mengetahui sampai mana batasan dia berargumen dengan wanita mungil tersebut. Jadi dia pergi ke agensinya dan menghabiskan waktunya dengan pekerjaannya di sana.
Saat malam tiba, Grim pulang dan tidak menemukan Latiava di mana pun. Ia sempat menerima pesan dari wanita itu kalau dia akan bekerja sampai dua hari ke depan, tapi Grim tidak sempat membacanya. Dia terlalu sibuk menetralisir alcohol yang diminumnya di mansion Zerfist.
Grim melihat Cessa keluar dari kamar dan sempat bertatapan dengan wanita itu beberapa lama. Cessa memilih memutus kontak mata terlebih dahulu dan berjalan ke ruang kerjanya di lantai dua.
"Princess,"
Grim mengejar Cessa dan menggenggam tangan wanita itu. Ia terkejut merasakan tangan Cessa begitu dingin.
"Ya?" suara Cessa terdengar datar.
"Tanganmu dingin," kata Grim, "Apa kau mandi terlalu lama?"
Cessa memiringkan kepalanya. Dengan perlahan dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya, "Aku perlu mendinginkan kepalaku, jadi wajar bila aku mandi air dingin."
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai dua. Grim mengikuti di belakang. Entah kenapa kali ini Cessa terlihat lebih aneh dari biasanya.
Cessa membuka pintu ruang kerjanya dan menyalakan lampu. Ia menghampiri salah satu manekin, mengambil sebuah bangku dan duduk sambil memandang ke depan dengan tatapan setengah kosong. Grim yang berdiri di sebelahnya memperhatikan tatapan Cessa yang kosong tersebut.
"Princess," panggil Grim lagi.
"Ya?" Cessa menjawab dengan jawaban yang sama, "Bisa kau hentikan panggilanmu itu? Panggilan itu membuatku muak."
Cessa mengambil peralatan jahitnya dan mulai menjahit saat Grim mencekal lengannya. Ia meringis kesakitan dan menatap suaminya itu dengan tatapan datar, "Apa yang kau lakukan?"
"Kau aneh."
"Aku memang aneh. Apa itu salah?" balas Cessa.
Grim diam mendengar jawaban yang tidak ia sangka akan dilontarkan oleh Cessa, yang beberapa hari lalu masih beradu argument dengannya sambil berteriak marah. Biasanya wanita itu akan melontarkan kata-kata pedas nan tajam yang mampu membuat orang lain yang mendengar memerah.
Tapi, ini ....
Cessa melepaskan cekalan tangan Grim dan kembali bekerja, "Jika kau hanya ingin melihat keadaanku, maka seperti yang kau lihat. Aku tidak kekurangan suatu apapun secara fisik."
"Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita bicara dengan tenang setelah pertengkaran kita tadi siang," kata Cessa lagi, "Rasanya aneh. Aku tidak menyukainya."
Cessa menjahit renda pada gaun buatannya sementara Grim hanya melihat kecepatan tangan wanita mungil itu menjahit.
"Kau tahu, Grim, aku masih marah padamu," ujar Cessa, "Tapi aku terlalu lelah untuk marah. Tenagaku akan terkuras hanya untuk marah dan itu tidak bagus untuk kesehatan telingamu."
"Princess, kau sedang bicara apa?" tanya Grim tidak suka.
"Aku sedang mengusirmu secara halus." Balas Cessa menatap Grim, "Pergi dari ruang kerjaku dan biarkan aku bekerja dengan tenang, jadi aku bisa lupa kalau hari ini aku tanpa sadar sudah menggugurkan janin yang baru berkembang di tubuhku."
__ADS_1