The Hope

The Hope
Chapter 43


__ADS_3

Dan benar seperti kata Grim, esoknya Plasidia sudah ditemukan, dan kini berada di gereja yang akan menjadi saksi pernikahan si bungsu Verleon dengan sang model ternama. Wanita yang akan menjadi calon nyonya Verleon bungsu itu ditemukan di sebuah hotel tidak jauh dari gereja pemberkatannya dilangsungkan. Cessa masih merasa takut ketika dia bertemu dengan Ivy dan Trace. Ketika upacara pernikahan Spade dan Plasidia dilakukan ulang, Cessa lebih memilih menemani Lamia di luar gereja daripada harus bertemu dengan Ivy. Belum lagi para wartawan yang dengan bersemangat mengorek informasi soal pernikahan Spade dan kemudian merambat ke hal-hal lain, termasuk peristiwa dirinya yang pernah diculik dan disekap oleh seorang eksekutif muda dari Jepang, yang tidak lain adalah Glenn Lahemian.



Cessa juga harus mengakrabkan diri dengan kehidupan lain dari keluarga Verleon yang terbiasa dengan darah dan senjata. Untuk hal yang satu ini, Cessa benar-benar harus mengerahkan usaha keras agar bisa menerima bahwa ia menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh dan paling berdarah di benua ini.



Ketika upacara pemberkatan Spade usai dan sempat bertemu Plasidia untuk sekedar melihat kondisinya dan berbincang sejenak. Ia sempat melihat model cantik itu tengah berbicara dengan seorang wanita yang menggendong Lamia. Kening Cessa sempat berkerut melihat wanita berwajah lembut itu. Dari jauh saja Cessa bisa merasakan aura yang begitu tenang darinya. Sayang wanita itu keburu pergi bersama Lamia dan menghampiri Zerfist yang berdiri tak jauh dari mereka.



"Kau tidak akan bisa kabur dari keluarga ini," kata Cessa saat akhirnya berada di sisi Plasidia.



"Cessa," model cantik itu membulatkan mata melihatnya.



Cessa hanya tersenyum sambil mengedikkan bahu, "Mereka bisa melenyapkan siapapun yang mereka mau jika kau berbuat macam-macam."



"Jadi aku benar-benar tidak bisa kabur?" Plasidia bertanya penuh harap.



Kening Cessa berkerut, "Tidak perlu. Spade tidak akan menyentuhmu. Pria kutu buku itu mencintai buku dan seorang wanita yang kini pergi dari hidupnya."



Wanita yang juga mungkin masih ada dalam pikiran Grim. kata Cessa dalam hati.



"Wanita? Apa maksudnya pergi dari hidupnya? Berarti wanita itu bisa lepas dari Spade, bukan?" Plasidia bertanya bertubi-tubi.



"Kau akan mengetahuinya cepat atau lambat. Tidak seperti Grim, Spade jauh lebih terbuka mengenai wanita itu," jawab Cessa sambil tersenyum tipis berusaha menguatkan Plasidia sebelum pergi meninggalkan wanita itu sendiri.



Cessa langsung meminta untuk diantarkan ke butik dengan alasan pekerjaan. Grim sempat melayangkan tatapan protes, tapi Cessa memenangkan perdebatan tanpa kata mereka dan berakhir di tempat yang ia anggap sebagai rumah kedua tersebut. Sedang asyik merancang desain untuk show koleksi pakaiannya yang akan diadakan enam bulan lagi, Latiava mendatanginya dan langsung duduk di sofa tanpa permisi. Mengagetkan Cessa yang tengah berkonsentrasi mendesain rancangan-rancangan koleksi pakaian musim berikutnya.



"Sedang apa kau di sini?" tanya Cessa.



"Aku kabur dari Grim,"



"Hah?"



Cessa mendongak dari kertas di hadapannya dan menatap Latiava yang sepertinya baru saja menangis, "Kau kabur dari Grim? Apa maksudnya?"



"Apakah ucapanku tadi kurang jelas?"



"Aku hanya memastikan," balas wanita mungil itu, "Kenapa kau malah terlihat seperti remaja labil?"



Latiava mendengus, "Grim sepertinya mulai bosan padaku. Dia bahkan tidak memberitahuku kalau hari ini hari pernikahan Spade."



"Ah, itu alasannya." Cessa manggut-manggut.



"Kau tidak mau mendengarkan ceritaku lebih lanjut?" tanya Latiava.



"I don't care about it."



"Cih,"



Cessa menahan senyum saat melirik wajah merengut Latiava. Dia sendiri sadar dalam pertengkaran seperti ini dia bisa dekat dengan Latiava. Wanita itu selalu ada di dekatnya walaupun alasannya karena disuruh Grim, atau mungkin Chris. Mengingat kakaknya itu pernah mengatakan dia sudah menceritakan trauma yang ia derita pada Latiava.



Latiava menatap ruang kerja Cessa dan berhenti pada sebuah manekin yang mengenakan gaun pengantin yang tampak berbeda dari gaun yang lain. Roknya mengembang dnegan indah seperti kelopak bunga mawar, dengan warna yang lembut dan tampak anggun. Belum lagi tudung gaunnya yang sangat cantik, dihiasi beberapa mutiara kecil, membuatnya berkilau.



"Itu gaun milik siapa?"



"Hm?" Cessa mendongak dan melihat Latiava menunjuk kearah salah satu manekin, "Ah, itu untuk seseorang yang kutunggu kedatangannya bila kondisiku memungkinkan."



"Siapa?" Latiava tampak penasaran.



"Entahlah. Menurutmu siapa?"



"Kau mulai terdengar seperti Grim ketika mode usilnya kumat," Latiava memutar bola matanya.



Cessa membalas ucapan itu dengan senyum miris.



Latiava berdiri dan menghampiri meja kerja Cessa, dilihatnya wanita mungil itu sedang mendesain sebuah gaun malam berwarna biru tua dengan beberapa desain tambahan, "Rancangan untuk koleksi berikutnya?"



"Begitulah."



"Jadikan aku modelmu kalau begitu,"



"Apa?" lagi-lagi Cessa mendongak menatap Latiava, "Kenapa aku harus melakukannya?"



"Kenapa kau tidak mau aku menjadi modelmu?" balas Latiava, "Aku bisa meminta agensiku untuk mengajukanku sebagai model untuk koleksi pakaianmu berikutnya."



"Heee ..., kau meminta pekerjaan dariku?"



"Kau ini ...."



Cessa tertawa kecil, "Aku akan memikirkannya. Ini masih rancangan awal."



"Oh, begitu,"



"Ngomong-ngomong di mana Chris?" tanya Cessa.



"Kenapa kau bertanya padaku?" tanya Latiava balik.



"Karena akhir-akhir ini dia juga akrab denganmu," balas wanita mungil itu, "Dan biasanya dia juga mengomelimu soal makan teratur."



"Kakak angkatmu itu terlalu keras untuk urusan makanan," Latiava bergidik, "Semua makanan yang ia tawarkan memang sehat, tapi bisa membuatku gemuk. Kau lihat sendiri sejak aku bergaul dengan Chris aku mulai lebih gemuk dari sebelumnya!"

__ADS_1



Cessa mengangkat kepalanya dan memperhatikan penampilan Latiava dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Kau masih terlalu kurus. Wajar jika Chris mengomel soal pola makanmu."



"Dan begitu juga denganmu, 'kan?"



Cessa tersenyum tipis. Dia kembali melanjutkan merancang rancangan pakaiannya.



Latiava sesekali melihat pekerjaan Cessa. Dia tidak bisa menampik bahwa wanita mungil itu bekerja terlalu tekun, terlalu ... keras. Mungkin itu karena didikan orangtuanya yang berasal dari Jepang? Ia pernah mencari tahu kalau ibu Cessa adalah seorang Jepang. Namun ..., rasanya ada yang aneh dengan keluarga Cessa. Terutama masalah trauma yang didapat oleh wanita itu berasal dari keluarganya sendiri.



"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Cessa yang merasa diperhatikan.



"Tidak ada. Aku hanya penasaran kenapa kau bisa setangguh ini," kata Latiava, lalu buru-buru menambahkan, "Maksudku, soal segalanya tentang dirimu. Mulai dari traumamu, dan ... Grim."



"Tidak ada gunanya jika aku terus mengingat semua hal buruk itu. Walau sebenarnya aku masih merinding setiap kali mengingat segalanya," Cessa tanpa sadar meraba perutnya, "Tapi kalau semua ini adalah takdir, aku bisa apa?"



"Ajaran Timur sepertinya sangat ketat, ya?"



"Mungkin," wanita mungil itu mengedikkan bahu.



Latiava menatap Cessa sebelum seulas senyum tersungging di bibirnya. Sayang Cessa tidak melihatnya karena ini pertama kalinya Latiava tersenyum tulus dan menatap wanita mungil itu seperti seorang kakak pada adiknya.



Pintu ruang kerja Cessa terbuka kembali, kali ini pria pirang dengan senyum lebar masuk ke dalam sambil membawa sesuatu dalam kantong kertas yang diyakini Cessa dan Latiava adalah makanan. Kepala Cessa berputar kearah jam dinding dan menyadari kalau sekarang sudah waktunya makan siang. Tentu saja Chris akan datang setiap jam makan siang untuk memaksanya makan.



Well, kali ini dia tidak sendiri karena Latiava juga kena imbas omelan pria itu karena tidak mau makan teratur dan lebih memilih tubuh kurus bak tusuk gigi.



"Sepertinya kalian berdua sudah mulai akrab," Chris meletakkan kantong kertas di tangannya dan mencium kening Cessa, kebiasaan lamanya.



"Mau bagaimana lagi? Kau juga mulai dekat dengannya, 'kan?" balas Cessa.



Chris meringis mendengar pernyataan Cessa dan lebih memilih untuk tidak berkomentar, "Aku membawakan kalian makanan. Kalian tentunya belum makan siang, bukan?"



"Memang belum. Dan perutku sudah keroncongan dari tadi," kata Cessa, "Akhir-akhir ini nafsu makanku meningkat, padahal aku sudah ...."



Aliran kata-kata Cessa terhenti, membuat Chris menatapnya dengan sebelah alis terangkat menunggu kelanjutan ucapan wanita itu.



"Tidak apa-apa," Cessa menggeleng, mencoba mengenyahkan bayangan janinnya yang sudah ia gugurkan, "Kau membawa apa kali ini, Chris?"



Chris masih diam. Dia tahu Cessa menyembunyikan sesuatu, tapi seperti biasa, dia hanya bisa mengalah. Dia tidak mau wanita itu malah bertambah sedih dan berakhir traumanya kambuh. Karena itu ia menjawab pertanyaan Cessa dengan nada suara yang biasa sementara ia juga mengomeli Latiava karena berusaha kabur untuk tidak makan siang.



Chris benar-benar merasa seperti ibu yang sedang mengasuh dua anak yang susah makan saat ini.



***



Setelah pernikahan Spade yang sudah lewat dua bulan itu, Cessa tetap disibukkan dengan pekerjaannya. Kadang Grim datang untuk mengajaknya makan siang bersama, tapi dia lebih sering menolak. Akhir-akhir ini Cessa merasa tidak nyaman, entah karena alasan apa. Awalnya dia mengira itu karena traumanya kadang kambuh dan membuatnya harus mengurung diri di kamar pribadi miliknya di butik.




"Cessa? Cessa?"



Mata wanita mungil itu mengerjap. Ia mendongak dan melihat Chris duduk di hadapannya dengan kening berkerut, "Kau tidak apa-apa? Aku memanggilmu dari tadi tapi kau tidak menjawab. Kau melamunkan apa?"



"Aku tidak melamunkan apa-apa," Cessa menggeleng dan mengambil gelas berisi jus apel di dekatnya, "Jadi ..., kita tadi sampai mana?"



"Kita sampai pada pembicaraan kerja sama yang akan kita lakukan dengan agensi Plasidia dan Latiava." Kata Chris, "Beruntung sekali perusahaan agensi kedua wanita itu sama, jadi kita tidak perlu repot-repot memberitahukan kerja sama untuk model koleksimu nanti."



"Hmm ...." Cessa manggut-manggut, "Oh ya, Plasidia ini ..., dia istri Spade, 'kan?"



"Kau ini ...," Chris menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bukankah kau pernah ke pernikahan mereka dan sempat pingsan saat itu melihat Ivy menyiksa dua maid yang melayani Plasidia di hari pernikahannya?"



"Ah, itu," Cessa tersenyum miris. Bagaimana dia bisa lupa soal itu?



"Kita akan bekerja sama dengan mereka untuk koleksi pakaianmu," kata Chris. "Aku sudah memberitahu mereka untuk datang siang ini setelah jam makan siang usai. Aku juga akan ikut mendampingi dan menjelaskan pakaian mana saja yang akan mereka kenakan saat show."



"Oke," Cessa mengangguk, "Kalau begitu, kita hanya tinggal menunggu mereka datang dan membicarakan hal-hal lain setelahnya."



Chris mengangguk juga. Ia membereskan berkas-berkas yang ada di atas meja Cessa dan menyimpannya, "Ngomong-ngomong, Lass, bagaimana kabarmu?"



"Bagaimana apanya? Kau melihatku setiap hari, Chris." Kata Cessa tertawa kecil.



"Kau masih bisa tertawa, itu bagus. Tapi yang kumaksud adalah kondisimu setelah traumamu kambuh."



Cess langsung terdiam mendengarnya. Chris yang melihat sikap Cessa hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Kau mulai bermimpi buruk lagi, Cessa?"



"Kelihatan jelas, ya?" tanya wanita itu balik.



"Sejelas belahan dadamu yang nyaris terlihat karena pakaian yang kau kenakan itu," celetuk Chris yang langsung disambut dengan delikan tajam dari Cessa, "Aku serius. Blusmu itu agak ... transparan. Kau tidak bermaksud menggoda pria lain di luar sana, 'kan? Atau kau sedang menggodaku?"



"Chris ...."



"Aku bercanda, Lass," Chris terbahak, tapi kemudian raut wajahnya kembali serius, "Kau bisa menceritakannya padaku kalau kau mau. Kau tahu aku selalu ada untukmu, 'kan?"



"Aku tahu, Kakakku Tersayang," Cessa tersenyum, "Tapi aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat sebentar sebelum pertemuan membahas kerja sama nanti."



"Kalau begitu tidurlah di sofa seperti biasa. Atau kau mau ke kamar pribadimu?"



"Di kamar saja. Kalau sudah waktunya makan siang, bangunkan saja aku." Ujar Cessa.



Chris tersenyum. Dia mencium kening Cessa dan membiarkan wanita itu berjalan menuju ruangan lain di balik pintu yang ada di dekat salah satu manekin dengan gaun pengantin, di sanalah kamar pribadi Cessa berada.

__ADS_1



Chris kembali membersihkan meja kerja wanita itu, lalu menyuruh salah satu office girl untuk datang dan membereskan sisanya. Ia berjalan ke kamar Cessa dan melihat wanita itu sudah tertidur pulas di atas single bed yang ada di sana. Kamar pribadi ini dibuat khusus ketika Cessa melihat masih ada space di ruang kerjanya. Kemudian wanita itu meminta untuk dibuatkan kamar pribadi beserta kamar mandi agar sewaktu-waktu ketika ia kerja lembur, dia bisa tidur di butik tanpa harus repot-repot pulang ke apartemen. Semenjak Cessa menikah, kamar pribadi ini jarang dipakai kecuali bila Chris datang dan menumpang tidur karena terlalu capek untuk sekedar pulang ke rumah orangtuanya.



Chris menghampiri tempat tidur dan melihat kedua mata Cessa terpejam. Wanita itu tampaknya benar-benar tertidur pulas karena ketika Chris menyentuh pipi Cessa dengan perlahan tidak ada gerakan sama sekali.



"Dia pasti lelah dengan semua ini," gumam Chris sambil merenung. Pandangannya terarah ke perut Cessa yang datar.



Walau hanya melihat sekali, dia sudah tahu dengan jelas apa yang membuat trauma Cessa sering kambuh akhir-akhir ini. Cessa pasti melakukan hal yang sama dengan yang pernah ia lakukan lebih dari sepuluh tahun yang lalu.



"Kenapa kau harus menanggungnya sendirian, Cessa?" kata Chris, "Seharusnya kau memberitahuku. Aku ... aku kakakmu, bukan?"



***



Tidur nyenyak membuat Cessa merasa lebih baik, tetapi karena mimpi buruk yang datang di akhir, mood-nya kembali turun secara drastis. Dia bahkan hanya makan sedikit saat makan siang dan sempat menerima omelan dari Chris, yang dianggapnya angin lalu.



Hampir satu jam setelah jam makan siang berlalu, Latiava datang dengan gayanya yang khas. Di belakang wanita pirang itu seorang wanita lain yang Cessa kenal sebagai istri Spade, adik iparnya, Plasidia, mengikuti di belakang. Manager dari mereka kedua model itu juga ikut masuk.



"Apa kami datang terlambat?" tanya Latiava.



"Kalian datang tepat waktu," kata Cessa.



"Kupikir aku datang terlambat," kata Plasidia, "Ada apa dengan wajahmu, Cessa?"



"Hm? Tidak apa-apa," Cessa menggeleng, "Silakan duduk. Aku akan meminta office girl membawakan minuman untuk kalian.



Kedua wanita pirang itu duduk bersebelahan, kemudian mereka mulai membicarakan kerja sama. Cukup lama mereka berdiskusi dan sesekali Latiava maupun Plasidia melontarkan beberapa hal yang bisa ditambahkan saat mereka menjadi model utama nanti. Cessa manggut-manggut dan mencatatnya dalam sebuah kertas agar tidak lupa.



"Jadi, kuminta kalian membawakan beberapa rancangan pakaianku untuk musim depan," ujar Cessa kemudian, "Untuk rancangannya, aku sudah membuat beberapa sketsa. Kalian pilih satu yang menurut kalian cocok, sisanya biar aku yang menentukan."



Latiava dan Plasidia sama-sama melihat sketsa-sketsa rancangan Cessa yang kini terbentang di meja diantara mereka. Kedua wanita pirang itu sama-sama mendecak kagum melihatnya. Walau masih berupa sketsa kasar, tapi bisa dipastikan rancangan tersebut akan menjadi pakaian yang sangat indah jika sudah dibuat menjadi bentuk nyata.



Latiava dan Plasidia berpikir sebentar sebelum menunjuk satu rancangan secara bersamaan. Serentak kedua wanita pirang itu saling pandang dengan tatapan sama-sama tidak mau mengalah.



"Apa-apaan kau? Aku menunjuk desain ini lebih dulu," kata Latiava.



"Aku yang menunjuknya lebih dulu, bukan kau!" balas Plasidia.



Mendengarnya Latiava mendecak, dia menoleh kearah Cessa, "Cessa, aku yang menunjuknya lebih dulu. Aku mau memakai pakaian yang ini."



"Hei, kau tidak bisa menyerobot seperti itu." ujar Plasidia, "Cessa, aku mau yang ini. Abaikan saja wanita perebut suami orang ini."



"Apa maksumu perebut suami orang?" Latiava bertanya tidak suka.



"Kau menjadi Istri kedua Grim, 'kan? Aku tahu," Plasidia tersenyum dengan sebelah bibir, "Seharusnya kau malu karena berada satu ruangan dengan kami sekarang, Latiava Evander. Kau tidak seharusnya berada di sini dan menjadi model utama iparku."



Ucapan itu tentu saja membuat Latiava mendelik marah. Dia menggebrak meja dan membuat manajernya dan juga manajer Plasidia terlonjak kaget.



"Jaga omonganmu, Nyonya Verleon baru. Mulutmu itu benar-benar tidak tahu sopan santun. Pantas saja Spade tidak menyukaimu."



"Apa kau bilang?" Plasidia mulai tersulut amarahnya, "Asal kau tahu saja, aku bahkan tidak berniat menikahi pria itu."



"Oh, benarkah? Lalu apa kau lebih baik dariku yang kau sebut-sebut perebut suami orang lain?"



"Tentu saja kau sangat buruk, Evander!" Plasidia tidak mau mengalah, "Jangan lupa, suamiku Spade sudah membeli agensi kita dan sekarang aku adalah istri dari direktur agensi."



Perang mulut antara kedua model itu terus berlangsung. Kedua manajer mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sebuah hal yang biasa bagi kedua manajer itu melihat model asuhan mereka bertengkar seperti ini. Di agensi, keduanya adalah anak emas, apalagi status Plasidia sekarang adalah bagian dari keluarga Verleon dan Latiava yang menjadi istri kedua Grimvon. Tidak ada yang berani menentang keduanya, sama sekali.



Tapi sepertinya tidak dengan Cessa. wanita mungil itu awalnya menatap perkelahian mereka berdua dengan tatapan bengong, sebelum kemudian raut wajahnya menggelap. Ia tetap diam dan melipat kedua tangannya di depan dada melihat Latiava dan Plasidia masih bertengkar.



"Hentikan, Plasidia, kita di depan klien," bisik Stephanie takut-takut melirik Cessa dan Chris yang ada di hadapan mereka.



"Kau tidak berniat menghentikan mereka?" bisik Chris yang duduk di sampingnya.



Wanita mungil itu hanya diam. Tetapi kemudian tangannya mengangkat vas bunga kecil yang ada di tengah meja dan melemparkannya melewati wajah Latiava dan Plasidia. Bunyi vas bunga yang pecah menyentuh lantai tak terlewatkan oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut. Kedua wanita pirang itu langsung menoleh kearah Cessa, yang menatap mereka dengan tatapan dingin seperti es kutub.



"Apa kalian sudah selesai berdiskusi?" tanya Cessa datar, "Jika iya, tolong hargai aku sebagai klien yang memakai jasa kalian. Tetapi jika tidak, silakan angkat kaki dari ruangan ini dan jangan harap akan memberikan kalian kesempatan untuk bekerja sama denganku.



"Aku tidak menyuruh kalian bertengkar dan membawa-bawa masalah pribadi. Yang kuinginkan adalah profesionalisme kalian, bukan dua orang wanita yang bertengkar seperti remaja labil memperebutkan seniornya yang tampan dan seorang atlit andalan. Jika kalian tidak bisa memenuhi standarku dan mengurangi profesionalisme kalian hanya karena mengenalku, sebaiknya kalian anggap saja pertemuan ini tidak terjadi!"



Kalimat Cessa membuat keduanya langsung terdiam, tidak berani berbicara lagi walau baik Plasidia maupun Latiava masih melayangkan tatapan penuh permusuhan pada satu sama lain. Cessa melihat itu dan kali ini ia menggebrak meja yang membuat semua orang sekali lagi terlonjak kaget.



"Dinginkan kepala kalian, atau aku tidak akan segan-segan mengadukan pada Spade kalau kedua model agensinya berlaku tidak sopan padaku dan memutuskan membakar kontrak kerja untuk kalian. Silakan pilih, biarkan perasaan pribadi kalian meluap keluar atau menunjukkan profesionalisme dan bekerja sungguh-sungguh padaku."



Lagi-lagi Latiava dan Plasidia terdiam. Seumur-umur, Latiava tidak pernah melihat Cessa pemarah seperti ini. Diam-diam dia membenarkan dalam hati kalau seseorang yang sabar bila marah akan lebih menyeramkan. Hal itu juga dipikirkan oleh Plasidia yang mengenal Cessa sejak lama.



"Lass, cukup. Mereka tampak ketakutan," ujar Chris memegang tangan Cessa yang ada di bawah meja, "Sebaiknya kau juga menenangkan dirimu. Kau mau kuambilkan sesuatu? Atau mau kubelikan makanan manis seperti biasanya?"



Keempat orang di hadapan mereka menunggu penuh antisipasi. Wajah Cessa masih terlihat gelap karena marah. Chris menggenggam tangan Cessa lebih erat dan membuat wanita itu menatap kearahnya, "Coklat dan es krim,"



"Es krim tidak boleh. Bagaimana kalau puding jeruk dan mangga?"



Cessa mengangguk pelan dan raut wajahnya langsung berubah, begitu juga aura menyeramkan dari wanita itu langsung surut hingga membuat kedua model beserta manajernya menarik nafas lega.



Chris mengangguk sambil tersenyum, "Kalau begitu, tenangkan pikiranmu. Aku akan mengambilkan kedua makanan itu dari kulkas di kamarmu."



Pria itu mengelus surai Cessa sebelum beranjak ke kamar pribadi Cessa dan kemudian wanita itu kembali menatap Latiava dan Plasidia yang baru saja bernafas lega, "Jadi, apa pilihan kalian?"


__ADS_1


__ADS_2