The Hope

The Hope
Chapter 12


__ADS_3

WARNING!!!!


21+++++ DETECTED!!


.


.


MASIH MENGANDUNG UNSUR 21+++. BAGI YANG KUAT IMAN SILAKAN LANJUT.


BAGI YANG NGGAK, SKIP AJA SETENGAHNYA.


PUTRI NGGAK TANGGUNG KALIAN BLINGSATAN KEK CACING KEPANASAN LAGI.😂😂😂



SELAMAT MALAM DAN SELAMAT MENIKMATI HIDANGAN UTAMA! 😜😜


.


.


.


.


.


.


.


=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=




Grim terkekeh ketika melihat Cessa memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Wanita itu masih merasa lemas dan matanya beberapa kali nyaris terpejam karena mengantuk. Entah ini bagus atau tidak, tapi kondisi Cessa yang seperti ini benar-benar membuat Grim siap menerkamnya kapan saja.



"Masuk ... ke dalamku?" wanita itu mengerutkan kening, "apa harus sekarang?"



"Tidak juga, tapi aku ingin merasakan diriku di dalammu, Princess. Anggap saja ini sebagai bagian dari terapimu." Grim mengecup kening Cessa.



Cessa tidak menjawab. Pikirannya masih berkabut. Grim melepas pakaiannya dan mengambil dasinya. Ditariknya tubuh Cessa dengan lembut dan mengikatkan dasi itu menutupi kedua mata Cessa. Ia juga melepas ikatan rambut Cessa sehingga rambut wanita itu tergerai menutupi kedua dadanya yang menggoda.



"Grim, kenapa mataku ditutup?" Cessa mencoba melepas ikatan dasi yang menutupi kedua matanya tapi Grim menahan gerakannya.



"Tidak apa-apa. Yang kau perlukan sekarang hanya mendengarkan suaraku dan ikuti kata-kataku," bisik pria itu.



Cessa menggigil mendengar suara Grim tepat di telinganya tetapi ia menurut. Dia bahkan lupa kalau dia tadi ketakutan dan ingin kabur dari tempat ini secepat mungkin. Cessa bahkan tidak mengerti kenapa dia masih mau menuruti Grim saat ini.



Grim menarik Cessa ke pangkuannya. Pipi Cessa langsung memerah merasakan tonjolan di pangkal pahanya. Grim meletakkan kedua tangan Cessa di bahunya, "Lingkarkan kedua lenganmu di leherku, Princess, dan biarkan aku memasukimu."



"Aahh ...." Cessa meringis merasakan kejantanan Grim masuk secara perlahan ke dalam liang kewanitaannya. Ada rasa nyeri yang mendera tubuh bagian bawahnya, tetapi Grim langsung melesakkan miliknya dan membuat Cessa tersentak. Kedua tangan Cessa melingkari leher Grim erat-erat sementara nafasnya terengah.



"Nah, Princess, sekarang bergeraklah. Aku akan memandumu." Suara Grim mengirimkan gelenyar aneh yang membuat Cessa mengikuti perintahnya.



Ia bergerak sesuai instruksi Grim. Mulutnya membuka. Setiap kali dia bergerak, gesekan yang terjadi di dalam liang kewanitaannya membuat Cessa seperti disengat listrik. Grim juga ikut menggerakkan pinggulnya dan menyebabkan Cessa mengerang. Pria itu mencium leher Cessa yang terekspos dan tangannya kembali memainkan payudara Cessa.



"Grim, ahh...." Cessa mencoba mengimbangi gerakan Grim yang semakin cepat. Dia mendongakkan kepalanya ketika Grim terus mencumbu lehernya, memberi tanda kepemilikan di sana tanpa disadari.



Cessa merasa dia akan mendapatkan pelepasannya lagi.Kedua tangannya secara refleks memeluk Grim lebih erat. "Grim, aku ... aku akan ... lagi ..."



"Teruskan, Princess. Sebut namaku ...."



Tubuh Cessa bergetar dan ketika pelepasannya tiba, gerakan wanita itu mulai melambat dan nafasnya terengah-engah. Pelukannya pada Grim mengendur, dan Grim menahan pinggangnya agar Cessa tidak langsung ambruk ke ranjang. Grim masih belum mendapat pelepasannya, dan dia masih ingin menikmati Cessa.



Grim lalu membaringkan Cessa di ranjang dan mencabut kejantanannya. Cessa hendak melepas dasi yang menutupi matanya ketika suara Grim kembali terdengar, "Jangan dilepas. Sekarang berbaliklah."



Sebelum Cessa sempat bergerak, Grim sudah membalikkan tubuh Cessa hingga punggung wanita itu terpampang jelas di hadapan Grim. Cessa diperintahkannya untuk sedikit berjongkok dan tangannya menyentuh lubang kewanitaan Cessa dan membukanya selebar yang bisa dibuka kedua jarinya.



"Grim ... apa yang kau lakukan ...?"



"Tenang, Princess. Iktui saja kata-kataku." Grim memasukkan jarinya ke dalam liang kewanitaan Cessa dan membuat wanita itu menggeram.



Grim bermain-main di dalam liang kewanitaan Cessa dan membuat wanita itu bergetar di bawahnya. Cessa meneguk ludahnya. Ini bahkan terlalu intim baginya, dan dia tidak bisa menahan diri ketika tubuhnya bereaksi sesuai dengan yang diinginkan pria itu. Begitu selesai memainkan liang kewanitaannya, Grim mendekatkan wajahnya ke leher Cessa dan mencium di sana.


__ADS_1


"Aku akan masuk ke dalammu lagi. Jangan coba-coba untuk menyembunyikan wajah cantikmu, Princess. Aku ingin mendengar suaramu mendesahkan namaku." Grim berbisik lagi.



Cessa hanya bisa pasrah ketika kejantanan Grim sekali lagi masuk ke dalamnya dan kembali bergerak. Cessa mengerang lagi. Rasanya seluruh tubuhnya terasa disentuh di mana-mana. Sebelah tangan Grim meremas payudaranya dan sebelah lagi menyentuh bibirnya agar tetap membuka. Grim terus bergerak dan menikmati setiap desahan yang dikeluarkan bibir Cessa. Ketika namanya disebut dia mempercepat gerakannya dan membuat wanita itu terus mengerang dengan sensual.



Cessa kembali merasakan pelepasannya hampir tiba. "Grim, kurasa aku akan ... lagi ...."



"Ya, Princess, aku juga. Kita akan melepasnya bersama-sama." kata Grim sambil terus memompa tubuh Cessa.



Ketika Grim merasakan pelepasannya hampir tiba, dia mempercepat gerakannya. Dan mendengar Cessa melenguh panjang karena pelepasannya tiba, Grim juga ikut mengeluarkan desahannya. Mereka berdua sama-sama ambruk ke ranjang. Grim melepaskan ikatan dasi yang menutupi kedua mata Cessa dan membalik wajah wanita itu. Kedua mata Cessa setengah terpejam dan bibirnya membuka mengeluarkan nafas hangat yang menerpa wajah Grim.



Satu kecupan singkat mendarat di bibir wanita itu dan Grim tersenyum, "Terapi pertamamu selesai, Princess." bisiknya serak, "Sekarang tidurlah! Aku akan ada di sampingmu sampai kau bangun."



Cessa menganggukkan kepalanya dan membiarkan Grim memeluknya setelah mencabut kejantanannya dari tubuh Cessa. Grim menjadikan lengannya sebagai bantal Cessa dan menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut. Sebelah lengannya lalu memeluk wanita itu, menariknya mendekat dalam pelukannya sebelum ikut tidur bersama Cessa.



***



Cessa tidak tahu berapa lama dia tidur. Tapi begitu ia bangun, tubuhnya terasa pegal walau rasa pegalnya bukan rasa pegal karena bekerja. Ia mengerjapkan matanya, meneliti di mana dia berada sekarang dan baru sadar sebuah tangan memeluknya dari belakang. Cessa menoleh dan mendapati wajah Grim di belakangnya. Kedua mata pria itu terpejam dan detik itu juga Cessa ingat apa yang terjadi semalam.



Wajah Cessa memerah dengan cepat. Kejadian kemarin membuatnya merasa takut, tapi juga ada perasaan senang yang anehnya membuatnya nyaman. Cessa tidak tahu apa itu artinya bagus atau tidak, tapi dia percaya Grim benar-benar melaksanakan niatnya membantu Cessa.



Walau dia akhirnya meniduriku secara paksa. Batinnya sambil mendengus. Cessa hendak bangkit dari tidurnya ketika merasakan kecupan ringan di bahunya.



"Selamat pagi, Princess." suara itu membuat Cessa menggigil dan menoleh kembali hanya untuk melihat Grim sudah sepenuhnya terbangun. Mata pria itu menatapnya dengan lembut dan membuat Cessa merasa wajahnya kembali memanas.



"Kau benar-benar manis ketika bangun tidur seperti ini," bisik Grim, "jangan pergi dulu, sayang. Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar lagi. Aku masih mengantuk."



"Tapi aku harus bekerja ...," Cessa berusaha bangun, "aku bahkan tidak sempat menelepon Chris. Kau benar-benar memaksaku dan meniduriku. Dasar bajingan."



"Hm. Aku memang bajingan, tapi aku bersikap lembut padamu, Princess. Kau tidak mungkin lupa kau juga mendesahkan namaku semalam, 'kan?" balas Grim. "Bonekaku ternyata cukup liar dan membuatku ketagihan."




Cessa merasakan tangan Grim menelusuri pahanya dan berakhir di depan liang kewanitaanya. Ia mengerang tertahan ketika jari pria itu mulai memasuki tempat intim tersebut.



"Grimvon Verleon, apa yang ..., astaga!"



Nafas Cessa terengah, sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak mengerang lagi, tapi cubitan di dadanya membuatnya terkesiap dan secara tak sengaja melepaskan erangan yang tadi ditahannya.



"Aku ingin masuk ke dalam tubuhmu lagi, Princess." bisik Grim, "Kita akan melakukan terapi keduamu."



Dan pagi itu, Cessa hanya bisa pasrah menerima 'terapi' dari Grim.



***



Hampir tengah hari Cessa baru bisa bangkit dari ranjang dan membersihkan diri di kamar mandi. Ketika dia keluar, dia melihat sebuah gaun dengan bahan yang cukup tebal berwarna peach di sisi ranjang dan juga pakaian dalam baru.



"Itu milikmu." Grim yang duduk di sofa putih di dekat jendela menunjuk gaun yang ada di sisi ranjang. Pria itu hanya mengenakan kimono putih sehabis mandi dan belum berganti pakaian. "Kuharap ukurannya pas."



Cessa memiringkan kepalanya dan mengambil gaun itu. Sekali lihat, Cessa bisa tahu bahan gaun itu akan sangat nyaman di kulitnya. Ia kembali masuk ke kamar mandi dan mengganti kimono handuknya dengan gaun tersebut. Keluar dari kamar mandi, dia melihat Grim masih duduk di sofa sambil membaca sebuah buku di pangkuannya.



"Kau tidak berganti pakaian?" tanya Cessa.



"Nanti," balas Grim, kemudian mendongakkan kepalanya menatap Cessa, "ternyata gaun itu memang cocok untukmu."



"Bahannya nyaman, dan aku suka modelnya," balas Cessa, "sebaiknya kau segera berganti pakaian. Kau harus mengeluarkanku dari sini karena aku harus bekerja."



"Kau bahkan bekerja di akhir pekan?" tanya Grim dengan nada polos.



"Aku harus bertemu beberapa klien hari ini." Cessa memutar bola matanya, "Pekerjaanku berbeda denganmu yang bisa berlibur di akhir pekan."


__ADS_1


Grim terkekeh mendengarnya dan kemudian berdiri. Diletakkannya buku yang tadi dibacanya ke atas meja dan mendekati Cessa. Secara refleks wanita itu mundur selangkah dan membuat Grim mengerutkan kening.



"Kau masih takut padaku?" tanya pria itu.



"Aku hanya ... sebaiknya kau menjaga jarak dariku,," balas Cessa, "siapa tahu kau akan menerkamku lagi seperti kemarin dan tadi pagi."



Grim tertawa geli, dia mengacak-acak rambut Cessa yang sedikit basah dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Cessa sendiri memeriksa ponselnya dan menyadari baterai benda itu habis. Pantas saja dari kemarin malam ponselnya tidak berbunyi sama sekali. Dia tidak membawa alat pengisi daya untuk ponselnya dan memasukkan kembali benda persegi itu kembali ke dalam tas.



Pintu kamar mandi terbuka dan Grim keluar dengan kemeja putih dan celana katun hitam yang menempel pas di tubuhnya. Cessa hanya menatap Grim dengan tatapan datar sebelum mengalihkan pandangannya kearah lain. Grim yang melihat sikap Cessa tersenyum dan mengahmpiri wanita itu diam-diam dan memeluknya dari belakang, membuat Cessa terpekik kaget dan menatapnya.



"Biasanya kau melontarkan kata-kata pedas dan tajam seperti pisau. Kenapa kali ini kau diam saja seperti boneka sungguhan?" Grim mencium pipi Cessa, "Kau jauh lebih manis kalau diam seperti ini."



"Aku lapar." Cessa berusaha berdalih, "Bisakah aku pergi sekarang? Aku bahkan tidak tahu ini jam berapa. Aku ada janji temu dengan adik tirimu untuk membantunya mengepas gaun pengantin."



"Ini baru jam sembilan. Biasanya kau membuka butikmu pada jam sepuluh, 'kan?" Grim melepaskan pelukannya. "Kalau kau lapar, aku akan memesankan makanan untukmu. Kau mau apa?"



Cessa hanya diam. Ini hanya perasaannya saja atau Grim sedang bersikap manis padanya? Apa karena peristiwa semalam? Jika iya, Cessa mungkin harus segera pulang ke apartemennya dan mandi sekali lagi untuk menghilangkan jejak yang ditinggalkan pria itu di tubuhnya.



Sebuah kecupan membuat lamunan wanita itu buyar. Pandangannya bertemu dengan mata Grim yang menatapnya dalam jarak tak kurang dari lima senti. Cessa bahkan bisa menghirup aroma mint dari nafas pria itu.



"Kau kenapa? Kau bilang tadi kalau kau lapar." Ujar pria itu, "Atau ..., kau mau melanjutkan percintaan kita tadi?"



"T-tidak! Wajahmu terlalu dekat." Cessa mendorong Grim menjauh, pipinya merona tanpa ia sadari.



Grim melihat rona di wajah Cessa dan terkekeh. Kembali dikecupnya pipi wanita itu dan menariknya ke kursi yang dia duduki sambil menunggu Cessa selesai mandi tadi. Pria itu mendudukkan Cessa di pangkuannya dan membuat wanita itu mengerutkan kening. "Sekarang kau mau melakukan apa lagi?" desis wanita itu.



"Aku hanya ingin memangkumu. Apa itu salah?" jawab Grim, "kita akan sarapan dulu. Saat kau melamun tadi aku sudah memesankan makanan untuk kita berdua."



"Oh."



"Dan juga, aku ingin membicarakan soal terapi yang akan kuberikan padamu di lain waktu kita bertemu." ujar pria itu, yang dihadiahi dengan delikan dari Cessa, "Jangan mengelak, Princess. Terapi yang kuterapkan padamu bahkan lebih manjur dari psikiater yang merawatmu dulu. Buktinya sekarang kau jarang melontarkan kata-kata pedas dan lebih menurut padaku."



Cessa mendesis tak terima walau apa yang dikatakan pria itu memang benar. Dia memang tidak lagi mengelak dari sentuhan Grim. Tapi Cessa tidak mau berpikir bahwa dia akan sembuh dari traumanya. Bertahun-tahun trauma yang diakibatkan perlakuan ayah dan kakak tirinya melekat dalam otaknya dan sulit membuatnya melupakan saat-saat paling mengerikan itu dari pikirannya.



Bahkan sekarang Cessa merasakan tubuhnya mulai gemetar lagi kalau saja kecupan di punggung tangannya tidak mengalihkan pikiran wanita itu. Mata Cessa melihat tangannya berada dalam genggaman Grim dan pria itu tengah mencium punggung tangannya.



"Mulai sekarang, hanya aku yang boleh menyentuhmu. Sebagai terapi dan juga sarana agar aku bisa lebih mengenalmu," kata pria itu, "sebagai gantinya, aku pun juga akan menceritakan soal diriku. Bukankah itu impas?"



"Kenapa kau bersikeras ingin mengenalku bahkan sampai memaksaku tidur denganmu? Apa untungnya bagimu?" tanya Cessa balik.



"Jawabannya mudah, Princess. Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri. Aku sudah menetapkan kalau kau harus kumiliki dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh apa yang menjadi milikku." Jawab Grim.



Cessa bisa merasakan nada menuntut dan posesif dalam suara pria itu. Mendadak dia sadar kalau pria yang sedang memeluknya ini bisa saja lebih kejam dibanding ayah dan kakak tirinya. Sinar di kedua mata pria itu menyerukan bahaya, begitu pula dengan raut wajahnya yang keras. Ia berusaha untuk tidak menggigil. Jenis pria seperti Grim-lah yang paling dia hindari, tapi sayangnya hal itu sudah tak mungkin dilakukan. Pria ini berhasil menjerat fisiknya, dan mungkin akan menjerat hatinya juga? Entahlah. Cessa belum mau memikirkannya sekarang.



"Princess." suara Grim membuatnya menoleh, "katakan, kau juga ingin mengenalku dan membiarkanku memberikan terapi yang bisa saja, akan membuatmu jatuh cinta padaku."



"Kau terlalu percaya diri." Cessa mendengus, "Aku lebih suka kalau waktu yang menentukan seperti apa kehidupan. Aku tidak tertarik untuk mengusik ketenanganku hanya dengan hal semacam ini."



"Itu artinya kau setuju." Balas Grim, "Kalau begitu, kita akan sering bertemu, dan saat itu terapimu akan selalu dilakukan. Jangan membantahku, Princess. Aku tahu kau ingin membantah ucapanku."



Cessa mencibir tanpa suara dan lebih memilih membuang muka dari pria itu. Sikapnya membuat Grim tertawa dan mencium leher Cessa.



"Grim!"



"Aku tidak tahan melihat lehermu yang terpampang jelas di depan mataku ini." kata pria itu dengan wajah sumringah, "Apa boleh menu sarapanku hari ini adalah kau, Princess?"



"Aku akan menghajarmu jika kau berani melakukannya." desis Cessa, "Aku serius."



"Itu saja sudah cukup." Grim kembali mencuri satu ciuman, kali ini dibibir wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2