The Hope

The Hope
Chapter 20


__ADS_3

Berkunjung ke rumah


orangtua Chris sebenarnya adalah kegiatan rutin Cessa di akhir pekan.


Tetapi entah kenapa beberapa bulan belakangan ini dia memang jarang


mengunjungi Mr. dan Mrs. Scott kalau saja Chris tidak mengingatkannya.


Cessa keluar dari mobil


bersamaan dengan Chris. Matanya menatap rumah sederhana yang ada di


hadapannya dan tersenyum simpul. Walau rumah ini dibilang sederhana,


sebenarnya rumah orangtua Chris cukup luas. Dengan taman yang selalu


dirawat oleh Mrs. Scott setiap harinya, menjadikan rumah itu tampak


asri, sejuk, dan terawat.


Chris berdiri di samping wanita itu dan menggenggam tangannya, "Ayo. Aku yakin Mom sudah menunggu dengan kue coklat kesukaanmu."


Cessa tersenyum lebar


dan mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, seorang


wanita paruh baya dengan rambut pirang seperti Chris sedang menata meja


dengan berbagai cemilan dan juga teko teh. Begitu melihat Chris dan


Cessa masuk beliau tersenyum lebar.


"Cessa, my dear,"Agatha


Scott menghampiri Cessa dan memeluknya erat, "Kau semakin cantik saja.


Kenapa kau tidak pernah berkunjung ke sini selama beberapa bulan?"


"Dia terlalu sibuk bekerja dan nyaris lupa kalau dia bukan robot," celetuk Chris sambil tersenyum lebar.


Cessa mendelik kearah


Chris. Agatha hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka


berdua, "Cessa, seharusnya kau lebih sering berkunjung kemari. Jangan


terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja, pikirkan kesehatanmu."


"Aku tahu, Agatha. Anda


tidak perlu khawatir. Selama ini aku selalu menjaga kesehatanku," balas


Cessa, kemudian melirik kearah meja, "Apa itu kue coklat?"


Agatha melirik kearah


meja dan tersenyum simpul, "Favoritmu, tentunya," ujar beliau, "Ayo,


kita duduk dan mengobrol. Kau harus menceritakan apa saja yang kau


lakukan selama ini, Cessa."


"Tentu, Agatha." Cessa tersenyum dan mengikuti beliau duduk di sofa.


Chris sendiri duduk di


sofa tunggal di hadapan dua wanita itu. Senyum terukir di wajahnya


melihat ibunya akrab dengan Cessa. Beliau bahkan sudah menganggap wanita


itu seperti putrinya sendiri dan sangat protektif pada Cessa melebihi


dirinya.


"Oh, Cessa sudah


datang." Mereka bertiga menoleh ke asal suara tepat kearah seorang pria


yang tak lain adalah William Scott, berjalan menuruni tangga.


"Dad." Chris mengangguk sopan pada ayahnya yang dibalas pria paruh baya itu dengan senyuman.


"My girl, kau


bertambah cantik," sapa Mr. Scott sambil mencium pipi Cessa, "Berapa


lama kau tidak mengunjungi kami? Istriku khawatir kau terlalu sibuk


dengan pekerjaan dan melupakan kami."


"Aku hanya tidak sempat berkunjung. Show koleksi pakaian terbaruku akan dimulai beberapa bulan lagi, karenanya aku cukup sibuk," balas Cessa.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatanmu." kata William.


"Aku akan ingat pesanmu," Cessa tersenyum manis.


"Nah, karena semuanya


sudah berkumpul, ayo kita nikmati kue coklat buatanku dan minum teh,"


ujar Agatha, "Cessa, kau akan ikut makan siang bersama kami, 'kan?"


Cessa mengangguk untuk menjawabnya.


***


Setelah makan siang,


Cessa diajak Agatha untuk duduk memandangi taman. Ia dan wanita tua itu


membicarakan banyak hal, terutama soal bunga-bunga yang dirawat Agatha


dan tumbuh cantik di tamannya.


"Oh ya, Cessa, kapan kau dan Chris akan menikah?"


Pertanyaan itu membuat


Cessa yang sedang menyesap tehnya tersedak. Dia terbatuk-batuk pelan


sementara Agatha mengelus punggungnya karena khawatir.


"Astaga, apa sekaget itu


kau mendengar pertanyaanku?" ujar beliau, "Kau dan Chris sudah


bersama-sama sejak sepuluh tahun, jadi kapan kalian menikah?"


Cessa mengerjap dan

__ADS_1


berdeham untuk menetralkan tenggorokannya yang masih sedikit serak,


"Agatha, kau tahu sendiri aku dan Chris hanya berteman. Kami tidak


berpacaran, sungguh."


"Benarkah? Apa kau tidak punya perasaan apa-apa pada putraku? Dari yang kulihat dia sangat menyayangimu, Sayang," balas Agatha.


Cessa hanya meringis


dalam hati mendengarnya. Dia tahu betul Chris menyayanginya, tetapi ia


tidak bisa melihat Chris lebih dari seorang kakaknya.


"Tapi, Cessa," Agatha


menggenggam tangannya dengan lembut, "Kuharap kau menemukan


kebahagiaanmu, walau itu bukan dengan Chris. Kau harus mendapatkan


kebahagiaanmu, Sayang."


Ucapan itu membuat Cessa


terharu. Tangannya membalas genggaman wanita tua itu, "Tenang saja,


Agatha. Aku akan bahagia, sesuai pesanmu."


Agatha tersenyum lembut


mendengarnya, "Kuharap begitu, Sayang. Kau sudah lama menderita karena


traumamu, dan sudah saatnya kau mendapatkan kebahagiaan."


***


Chris menatap ibunya dan


Cessa yang berbincang-bincang sambil memandangi taman. Hatinya sedikit


menghangat melihat keakraban mereka berdua.


"Chris,"


Chris menoleh kearah ayahnya, "Ya, Dad?"


"Bagaimana kondisi Cessa sekarang?" tanya beliau, "Apakah sudah lebih baik dari yang dulu?"


"Dokter Kristal bilang kondisi Cessa sudah cukup stabil," jawab Chris, "Cessa bahkan berkencan sekarang."


"Berkencan? Bukankah dia selalu bersamamu?"


"Dia hanya menganggapku kakak, Dad. Apa lagi yang bisa kuharapkan selain itu?" pria itu meringis, membuat ayahnya tertawa.


"Kau terlalu


memanjakannya, karenanya dia menganggapmu kakak, bukan sebagai pria,"


balas sang ayah, "Tetapi, aku tahu kau menyayanginya lebih dari itu.


Hanya saja saat ini Cessa yang tidak peka dengan perasaanmu."


Chris tersenyum miris mendengar ucapan ayahnya yang benar-benar tepat sasaran.


"Lalu, siapa yang menjadi teman kencan gadisku itu sekarang?" tanya William lagi.


"Grimvon Verleon,"


Chris mengangguk, "Dad mengenalnya?"


"Tentu aku mengenalnya.


Beberapa kali aku bertemu dengannya di universitas saat dia masih


menjadi mahasiswa dan sekarang rektorat muda." jawab beliau. William


memang bekerja di Antarion University sebagai salah satu dosen tetap di


sana.


"Begitu ...."


"Apa Cessa menyukai Grimvon Verleon?" tanya beliau lagi.


"Entahlah, Dad.


Cessa jarang dekat dengan pria kecuali kita berdua," balas Chris, "Aku


idak tahu apakah Cessa menyukai Grimvon Verleon atau tidak. Tetapi


asalkan dia tidak menangis selama berhubungan dengan pria itu, aku rasa


Cessa akan baik-baik saja."


William manggut-manggut


mendengar jawaban putranya, "Kalau begitu, percaya saja pada Cessa. Jika


ada sesuatu yang terjadi segera beritahu Dad. Walau Cessa tampak sudah baik-baik saja, Dad yakin traumanya bisa muncul tanpa bisa dicegah."


Chris mengangguk membenarkan ucapan ayahnya. "Jangan khawatir, Dad.


Bila ada sesuatu yang terjadi pada Cessa dan itu karena Grimvon, Chris


akan menghajarnya, tidak peduli Cessa menyukainya atau tidak."


"Bagus. Itu baru putra William Scott." ujarnya sambil tertawa.


***


Chris mengantarkan Cessa


kembali ke apartemen sore harinya. Setelah mengucapkan terima kasih dan


keluar dari mobil pria itu, Cessa melangkah ke dalam gedung apartemen


dan berpapasan dengan Hudson.


"Ah, Nona Princessa," sapa Hudson, "Tuan Verleon berkunjung ke apartemen Anda tadi."


"Oh ya?" Cessa


mengangkat sebelah alisnya. Bukankah pria itu kemarin bilang tidak bisa


dating hari ini karena ada urusan? "Apa dia sudah masuk ke apartemenku?"


Hudson mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih sudah

__ADS_1


memberitahuku, Hudson. Ah ya, ini," Cessa menyerahkan kantong kertas


berisi kue coklat yang diberikan Agatha padanya, "Buatan Ibu Chris.


Makanlah bersama keluargamu nanti."


"Terima kasih, Nona Princessa," Hudson menerima kantong kertas itu.


Cessa tersenyum kemudian


berjalan menuju lift. Dia menekan tombol menuju lantai apartemennya


berada. Sambil menunggu, dia mengecek ponselnya. Siapa tahu Grim memtahu


dia datang ke apartemen tetapi Cessa yang tidak menyadarinya.


Pintu lift terbuka


beberapa saat kemudian dan Cessa melangkah keluar sambil tetap


mengutak-atik ponsel di tangan. Tanpa melihat kearah pintu dia menggesek


kartu kunci apartemen dan membuka pintunya. Baru ketika dia berada di


dalam, Cessa mendongak dan melihat ada yang aneh dengan suasana di


apartemennya. Dia tidak tahu apa yang aneh, tapi instingnya mengatakan


demikian.


"Grim?"


Cessa melepas melangkah


masuk ke dalam. Ketika hendak menyalakan lampu, sepasang tangan menutup


kedua matanya dan membuatnya memekik kaget.


"Sssh ..., ini aku, Princess." suara Grim terdengar di belakangnya.


"Grim, kenapa kau menutup mataku?" tanya wanita itu hendak melepaskan kedua tangan Grim yang menutupi pandangannya.


"Jangan dulu. Aku punya sesuatu untukmu." Grim dengan cepat mengikatkan sebuah penutup mata pada wanita itu.


"Kenapa mataku harus ditutup? Kalau mau memberi sesuatu berikan saja padaku dengan mata terbuka," keluh Cessa.


"Itu berarti bukan kejutan namanya," balas Grim, "Jangan membantah, Princess. Ikuti saja."


Cessa mengembuskan nafas


dan mengikuti tangan Grim mebawanya. Walau dengan mata tertutup, Cessa


tahu pria itu membawanya ke kamar tidurnya. Entah apa yang dipikirkan


pria itu, tetapi Cessa merasa pipinya memanas. Astaga, apa kejutan yang


dimaksud Grim adalah terapi lagi?


Dasar maniak bercinta!


Grim memosisikan Cessa di depan tempat tidur wanita itu, kemudian membuka penutup matanya. "Sekarang, buka matamu perlahan."


Cessa membuka matanya


dan mengerjap melihat kamarnya gelap, namun pandangannya segera tertuju


kearah meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya yang ditaburi banyak


kelopak bunga mawar merah dan putih membentuk hati dan di


tengah-tengahnya, terdapat tiga tangkai bunga mawar putih beserta lilin


berwarna biru berjumlah sembilan. Sebelah tangannya terangkat menutup


mulut dan dia berbalik menatap Grim yang sedang tersenyum kearahnya.


"Grim, ini ...." Cessa


makin tidak bisa berkata-kata saat Grim berlutut dan mengeluarkan sebuah


kotak beludru kecil dan membukanya, memperlihatkan sebentuk cincin


dengan berlian menyerupai tetesan airmata berwarna biru lembut.


"Princess, aku


mungkin pria bajingan, suka memaksa, dan juga tampan," Grim tersenyum


lebar, "Tapi untuk hal seperti ini, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin


menikah denganmu. Kau mau menikah denganku?"


Cessa menatap wajah Grim


yang serius dan kemudian cincin di kotak kecil di tangan pria itu. Baru


kali ini dia mendapatkan lamaran seromantis ini. Sesuatu di dalam


dadanya seperti ingin membuncah keluar. Dengan tangan agak gemetar dia


menggenggam tangan pria itu, seulas senyum terbentuk diiringi setetes


airmata mengalir di pipinya.


"Ya." bisik Cessa nyaris tak terdengar, "Ya, Grim. Aku ..., aku mau,"


Grim mendengar jawaban


Cessa dan kembali berdiri. Dia balas menggenggam tangan wanita itu.


Sebelah tangannya yang bebas menyentuh pipi wanita itu dan menghapus


jejak airmata di sana. "Sshh ..., jangan menangis, Princess. Kalau kau bahagia, seharusnya kau tertawa, bukannya menangis."


"Kau ini ...." Cessa berusaha merengut tetapi airmatanya kembali keluar, "Kau bodoh. Ini airmata bahagia."


Grim tertawa pelan


mendengarnya. Bibirnya mengecup kening Cessa dan kemudian menarik wanita


itu ke dalam pelukannya. "Terima kasih sudah mau menerima lamaranku, Princess. Aku berjanji kau tidak akan pernah menderita bersamaku."


Cessa membalas pelukan


pria itu dan mengangguk. Ia membenamkan wajahnya di dada Grim dan


menghirup aroma kayu manis dari tubuh pria itu. "Ya, aku percaya


padamu."

__ADS_1


 


 


__ADS_2