
Berkunjung ke rumah
orangtua Chris sebenarnya adalah kegiatan rutin Cessa di akhir pekan.
Tetapi entah kenapa beberapa bulan belakangan ini dia memang jarang
mengunjungi Mr. dan Mrs. Scott kalau saja Chris tidak mengingatkannya.
Cessa keluar dari mobil
bersamaan dengan Chris. Matanya menatap rumah sederhana yang ada di
hadapannya dan tersenyum simpul. Walau rumah ini dibilang sederhana,
sebenarnya rumah orangtua Chris cukup luas. Dengan taman yang selalu
dirawat oleh Mrs. Scott setiap harinya, menjadikan rumah itu tampak
asri, sejuk, dan terawat.
Chris berdiri di samping wanita itu dan menggenggam tangannya, "Ayo. Aku yakin Mom sudah menunggu dengan kue coklat kesukaanmu."
Cessa tersenyum lebar
dan mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, seorang
wanita paruh baya dengan rambut pirang seperti Chris sedang menata meja
dengan berbagai cemilan dan juga teko teh. Begitu melihat Chris dan
Cessa masuk beliau tersenyum lebar.
"Cessa, my dear,"Agatha
Scott menghampiri Cessa dan memeluknya erat, "Kau semakin cantik saja.
Kenapa kau tidak pernah berkunjung ke sini selama beberapa bulan?"
"Dia terlalu sibuk bekerja dan nyaris lupa kalau dia bukan robot," celetuk Chris sambil tersenyum lebar.
Cessa mendelik kearah
Chris. Agatha hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka
berdua, "Cessa, seharusnya kau lebih sering berkunjung kemari. Jangan
terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja, pikirkan kesehatanmu."
"Aku tahu, Agatha. Anda
tidak perlu khawatir. Selama ini aku selalu menjaga kesehatanku," balas
Cessa, kemudian melirik kearah meja, "Apa itu kue coklat?"
Agatha melirik kearah
meja dan tersenyum simpul, "Favoritmu, tentunya," ujar beliau, "Ayo,
kita duduk dan mengobrol. Kau harus menceritakan apa saja yang kau
lakukan selama ini, Cessa."
"Tentu, Agatha." Cessa tersenyum dan mengikuti beliau duduk di sofa.
Chris sendiri duduk di
sofa tunggal di hadapan dua wanita itu. Senyum terukir di wajahnya
melihat ibunya akrab dengan Cessa. Beliau bahkan sudah menganggap wanita
itu seperti putrinya sendiri dan sangat protektif pada Cessa melebihi
dirinya.
"Oh, Cessa sudah
datang." Mereka bertiga menoleh ke asal suara tepat kearah seorang pria
yang tak lain adalah William Scott, berjalan menuruni tangga.
"Dad." Chris mengangguk sopan pada ayahnya yang dibalas pria paruh baya itu dengan senyuman.
"My girl, kau
bertambah cantik," sapa Mr. Scott sambil mencium pipi Cessa, "Berapa
lama kau tidak mengunjungi kami? Istriku khawatir kau terlalu sibuk
dengan pekerjaan dan melupakan kami."
"Aku hanya tidak sempat berkunjung. Show koleksi pakaian terbaruku akan dimulai beberapa bulan lagi, karenanya aku cukup sibuk," balas Cessa.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatanmu." kata William.
"Aku akan ingat pesanmu," Cessa tersenyum manis.
"Nah, karena semuanya
sudah berkumpul, ayo kita nikmati kue coklat buatanku dan minum teh,"
ujar Agatha, "Cessa, kau akan ikut makan siang bersama kami, 'kan?"
Cessa mengangguk untuk menjawabnya.
***
Setelah makan siang,
Cessa diajak Agatha untuk duduk memandangi taman. Ia dan wanita tua itu
membicarakan banyak hal, terutama soal bunga-bunga yang dirawat Agatha
dan tumbuh cantik di tamannya.
"Oh ya, Cessa, kapan kau dan Chris akan menikah?"
Pertanyaan itu membuat
Cessa yang sedang menyesap tehnya tersedak. Dia terbatuk-batuk pelan
sementara Agatha mengelus punggungnya karena khawatir.
"Astaga, apa sekaget itu
kau mendengar pertanyaanku?" ujar beliau, "Kau dan Chris sudah
bersama-sama sejak sepuluh tahun, jadi kapan kalian menikah?"
Cessa mengerjap dan
__ADS_1
berdeham untuk menetralkan tenggorokannya yang masih sedikit serak,
"Agatha, kau tahu sendiri aku dan Chris hanya berteman. Kami tidak
berpacaran, sungguh."
"Benarkah? Apa kau tidak punya perasaan apa-apa pada putraku? Dari yang kulihat dia sangat menyayangimu, Sayang," balas Agatha.
Cessa hanya meringis
dalam hati mendengarnya. Dia tahu betul Chris menyayanginya, tetapi ia
tidak bisa melihat Chris lebih dari seorang kakaknya.
"Tapi, Cessa," Agatha
menggenggam tangannya dengan lembut, "Kuharap kau menemukan
kebahagiaanmu, walau itu bukan dengan Chris. Kau harus mendapatkan
kebahagiaanmu, Sayang."
Ucapan itu membuat Cessa
terharu. Tangannya membalas genggaman wanita tua itu, "Tenang saja,
Agatha. Aku akan bahagia, sesuai pesanmu."
Agatha tersenyum lembut
mendengarnya, "Kuharap begitu, Sayang. Kau sudah lama menderita karena
traumamu, dan sudah saatnya kau mendapatkan kebahagiaan."
***
Chris menatap ibunya dan
Cessa yang berbincang-bincang sambil memandangi taman. Hatinya sedikit
menghangat melihat keakraban mereka berdua.
"Chris,"
Chris menoleh kearah ayahnya, "Ya, Dad?"
"Bagaimana kondisi Cessa sekarang?" tanya beliau, "Apakah sudah lebih baik dari yang dulu?"
"Dokter Kristal bilang kondisi Cessa sudah cukup stabil," jawab Chris, "Cessa bahkan berkencan sekarang."
"Berkencan? Bukankah dia selalu bersamamu?"
"Dia hanya menganggapku kakak, Dad. Apa lagi yang bisa kuharapkan selain itu?" pria itu meringis, membuat ayahnya tertawa.
"Kau terlalu
memanjakannya, karenanya dia menganggapmu kakak, bukan sebagai pria,"
balas sang ayah, "Tetapi, aku tahu kau menyayanginya lebih dari itu.
Hanya saja saat ini Cessa yang tidak peka dengan perasaanmu."
Chris tersenyum miris mendengar ucapan ayahnya yang benar-benar tepat sasaran.
"Lalu, siapa yang menjadi teman kencan gadisku itu sekarang?" tanya William lagi.
"Grimvon Verleon,"
Chris mengangguk, "Dad mengenalnya?"
"Tentu aku mengenalnya.
Beberapa kali aku bertemu dengannya di universitas saat dia masih
menjadi mahasiswa dan sekarang rektorat muda." jawab beliau. William
memang bekerja di Antarion University sebagai salah satu dosen tetap di
sana.
"Begitu ...."
"Apa Cessa menyukai Grimvon Verleon?" tanya beliau lagi.
"Entahlah, Dad.
Cessa jarang dekat dengan pria kecuali kita berdua," balas Chris, "Aku
idak tahu apakah Cessa menyukai Grimvon Verleon atau tidak. Tetapi
asalkan dia tidak menangis selama berhubungan dengan pria itu, aku rasa
Cessa akan baik-baik saja."
William manggut-manggut
mendengar jawaban putranya, "Kalau begitu, percaya saja pada Cessa. Jika
ada sesuatu yang terjadi segera beritahu Dad. Walau Cessa tampak sudah baik-baik saja, Dad yakin traumanya bisa muncul tanpa bisa dicegah."
Chris mengangguk membenarkan ucapan ayahnya. "Jangan khawatir, Dad.
Bila ada sesuatu yang terjadi pada Cessa dan itu karena Grimvon, Chris
akan menghajarnya, tidak peduli Cessa menyukainya atau tidak."
"Bagus. Itu baru putra William Scott." ujarnya sambil tertawa.
***
Chris mengantarkan Cessa
kembali ke apartemen sore harinya. Setelah mengucapkan terima kasih dan
keluar dari mobil pria itu, Cessa melangkah ke dalam gedung apartemen
dan berpapasan dengan Hudson.
"Ah, Nona Princessa," sapa Hudson, "Tuan Verleon berkunjung ke apartemen Anda tadi."
"Oh ya?" Cessa
mengangkat sebelah alisnya. Bukankah pria itu kemarin bilang tidak bisa
dating hari ini karena ada urusan? "Apa dia sudah masuk ke apartemenku?"
Hudson mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih sudah
__ADS_1
memberitahuku, Hudson. Ah ya, ini," Cessa menyerahkan kantong kertas
berisi kue coklat yang diberikan Agatha padanya, "Buatan Ibu Chris.
Makanlah bersama keluargamu nanti."
"Terima kasih, Nona Princessa," Hudson menerima kantong kertas itu.
Cessa tersenyum kemudian
berjalan menuju lift. Dia menekan tombol menuju lantai apartemennya
berada. Sambil menunggu, dia mengecek ponselnya. Siapa tahu Grim memtahu
dia datang ke apartemen tetapi Cessa yang tidak menyadarinya.
Pintu lift terbuka
beberapa saat kemudian dan Cessa melangkah keluar sambil tetap
mengutak-atik ponsel di tangan. Tanpa melihat kearah pintu dia menggesek
kartu kunci apartemen dan membuka pintunya. Baru ketika dia berada di
dalam, Cessa mendongak dan melihat ada yang aneh dengan suasana di
apartemennya. Dia tidak tahu apa yang aneh, tapi instingnya mengatakan
demikian.
"Grim?"
Cessa melepas melangkah
masuk ke dalam. Ketika hendak menyalakan lampu, sepasang tangan menutup
kedua matanya dan membuatnya memekik kaget.
"Sssh ..., ini aku, Princess." suara Grim terdengar di belakangnya.
"Grim, kenapa kau menutup mataku?" tanya wanita itu hendak melepaskan kedua tangan Grim yang menutupi pandangannya.
"Jangan dulu. Aku punya sesuatu untukmu." Grim dengan cepat mengikatkan sebuah penutup mata pada wanita itu.
"Kenapa mataku harus ditutup? Kalau mau memberi sesuatu berikan saja padaku dengan mata terbuka," keluh Cessa.
"Itu berarti bukan kejutan namanya," balas Grim, "Jangan membantah, Princess. Ikuti saja."
Cessa mengembuskan nafas
dan mengikuti tangan Grim mebawanya. Walau dengan mata tertutup, Cessa
tahu pria itu membawanya ke kamar tidurnya. Entah apa yang dipikirkan
pria itu, tetapi Cessa merasa pipinya memanas. Astaga, apa kejutan yang
dimaksud Grim adalah terapi lagi?
Dasar maniak bercinta!
Grim memosisikan Cessa di depan tempat tidur wanita itu, kemudian membuka penutup matanya. "Sekarang, buka matamu perlahan."
Cessa membuka matanya
dan mengerjap melihat kamarnya gelap, namun pandangannya segera tertuju
kearah meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya yang ditaburi banyak
kelopak bunga mawar merah dan putih membentuk hati dan di
tengah-tengahnya, terdapat tiga tangkai bunga mawar putih beserta lilin
berwarna biru berjumlah sembilan. Sebelah tangannya terangkat menutup
mulut dan dia berbalik menatap Grim yang sedang tersenyum kearahnya.
"Grim, ini ...." Cessa
makin tidak bisa berkata-kata saat Grim berlutut dan mengeluarkan sebuah
kotak beludru kecil dan membukanya, memperlihatkan sebentuk cincin
dengan berlian menyerupai tetesan airmata berwarna biru lembut.
"Princess, aku
mungkin pria bajingan, suka memaksa, dan juga tampan," Grim tersenyum
lebar, "Tapi untuk hal seperti ini, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin
menikah denganmu. Kau mau menikah denganku?"
Cessa menatap wajah Grim
yang serius dan kemudian cincin di kotak kecil di tangan pria itu. Baru
kali ini dia mendapatkan lamaran seromantis ini. Sesuatu di dalam
dadanya seperti ingin membuncah keluar. Dengan tangan agak gemetar dia
menggenggam tangan pria itu, seulas senyum terbentuk diiringi setetes
airmata mengalir di pipinya.
"Ya." bisik Cessa nyaris tak terdengar, "Ya, Grim. Aku ..., aku mau,"
Grim mendengar jawaban
Cessa dan kembali berdiri. Dia balas menggenggam tangan wanita itu.
Sebelah tangannya yang bebas menyentuh pipi wanita itu dan menghapus
jejak airmata di sana. "Sshh ..., jangan menangis, Princess. Kalau kau bahagia, seharusnya kau tertawa, bukannya menangis."
"Kau ini ...." Cessa berusaha merengut tetapi airmatanya kembali keluar, "Kau bodoh. Ini airmata bahagia."
Grim tertawa pelan
mendengarnya. Bibirnya mengecup kening Cessa dan kemudian menarik wanita
itu ke dalam pelukannya. "Terima kasih sudah mau menerima lamaranku, Princess. Aku berjanji kau tidak akan pernah menderita bersamaku."
Cessa membalas pelukan
pria itu dan mengangguk. Ia membenamkan wajahnya di dada Grim dan
menghirup aroma kayu manis dari tubuh pria itu. "Ya, aku percaya
padamu."
__ADS_1