The Hope

The Hope
Chapter 47


__ADS_3


Chris melakukan apa saja agar Cessa bisa merasa lebih baik. Pria itu benar-benar menjaga perasaan Cessa. Hingga akhirnya saat waktunya kembali ke mansion, wanita mungil itu bisa tersenyum walau hanya senyum tipis dan itupun nyaris tak terlihat.



“Terima kasih sudah membawaku pergi keluar, Chris,” Cessa tersenyum, “Mungkin besok aku akan kembali ke apartemenku. Atau ke rumah orangtuamu.”



“Kau inign pergi dari sini?”



Cessa mengangguk, “Boleh?”



“Tentu,” Chris mengelus tangan Cessa, “Mommy dan Daddy pasti tidak keberatan.”



Senyum Cessa masih terkembang. Chris mencium keningnya dan kembali masuk ke dalam mobil. Mata Cessa mengawasi kepergian mobil kakaknya itu sebelum berbalik masuk ke dalam mansion.



“Kukira kau kabur entah ke mana,”



Suara itu membuat Cessa mendongak dan menatap Ivy yang duduk di sofa di ruang tamu. Wanita kembaran Eve itu terlihat tak sabaran saat melihat ke arahnya.



“Sedang apa kau di sini?” tanya Cessa.



“Seharusnya aku yang menanyakan sesuatu padamu,” balas Ivy sambil berdiri mendekati Cessa, “Kau menyerah untuk mempertahankan rumah tanggamu dengan Grim?”



“Apa itu menjadi urusanmu?” balas wanita mungil itu, “Kurasa itu bukan urusanmu Nyonya Randolf.”



“Kau tidak boleh membiarkan Grim mendekati Eve lagi,” kata Ivy, “Kau harus mempertahankannya di sisimu.”



“Kenapa kau terdengar memaksaku?” Cessa mengerutkan kening, “Apa yang bisa kudapatkan dari mempertahankan pria yang tidak lagi mencintaiku, di sisiku?”



Ivy mendecak, “Kau pasti sudah tahu rahasia keluarga Verleon, ‘kan? Kau mau Eve kembali merayu mereka bertiga?”



Wanita mungil itu diam. Rasa cemburu menguasainya, tapi dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak terpancing. Dia lebih suka membenamkan diri dalam pekerjaan daripada mengurusi ucapan Ivy yang, walaupun membuat hatinya mendidih, bisa jadi adalah sebuah kebohongan.



Cessa sudah belajar banyak selama lima tahun ini bahwa moncong pistol dan kebohongan, terutama rahasia adalah hal yang lumrah dalam keluarga Verleon. Karena itu, iapun harus pandai berbohong untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.



Namun Ivy bisa melihat ekspresi wajah Cessa yang berubah. Seulas senyum tersungging di bibirnya kala melihat kedua tangan istri kakak tiri keduanya itu mengepal tanpa disadari.



“Kau tidak bisa berbohong padaku,” ujar Ivy, “Aku tahu kau sangat mencintai Grim.”



“Lantas, apa maumu? Menyuruhku untuk ikut dalam permainan otakmu?” Cessa kembali membalas, “Aku tidak tahu kau merencanakan apa, tetapi aku tidak tertarik untuk ikut ke dalam permainanmu. Sudah cukup aku menjadi boneka semua orang.”



“Eve juga menyebut dirinya sendiri boneka,”



“Tetapi dia boneka yang beruntung. Dia dicintai tiga lelaki, ah …, bukan, kurasa empat lelaki jika suaminya, Ryu D’Acretia dihitung.” Balas Cessa lagi, “Jika semuanya sudah kandas, maka aku tidak akan meminta apa-apa lagi. Mati masih lebih baik daripada hidup menderita seperti ini, dan kurasa sekarang aku bisa mengerti kenapa Eve lebih memilih bunuh diri ketimbang hidup seperti boneka yang ditarik ke segala arah.”



“Eve hanya berpura-pura menjadi boneka lemah. Dialah yang merayu Grim dan kedua saudaranya,” kata Ivy lagi, “Kau mungkin tidak tahu, tetapi Eve adalah orang yang bertanggung jawab membuat segalanya kacau saat ini. Ingat pernikahannya dengan Ryu? Itu juga hanya sebuah sandiwara, agar dia kembali mendapatkan ketiga Pangeran Verleon.”



Kembali Cessa menatap Ivy dengan sorot mata antara ragu dan tidak percaya, “Eve … yang merayu mereka?”



“Ya,” Ivy mengangguk, “Dan aku bersumpah, saudara kembarku yang bodoh itulah yang merayu mereka. Jika kau menyerah mendapatkan Grim kembali, kau sama saja memberikan suamimu itu ke mulut harimau.”



Walau Cessa mencoba mengenyahkan ucapan Ivy, tetapi dia tidak bisa menyangkal akan rasa kasihan yang terbersit di hatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ketiga kakak-beradik Verleon itu kembali memerkosa Eve bila mendapatkan wanita itu.



Namun … apa sekarang itu menjadi urusannya?



Sampai saat ini, sejak hari di mana Grim secara tak langsung menyatakan bahwa dia masih mencintai Eve, Cessa mematikan perasaannya. Ia bahkan nyaris membuat para pelayan panik saat tidak sengaja mengiris jarinya ketika sedang makan siang dan nyaris terjatuh dari tangga kalau seorang pengawal tidak mencegahnya.



Cessa merasa kosong, dan semua emosi terasa enggan menempati tubuhnya saat ini. Dia bekerja seperti orang gila, nyaris tidak tidur, tetapi jika dia memaksakan tidur, mimpi terburuknya akan datang menghampiri.



Dan Cessa lelah dengan semua itu.



Ivy melihat Cessa kembali diam. Seulas senyum tersungging di wajahnya, “Jika kau mau, aku akan membawa Eve ke hadapanmu, dan setelahnya kau bebas mau melakukan apa padanya.”



“Kenapa kau mau melakukannya?” tanya Cessa.



“Karena aku mau kau tetap memiliki Grim. Dan Eve … biar dia mendapatkan balasannya ketika kita menangkapnya.”



“Berikan aku waktu untuk berpikir,” ujar Cessa, “Aku tidak mau terlau cepat mengambil keputusan.”



“Tapi kau harus mau,” bujuk Ivy lagi.



“Aku bilang aku akan memikirkannya. “ balas Cessa, sebelum kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Ivy dan menuju kamarnya.



***



Cessa mengerjakan gaun di hadapannya dengan setengah hati. Tubuhnya ada di tempat, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Pembicaraannya dengan Ivy waktu itu benar-benar menghantui pikirannya. Eve-lah yang merayu ketiga Verleon bersaudara, dan kini dia ingin merebut kembali ketiga pria itu setelah mendapatkan Ryu D’acretia? Hati Cessa rasanya seperti dihujam ribuan pisau.



Eve … apa dia tidak sebaik yang diceritakan Grim waktu itu?



“Pendek,”



Kepala Cessa menoleh kearah Latiava yang memasuki ruang kerjanya dengan raut wajah tak mengenakkan. Wanita pirang itu mendekati Cessa yang tengah menjahit manik-manik berwarna putih pada sebuah gaun.



Wanita mungil itu belum sempat bertanya ketika tangan Latiava mencengkeram lengannya, “Ikut aku,”



“T-tunggu,” jari Cessa nyaris tertusuk jarum, “Kau mau membawaku ke mana?”



“Ke tempat ipar bajinganmu,” kata Latiava, “Kita akan pergi untuk menuntaskan segalanya, menghabisi Eve.”



Cessa mengerutkan kening. Ia melepaskan tangan Latiava yang mencengkeram lengannya, “Untuk apa?”



“Memastikan ketiga pangeran sialan itu tidak melakukan kesalahan yang akan membuatmu, Plasidia, dan mungkin juga Bella, tidak lebih sakit hati dari ini.”



“Hei, tunggu dulu, Latiava,” sergah Cessa, “Aku tidak mengerti apa maksudmu.”


__ADS_1


Latiava menatap Cessa sebentar, “Mereka bertiga berhasil mendapatkan Eve,” kata wanita pirang itu, “Dan aku yakin, saat ini mereka … mereka mungkin memerkosa Eve.”



***



Cessa sudah berjanji pada diri sendiri kalau dia tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan segala hal yang mampu membuat luka hatinya terbuka. Tetapi entah kenapa kini dia berada di sini, di depan mansion. Mata Cessa melihat Bella dan Plasidia di depan mansion, kedua wanita itu berdiri di samping sebuah mobil sedan berwarna hitam. Dua wanita itu tampak berbicara serius dengan Ivy. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Cessa tidak ingin tahu. Hatinya mengatakan dia tidak boleh mengetahuinya.



“Ayo,” Latiava menyeretnya menghampiri ketiga wanita itu.



Bella yang menyadari kedatangan mereka pertama kali, “Kalian datang.”



“Sudah pasti,” kata Latiava datar, “Jadi, di mana para suami kita yang brengsek itu?”



“Di kediaman Salvador. Tetapi hanya aku saja yang bisa pergi ke sana dan memastikan Eve berada di tangan kita,” kata Ivy, “Kau akhirnya juga ikut, malaikat bodoh.”



“Tidak,” Cessa langsung mendapat tatapan dari keempat wanita di sekitarnya, “Kenapa kita berada di sini? Ada apa sebenarnya?”



“Kau sudah diberitahu Latiava di mana Grim berada, ‘kan?” tanya Ivy, yang dibalas dengan anggukan dari Cessa.



“Lalu, apa kau tidak tertarik merebut suamimu kembali?”



“Untuk apa aku menghalanginya?” balas Cessa sengit, “Hidupku sudah cukup berantakan, kenapa aku harus mencampuri urusan yang seharusnya tidak kuganggu?”



“Kau ingin berdalih kau tidak mau menghalangi kebahagiaan Grim?” sengit Ivy, “Kau yakin ingin melepaskan Grim begitu saja, Princessa? Kau tidak cemburu Eve merebut suamimu darimu? Princessa, kau lebih picik dan idiot daripada yang kubayangkan.”



“Kau tahu apa tentang isi hatiku?” balas Cessa lagi, “Sudah cukup aku menderita, tapi kenapa kau menyeretku ke sini dengan menggunakan Latiava?”



“Pendek, hentikan, Ivy hanya berusaha membantu kita.” Ujar Latiava.



“Latiava, kau juga … kenapa kau malah ikut menyeretku ke dalam masalah ini? Aku tidak mau mengikuti kalian,”



“Tapi kau harus.” Balas Bella.



“Atas dasar apa? Sebutkan alasannya.”



“Zerfist berniat menikahi Eve dan kau tahu apa yang akan terjadi bila dia melakukannya? Grim dan Spade juga akan mengikuti jejaknya. Menjadikan Eve sebagai milik mereka seutuhnya.”



Kata-kata Ivy bagai menusuk hati Cessa. Dia menatap wanita dengan wajah yang begitu mirip dengan Eve itu lekat-lekat, tidak menjawab tapi juga tidak membantah. Melihat sikap Cessa, Ivy tersenyum miring, “Kau tidak semudah itu menerima, bukan?”



“Lantas kau mau apa?”



“Ikut kami dan menghentikan apa yang akan ketiga pria bodoh itu lakukan,” kata Ivy, “Jadikan Grim milikmu, Cessa. Hanya kau yang bisa melakukannya.”



***



Cessa tidak ingin terlibat pertengkaran lebih jauh. Dia sudah mengatakan pada semua orang bahwa dia lelah. Harusnya dia meminum racun saja untuk menghentikan sakit kepala yang mulai menderanya.



Tetapi, di sinilah mereka, di sebuah rumah di kaki perbukitan. Cessa menatap kosong pemandangan di depannya. Dia duduk di sebuah kursi sambil bertopang dagu sementara Latiava duduk di sampingnya.




“Mungkin aku akan menyayat wajah pelacur itu,” jawab Latiava, “aku tidak pernah menyukai kedua saudara kembar itu, tetapi aku tahu, hakmu dan juga aku harus diperjuangkan.”



“Hak?” kening Cessa berkerut, “Apa kita punya hak untuk melawan?”



“Ajaran Timur yang menempel di otakmu itu benar-benar memuakkan, Pendek.” Latiava memutar bola matanya.



Cessa hanya tersenyum muram. Dia kembali tidak bicara dan Latiava dibiarkan mengomel sendiri. Plasidia dan Bella menghampiri mereka, masing-masing duduk di sebuah kursi kosong.



“Sebentar lagi Ivy akan membawa Eve kemari,” ujar Bella, “Aku tidak sabar untuk melihat raut wajahnya.”



Cessa menoleh, menatap wajah Bella yang biasanya lembut dan penyayang, kali ini dihiasi sorot mata yang dingin dan penuh dendam. Kalau boleh jujur, Cessa merinding melihat perubahan pada diri Bella. Memang benar kata orang-orang, jangan pernah membangkitkan kemarahan seorang macan yang sedang tertidur. Buktinya Bella saat ini terasa bukan Bella yang pernah ia lihat sebelumnya.



“Aku tidak terima bila Eve mendapatkan Spade kembali,” geram Plasidia, “Pelacur itu perlu diberi pelajaran, dan aku siap mencincangnya menjadi serpihan kecil bila dia berani bertingkah.”



“Aku setuju denganmu,” Latiava mengangguk.



Semua orang kini menatap Cessa yang masih asyik dengan lamunannya.



“Apa?” tanya Cessa menyadari dia sedang ditatap.



“Apa kau tidak punya sesuatu yang akan kau lampiaskan pada Eve?” tanya Plasidia, “Dia berniat merebut Grim, Cessa. Seharusnya kau mengeluarkan kebencianmu.”



Cessa kembali diam. Dia menatap pemandangan indah di depan mereka dan menghela napas, “Aku tidak tahu aku harus mengatakan apa. Benci, dendam, amarah, semua itu sudah pernah kurasakan walau yang satu ini lebih kuat dari biasanya.”



“Tetapi … aku sudah sangat lelah. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan nanti, dan kuharap itu bukanlah sesuatu yang akan kusesali nantinya.”



Mereka semua langsung terdiam. Suara mobil yang sayup-sayup mendekat ke rumah itu terdengar oleh telinga mereka. Bella yang langsung berdiri dan melihat mobil Ivy sudah terparkir di depan rumah.



“Ayo,” kata Bella menatap ketiga wanita di belakangnya, “Mangsa kita sudah tiba.”



***



Cessa melihat Ivy membawa Eve ke sebuah ruangan di rumah tersebut. Pintu sempat tertutup, dan dia dengan jelas mendengar pertengkaran kedua kakak-beradik itu dari balik pintu. Latiava yang berdiri di sampingnya menggenggam sebelah tangannya erat-erat.



Latiava hanya diam dan membiarkan Cessa menatapnya dengan kening berkerut bingung.



Mereka berempat mendekati pintu, Bella yang membukanya dan di hadapan mereka, Ivy sedang mengikat adik kembarnya ke sebuah kursi. Ketika sudah terikat erat, Ivy menatap Eve dengan tatapan curiga.



“Apa yang kau rencanakan?” tanya wanita itu.



“Tidak ada, aku hanya sedang berpikir. Jika aku berada di sini, dan Ryu tidak menemukanku di sana. Maka, mereka bertiga pasti mati.” Kata Eve.



“Kau pikir apa yang kau katakana?” Plasidia tiba-tiba berseru, membuat mereka berdua menoleh.


__ADS_1


Cessa menatap Eve. Wanita itu tetap cantik, anggun, seperti yang pernah dideskripsikan Grim dulu. Mengingat nama Grim, satu titik di hatinya terasa berdenyut sakit.



Plasidia dan Cessa masuk ke dalam ruangan, Eve menatap mereka dengan kening berkerut, mungkin mencoba mengingat-ingat siapa mereka. Ia diam-diam ******** senyum, rupanya Eve benar-benar tidak menganggap siapa pun ada, sepertinya.



“Jalang sepertimu mengapa tidak tahu diri!” ujar Plasidia lagi.



Cessa hanya diam. Dia menatap Eve yang tampak sekali kebingungan. Rasanya ingin sekali Cessa mengingatkan Plasidia untuk tidak memaki lagi saat Bella dan Latiava ikut masuk ke dalam dan kening Eve makin berkerut dalam.



“Bella?” tanya Eve dengan nada terkejut.



Ah, dia mengingat Bella. Kata Cessa dalam hati.



“Plasidia Verleon, kau adalah istri dari bocah kutu buku itu. Lalu,” pandangan Eve teralih padanya, “Princessa, kau adalah istri dari si maniak seks. Lalu … siapa wanita itu?”



Cessa menatap Latiava yang kembali berdiri di sampingnya. Wajah wanita pirang itu tampak sekali ingin membunuh seseorang.



“Latiava Evander, dia adalah istri kedua Grim,” jawab Ivy sambil memutar bola matanya.



“Ahh, aku mengerti. Grim memang tidak pernah serius dengan satu wanita, bahkan saat bersamaku saja ia masih bisa bercinta dengan mahasiswa di kampusnya.” Balas Eve



Cessa yakin dia akan menghampiri Eve untuk menamparnya kalau saja dia tidak ditahan oleh Latiava. Wanita pirang itu hanya menggeleng pelan, membuatnya sadar bahwa walaupun yang diucapkan Eve adalah kebenaran, yang harus mereka prioritaskan bukanlah hal itu.



“Kau mengingatnya?” Ivy bertanya dengan kening berkerut.



“Apa perlu kuceritakan bagaimana cara Trace bercinta denganku?” Eve balas bertanya dengan senyum sinis.



Ivy bergerak cepat, menampar wajah Eve. Suaranya terdengar cukup keras dan membuat Cessa berjengit. Namun anehnya, Eve tidak terlihat kesakitan. Justru wanita itu terlihat tenang dan terkendali.



“Jalang sepertimu memang seharusnya mati lebih cepat.” Kata Ivy dengan wajah marah.



“Ivy, kau bahkan lebih sering menikmati tubuh ketiga Verleon dibandingkan denganku. Jadi, siapa yang jalang di sini?” Eve menyeringai.



Selanjutnya Cessa melihat Ivy mengeluarkan sebuah pistol dan menembaki kaki Eve. Cessa tidak berniat melihat adegan berdarah, tetapi yang di hadapannya terjadi begitu cepat hingga dia tidak sempat merespon. Mata Cessa menatap pistol di tangan Ivy dan kemudian luka tembak di kaki Eve bergantian. Tidak ada erangan kesakitan, juga tidak ada raut kesakitan.



Eve benar-benar bagai boneka di mata Cessa.



Wanita itu kemudian menatap mereka satu-persatu, “Lalu, kalian berempat ingin apa dariku?”



“Berhentilah merayu mereka, Eve!” jawab Bella agak gemetar melihat luka di kaki Eve.



“Merayu?” Eve mengerutkan kening, “Aku tidak merayu—”



“Bohong, berhenti membual. Kami tahu kau merayu mereka bertiga, Eve. Kau sudah menikah, seharusnya kau berhenti mengganggu kami, sejak kedatanganmu mereka membuang kami!” teriak Plasidia.



“Aku yang telah menjadi korban di sini, mengapa kalian justru menghakimiku seakan-akan akulah yang menjadi tersangka?” kata Eve.



Mereka semua tertawa mendengar ucapan Eve. Namun Cessa hanya menatap wanita itu dengan ekspresi datar. Kepercayaan diri Eve benar-benar tinggi. Apakah ini wanita yang pernah dan sampai sekarang masih dicintai Grim.



Kemarahan kembali timbul dalam hati Cessa bila mengingatnya.



“Mereka tidak akan datang padamu jika kau tidak merayunya, Eve.” Jawab Ivy.



“Atau mereka sudah bosan pada kalian dan kembali menginginkan diriku?” sindir Eve.



DOR!



Sekali lagi pistol di tangan Ivy memuntahkan pelurunya. Cessa kembali berjengit. Mendengar suara letusan pistol biasa membuatnya gemetar ketakutan. Tetapi kali ini … tidak terjadi apa-apa, walau masih ada setitik kengerian saat melihat luka di kaki dan tangan Eve yang mulai mengeluarkan darah yang cukup banyak.



“Kau benar-benar jalang, Eve. Seharusnya kau tidak hidup dan kami akan hidup dengan tentram tanpamu, tanpa mereka memikirkan dirimu!” desis Ivy.



“Ivy, aku pikir ini sudah keterlaluan,” ujar Bella melihat darah yang mengalir di lengan Eve dengan agak gemetar.



“Belum, wanita ini memang harus mati.”



Latiava berjalan mendekati Eve dan menancapkan sebilah pisau yang sedari tadi dia sembunyikan ke paha Eve yang mengeluarkan darah. Mata Latiava menyiratkan amarah yang luar biasa saat menancapkan pisau itu lebih dalam dan membuat Eve meringis kesakitan.



“Karenamu, Grim tidak melihatku dengan kehangatan itu lagi. Karena kehadiranmu, Grim melupakanku begitu saja, dank arena dirimu Grim tidak menoleh sedikitpun ke arahku!” kata Latiava kemudian mencabut pisaunya dan menampar wajah Eve.



“Mungkin itu sebuah karma karena kau telah mengambil Grim dari Princessa,” kekeh Eve sambil melirik ke arahnya.



Cessa terdiam. Dia menatap Eve dan Latiava bergantian.



Apa-apaan ini? Apa-apaan tatapannya itu? Mengapa dia seolah tahu apa yang sebenarnya kurasakan? Kata Cessa dalam hati.



Latiava kembali menusuk kaki Eve dan mencabutnya berkali-kali. Ketika hendak menusuk perut Eve, Bella segera mencegahnya.



“Cukup, kita lanjutkan besok. Eve tidak boleh mati terlalu cepat,” kata Ivy dan Latiava hanya mengangguk sambil melepaskan tangan Bella yang mencegahnya.



“Jika kalian tidak membunuhku sekarang … selanjutnya kalian yang akan terbunuh.” Kekeh Eve lagi sambil menatap mereka.



“Itu tidak akan pernah terjadi!” teriak Latiava dan Eve mendengus mendengarnya.



“Kita pergi,” ajak Ivy sambil memimpin mereka.



Cessa mengikuti Ivy, dia sempat melirik ke arah Eve yang tersenyum sinis melihat kepergian mereka. Dia menggelengkan kepalanya dan melangkah keluar dari ruangan itu saat dia mendengar teriakan Eve.



“Sampai jumpa besok, Ladies"







Semakin mendekati ending!!!!!

__ADS_1




__ADS_2