
Hari ini tepat dua tahun setelah pernikahan Zerfist dan Bella, juga menjadi tahun kedua dari pernikahan Spade dan Plasidia. Tidak banyak yang berubah, kecuali beberapa hal kecil, yang mungkin tidak disadari orang lain kecuali Cessa sendiri. Mungkin itu hal yang wajar semenjak ia mendapatkan trauma, ia lebih senang memerhatikan orang lain dan menjadi tidak terlihat. Setidaknya dengan begitu dia tidak akan selalu berurusan dengan orang yang tak ia kenal.
Cessa sedang asyik memakan tiramisu favoritnya di ruang santai mansion ketika seorang pelayan mendatanginya dan memberikannya sebuah lembar undangan dengan warna hitam yang elegan.
"Apa ini?" Cessa mengerutkan kening saat menerima lembar undangan tersebut, "Seharusnya kau menaruh ini di meja kerja Grim,"
"Pintu ruang kerja Tuan Grimvon terkunci dan saya tidak bisa menaruhnya begitu saja karena ini adalah undangan yang penting." Jawab pelayan itu.
"Oh ...," Cessa melihat tulisan elegan berwarna emas itu dan keningnya kembali berkerut dalam membaca nama yang tertera di undangan tersebut.
Ryu D'Acretia & Heavenia Valkyrie
Mendadak saja Cessa mulai menyadari apa yang membuat perasaannya tidak enak selama ini.
***
Berkat satu undangan itu, Cessa sukses tidak bisa makan, atau bahkan beraktivitas dengan tenang. Ia berusaha memikirkan bahwa nama di undangan itu bukanlah hal besar. Banyak wanita bernama Heavenia. Banyak yang memiliki nama keluarga Valkyrie.
Tapi sekeras apapun dia mensugesti diri sendiri, tetap saja pikiran terburuknya mengambil alih.
Menyerah. Itu yang harus kau lakukan ketika saatnya tiba.
Mata Cessa langsung memanas memikirkannya. Cepat-cepat dia menyeka airmata yang nyaris mengalir dari sudut matanya.
Grim baru saja pulang dari perjalanan bisnis dan langsung menghampirinya yang masih berada di ruang santai. Pria itu mencium bibirnya singkat dan melihat sebuah undangan di atas meja di depan istrinya.
"Undangan apa ini?"
"Undangan pernikahan," jawab Cessa datar.
Tangan Grim mengambil undangan itu dan Cessa bisa melihat dengan jelas ekspresi di wajah suaminya. Rasa tak percaya, keraguan, dan ... keingin-tahuan yang besar. Tidak hanya itu, dia juga melihat kerinduan yang sangat besar terpancar di mata Grim.
Mendadak saja Cessa berharap kalau dia mati saja di tangan Glenn.
Dia benar-benar tidak ingin melihat raut wajah Grim yang seperti ini.
"Heavenia ... Valkyrie," Grim menelan ludah dengan susah payah, "Apa-apaan ini? Siapa yang mengirimkan undangan ini, Princess?"
"Pelayan bilang yang mengantarkan undangan ini adalah suruhan D'Acretia," kata Cessa, "Nama keluarga pria yang tertera di undangan."
"Aku tahu, tapi ..., tapi ini ... ini kebetulan saja, 'kan?"
Cessa menatap wajah Grim lekat-lekat, kemudian berdiri dari sofa. Dia lebih baik pergi sekarang. Dan satu hal yang dia sadari saat ini, Grim tidak berniat mengejarnya.
Satu lagi hal yang membuat hati kecil wanita mungil itu berteriak kesakitan.
***
Pernikahan eksekutif menengah Roulette, Ryu D'Acretia rupanya menuai banyak keingin-tahuan semua orang. Terutama dengan nama Heavenia Valkyrie. Tidak ada yang tidak tahu nama tersebut, dan sudah pasti, pernikahan sang eksekutif bak manekin tersebut dihadiri banyak wartawan dan media.
Cessa berdiri di samping Grim. Tidak banyak bicara dan lebih memilih untuk melihat suasana pesta di aula hotel ternama ini. Sejak hari di mana Grim melihat undangan pernikahan itu, Grim tidak pernah lagi berbicara dengannya, tidak menyapa, atau bahkan sekedar berkunjung ke kamarnya untuk memeluknya sebelum tidur.
Grim berubah menjadi sosok yang nyaris tidak Cessa kenali lagi.
Tetapi pria itu masih ingat untuk mengajaknya ke pesta ini. Pesta pernikahan seseorang yang mungkin akan membuat hidup Cessa yang menderita semakin lengkap.
"Cessa,"
Wanita mungil itu menoleh dan melihat Plasidia kini berdiri di sampingnya. Grim memang masih ada di dekatnya, tapi Cessa lebih memilih untuk tidak melihat pria itu.
"Kau tampak pucat. Apa kau sakit?" tanya Plasidia khawatir.
"Tidak, aku tidak sakit," Cessa menggeleng pelan, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula pesta, "Pesta yang sangat meriah, ya?"
Plasidia mengerutkan kening melihat tatapan Cessa yang setengah melamun. Pandangannya kemudian beralih pada Grim yang hanya berdiri diam di sebelah wanita mungil itu. Dia merasakan ada yang aneh dari sikap sepasang suami-istri itu, tapi tidak berani mengatakannya keras-keras, terutama melihat wajah Cessa yang pucat.
Keributan kecil terjadi di dekat mereka hingga membuat perhatian mereka teralihkan. Cessa melihat Ivy dan Bella, tengah berhadapan dengan seorang wanita Asia dengan kimono merah. Ivy tampak tertegun dengan wanita Asia itu sementara Bella tampak diam di sebelahnya.
"Mereka sedang berbicara dengan siapa?" Plasidia seolah-olah menyuarakan pikiran Cessa, "Wanita berkimono merah itu cantik sekali."
Cessa juga mengakui dalam hati. Wanita itu sangat cantik, anggun lebih tepatnya.
Tetapi ketika dia menangkap satu nama, satu nama yang membuat sekujur tubuhnya menggigil, Cessa mau tidak mau melirik kearah Grim.
Eve. Wanita berkimono merah itu Eve.
Grim merasa ditatap dan menoleh kearah Cessa, "Ada apa, Princess?"
__ADS_1
"Tidak ada," Cessa berusaha menekan suaranya agar terdengar datar.
Keributan kecil yang disebabkan oleh Ivy dan Bella membuat Rosaline ikut bergabung. Lalu suami Ivy, berlanjut dengan ketiga pangeran Verleon yang ikut melihat keadaan membuat Cessa meremat gaunnya erat-erat.
Kebahagiaanmu berakhir, wanita bodoh. Ejek nuraninya.
Ya, benar. Kebahagiaannya berakhir sampai di sini.
***
Grim mengeluarkan sumpah serapah yang akan membuat orang-orang yang mendengarnya malu. Cessa yang duduk di sebelahnya hanya diam. Ia menatap Grim yang tampak seperti orang gila saat ini dengan tatapan sedih. Mansion yang biasanya diisi dengan rayuan Grim padanya kini tampak berbeda karena pria itu sendiri.
Setelah pertemuan kecil di pesta pernikahan Ryu D'Acretia, Bella menyuruh Zerfist membongkar makam Eve. Dan ketika tiga pangeran Verleon itu mengetahui apa yang membuat Bella bersikeras agar Zerfist membongkar makam wanita yang mereka bertiga cintai itu, Zerfist memberitahu kebenaran yang membuat hati Cessa seperti dihujam dengan ribuan pisau.
Eve hidup kembali, tanpa mengingat apa pun masa lalunya dan menikah dengan Ryu D'Acretia. Eve hidup kembali, dan ketiga pangeran Verleon dipastikan akan mencoba menarik Eve kembali pada mereka.
Ia sedih karena perasaan tak enaknya ternyata karena hal ini.
Pikiran itu sudah membuat Cessa ingin menjerit frustasi. Namun sayangnya bibirnya seolah terkunci.
"Aku harus menemui Eve,"
Cessa masih diam ketika pria itu hendak pergi. Tetapi tubuhnya berkata lain. sebelah tangannya menggenggam tangan Grim.
"Grim," panggil wanita itu, "Jangan."
"Princess, aku harus menemui Eve." Kata Grim tanpa menoleh, "Aku ... aku harus menemuinya."
"Jangan," Cessa kembali berkata, "Jangan menemuinya. Dia sudah bahagia."
Ucapan Cessa membuat pria itu menoleh. Cessa menatap mata Grim yang meredup, dan kemudian dia merasakan sakit di pipi kirinya yang disusul dengan rasa panas yang membara.
Cessa mengusap pipinya. Rasa panas itu masih ada. Dia menatap Grim yang sepertinya baru menampar dirinya.
Oh, bukan. Pria itu memang menamparnya.
"Kau tidak berhak mengaturku, Princess," Grim berkata dengan nada menakutkan.
Dalam hati, Cessa takut mendengar suara Grim sekarang. Tetapi ia bersikap tenang dan dengan beraninya dia tersenyum mengejek pada pria itu.
Tersentak kaget karena ucapan Cessa, Grim menurunkan tangannya dan melihat sorot mata wanita mungil itu berubah dingin.
"Princess, kau ...."
"Tampar aku, Grim! Tampar aku sekarang!" tantang Cessa, "Itu yang kau mau, bukan?!"
Grim menatap Cessa dengan tatapan yang mengerikan, namun wanita itu tidak terpengaruh. Ia balas menatap Grim dengan tatapan yang tak kalah mengerikan dan lebih tepat disebut tatapan mengancam.
"Kau menemuinya, maka kau tidak akan bisa kembali lagi," kata wanita itu.
Grim terdiam. Dia tidak membalas ucapan Cessa, tapi lebih memilih untuk berbalik memunggungi wanita itu, "Biar bagaimana pun, aku harus menemuinya. Dia ... dia kembali. Dan aku ingin bersamanya."
"Itukah jawabanmu?" Cessa kembali bertanya, "Kalau begitu, aku akan pergi dari sini."
"Kau tidak boleh pergi," desis Grim.
"Kau ingin menjadikanku pajangan di mansion ini?" Cessa membalas, "Kau ingin menjadikanku istri boneka di sini?"
"Kau yang menganggapnya begitu." Grim menjawab dengan nada datar, "Kuperingatkan kau untuk tidak pergi dari sini, Princess."
"Aku akan melanggarnya, kali ini aku akan melakukannya." Tantang wanita itu, "Aku memperingatkanmu untuk tidak menemuinya pun tidak akan kau dengarkan. Kau lebih memilih Eve."
"Cintamu tidak pernah ada untukku."
Cessa melangkah melewati Grim dan membanting pintu di belakang punggungnya. Ia berjalan ke kamar dan menatap sekelilingnya dengan tatapan nanar.
Tidak. Dia tidak bisa menangis. Airmatanya sudah kering sejak lama. Namun, hatinya merintih. Hatinya menjeritkan perasaannya selama ini.
Dan begitu saja, sebuah jeritan patah hati keluar dari bibirnya.
***
Latiava baru selesai pemotretan dan pulang ke mansion ketika dilihatnya Grim yang pergi dengan raut wajah yang tak enak dilihat kemudian disusul suara jeritan dari kamar Cessa. Ia bergegas menuju kamar Cessa dan melihat wanita mungil itu menjerit sambil menutup kedua telinganya.
Latiava mendekati Cessa dan menghentikan usaha wanita itu untuk menusuk tangannya sendiri dengan sebuah gunting.
__ADS_1
"Astaga, Pendek, kau mau apa!?"
Latiava merebut gunting itu dari Cessa dan melihat tatapan wanita mungil itu tampak berbeda dari biasanya. Ia tertegun melihat Cessa langsung jatuh terduduk, tetapi tidak ada lagi yang dilakukan oleh Cessa.
"Pendek—"
"Dia kembali, dan sekarang semuanya sudah usai." Kata Cessa pelan, "Eve ... dia kembali."
"Apa?" Latiava mengerutkan kening, "Jangan bercanda, Pendek. Eve sudah mati. Aku melihat sendiri dia dimakamkan lima tahun lalu di pemakaman khusus Verleon."
"Tapi dia benar-benar kembali!" jerit Cessa, "Dia kembali dan sekarang aku yakin Zerfist, Spade, dan Grim akan berusaha merebut kembali wanita itu dari suami barunya."
Wanita pirang itu mengerutkan kening mendengar ucapan Cessa, "Kau jangan bercanda, Cessa. Jika Eve hidup kembali, lalu siapa yang dimakamkan di makamnya."
"Daripada itu, sebaiknya kau duduk dulu, ayo!"
Latiava membantu Cessa berdiri dan mendudukkan wanita mungil itu di sisi tempat tidur. Ia sendiri duduk di samping Cessa dan mulai mendengarkan ucapan wanita itu. Setelah Cessa menceritakan segalanya, wajah Latiava berubah pucat. Walau dalam hati dia berusaha menyangkal cerita Cessa, tetapi mengingat raut wajah Grim saat melewatinya tadi ....
"Berarti dia adalah ancaman," kata Latiava, "Ancaman yang sangat besar."
Cessa kembali diam.
"Jika Eve benar-benar kembali ke dalam kehidupan Grim ... maka berakhirlah sudah."
Cessa lebih mengetahuinya. Lebih daripada itu, ia tahu, sekarang semuanya terasa semu. Lagi-lagi, untuk ke sekian kalinya ia kembali merasakan pengkhianatan.
***
Grim hampir tidak pernah pulang ke mansionnya. Entah apa yang dilakukan oleh pria itu, tetapi mengingat Eve yang kembali membuat Cessa meringis pedih. Penderitaannya ternyata masih belum berakhir. Tuhan benar-benar tahu cara untuk membuatnya merasa ingin mati tetapi tidak bisa melakukannya.
Cessa berusaha untuk kabur dari mansion, tetapi langkahnya selalu dihalangi oleh para pengawal yang entah kapan selalu berada di depan pintu kamarnya. Latiava juga merasakan perubahan yang terjadi di mansion, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Setiap hari mereka dikawal oleh setidaknya dua sampai tiga orang pengawal. Posisi mereka berdua saat ini sama dan tidak bisa dipungkiri, situasi seperti ini membuat Cessa hampir gila.
Hampir setiap kali ketika Grim pulang ke mansion, Cessa bertengkar dengan Grim yang berujung dengan tindak kekerasan pada wanita itu. Saat itu terjadi, Latiava segera bertindak menengahi dan memihak Cessa, mengatakan pada Grim bahwa apa yang kini dilakukan pria itu lebih buruk dari yang bisa dilakukan oleh seorang bajingan.
Beruntung sebelum Cessa sempat mencoba bunuh diri lagi, Chris datang dan mengajaknya pergi ke luar. Pria itu cukup ahli berbohong, sehingga para pengawal suruhan Grim mengizinkan Cessa keluar bersama Chris.
Chris melihat Cessa yang tampak seperti cangkang kosong. Wanita itu terlihat seperti orang linglung kalau ia tidak menuntunnya menuju mobil. Dia juga tahu situasi apa yang dihadapi Cessa dan Latiava.
Cessa menyandarkan dahinya ke kaca jendela mobil ketika Chris menyetir. Hanya ada keheningan. Wanita mungil itu sama sekali belum berbicara dari tadi.
"Lass,"
"Ya?" bahkan suara Cessa terdengar jauh.
Astaga, andai Chris bertemu Grim, ia harus membunuhnya saat itu juga. Dia tidak suka melihat Cessa seperti ini. Keadaan ini jauh lebih buruk dibandingkan ketika wanita itu mendapatkan traumanya pertama kali.
Chris menepikan mobilnya. Cessa masih melamun ketika sadar mobil tak lagi berjalan walau mesinnya menyala.
"Kenapa kita berhenti?" tanya Cessa sambil menoleh pada Chris.
Tepat ketika pria itu menarik Cessa ke dalam pelukannya dan membuat wanita itu terkesiap kaget.
"C-Chris ...,"
"Kau bodoh, Lass," bisik Chris sambil menciumi puncak kepala Cessa, "Kau bodoh. Kenapa kau masih mau menerima penderitaan seperti ini?"
Ucapan Chris entah kenapa berhasil menyentuh hati Cessa. Mendadak kedua matanya terasa panas dan pandangannya terlihat kabur karena airmata yang siap mengalir.
"Aku ... aku baik-baik saja, Chris," kata Cessa menepuk punggung Chris.
"Kau tidak baik-baik saja!" raung Chris dan melepaskan pelukannya dengan kasar walau kedua tangannya masih memegangi kedua bahu Cessa, "Kau tidak baik-baik saja, Princessa Angelia. Kau menderita, dan kau membiarkan penderitaan itu menggerogotimu layaknya rayap! Kau sadar kau mati rasa sama seperti bertahun-tahun lalu!?"
"Aku tidak ...," Cessa menelan ludah dengan susah payah, "... aku terlalu takut untuk merasa lagi. Karena itu aku mematikan hatiku sendiri."
Tangis Cessa langsung pecah. Chris kembali memeluk wanita yang kini menangis keras itu.
"Apa aku salah mencintai seseorang? Apa aku salah kalau aku tidak ingin satu mimpi terburukku tidak menjadi kenyataan?" Cessa menangis lebih keras, "Aku mencoba membuka hati, tapi ... tapi kenapa aku selalu mendapatkan takdir seperti ini? Pertama Okaasan, lalu Niisama, dan sekarang dari orang yang kupilih untuk ke sekian kali. Apa aku harus mati saja agar semua ini berakhir?"
"Lass, jangan," Chris menggeleng, "Kau tidak boleh mengatakan itu. Aku melarangmu."
"Di sini sakit, Chris," Cessa menyentuh dadanya sendiri, "Di sini sakit, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Semuanya sama. Aku tidak pernah berakhir bahagia!"
Chris meringis mendengar ucapan bernada keputus-asaan Cessa. Dia tidak melepaskan wanita itu bahkan membiarkan Cessa menangis lebih keras, menumpahkan perasaannya saat ini. "Kau tidak sendirian, Cessa. Aku selalu ada di belakangmu. Aku selalu ada untukmu bersandar."
Pria itu mencium puncak kepala Cessa berkali-kali, "Karena itu, tolong jangan mencoba untuk membunuh dirimu sendiri. Berjanjilah padaku, Hime-sama."
__ADS_1