The Hope

The Hope
Chapter 02


__ADS_3

Mobil yang membawa mereka sampai di sebuah bangunan tinggi yang tak lain adalah gedung pusat ALV Corp. Keluar dari mobil, Cessa menatap gedung tinggi itu dengan sedikit ngeri. Berurusan dengan keluarga Verleon bukanlah hal main-main, dan dia harus bisa membuat kesan yang cukup atau bahkan sangat baik di mata mereka.



"Cessa, ada apa denganmu?" kepala wanita itu menoleh ke arah Chris yang berdiri di sebelahnya.



"Gugup," kata Cessa. "pakaianku tidak terlihat kusut, 'kan? Atau tatanan rambutku terlihat berantakan?"



"Kau cantik dan mengundang mata pria," kata Chris mendecak. "tidak perlu khawatir, Princess. Kau sempurna kecuali wajahmu yang masih terlihat pucat."



Cessa memiringkan kepalanya, kemudian menghela napas.



"Mau bagaimana lagi? Terkena flu di musim dingin tidak ada dalam rencanaku hari ini," balas Cessa.



Chris tertawa geli mendengarnya. "Kalau begitu, kita langsung masuk saja. Aku yakin mereka sudah menunggu kita dari tadi," kata Chris, wanita itu hanya mengangguk.



Ia dan Chris lalu memasuki lobi ALV Corp, tepat ketika mobil lain berhenti di belakang mereka. Cessa menoleh dan melihat dua orang pria yang keluar dari mobil mewah tersebut berjalan ke arah mereka. Kedua pria itu berjalan melewati Cessa bahkan tanpa melirik ke arahnya sambil mengobrol lirih.



Alis Cessa berkerut. Dia merasa pernah melihat kedua pria itu, tapi di mana?



"Cessa, apa yang kamu lakukan di situ?"



Suara Chris membuat Cessa menoleh ke arah managernya itu. Chris sudah berdiri di depan meja resepsionis dan sedang menatap ke arahnya dengan sebelah alis terangkat. Buru-buru Cessa menghampiri pria berambut pirang tersebut.



"Maaf, aku melamun tadi," jawab Cessa.



"Kau melamun, apa terpesona dengan dua orang pria yang baru masuk tadi?" balas Chris.



"Tidak, aku memang melamun," bantah Cessa.



Chris mengedikkan bahu, lalu menoleh ke arah resepsionis. "Kami punya janji dengan Tuan Alexander Verleon," kata Chris.



"Ini Princessa Angelia, dan saya managernya, Christopher Scott. Kami diminta kemari untuk membicarakan rancangan gaun pengantin Nona Heavylia."



Resepsionis itu mengangguk kemudian memeriksa sesuatu di layar komputer di hadapannya sebelum kembali menatap Chris. "Saat ini Tuan Alexander tidak ada di tempat, tetapi ketiga putranya yang akan menggantikan Beliau. Silakan kenakan kartu pengenal ini, dan naik lift menuju lantai tiga puluh lima."



Mereka berdua menerima sebuah ID card berwarna hitam dengan tulisan 'Tamu Khusus', kemudian menuju lift yang berada di sebelah meja resepsionis. Saat mereka berdua sudah masuk, Chris menekan tombol angka 35 dan pintu lift segera menutup. Cessa sendiri bersandar pada dinding lift yang terbuat dari kaca dan memantulkan bayangan wajahnya yang masih terlihat pucat. Dia mengembuskan napas dan mengatur rambutnya agar wajah pucatnya tidak terlalu terlihat.



"Seharusnya kau memoles wajahmu dengan bedak yang lebih tebal lagi, bukannya mengatur rambutmu," celetuk Chris.



"Aku lupa membawa bedakku, jadi satu-satunya cara cuma dengan mengatur rambutku," balas Cessa. "Oh ya, Chris. Tadi resepsionis itu bilang Tuan Alexander tidak ada di tempat? Lalu siapa yang akan menemui kita?"



"Kau ini seharusnya mendengarkan ucapan orang baik-baik." Chris menggeleng-gelengkan kepalanya. Satu kebiasaan Cessa ketika sakit adalah pikirannya yang sering tidak berada di tempat dan tidak mendengarkan pembicaraan orang lain dengan serius.


__ADS_1


"Yang akan menemui kita adalah ketiga putra Alexander Verleon. Kalau aku tidak salah ingat, nama mereka adalah Zerfist, Grimvon, dan Spade Verleon."



Cessa manggut-manggut mendengarnya. Dia selesai mengatur rambutnya lebih rapi dibanding tadi dan tersenyum tipis menatap pantulan dirinya di dinding lift.



Pintu lift terbuka dan mereka dihadapkan dengan koridor panjang yang dialasi karpet berwarna hitam. Tidak ada pintu lain selain pintu paling ujung di koridor, dan itulah tujuan mereka. Chris memandu Cessa menuju pintu tersebut. Sebelum Chris sempat mengetuk, pintu tersebut terbuka dan wajah seorang wanita yang sangat anggun menyembul dari balik pintu.



"Ah, rupanya kalian sudah datang." wanita itu tersenyum. "masuklah. Kami sudah menunggu kalian."



Cessa menatap wanita itu dengan tatapan terkesima. Wanita berambut panjang bergelombang itu nampak anggun namun juga teguh di saat bersamaan. Ada kesan dewasa dan kekanakan juga, tetapi yang lebih menonjol dari wanita itu adalah matanya. Matanya yang berwarna biru itu memiliki sorot tegas dan angkuh. Tipe wanita yang takkan mau ditindas lelaki.



Mengikuti si wanita, Cessa dan Chris dihadapkan dengan ruangan berwarna serba hitam, mulai dari sofa kulit, karpet bulu yang melapisi lantai, serta dindingnya. Belum lagi perabotan lain termasuk rak buku di sudut ruangan yang juga berwarna hitam. Cessa sedikit merinding menatap ruangan tersebut, terkesan mengimintidasi dan membuatnya tampak lebih kecil, tetapi itu hanya dia rasakan di dalam hati, wajah Cessa masih tampak datar seperti tembok.



"Duduklah." wanita yang tadi membukakan pintu menunjuk sofa kulit di ruangan tersebut. "Aku ingin kalian mendengarkan deskripsi gaun yang kuinginkan untuk pesta pernikahanku nanti."



Cessa dan Chris menurut. Ketika Cessa duduk di salah satu sofa bersama managernya itu, dia baru menyadari empat orang pria yang berada di belakang si wanita. Dua di antara empat pria tersebut sempat dilihatnya tadi di lobi. Apa mereka adalah pangeran dari keluarga Verleon? Berarti salah satu di antara empat orang pria tersebut pastilah Trace Randolf. Dan wanita di hadapannya ini adalah Heavylia Verleon. Dan mereka berkumpul di satu tempat dan menatapnya tajam seolah dia adalah terdakwa.



Ivy duduk di sofa di hadapan mereka dan tersenyum. "Tidak perlu merasa takut. Mungkin kalian merasa terimintidasi ketika masuk ke ruangan ini. Aku benar, 'kan?"



"Tidak juga," jawab Cessa. "Walau harus kuakui tempat ini terkesan suram, bahkan lebih suram dibanding wajahku yang kuyu sekarang."



Ucapan itu membuat Ivy tersenyum lagi. Ditatapnya wanita di hadapannya yang tampak seperti boneka itu kemudian melirik ke arah tiga saudara tiri dan calon suaminya yang berdiri di belakangnya.




"Tidak perlu bersikap formal, anggap saja aku adalah teman lamamu," kata Ivy, kemudian mengisyaratkan Trace untuk memberikan dua benda yang diminta oleh Cessa. "Bisakah kau membuatkanku sebuah gaun yang mampu menarik perhatian banyak orang?"



"Seperti apa misalnya?" tanya Cessa yang sudah memegang kertas dan pena di tangannya. "Lebih spesifik. Mungkin harus ditaburi berlian, atau dihias dengan hiasan berbentuk bunga mawar seukuran aslinya."



"Aku ingin yang bisa menarik perhatian orang lain. Semua mata harus tertuju padaku. Walau aku lebih suka yang lebih simpel dan sederhana, calon suamiku meminta aku memakai gaun yang bisa membuat semua orang jatuh hati pada pandangan pertama," kata Ivy.



Cessa manggut-manggut dan menggoreskan pena ke atas kertas sambil mendengarkan deskripsi Ivy. Chris yang duduk di sebelahnya membantu memberikan saran pada gaun yang diinginkan Ivy. Sepuluh menit kemudian, Cessa menyerahkan sketsa kasar yang dibuatnya pada wanita itu untuk diteliti lagi. Ivy tersenyum melihat sketsa kasar gaun yang dibuat Cessa. Diperlihatkannya sketsa itu pada Trace yang mengangguk setuju.



"Aku suka rancangan ini. Tidak terlalu mewah, tetapi juga mampu menarik perhatian para tamuku nanti. Kau benar-benar berbakat. Tidak salah Mom memilihmu," kata Ivy dengan nada puas.



"Terima kasih atas pujianmu." Cessa tersenyum tipis. "Walau sebenarnya masih ada yang lebih baik daripada aku, aku tersanjung mendapatkan kesempatan merancang gaun pengantin untukmu, Nona Heavylia."



"Panggil saja aku Ivy. Kita akan sering bertemu ketika aku mengepas gaunku denganmu. Dan ... maaf kalau aku lancang, apa kau sedang tidak enak badan?"



Cessa memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan itu. "Aku mengatakan kalau wajahku kuyu, dan suram seperti ruangan ini. Kalimat itu bisa diartikan kalau aku sakit, 'kan?" katanya.



"Hmm ... tidak apa-apa. Kurasa aku bisa menerima rancangan gaun ini. Bagaimana menurut kalian?"



"Terserah kau," balas Zerfist yang duduk di kursinya.

__ADS_1



"Aku juga setuju dengan Zerfist," kata Spade menyahut.



"Grim?" tanya Ivy, memperlihatkan sketsa kasar gaun di tangannya. "Bagaimana menurutmu?"



"Aku tak peduli pada gaun mana pun yang kau pakai, Ivy."



"Intinya kalian setuju," kata Ivy mengedikkan bahu.



"Kalau begitu, tidak masalah. Aku akan mengerjakannya dengan cepat. Kapan pernikahan kalian dilaksanakan?" tanya Cessa.



"Tiga minggu dari sekarang," kata Spade sebelum Ivy sempat menjawab. "Ivy dan Trace harus cepat menikah sebelum mereka menebar aura cinta mereka ke mana-mana."



Ivy yang mendengarnya hanya memutar bola matanya jengah. "Abaikan ucapan Spade. Dia masih merasa kehilangan atas meninggalnya Eve. Well, kami semua di sini juga merasa kehilangan," katanya.



Cessa hanya mengangguk singkat. Dia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan mereka. Yang terpenting pekerjaannya berjalan lancar dan hasilnya memuaskan.



"Kalau begitu, aku akan menghubungimu jika gaunnya selesai. Aku akan mengerjakannya secepat yang kubisa," kata Cessa.



"Jika kau masih sakit, sebaiknya beristirahat dulu. Kesehatanmu yang lebih penting dalam bekerja," saran Ivy.



Cessa tersenyum tipis mendengarnya. "Terima kasih atas perhatianmu, Nona Ivy. Tapi aku sudah terbiasa bekerja di saat sakit. Badanku akan berkeringat dan aku akan sembuh lebih cepat," katanya.



Cessa dan Chris berdiri, begitu pula Ivy. Dia menjabat tangan Cessa dan tersenyum.



"Kuharap kita akan terus bertemu, Princessa. Sampai jumpa lagi."



Cessa mengangguk. Dia dan Chris lalu melangkah menuju pintu ketika Cessa merasakan pandangan yang menusuk punggungnya. Wanita itu berbalik dan matanya langsung tertuju pada Grim yang juga sedang menatapnya lekat-lekat.



"Ada masalah, Nona Princessa?" tanya Trace.



"Nope. Aku hanya merasa ada yang menatapku lekat-lekat. Sampai bertemu lagi, Tuan-tuan dan Nona Ivy," kata Cessa.



Begitu Cessa dan Chris menghilang di balik pintu, Ivy langsung menoleh ke arah Grim yang masih tidak mengalihkan pandangan dari pintu.



"Oke, apa kau sedang menetapkan Princessa sebagai mangsamu berikutnya?" tanya Ivy. "Jangan coba-coba bermain dengannya, Grim. Kuperingatkan kau."



"Kenapa aku harus menurutimu? Dia cukup lumayan untuk jadi targetku berikutnya," balas Grim sambil memutar bola matanya.



"Kau akan mengetahuinya, nanti." Ivy menatap Grim tajam. "Princessa tidak akan kuserahkan pada lelaki bejat sepertimu."



"Kita lihat saja," kekeh Grim lalu menghilang di balik pintu.

__ADS_1



__ADS_2