
Sejak Grim mengancamnya, Cessa merasa hidupnya lebih buruk dibanding saat ia terkena trauma pertama kali. Dia tidak bisa seenaknya meminta tolong pada Chris, mengingat sifat Grim dia tahu pria itu bisa melaksanakan ancamannya sewaktu-waktu. Sementara bila ia terus memendam apa yang ia rasakan ketika mendapati dirinya pulang ke mansion dan tidak pernah melihat Grim maupun Latiava berkeliaran di sana membuat perasaannya tidak lebih baik.
Kalau boleh, Cessa memilih untuk pergi, sayangnya dia tahu semuanya akan percuma bila sudah berurusan dengan putra kedua Verleon itu. Ia benar-benar merasa seperti boneka pajangan di mansion besar itu dan tidak tahan dengan kondisinya ini.
Malam ini, Cessa kembali melangkah masuk ke dalam mansion dan disapa oleh beberapa pelayan yang segera melayaninya. Wanita itu hanya bergumam pelan dan membiarkan para pelayan itu mengerjakan pekerjaan mereka sementara ia membersihkan diri di kamar mandi di kamar yang ia tempati sekarang. Setelahnya dia dengan tidak berselera menuju ruang makan. Ketika dia mendongak, matanya mengerjap terkejut melihat Latiava ada di sana, duduk sambil mengutak-atik sesuatu di tablet di tangannya.
"Kau sudah pulang rupanya," kata Latiava tanpa menoleh kearah Cessa, "Duduklah dan makan, atau Grim akan marah padamu karena tidak mau makan."
"Apa urusanmu bila aku tidak makan? Kau bukan ayah ataupun ibuku," balas Cessa datar.
"Kau mau Grim pulang dan menceramahimu soal makan teratur?" wanita pirang itu kembali berbicara, "Grim bilang kau selalu lupa makan bila sudah focus pada satu pekerjaan. Dan menurut orang-orang bayarannya, kau mengurung diri di butik dan tidak keluar untuk makan siang. Bahkan manajermu tidak datang ke butikmu hari ini."
Jadi pria itu masih terus mengawasiku? Cessa menggeram marah.
Latiava mendengar geraman marah Cessa dan menghela nafas, "Aku mengatakan semua itu karena Grim ingin aku dan kau ... akrab, begitulah istilah yang ia katakan saat bersamaku tadi siang. Asal kau tahu, percintaan kami jadi tidak semenarik biasanya karena dia menyebutkan namamu beberapa kali.
"Jadi, kemarilah dan makan malam bersamaku. Atau kau dan aku akan dimarahi oleh suami kita!"
Cessa hendak membalas ucapan Latiava lagi, tapi kemudian mengurungkannya. Dengan perasaan jengkel dia duduk di seberang wanita pirang itu dan menatap makanan yang tersedia di hadapannya. Saat ini dia sedang tidak berselera makan, selain karena dia masih jengkel dan marah pada hubungan Latiava dan Grim, dia harus kembali menahan traumanya yang sedang mencoba bangkit.
Latiava meminum air di gelasnya dan menatap wanita mungil bagai boneka di hadapannya, "Kau tidak berniat makan?"
"Tidak berselera." balas Cessa pendek.
"Walau kau berkata begitu, kau tetap harus makan," kata Latiava, "Makanlah sedikit. Setidaknya pikirkan kesehatanmu sendiri dan jangan terlalu protes pada keadaanmu."
Ucapan Latiava yang pedas dan blak-blakan itu sempat membuat Cessa merengut kesal. Namun dia tidak berkata apa-apa dan memakan semangkuk Caesar salad yang akhir-akhir ini menjadi makan malamnya karena tidak bisa mencerna apa pun. Wanita mungil itu memakan makanannya pelan-pelan tanpa sekalipun mendongak menatap Latiava, yang sedang memandangnya dengan tatapan aneh.
"Apa kau hanya makan itu?" tanya wanita pirang itu sambil menatap makanan di hadapan Cessa.
"Aku sudah bilang aku tidak berselera makan," Cessa membalas, "Kalau kau bermasalah dengan makanan yang kumakan, sebaiknya urus saja dirimu sendiri."
__ADS_1
Latiava mendengus dan meletakkan tablet di tangannya sebelum memegang garpu dan pisau di kedua tangannya. Mereka berdua makan dalam diam. Tidak ada seorang pun yang bersuara dan pelayan yang berdiri di ruangan tersebut untuk menunggu perintah juga tidak mengatakan apa-apa.
"Aku sudah selesai," Cessa tiba-tiba berhenti makan dan berdiri dari kursi, "Kalau kau ingin melanjutkan, silakan. Aku akan kembali ke kamarku."
"Aku tidak akan tidur di sini malam ini," kata Latiava, "Grim memberitahuku kalau aku akan menemaninya ke suatu tempat."
"Oh," wanita mungil itu hanya membalas dengan jawaban pendek.
Ia lalu berjalan keluar dari ruang makan dan langsung menuju kamar. Sesampainya di sana, dia meraih ponsel yang masih ada di dalam tasnya dan melihat ada tiga pesan masuk dari Chris. Pria itu hanya mengirimkan pesan untuk memastikan dia baik-baik saja dan meminta maaf karena tidak bisa ke butik siang tadi.
Cessa tidak membalas pesan itu dan melangkah menuju lemari pakaiannya, mengganti baju yang ia kenakan sekarang dengan gaun tidur dan naik ke atas ranjang. Walau badannya lelah, tapi pikirannya tetap segar hingga dia tidak bisa menutup mata.
"Mungkin sebaiknya aku membuat gaun saja," katanya, lalu bangkit dari ranjang dan mengambil jaket.
Ruang kerja yang dibuat oleh Grim untuknya terletak di lantai dua, tepat dua ruangan dari kamarnya dengan Grim sebelumnya. Cessa sempat berpikir untuk tidak pergi ke sana dulu selama beberapa saat, tapi karena dia tidak bisa tidur dan hal yang harus dilakukannya agar kantuk datang hanyalah membuat tubuhnya terus bekerja.
Ia hampir menyelesaikan bagian akhir gaun itu ketika dia merasakan seseorang sedang mengawasinya. Cessa mendongak dan melihat Latiava berdiri di depan pintu.
"Sedang apa kau di situ?" tanya wanita mungil itu, "Bukankah kau bilang kau akan pergi bersama Grim?"
"Itu ucapan yang kuucapkan lima jam yang lalu. Kau pikir sekarang sudah jam berapa?" balas Latiava.
Cessa menoleh lagi dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari.
"Lalu? Itu hakku untuk bertanya padamu, 'kan?" Cessa membalas, "Lagipula apa yang sedang kukerjakan dan kulakukan bukanlah urusanmu, 'kan?"
"Jelas menjadi urusanku kalau Grim sering menanyakan apa kau sudah makan teratur dan tidak tidur terlalu larut," gerutu Latiava, "Dia pikir aku ini ibumu, ya? Bahkan walau sudah menikah denganku dia juga masih memikirkanmu. Ironis sekali hidupku."
"Ya ..., ya ...," Cessa tidak terlalu menggubris, "Kalau kau sudah selesai, kau bisa pergi, Nyonya Kedua. Kau mengganggu pekerjaanku."
__ADS_1
Latiava yang mendengarnya mendelik. Dia menatap wajah Cessa yang kembali serius menekuri gaun di depannya tanpa memerdulikan keberadaan wanita pirang yang berdiri sambil menatapnya dengan tatapan kesal.
"Aku heran kenapa Grim mau menikahimu," kata Latiava lagi, "Apa hanya karena tatapanmu mirip dengan wanita itu? Pasti ada alasan lain, 'kan?"
"Siapa wanita yang kau maksud?" tanya Cessa, "Ah, tapi walaupun aku bertanya kau juga tidak akan menjawab."
Latiava mendengus, "Dia cinta pertama Grim."
Gerakan tangan Cessa lagi-lagi terhenti. Kali ini tatapannya beralih pada Latiava dan benar-benar focus pada wanita pirang itu, "Cinta pertama?"
"Cinta pertama yang membuat Grim tidak bisa memikirkan hal lain selain bersama wanita itu dan melakukan hal-hal yang dia juga lakukan padamu, atau kita berdua lebih tepatnya." Latiava mengedikkan bahunya, "Apa kau benar-benar penasaran?"
Bohong kalau Cessa bilang dia tidak penasaran. Tapi dia hanya memutar bola matanya dan kembali memusatkan perhatiannya pada gaun buatannya. Sikap wanita mungil itu membuat Latiava mengerutkan keningnya heran.
"Apa kau benar-benar seperti ini, Princessa? Selalu menanggapi segalanya dengan sikap acuh?" tanya Latiava melihat Cessa tidak terlalu terpengaruh dengan ucapannya.
"Aku bersikap acuh karena ada gaun yang harus kuselesaikan malam ini," kata wanita mungil itu, "Lagipula, apa kau sedang mencoba memanas-manasiku? Asal kau tahu saja, hal seperti itu tidak akan mempan padaku."
Latiava terdiam. Niat awal dia mendatangi Cessa kemari adalah untuk memanas-manasi wanita itu bahwa dia bersenang-senang dengan Grim. Ia pikir Cessa akan menunjukkan setitik rasa cemburu, tapi lihat! Wanita mungil itu bahkan tidak tertarik sama sekali dengan apa yang diucapkannya barusan bahkan tidak menyuarakan protes atau apapun karena dia bersama Grim.
Diam-diam Latiava berpikir Princessa Angelia bukanlah lawan yang mudah, persis sama seperti wanita yang merebut perhatian Grim dua tahun yang lalu. Latiava sendiri mengakui kalau tatapan Cessa sangat mirip dengan wanita yang membuat semua wanita yang jatuh cinta pada Grim patah hati. Tapi Cessa hanya memiliki kesamaan tatapan di matanya, sementara kepribadiannya sendiri ... terlalu dalam, tidak bisa dilihat dengan mudah.
"Aku menyerah. Cukup sulit membuatmu cemburu karena aku pergi bersama Grim tadi," kata wanita pirang itu, "Aku akan pergi. Tapi mungkin besok aku akan mengganggumu lagi, bukan karena aku ingin, tapi karena itu adalah perintah Grim."
Cessa diam mendengarnya sebelum kemudian bersuara, "Kau pikir aku tidak cemburu? Aku cemburu."
Untuk ke sekian kalinya Cessa mengalihkan perhatiannya pada Latiava, kali ini sinar matanya tampak berbahaya, "Aku sangat cemburu karena suamiku bersama wanita lain dan dia bersenang-senang tanpa ingat dia sudah menyakiti hatiku bahkan jauh lebih buruk dari traumaku yang pertama kali."
Trauma?
__ADS_1
Latiava terdiam mendengar ucapan Cessa. Apa wanita itu tadi bilang dia punya trauma? Trauma tentang apa?