The Hope

The Hope
Chapter 30


__ADS_3

"Aku tidak akan memberitahumu trauma apa yang pernah kualami," kata Cessa seolah membaca pikiran Latiava, "Kalau kau mau tahu, cari tahu saja sendiri."



Mendengarnya, Latiava hanya bisa mencibir, "Rupanya kau bisa bercanda juga."



"Terima kasih atas pujianmu," balas wanita mungil itu, "Jika tidak ada yang mau kau katakan lagi, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan tidur. Aku akan istirahat setekah menyelesaikan semua ini."



"Kau tidak mau bertanya apa saja yang kulakukan dengan Grim?" Latiava masih tidak mau menyerah.



"Dan aku sudah menjawab bahwa aku tidak tertarik. Mengetahui apa yang kalian lakukan bersama bisa membuat kesehatan jantungku semakin buruk," balas Cessa, "Pergilah. Aku ingin menyelesaikan gaun-gaun ini secepatnya agar aku bisa tidur."



Kali ini Latiava tidak bisa mengatakan apapun. Dia berbalik dan pergi meninggalkan ruang kerja Cessa sementara wanita mungil itu kembali fokus pada pekerjaannya. Setelah mengepak semua gaun-gaun itu, ia langsung pergi ke kamarnya dan beristirahat. Tidak peduli kalau Latiava sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.



Keesokan harinya Cessa kembali tidak melihat Latiava dan tentunya Grim. Untuk kali ini Cessa berusaha untuk tidak peduli. Lebih baik mengurusi kehidupannya sendiri dan mencoba tidak memikirkan pengkhianatan Grim yang setiap kali diingatnya akan membuat sakit hati.



Setelah sarapan, wanita mungil itu pergi ke butik untuk menyuruh pegawainya mengirimkan paket-paket gaun yang telah selesai, setelahnya dia pergi ke mall. Sesekali dia perlu bersantai dan kali ini adalah waktu yang cukup tepat untuk bersantai, setelah dilanda sakit kepala dan sakit hati beberapa hari ini. Namun hal mengejutkan menghampirinya ketika dia pergi ke salah satu butik yang ada di sana.



Latiava sedang bersama Grim, sedang memilih beberapa gaun yang tentu saja akan dipakai oleh wanita pirang itu. Dan sialnya, Latiava menyadari keberadaannya di sana, "Oh, kau datang ke sini juga?"



Grim menoleh dan melihat tepat kearah Cessa yang hanya diam. Ekspresi wanita mungil itu sangat datar sampai-sampai dia merasa Cessa adalah salah satu patung manekin yang ada di butik itu.



Cessa tidak berniat menjawab, tapi dia juga tidak mungkin pergi begitu saja. Karena itu dia hanya mengangguk dan kemudian beralih ke rak lain yang memuat jajaran gaun-gaun berwarna pastel. Latiava memperhatikan hal itu. Hanya dalam dua-tiga hari sikap Cessa yang dilihatnya meledak-ledak saat memergoki Grim bersamanya sangat berubah. Wanita bak boneka itu tampak tak peduli pada apa yang sedang dia lakukan bersama Grim dan itu membuat Latiava makin gemas. Apa seorang Princessa Angelia selalu seperti ini?



"Kau pergilah temani Princess," kata Grim yang berdiri di sampingnya, "Mungkin dia masih cemburu padamu."



Latiava mendengus sambil melirik kearah pria yang berdiri di sebelahnya, tetapi dia tetap melakukan perintah Grim dan menghampiri Cessa yang sedang menyentuh satu gaun dengan sentuhan halus. Wanita mungil itu tidak menyadari kalau Latiava sudah berdiri di sebelahnya dan baru tersadar saat mendongakkan kepalanya.



"Kenapa kau di sini?"



"Grim menyuruhku menemanimu," balas Latiava.



"Apa kau selalu menuruti perintahnya seperti ini?" Cessa memutar bola matanya, "Pergi saja sana. Aku perlu sendirian."



Latiava hanya diam, tapi matanya mengamati gaun-gaun mana saja yang disentuh oleh Cessa. Tangannya kemudian meraih satu-dua buah gaun dan memberikannya pada wanita mungil itu, "Coba kau pakai ini,"



Cessa menatap gaun-gaun yang diberikan Latiava dengan kening berkerut, "Untuk apa?"



"Coba saja. Ayo,"



Tanpa menunggu jawaban Cessa, Latiava menarik wanita mungil itu menuju ruang ganti terdekat. Cessa yang tidak mengerti dengan tindakan wanita pirang di hadapannya hanya bisa diam dan menurut. Ketika masuk ke ruang ganti, dia menatap gaun-gaun di tangannya. Semuanya berwarna biru tua dan dihiasi sedikit warna merah muda. Keningnya makin berkerut mengamati kalau model gaun-gaun itu juga tidak sesuai dengan yang dia suka.



"Jangan coba-coba untuk protes. Coba pakai gaun-gaun itu dan perlihatkan padaku!" kata Latiava di luar tirai ruang ganti.



"Kenapa kau memberiku gaun dengan warna biru tua?"



"Sudahlah, cepat pakai dan perlihatkan padaku, Nyonya Pertama."



Mendengar sindiran halus Latiava, Cessa mendengus. Dia mengganti pakaiannya dan mencoba gaun yang diberikan wanita pirang itu dan tertegun saat melihat cermin. Entah bagaimana gaun yang dipilihkan Latiava sangat cocok dengan warna kulitnya dan modelnya pun ... juga sama pasnya.


__ADS_1


Cessa keluar dari dalam ruang ganti dan disambut gelengan kepala oleh wanita pirang itu, "Tidak cocok. Coba gaun yang lain."



"Kau ini sebenarnya mau apa, Latiava?" tanya Cessa.



"Model gaun itu tidak cocok dengan bentuk badanmu," Latiava tidak menjawab secara langsung pertanyaan barusan, "Coba gaun yang lain, cepat!"



Cessa membuka mulut hendak protes, tetapi tidak jadi melihat tatapan Latiava yang tampak mengancam. Karena tidak mau memperpanjang masalah, wanita mungil itu dengan terpaksa kembali ke dalam ruang ganti dan mencoba berbagai gaun yang entah kapan sudah disodorkan oleh seorang pegawai butik. Hampir dua jam ia mengganti gaun kemudian memperlihatkannya pada Latiava yang bertindak seperti fashion police, kemudian kembali mengganti gaun yang lain sampai akhirnya dia mulai muak dan protes kembali.



"Sebenarnya kau ini mau apa? Dari tadi aku mencoba semua gaun ini tapi kau selalu bilang tidak ada yang cocok," keluh Cessa, "Kalau kau mau berkencan dengan Grim, silahkan. Tapi jangan ganggu hariku yang tenang saat ini."



Latiava yang meneliti satu gaun yang dibawa oleh pegawai butik menoleh kearahnya, "Aku sedang berusaha berbaik hati padamu, Mungil. Seharusnya kau berterima kasih padaku."



Cessa menyipitkan matanya. Bukan ucapan Latiava yang membuatnya dongkol, tapi kata 'mungil' yang sangat menyindirnya. Dia sadar kalau tubuhnya mungil, tetapi dia tidak suka bila ada orang lain yang menyebutnya dengan sebutan itu.



"Apa?" tanya Latiava yang melihat Cessa diam di tempatnya, "Bergantilah dengan gaun yang lain. Gaun yang kau pakai sekarang malah membuatmu terlihat seperti anak berusia lima tahun!"



"Tidak perlu! Aku mau pergi!"



Cessa berbalik dan masuk ke ruang ganti, mengenakan kembali pakaiannya sebelumnya dan bersiap pergi saat dia melihat Grim berdiri tepat di depannya.



"Kau mau pergi ke mana, Princess?" tanya Grim pelan.



"Aku mau pergi, Tuan Verleon. Menyingkir dari jalanku!" geram Cessa sambil membalas tatapan pria di hadapannya itu.



Grim menaikkan sebelah alisnya dan melirik sebentar ke arah Latiava lalu kembali pada Cessa, "Kau harus mau mengakrabkan diri dengan Latiava. Biar bagaimanapun dia juga sama sepertimu."




"Kau mau teriak pun semua orang di sini akan tutup mulut," Grim tersenyum meremehkan, "Kau yakin kau mau berteriak?"



Cessa benar-benar ingin berteriak keras sekarang. Dia sudah sangat lelah dengan kondisinya beberapa hari terakhir ini dan tidak bisa mentolerir sedikit saja hal yang bisa membangkitkan traumanya kembali.



"Kemari, Cessa,"



Matanya mengerjap mendengar suara yang tak asing tersebut. Dia mendongak dan melihat ke sekeliling hanya untuk mendapati semuanya terlihat kabur dan seperti hitam-putih.



"Kemari, Cessa. Kau tidak mungkin bisa mendapatkan kebahagiaan lain selain dariku..."



Tubuh Cessa mulai gemetar. Astaga. Di saat seperti ini traumanya memilih untuk muncul. Kedua tangan di kedua sisi tubuhnya terkepal erat, ia berusaha keras agar tidak terlihat lemah di hadapan Grim dan juga Latiava. Dia tidak mau sampai kedua orang di hadapannya ini mengetahui kondisinya sekarang.



Bertahanlah, Cessa, katanya dalam hati, Cukup lewati saja mereka. Tidak peduli apa, kau harus menyingkir dari hadapan mereka. Saat ini juga!



Grim melihat sikap tubuh Cessa yang ia yakin bersiap untuk kabur. Ia mencekal lengan wanita itu dan terkejut melihat sinar ketakutan di mata Cessa, padahal sebelumnya wanita itu menatap tajam padanya.



Cessa tidak membuang waktu. Disentaknya lengannya yang dicekal hingga lepas dan segera berlari keluar dari butik itu. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya heran. Yang ia inginkan saat ini menjauh dari keramaian dan meminum obatnya.



Grim memandangi Cessa yang berlari keluar dan cepat-cepat menyuruh anak buahnya untuk segera mengejar wanita mungil itu. Latiava yang sedari tadi memperhatikan hanya diam. Dia memikirkan sikap Cessa barusan dan sebagai wanita dia juga tahu raut wajah apa yang tadi terlihat di wajah Cessa. Raut ketakutan dan ... apa tadi dia juga melihat kesedihan?



"Latiava, kau kejar Cessa," kata Grim, membuyarkan lamunan wanita pirang itu, "Kejar dia dan segera bawa dia ke dokter pribadinya. Aku akan menyuruh supir mengantar kalian berdua."

__ADS_1



"Dokter pribadi?" Latiava mengerutkan kening, "Memangnya dia sakit apa?"



"Trauma," jawab Grim pendek, "Kita akan makan siang bersama nanti. Kau antarkan dulu Cessa ke dokternya."



"Baiklah," Latiava tersenyum tipis.



Grim mengangguk pelan dan mencium bibir Latiava dengan singkat sebelum berbalik keluar dari butik. Pria itu tidak melihat raut wajah Latiava yang ditekuk ketika sudah membelakanginya. Latiava mencebik kesal karena di dalam pikiran Grim masih saja ada nama Cessa. Padahal dia duluan yang mengenal Grim, tapi kenapa selalu saja wanita lain yang bisa menarik perhatian pria itu? Kenapa hal yang sama selalu saja terulang dan membuatnya sakit hati?



***



Cessa masuk ke dalam toilet dan menghampiri wastafel yang ada di sana. Dia mencengkeram sisi wastafel erat-erat saat ia memuntahkan isi perutnya. Kedua matanya berkaca-kaca menahan perih dan mual. Dengan tangan gemetar dia membuka keran dan mencuci mulut dan tangannya. Matanya melirik cermin di hadapannya dan Cessa merasa frustasi.



Yang dilihatnya di cermin bukan bayangannya sendiri, tetapi bayangan traumanya yang sukses membuatnya menangis. Cessa menutup kedua matanya, ketakutan karena melihat bayangan lain di cermin. Ia juga menutup kedua telinganya karena frustasi mendengar suara-suara yang seharusnya tidak pernah ia dengar lagi, kini terdengar begitu jelas.



"Hentikan ..., jangan ganggu aku lagi."



Cessa jatuh berlutut di dekat wastafel. Terisak dengan nafas terputus-putus. Suara air dari keran wastafel yang mengalir saja yang terdengar di sana.



"Tidak ada yang menginginkanmu selain aku. Kau tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan lain kecuali denganku."



"Seseorang ..., tolong aku." Lirih Cessa dengan suara lemah.



Karena berlari terlalu cepat dan juga traumanya kambuh, Cessa merasa tenaganya terkuras habis. Dia nyaris tidak bisa bersuara keras ataupun menggerakkan anggota tubuhnya yang lain. Ia bahkan tidak sadar ketika Latiava masuk ke dalam toilet dan memperhatikannya lekat-lekat.



Apa ini adalah wanita yang tadi memandang balik Grim? tanya Latiava dalam hati melihat keadaan Cessa yang terlihat agak mengenaskan. Wanita mungil itu menangis terisak-isak dan seperti berusaha menjauh dari sesuatu yang tidak terlihat. Latiava bahkan mengira kalau Cessa sudah gila. Tapi, mengingat apa yang pernah diucapkan wanita mungil itu sebelumnya soal trauma, sepertinya Cessa mendapatkan kembali traumanya.



Perlahan Latiava mendekati Cessa dan berjongkok di depannya. Ketika tangannya terulur hendak menyentuh tangan wanita mungil itu, Cessa tersentak dan menatap Latiava dengan pandangan horror.



"Jangan menyentuhku! Pergi!" teriak Cessa.



"Nyonya Pertama, ini aku, Latiava." Kata Latiava, "Jangan bilang kau tidak mengenalku padahal jarak kita sedekat ini."



Cessa tidak mendengar ucapan Latiava yang agak menyindir. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil maraca tidak jelas, "Kumohon, pergi ..., aku tidak mau lagi, aku tidak akan nakal ...."



Latiava mengerutkan keningnya mendengar racauan Cessa. Wanita di hadapannya ini tentu memiliki trauma parah sampai-sampai masih bisa meracaukan kalimat tidak jelas walau nyaris pingsan.



Tapi, ia mulai merasa iba melihat kondisi Cessa yang seperti ini. Karena itu dia kembali mengulurkan tangannya dan menggapai tangan kanan Cessa yang gemetar, "Jangan takut. Trauma bodohmu itu hanya pengganggu. Seharusnya kau bisa menghadapinya!"



Cessa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Tolong, lepaskan aku ..., aku janji tidak akan kabur lagi. Aku tidak akan keluar dari ruangan ini lagi. Aku akan menurut, aku akan patuh."



Latiava menyentak tangan Cessa keras-keras dan membuat wanita mungil itu terkesiap kaget, "Princessa Angelia, dengarkan aku! Trauma bodohmu itu akan selalu menjadi pengganggu jika kau bersikap lembek seperti ini! Apa kau tidak punya sedikit saja keberanian untuk mengenyahkannya?



"Kalau kau terus seperti ini, kau sama saja membiarkan traumamu menang atas dirimu. Apa kau tidak merasa harga dirimu tercoreng hanya karena trauma sialan yang kau idap itu?!"



Mata Cessa yang tadinya dihiasi sinar ketakutan mengerjap sekali, dia memandangi Latiava lekat-lekat, "Latiava ...? Apa ...."



Kedua mata wanita mungil itu menutup tiba-tiba dan tubuhnya terjatuh ke arah Latiava. Wanita pirang itu meneliti wajah Cessa yang pucat dan tubuhnya yang masih gemetar.

__ADS_1


__ADS_2