The Hope

The Hope
Chapter 17


__ADS_3

Cessa menarik nafas


dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Sekarang dia sudah kembali ke


apartemen dan sedang bersantai di ruang tamunya. Hari ini dia tidak ada


kegiatan di butik dan kalaupun ada pelanggan, para pegawainya bisa


mengurus semua itu tanpa dia harus campur tangan. Hanya jika ada pesanan


gaun yang membutuhkan waktu dan konsentrasi tinggi ia akan datang ke


butik untuk mengerjakannya sekaligus mengawasi para pegawai.


Ia merenung ketika


mengingat percakapannya tadi bersama Chris. Ketika dia mengatakan akan


mencoba berkencan dengan Grimvon Verleon, Chris benar-benar tidak senang


dan menyuarakan tidak setuju. Grim pernah membuat traumanya kambuh


sekali dan itu yang membuat Chris khawatir kalau pangeran Verleon itu


akan menyakitinya. Untuk hal ini Cessa benar-benar harus membujuk Chris,


dan dia berjanji pada pria itu jika keadaan malah menjadi lebih buruk,


ia akan menghubungi Chris.


Itu saja sudah cukup


membuat Chris sedikit tenang. Walau masih ragu, Chris menyetujui


keinginan Cessa, dan wanita itu berterima kasih karenanya. Walau


berkencan itu memang hanya rencana, tapi mengingat Grim yang memaksanya


untuk 'terapi' membuat Cessa menggigit bibir bawahnya. Sekali lagi dia


berharap kalau keputusannya ini benar.


"Sekarang, satu masalah sudah beres," gumam Cessa sambil menatap ke depan.


Cessa baru saja akan


berdiri dari duduknya ketika dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia


melirik benda yang ia taruh di atas sofa itu dan melihat nomor yang


menghubunginya di-private. Dia sudah bisa menebak kalau yang


meneleponnya adalah Grim, karena yang tahu nomor ponselnya hanya Chris,


beberapa pegawai kepercayaannya, dan para klien. Ia menyambar ponselnya


dan langsung menerima telepon yang masuk. "Halo?"


"Kau menjawab teleponku setelah dering ketiga. Ini pertanda bagus." suara Grim di seberang telepon membuat Cessa memutar bola matanya, "Princess, bagaimana kalau hari ini kita makan siang bersama?"


"Aku tidak mau," jawab Cessa, "Aku mau bersantai di apartemenku."


"Kalau begitu, aku yang akan ke apartemenmu. Kita lanjutkan terapi kemarin," balas pria itu.


"Apa? Tidak mau!


Kau—halo? Halo?" Cessa menjauhkan ponselnya dan menatap benda itu


seolah-olah itu adalah bom, "Dia gila. Aku sudah bilang aku tidak mau.


Jangan-jangan dia sudah berada di depan pintu saat menelepon tadi?"


Menyadari Grim bisa saja


meneleponnya sambil berdiri di depan pintu apartemen membuat Cessa


berlari kearah pintu dan hendak menguncinya ketika pintu itu terbuka dan


perkiraannya benar-benar menjadi kenyataan. Ia menatap tajam pria yang


tengah berdiri di depan pintu apartemennya dengan senyum di wajahnya.


"Apa ini? Kau bermaksud menyambutku?" tanya pria itu sambil menutup pintu di belakang punggungnya.


"Kau datang tanpa diundang. Pergi sana!" balas Cessa, "Apa kau sudah berdiri di sana saat meneleponku?"


"Aku bahkan sudah berencana menyelinap masuk ke dalam apartemen dan mengejutkanmu." Grim tersenyum lagi.


"Kau benar-benar seperti penguntit. Pergi. Aku mau satu hari ini tenang tanpa dirimu dan terapimu itu!"


"Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, Princess.


Aku sudah datang jauh-jauh kemari untuk mengajakmu makan siang. Dan


jangan menolak. Kalau kau menolak, aku akan langsung menyerangmu di sini


sekarang juga," ujar pria itu, membuat Cessa langsung mengggigil.


"Kau menyebalkan. Aku benci padamu!"


"Terima kasih atas ungkapan sayangmu, Princess. Ayo, kita langsung masuk ke dalam. Aku membawakanmu makanan." Grim berjalan melewati Cessa dan membuat wanita itu gelagapan.


Segera wanita itu


mengikuti Grim ke ruang tamu dan melihatnya mengeluarkan beberapa kotak


makanan dari kantung plastic yang dibawanya. "Kenapa kau bertindak


seolah-olah apartemenku ini adalah milikmu? Aku sudah bilang padamu


untuk pergi dari sini."


"Dan aku juga mengatakan bahwa aku tidak mau ditolak," balas Grim, "Sudahlah. Jangan terus mengomel, Princess. Duduk dan mari makan."


Cessa mengerucutkan


bibirnya dan memilih duduk agak menjauh dari Grim. Matanya menatap kotak


makanan yang ada di meja dan menaikkan sebelah alis. Semua yang ada di


hadapannya adalah makanan kesukaannya. Apa pria ini menyelidikinya


secara menyeluruh hingga tahu apa saja makanan kesukaannya?


Jangan-jangan Grim juga tahu ukuran tubuhnya ....


"Hei, kenapa melamun?"


Suara itu membuat


lamunan Cessa buyar dan terpekik kaget ketika melihat wajah Grim sangat


dekat dengannya. Tangannya mendorong wajah pria itu menjauh sementara


pipinya memerah, "Wajahmu terlalu dekat, Bodoh."


Grim tertawa pelan dan menyodorkan satu kotak makanan pada Cessa. "Makanlah. Aku yakin ini kesukaanmu."


Cessa menerima kotak makanan itu dan menatap isinya sebentar. "Kau menyelidiki tentangku sampai mana?"


"Hm? Apa itu penting?"

__ADS_1


"Tentu saja itu penting bagiku," balasnya, "Katakan saja, kau sudah menyelidikiku sejauh mana?"


Grim menatap Cessa yang


terlihat serius kemudian menyandarkan punggungnya pada punggung sofa,


"Yang jelas penyelidikanku cukup jauh dari perkiraanmu, Princess.


Aku tahu segala hal tentangmu, termasuk rahasia paling gelap yang kau


sembunyikan dari orang lain," dia melirik Cessa lagi, "Karena itu aku


tahu kau pernah diperkosa kakak dan ayah tirimu."


"Oh," Cessa manggut-manggut, "Kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi."


"Bagus," Grim tersenyum lembut, "Sekarang kau makan, setelahnya terapi akan kita mulai."


Cessa memutar bola matanya. "Apa harus kita melakukannya setelah makan?"


"Kau perlu tenaga. Karenanya aku menyuruhmu makan," balas pria itu.


Ucapan Grim membuat


Cessa menggembungkan pipinya persis seperti anak kecil. Wajah bonekanya


semakin terlihat lucu dan membuat pria itu menahan diri untuk tidak


langsung menerkam Cessa saat ini juga. Ketika dilihatnya wanita itu


mulai makan, Grim bernafas lega. Setidaknya godaan tadi hanya sesaat,


dan dia bisa mengambil kesempatan nanti setelah wanita itu selesai


makan.


"Kau tidak makan?" tanya Cessa melihat Grim yang hanya diam dan memperhatikannya.


"Aku cukup melihatmu makan, dan setelahnya aku akan memakanmu," balas Grim.


Kembali wanita itu


memutar bola matanya dan menunjuk kotak makanan lain yang belum


tersentuh. "Makan saja yang itu. Satu kotak ini sudah cukup untukku."


"Tidak perlu. Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan," balas pria itu lagi.


"Kau terdengar seperti Chris saja. Ya sudah kalau tidak mau memakannya. Aku akan meletakkannya di kulkas saja."


Cessa menutup kotak


makanan miliknya dan mengambil kotak lain yang belum tersentuh dan


berjalan kearah dapur tanpa memerdulikan tatapan Grim.


"Kau sudah selesai makan?" tanya pria itu. "Kau bahkan baru makan beberapa suap."


"Aku tidak biasa makan


banyak. Cukup beberapa suapan dan aku sudah kenyang," balas Cessa, "Aku


akan memakannya lagi saat makan malam."


"Hmm ...."


Cessa menoleh kearah


Grim yang masih duduk di sofa dan mengedikkan bahu. Toh, dia bukan orang


yang suka membuang makanan. Jadi lebih baik menyimpannya untuk dimakan


nanti malam. Ia menyimpan semua makanan itu ke dalam kulkas dan kembali


"Kau mau terapinya dimulai sekarang?" tanya Grim saat Cessa tidak juga berbicara atau bergerak.


"Kau serius ingin melakukannya di apartemenku?" wanita itu balik bertanya.


"Tentu saja," Grim berdiri dan mendekati Cessa, "Kau pikir untuk apa lagi aku datang kemari?"


Mata wanita itu menatap


Grim yang berdiri di depannya dan tampak menjulang. Secara alami, Cessa


berusaha mundur dan menjauh dari pria itu, tetapi Grim dengan cepat


menghentikan gerakannya, "Kau masih takut padaku?"


"Kenapa kau suka sekali mendekat tiba-tiba?" balas wanita itu, "Menjauh dariku."


Pria itu terkekeh dan


malah mendekatkan wajahnya pada Cessa. Secara refleks wanita itu


memundurkan wajahnya. "Grim, wajahmu terlalu dekat. Apa kau berniat


menciumku?"


"Aku memang berniat


seperti itu. Karena itu termasuk bagian dari terapimu." Grim mengedikkan


bahu, "Tapi tidak. Aku tidak akan melakukan itu sekarang walau bibirmu


benar-benar menggoda. Berdirilah!"


Grim menjauh dan


membiarkan Cessa berdiri. Kemudian dia menarik tangan wanita itu dan


membuat Cessa duduk di pangkuannya di sofa yang lain.


"Begini lebih baik," Grim tersenyum lebar sementara Cessa memberengut padanya. "Jangan pasang wajah seperti itu, Princess.


Kau harus tahu kalau aku menahan diri untuk tidak langsung menyerangmu.


Terapi kali ini akan kita lakukan perlahan, tidak seperti sebelumnya."


"Kau mulai terdengar


seperti seorang dokter padahal kau hanya bajingan yang mencoba mencuri


kesempatan untuk tidur denganku," balas Cessa.


"Kau tahu, Princess. Bagiku kau itu seperi candu, dan sekarang aku ketagihan untuk terus melihatmu dalam jarak sedekat ini."


"Kau mencoba merayuku?"


"Mungkin," Grim mencium


pipi Cessa, "Tapi, kita masih harus menghilangkan trauma sialanmu itu


dan setelahnya kau bisa mengenalku lebih baik."


"Kenapa kau percaya diri sekali?" ujar Cessa.


"Karena aku bukan orang


yang mau menyerah untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi persiapkan


dirimu untuk belajar menerima sentuhanku," tandas pria itu sebelum

__ADS_1


mencium bibir Cessa dengan lembut dan membuai wanita itu dalam


sentuhannya


***


Cessa membuka matanya


dan mengerutkan kening menyadari dia tertidur di sofa sementara langit


yang terlihat dari jendela apartemennya sudah memerah tanda sore sudah


tiba. Kedua matanya masih mengantuk namun dia mencoba mengingat-ingat


apa yang terjadi sebelum dia jatuh tertidur.


Sentuhan di perutnya


membuat wanita itu menoleh ke belakang dan membelalak. Grim tertidur di


belakangnya sambil memeluk tubuhnya dengan posesif. Sebelah tangan pria


itu menjadi bantal untuk kepala Cessa. Detik itu juga Cessa ingat


tentang terapi yang dilakukan Grim tadi. Pipinya langsung memanas dengan


cepat. Walau mereka tidak sampai telanjang dan melakukan hal yang sama


seperti yang pertama kali, tapi tetap saja, berada dekat dalam jangkauan


lelaki membuat perasaannya campur aduk.


Ciuman kecil membuat


lamunan Cessa buyar. Kembali dia menoleh ke belakang dan melihat pria


yang tengah memeluknya sudah membuka mata sambil tersenyum, "Selamat


pagi, Princess. Tidurmu nyenyak?"


"Ini sudah sore, Grim," balas wanita itu sambil mendengus, "Apa kau tidak lihat langit di luar sana?"


"Aku tak peduli," pria itu mencium pipi Cessa, "Kau manis saat tidur, persis boneka pula."


"Terus saja kau meledekku. Tubuhku memang lebih mungil dibanding rata-rata orang Amerika," dengus Cessa.


"Dan ekspresimu saat marah juga lucu."


Grim lalu bangun dan


membantu Cessa untuk duduk. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan dan


Cessa merasa canggung. Suasana seperti ini benar-benar membuatnya merasa


aneh. Tidak, bukan aneh. Lebih tepatnya ... malu.


Grim yang melihat pipi Cessa agak merona tersenyum jahil, "Kenapa wajahmu memerah?"


"W-wajahku tidak memerah. Kau salah lihat," jawab wanita boneka itu agak terbata.


"Bohong." Grim menyentuh hidung wanita itu dengan jari telunjuknya, "Tidak perlu malu. Apa kau mau terapi ini dilanjutkan?"


"Kau masih mau melanjutkan?" tanya Cessa tak percaya.


"Aku harus, kalau mau


membuatmu terbiasa denganku." balas pria itu, "Jadi ..., tadi kita


sampai mana? Ah ya, benar. Kita hanya berciuman tadi dan kau kubiarkan


bersandar di dadaku sampai tertidur. Sepertinya kau mudah tertidur di


mana saja dan kapan saja, ya?"


"Itu karena pekerjaanku, Bodoh. Kau pikir menjadi desainer itu hanya bekerja di siang hari?" cebik Cessa.


Grim terkekeh dan


menarik wanita boneka itu ke pelukannya, membuat Cessa memekik kaget


sebelum menatap mata Grim yang bersinar jahil.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita lanjutkan sekarang?"


"Chris akan datang sebentar lagi."


"Apa?"


"Chris biasa datang di jam seperti ini," kata wanita itu, "Kau mau mengambil resiko dihajar Chris di sini?"


"Aku akan mengambil resiko," balas Grim.


"Kalau begitu, jelaskan


padaku apa yang sudah kau lakukan pada Cessa." suara itu membuat mereka


berdua menoleh dan keduanya menatap Chris yang berdiri di dekat pintu


ruang tamu sambil bersedekap. Mata pria berambut pirang itu tampak


bersinar berbahaya dan Cessa merengut takut melihatnya.


Di antara semua yang


menakutkan baginya seperti hewan-hewan melata dan serangga, kemarahan


Chris adalah yang paling ia takuti. Dulu ia pernah membuat Chris marah


karena satu hal dan saat itu Chris benar-benar sanggup membuatnya


mengkerut ketakutan. Karena itu Cessa berusaha sebaik mungkin untuk


tidak memancing amarah Chris. Tapi sekarang ...


Grim menatap Chris yang


balas menatapnya dengan tatapan permusuhan, "Kau mau tahu dari bagian


mana dulu? Pertemuan pertama, atau terapi pertamanya?"


Cessa mendelik kearah


Grim yang malah terkesan memanasi Chris. Tangan wanita itu bergerak


mencubit lengan Grim dan membuat pria itu mengaduh kesakitan. Pria itu


balas melotot pada Cessa yang mencebik tanpa suara.


"Cessa, ikut aku. Sekarang," ujar Chris datar.


Tubuh Cessa


menggigilketakutan mendengar nada suara Chris yang datar itu. Sambil


mengigit bibirnyadia berdiri dan mengikuti Chris yang berjalan kearah


dapur, meninggalkan Grimyang menatap mereka dengan kedua alis berkerut


tanda tak suka.


 

__ADS_1


 


__ADS_2