
Cessa menarik nafas
dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Sekarang dia sudah kembali ke
apartemen dan sedang bersantai di ruang tamunya. Hari ini dia tidak ada
kegiatan di butik dan kalaupun ada pelanggan, para pegawainya bisa
mengurus semua itu tanpa dia harus campur tangan. Hanya jika ada pesanan
gaun yang membutuhkan waktu dan konsentrasi tinggi ia akan datang ke
butik untuk mengerjakannya sekaligus mengawasi para pegawai.
Ia merenung ketika
mengingat percakapannya tadi bersama Chris. Ketika dia mengatakan akan
mencoba berkencan dengan Grimvon Verleon, Chris benar-benar tidak senang
dan menyuarakan tidak setuju. Grim pernah membuat traumanya kambuh
sekali dan itu yang membuat Chris khawatir kalau pangeran Verleon itu
akan menyakitinya. Untuk hal ini Cessa benar-benar harus membujuk Chris,
dan dia berjanji pada pria itu jika keadaan malah menjadi lebih buruk,
ia akan menghubungi Chris.
Itu saja sudah cukup
membuat Chris sedikit tenang. Walau masih ragu, Chris menyetujui
keinginan Cessa, dan wanita itu berterima kasih karenanya. Walau
berkencan itu memang hanya rencana, tapi mengingat Grim yang memaksanya
untuk 'terapi' membuat Cessa menggigit bibir bawahnya. Sekali lagi dia
berharap kalau keputusannya ini benar.
"Sekarang, satu masalah sudah beres," gumam Cessa sambil menatap ke depan.
Cessa baru saja akan
berdiri dari duduknya ketika dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia
melirik benda yang ia taruh di atas sofa itu dan melihat nomor yang
menghubunginya di-private. Dia sudah bisa menebak kalau yang
meneleponnya adalah Grim, karena yang tahu nomor ponselnya hanya Chris,
beberapa pegawai kepercayaannya, dan para klien. Ia menyambar ponselnya
dan langsung menerima telepon yang masuk. "Halo?"
"Kau menjawab teleponku setelah dering ketiga. Ini pertanda bagus." suara Grim di seberang telepon membuat Cessa memutar bola matanya, "Princess, bagaimana kalau hari ini kita makan siang bersama?"
"Aku tidak mau," jawab Cessa, "Aku mau bersantai di apartemenku."
"Kalau begitu, aku yang akan ke apartemenmu. Kita lanjutkan terapi kemarin," balas pria itu.
"Apa? Tidak mau!
Kau—halo? Halo?" Cessa menjauhkan ponselnya dan menatap benda itu
seolah-olah itu adalah bom, "Dia gila. Aku sudah bilang aku tidak mau.
Jangan-jangan dia sudah berada di depan pintu saat menelepon tadi?"
Menyadari Grim bisa saja
meneleponnya sambil berdiri di depan pintu apartemen membuat Cessa
berlari kearah pintu dan hendak menguncinya ketika pintu itu terbuka dan
perkiraannya benar-benar menjadi kenyataan. Ia menatap tajam pria yang
tengah berdiri di depan pintu apartemennya dengan senyum di wajahnya.
"Apa ini? Kau bermaksud menyambutku?" tanya pria itu sambil menutup pintu di belakang punggungnya.
"Kau datang tanpa diundang. Pergi sana!" balas Cessa, "Apa kau sudah berdiri di sana saat meneleponku?"
"Aku bahkan sudah berencana menyelinap masuk ke dalam apartemen dan mengejutkanmu." Grim tersenyum lagi.
"Kau benar-benar seperti penguntit. Pergi. Aku mau satu hari ini tenang tanpa dirimu dan terapimu itu!"
"Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, Princess.
Aku sudah datang jauh-jauh kemari untuk mengajakmu makan siang. Dan
jangan menolak. Kalau kau menolak, aku akan langsung menyerangmu di sini
sekarang juga," ujar pria itu, membuat Cessa langsung mengggigil.
"Kau menyebalkan. Aku benci padamu!"
"Terima kasih atas ungkapan sayangmu, Princess. Ayo, kita langsung masuk ke dalam. Aku membawakanmu makanan." Grim berjalan melewati Cessa dan membuat wanita itu gelagapan.
Segera wanita itu
mengikuti Grim ke ruang tamu dan melihatnya mengeluarkan beberapa kotak
makanan dari kantung plastic yang dibawanya. "Kenapa kau bertindak
seolah-olah apartemenku ini adalah milikmu? Aku sudah bilang padamu
untuk pergi dari sini."
"Dan aku juga mengatakan bahwa aku tidak mau ditolak," balas Grim, "Sudahlah. Jangan terus mengomel, Princess. Duduk dan mari makan."
Cessa mengerucutkan
bibirnya dan memilih duduk agak menjauh dari Grim. Matanya menatap kotak
makanan yang ada di meja dan menaikkan sebelah alis. Semua yang ada di
hadapannya adalah makanan kesukaannya. Apa pria ini menyelidikinya
secara menyeluruh hingga tahu apa saja makanan kesukaannya?
Jangan-jangan Grim juga tahu ukuran tubuhnya ....
"Hei, kenapa melamun?"
Suara itu membuat
lamunan Cessa buyar dan terpekik kaget ketika melihat wajah Grim sangat
dekat dengannya. Tangannya mendorong wajah pria itu menjauh sementara
pipinya memerah, "Wajahmu terlalu dekat, Bodoh."
Grim tertawa pelan dan menyodorkan satu kotak makanan pada Cessa. "Makanlah. Aku yakin ini kesukaanmu."
Cessa menerima kotak makanan itu dan menatap isinya sebentar. "Kau menyelidiki tentangku sampai mana?"
"Hm? Apa itu penting?"
__ADS_1
"Tentu saja itu penting bagiku," balasnya, "Katakan saja, kau sudah menyelidikiku sejauh mana?"
Grim menatap Cessa yang
terlihat serius kemudian menyandarkan punggungnya pada punggung sofa,
"Yang jelas penyelidikanku cukup jauh dari perkiraanmu, Princess.
Aku tahu segala hal tentangmu, termasuk rahasia paling gelap yang kau
sembunyikan dari orang lain," dia melirik Cessa lagi, "Karena itu aku
tahu kau pernah diperkosa kakak dan ayah tirimu."
"Oh," Cessa manggut-manggut, "Kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi."
"Bagus," Grim tersenyum lembut, "Sekarang kau makan, setelahnya terapi akan kita mulai."
Cessa memutar bola matanya. "Apa harus kita melakukannya setelah makan?"
"Kau perlu tenaga. Karenanya aku menyuruhmu makan," balas pria itu.
Ucapan Grim membuat
Cessa menggembungkan pipinya persis seperti anak kecil. Wajah bonekanya
semakin terlihat lucu dan membuat pria itu menahan diri untuk tidak
langsung menerkam Cessa saat ini juga. Ketika dilihatnya wanita itu
mulai makan, Grim bernafas lega. Setidaknya godaan tadi hanya sesaat,
dan dia bisa mengambil kesempatan nanti setelah wanita itu selesai
makan.
"Kau tidak makan?" tanya Cessa melihat Grim yang hanya diam dan memperhatikannya.
"Aku cukup melihatmu makan, dan setelahnya aku akan memakanmu," balas Grim.
Kembali wanita itu
memutar bola matanya dan menunjuk kotak makanan lain yang belum
tersentuh. "Makan saja yang itu. Satu kotak ini sudah cukup untukku."
"Tidak perlu. Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan," balas pria itu lagi.
"Kau terdengar seperti Chris saja. Ya sudah kalau tidak mau memakannya. Aku akan meletakkannya di kulkas saja."
Cessa menutup kotak
makanan miliknya dan mengambil kotak lain yang belum tersentuh dan
berjalan kearah dapur tanpa memerdulikan tatapan Grim.
"Kau sudah selesai makan?" tanya pria itu. "Kau bahkan baru makan beberapa suap."
"Aku tidak biasa makan
banyak. Cukup beberapa suapan dan aku sudah kenyang," balas Cessa, "Aku
akan memakannya lagi saat makan malam."
"Hmm ...."
Cessa menoleh kearah
Grim yang masih duduk di sofa dan mengedikkan bahu. Toh, dia bukan orang
yang suka membuang makanan. Jadi lebih baik menyimpannya untuk dimakan
nanti malam. Ia menyimpan semua makanan itu ke dalam kulkas dan kembali
"Kau mau terapinya dimulai sekarang?" tanya Grim saat Cessa tidak juga berbicara atau bergerak.
"Kau serius ingin melakukannya di apartemenku?" wanita itu balik bertanya.
"Tentu saja," Grim berdiri dan mendekati Cessa, "Kau pikir untuk apa lagi aku datang kemari?"
Mata wanita itu menatap
Grim yang berdiri di depannya dan tampak menjulang. Secara alami, Cessa
berusaha mundur dan menjauh dari pria itu, tetapi Grim dengan cepat
menghentikan gerakannya, "Kau masih takut padaku?"
"Kenapa kau suka sekali mendekat tiba-tiba?" balas wanita itu, "Menjauh dariku."
Pria itu terkekeh dan
malah mendekatkan wajahnya pada Cessa. Secara refleks wanita itu
memundurkan wajahnya. "Grim, wajahmu terlalu dekat. Apa kau berniat
menciumku?"
"Aku memang berniat
seperti itu. Karena itu termasuk bagian dari terapimu." Grim mengedikkan
bahu, "Tapi tidak. Aku tidak akan melakukan itu sekarang walau bibirmu
benar-benar menggoda. Berdirilah!"
Grim menjauh dan
membiarkan Cessa berdiri. Kemudian dia menarik tangan wanita itu dan
membuat Cessa duduk di pangkuannya di sofa yang lain.
"Begini lebih baik," Grim tersenyum lebar sementara Cessa memberengut padanya. "Jangan pasang wajah seperti itu, Princess.
Kau harus tahu kalau aku menahan diri untuk tidak langsung menyerangmu.
Terapi kali ini akan kita lakukan perlahan, tidak seperti sebelumnya."
"Kau mulai terdengar
seperti seorang dokter padahal kau hanya bajingan yang mencoba mencuri
kesempatan untuk tidur denganku," balas Cessa.
"Kau tahu, Princess. Bagiku kau itu seperi candu, dan sekarang aku ketagihan untuk terus melihatmu dalam jarak sedekat ini."
"Kau mencoba merayuku?"
"Mungkin," Grim mencium
pipi Cessa, "Tapi, kita masih harus menghilangkan trauma sialanmu itu
dan setelahnya kau bisa mengenalku lebih baik."
"Kenapa kau percaya diri sekali?" ujar Cessa.
"Karena aku bukan orang
yang mau menyerah untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi persiapkan
dirimu untuk belajar menerima sentuhanku," tandas pria itu sebelum
__ADS_1
mencium bibir Cessa dengan lembut dan membuai wanita itu dalam
sentuhannya
***
Cessa membuka matanya
dan mengerutkan kening menyadari dia tertidur di sofa sementara langit
yang terlihat dari jendela apartemennya sudah memerah tanda sore sudah
tiba. Kedua matanya masih mengantuk namun dia mencoba mengingat-ingat
apa yang terjadi sebelum dia jatuh tertidur.
Sentuhan di perutnya
membuat wanita itu menoleh ke belakang dan membelalak. Grim tertidur di
belakangnya sambil memeluk tubuhnya dengan posesif. Sebelah tangan pria
itu menjadi bantal untuk kepala Cessa. Detik itu juga Cessa ingat
tentang terapi yang dilakukan Grim tadi. Pipinya langsung memanas dengan
cepat. Walau mereka tidak sampai telanjang dan melakukan hal yang sama
seperti yang pertama kali, tapi tetap saja, berada dekat dalam jangkauan
lelaki membuat perasaannya campur aduk.
Ciuman kecil membuat
lamunan Cessa buyar. Kembali dia menoleh ke belakang dan melihat pria
yang tengah memeluknya sudah membuka mata sambil tersenyum, "Selamat
pagi, Princess. Tidurmu nyenyak?"
"Ini sudah sore, Grim," balas wanita itu sambil mendengus, "Apa kau tidak lihat langit di luar sana?"
"Aku tak peduli," pria itu mencium pipi Cessa, "Kau manis saat tidur, persis boneka pula."
"Terus saja kau meledekku. Tubuhku memang lebih mungil dibanding rata-rata orang Amerika," dengus Cessa.
"Dan ekspresimu saat marah juga lucu."
Grim lalu bangun dan
membantu Cessa untuk duduk. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan dan
Cessa merasa canggung. Suasana seperti ini benar-benar membuatnya merasa
aneh. Tidak, bukan aneh. Lebih tepatnya ... malu.
Grim yang melihat pipi Cessa agak merona tersenyum jahil, "Kenapa wajahmu memerah?"
"W-wajahku tidak memerah. Kau salah lihat," jawab wanita boneka itu agak terbata.
"Bohong." Grim menyentuh hidung wanita itu dengan jari telunjuknya, "Tidak perlu malu. Apa kau mau terapi ini dilanjutkan?"
"Kau masih mau melanjutkan?" tanya Cessa tak percaya.
"Aku harus, kalau mau
membuatmu terbiasa denganku." balas pria itu, "Jadi ..., tadi kita
sampai mana? Ah ya, benar. Kita hanya berciuman tadi dan kau kubiarkan
bersandar di dadaku sampai tertidur. Sepertinya kau mudah tertidur di
mana saja dan kapan saja, ya?"
"Itu karena pekerjaanku, Bodoh. Kau pikir menjadi desainer itu hanya bekerja di siang hari?" cebik Cessa.
Grim terkekeh dan
menarik wanita boneka itu ke pelukannya, membuat Cessa memekik kaget
sebelum menatap mata Grim yang bersinar jahil.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita lanjutkan sekarang?"
"Chris akan datang sebentar lagi."
"Apa?"
"Chris biasa datang di jam seperti ini," kata wanita itu, "Kau mau mengambil resiko dihajar Chris di sini?"
"Aku akan mengambil resiko," balas Grim.
"Kalau begitu, jelaskan
padaku apa yang sudah kau lakukan pada Cessa." suara itu membuat mereka
berdua menoleh dan keduanya menatap Chris yang berdiri di dekat pintu
ruang tamu sambil bersedekap. Mata pria berambut pirang itu tampak
bersinar berbahaya dan Cessa merengut takut melihatnya.
Di antara semua yang
menakutkan baginya seperti hewan-hewan melata dan serangga, kemarahan
Chris adalah yang paling ia takuti. Dulu ia pernah membuat Chris marah
karena satu hal dan saat itu Chris benar-benar sanggup membuatnya
mengkerut ketakutan. Karena itu Cessa berusaha sebaik mungkin untuk
tidak memancing amarah Chris. Tapi sekarang ...
Grim menatap Chris yang
balas menatapnya dengan tatapan permusuhan, "Kau mau tahu dari bagian
mana dulu? Pertemuan pertama, atau terapi pertamanya?"
Cessa mendelik kearah
Grim yang malah terkesan memanasi Chris. Tangan wanita itu bergerak
mencubit lengan Grim dan membuat pria itu mengaduh kesakitan. Pria itu
balas melotot pada Cessa yang mencebik tanpa suara.
"Cessa, ikut aku. Sekarang," ujar Chris datar.
Tubuh Cessa
menggigilketakutan mendengar nada suara Chris yang datar itu. Sambil
mengigit bibirnyadia berdiri dan mengikuti Chris yang berjalan kearah
dapur, meninggalkan Grimyang menatap mereka dengan kedua alis berkerut
tanda tak suka.
__ADS_1