
Grim menjemput Cessa saat wanita itu baru memasuki butik dan hendak mandi di kamar mandi yang terletak di ruang kerjanya. Sudah menjadi kebiasaan wanita itu bila show akan digelar, dia akan bekerja tanpa henti di butik dan nyaris lupa makan kalau saja suaminya tidak mengingatkan.
Malam ini Grim mengenakan setelan tuksedo berwarna hitam yang melekat pas dengan tubuhnya. Rambutnya juga disisir rapi dan kini pandangan matanya mengarah ke luar jendela. Setengah melamun membayangkan seperti apa gaun yang akan dipakai istrinya kali ini.
Pintu kamar mandi terbuka dan Cessa keluar dengan mengenakan gaun berwarna biru malam yang cukup ketat dan memiliki desain backless di belakang, memamerkan punggungnya yang putih. Walau ketat, tetapi gaun itu berlengan panjang dan roknya mencapai mata kaki. Sepatu dengan heels setinggi 4 cm juga menghiasi kaki wanita itu. Seluruh penampilan Cessa benar-benar menggoda, apalagi rambutnya yang dicat dengan warna merah muda kontras dengan pakaiannya yang gelap.
Melihat penampilan Cessa seperti ini membuat Grim menarik nafas dalam-dalam. Dia perlu melakukan atau mengatakan sesuatu untuk menghilangkan pikiran memasuki wanita itu di sini sekarang juga.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya wanita itu melihat Grim menatapnya lekat-lekat, "Apa gaunku terlihat aneh?"
Grim mengerjap dan berdeham sebelum menjawab pertanyaan istrinya, "Kau terlalu menggoda, Princess. Boleh aku memakanmu sebagai menu utama makan malamku hari ini?"
Cessa mendengus dan melemparkan handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut pada pria itu, "Kita dan hobimu itu benar-benar menyebalkan, Grim."
Grim tertawa dan memperhatikan Cessa menghampiri meja lain di mana sebuah kotak make-up kecil ada di sana. Diperhatikannya wanita itu berdandan dan dalam waktu singkat penampilannya tidak lagi menawan, tapi menakjubkan. Benar-benar membuat Grim ingin menerkam Cessa saat ini juga.
"Hentikan pikiran kotormu itu, Tuan Verleon. Aku tahu kau memikirkan sesuatu yang mesum di kepalamu itu." Kata Cessa tanpa menoleh kearah Grim.
"Aku tidak akan menyangkal kalau aku memang memikirkannya," Grim tersenyum, "Kau sudah siap?"
"Tunggu sebentar," Cessa mengambil botol parfum dan menyemprotkannya ke tubuhnya, "Sekarang aku siap."
Wanita itu berdiri dan mengambil clutch berwarna hitam di dekatnya dan menghadap Grim. pria itu juga bangkit dari duduknya dan menghampiri Cessa, menyodorkan lengannya, "Ayo, kita pergi, Princess."
Cessa tersenyum kecil dan mengalungkan sebelah tangannya pada lengan pria itu dan mereka bersama-sama menuju mobil yang sudah menunggu di depan butik wanita itu.
***
Setiap show yang berlangsung atas nama Princessa Angelia selalu berakhir dengan sukses. Kali ini pun demikian, dan seperti biasa pesta untuk merayakan kesuksesan show itu pun digelar malam itu juga. Sebagai bintang utama malam ini, Cessa menerima banyak pujian dan komentar untuk setiap pakaian yang ditunjukkan dalam show.
Setelah menerima begitu banyak pujian dari para tamu, wanita itu duduk di kursi di sudut ruangan bersama Grim yang terus menemaninya. Pria itu memijit lengannya sambil tersenyum, "Kau lelah?"
"Sedikit. Tapi aku masih harus bertahan setidaknya satu jam lagi," jawab Cessa, "Aku yakin setelah ini aku akan tertidur pulas. Aku terlalu lelah untuk sekedar berdiri."
"Hmm,"
"Apa?" Tanya wanita itu sambil menatap Grim, "Uh-oh, jangan coba-coba mengarahkan pembicaraan ke percintaan kita, Grim."
"Siapa bilang aku akan membicarakan hal itu?" Grim tertawa geli, "Kau terlalu curiga, Princess. Bukankah hal wajar bila kita bercinta?"
"Memang, tetapi aku sering kewalahan menghadapimu saat bercinta." Cessa mendengus, "Kau benar-benar bertindak sebagai dominan dan membuatku lelah setiap saat."
"Oh, kau mau mencoba menjadi dominan?" Tanya Grim balik.
"T-tidak, bukan itu, tapi ... ah, sudahlah. Aku selalu kalah berdebat denganmu."
__ADS_1
Grim terkekeh mendengarnya. Ia membiarkan kepala Cessa bersandar di bahunya. Pria itu cukup sadar banyak pria maupun wanita yang sedang menatap kearah mereka. Yang pria menatap Cessa dengan tatapan penuh minat karena gaun wanita itu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat menggoda, sementara para wanita memperhatikan Grim dan berharap bisa sekedar mengobrol atau mungkin naik ke tempat tidur bersama mereka.
Pandangan seperti itu biasanya membuat Grim bangga dan tanpa malu-malu biasanya akan membalas rayuan mereka, tapi tidak kali ini. Mata dan hatinya sekarang tertuju pada wanita yang duduk di sebelahnya, istrinya. Tangan Grim mengelus punggung Cessa yang terbuka dan membuat wanita itu agak menegang.
"Kau sedang apa?" bisik Cessa.
"Hanya mengelus punggungmu, tidak lebih." Balas Grim, "Punggungmu terlalu terbuka dan aku tidak tahan untuk tidak mengelusnya."
Cessa kembali mendengus mendengarnya tetapi dibiarkannya Grim terus mengelusnya. Ia nyaris yakin kalau dia akan jatuh tertidur ketika dilihatnya Chris menghampiri mereka.
"Kalian ternyata lebih suka berada di sudut ruangan," Chris terkekeh, "Bagaimana keadaanmu, Cessa? Apa kau masih bisa tahan sampai satu jam ke depan?"
"Jujur saja, aku mengantuk." Balas wanita itu sambil tersenyum lebar.
"Dia selalu seperti itu," Chris menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian beralih pada Grim, "Kau tampak tampan, Grim. Pandangan para wanita semuanya tertuju padamu."
"Mau bagaimana lagi, aku tampan dan berkharisma. Kalau sampai ada wanita yang tidak menyukaiku, mungkin mata mereka mengalami gangguan." Balas Grim sambil terkekeh.
Chris tertawa mendengar lelucon Grim. Dia melirik kearah Cessa yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan setengah hati karena mengantuk. Chris ingat kalau Cessa jarang mau tidur larut malam kecuali karena pekerjaan. Sangat jarang Cessa bertahan di sebuah pesta selama lebih dari dua jam karena wanita itu gampang mengantuk.
Grim juga sepertinya menyadari kalau Cessa sudah mulai tertidur. Ia menyentil kening wanita itu. "Jangan tidur dulu. Katanya kau mau bertahan di pesta sampai satu jam lagi."
"Aku benar-benar mengantuk," kata Cessa, "Grim, kita pulang sekarang, ya?"
"Memang," Chris mengangguk setuju, "Kalau kalian ingin pulang lebih dulu, pulanglah. Aku akan mengurus sisanya di pesta ini."
"Baiklah," Grim mengangguk, "Princess, ayo kita pulang sebelum kau benar-benar tertidur di sini."
Cessa berdiri dibantu Grim dan mereka berdua sama-sama keluar dari tempat pesta berlangsung. Selama berjalan Cessa tidak melepaskan pelukannya. Entah kenapa ia benar-benar mengantuk, tetapi dia tidak mungkin tidur sekarang karena harus berganti pakaian dan membersihkan make-up di wajahnya sebelum benar-benar bisa berbaring di atas tempat tidur.
Dan juga ada Grim ....
Cessa memutar bola matanya mengingat Grim tak pernah lelah mengajaknya bercinta. Dia yakin kalau dia tidak akan bisa melewatkan malam ini dengan tenang kalau suaminya menggodanya.
Dan tentu saja, itu yang akan dilakukan Grim saat mereka pulang ke mansion.
***
Pagi hari datang dan Cessa membuka matanya secara perlahan. Tubuhnya terasa pegal, diingatnya kejadian sebelum tidur kemarin dan ia mendengus jengkel. Grim benar-benar tak pernah lelah mengajaknya bercinta. Bahkan kali ini walaupun rasa pegal di seluruh tubuhnya terasa nikmat, tapi ia yakin tidak akan bisa bangun untuk beberapa lam karena lengan suaminya memeluk tubuhnya erat-erat, menjadikannya guling hidup.
"Grim," panggilnya lirih, "Bangun. Sudah pagi."
"Aku masih mengantuk, Princess. Bangunkan aku satu jam lagi." Balas pria itu tak kalah lirih, membuat Cessa memutar bola matanya.
__ADS_1
Ia membalikkan tubuhnya dan menyentil hidung Grim, "Bangun, tukang paksa. Kau punya pekerjaan yang harus kau lakukan di perusahaan, kan?"
"Pekerjaan itu melelahkan. Biarkan aku tidur sebentar lagi sambil memeluk tubuh molekmu ini, Princess."
Cessa berdecak mendengar ucapan Grim yang setengah tidur, "Kau tidak boleh mengatakan hal itu. Lagipula pekerjaanmu masih lebih mudah dibandingkan aku. Sekarang bangunlah. Setelah mandi aku akan membuatkanmu sarapan. Kau mau apa?"
Sebelah mata Grim terbuka mendengarnya dan kemudian menyeringai, "Dirimu."
"Grim, seriuslah!" erang wanita itu.
Pria yang memeluknya itu hanya tertawa, kemudian melepaskan pelukannya sebelum bangkit untuk duduk, "Kau membuatkanku apa pun akan kumakan karena kau yang memasaknya."
"Benar?"
Grim mengangguk, "Ayo, Princess, kita mandi."
Mereka berdua bangkit dari tempat tidur dan bersama-sama menuju kamar mandi. Cessa keras untuk mencegah Grim kembali bercinta dan membuat pria itu menunjukkan ekspresi geli. Setelahnya, mereka turun dari kamar mereka menuju ruang makan, di mana para pelayan sudah siap melayani mereka di sana.
"Aku akan ke dapur membuatkanmu sesuatu," kata Cessa dan mengajak salah seorang pelayan untuk menunjukkan dapur.
Grim memperhatikan wanita itu berjalan menuju dapur yang terletak tak jauh dari ruang makan dan duduk di salah satu kursi. Salah seorang pelayan menuangkan kopi untuknya sembari ia menunggu Cessa selesai memasak di dapur.
Setengah jam kemudian Cessa kembali membawa nampan berisi dua mangkuk sup di atasnya. Wanita itu menghidangkan satu mangkuk sup itu di hadapan Grim dan duduk di samping pria itu. Grim menatap sup di hadapannya dengan kening berkerut, "Sup apa ini?"
"Itu sup jamur dan ayam. Aku tidak tahu apa kau suka sup ini, tapi aku berusaha membuatnya sesuai dengan yang kuingat dari apa yang selalu dimasakkan Chris untukku sebagai sarapan," kekeh wanita itu, "Cobalah. Kuharap rasanya enak."
"Apa pun yang kau masak pasti enak," hibur Grim sebelum mengambil sendok dan membaui sup itu seperti kritikus makanan, "Hmm, baunya enak. Mari kita lihat apa rasanya seenak baunya."
Cessa menatap Grim yang mencicipi sup buatannya. Raut wajahnya tampak cemas. Dia berharap sup pertama buatannya ini cukup enak, mengingat dia jarang memasak walaupun dia pandai dalam bidang tersebut, tapi selama ini Chris biasa membawakan sarapan dari luar atau bekal makanan dari Agatha.
Grim melirik sekilas kearah Cessa diam-diam merasa geli melihat raut wajah wanita itu tampak was-was. Dia berdeham, kemudian meletakkan sendoknya.
"Apa ... tidak enak?" tanya wanita itu gugup.
"Hmmm ...," Grim menyilangkan kedua tangannya, "Jujur saja, rasanya jauh di luar perkiraanku."
Mendengar pernyataan Grim mau tidak mau membuat wajah Cessa makin ditekuk. Dia menghela nafas dan hendak mengambil mangkuk sup Grim ketika pria itu mencegahnya, "Kau sedang apa?"
"Sup buatanku tidak enak, 'kan? Aku mau menggantinya." Jawab Cessa bingung.
"Siapa bilang sup buatanmu tidak enak?" kali ini Grim tertawa geli, "Sup buatanmu enak. Hanya sedikit asin daripada buatan koki mansion."
Mendengar ucapannya,Cessa makin memberengut. Dia hampir saja menyiram Grim dengan sup panas ditangannya sementara pria itu hanya tergelak melihat raut wajah Cessa yang terusberubah-ubah sedari tadi.
__ADS_1