
Grim membawa Cessa ke rumah sakit milik keluarga Verleon dan meminta perawatan yang terbaik bagi istrinya. Ia juga memanggil dokter yang selama ini menangani trauma Cessa dan menjelaskan situasi yang terjadi. Dokter Kristal mengangguk mengerti dan segera bekerja sama dengan dokter lain yang menangani wanita mungil itu.
Chris juga sedang diobati lukanya. Pria itu menolak pergi dari sisi Cessa dan bersikeras untuk terus bersama wanita itu ketika Latiava menyeret Chris keluar dan membiarkan Grim menggantikan posisinya. Karena pria itu sekali lagi menggunakan statusnya sebagai suami Cessa, mau tidak mau Chris menurut. Pria pirang itu sempat melayangkan tatapan penuh peringatan pada Grim yang dibalas pria itu dengan senyum tenang.
Setelah semua orang keluar termasuk Dokter Kristal dan juga dokter keluarga Verleon, Grim menatap Cessa yang masih pucat wajahnya terbaring di atas tempat tidur. Wajah wanita itu tampak lebih tirus dari sebelumnya. Ia diam-diam meringis pedih. Dia tahu semua ini mungkin berawal dari kesalahannya sendiri.
Andai Eve masih hidup...
Grim menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Apa-apaan pikirannya tadi? Seharusnya dia melupakan Eve. Dia sudah punya Cessa dan Latiava. Dua wanita itu sudah cukup untuknya. Tapi ... kenapa dia selalu saja teringat Eve di saat seperti ini?
"... Grim,"
Kepalanya menoleh menatap bibir Cessa. Kening wanita itu berkerut. Mimpi buruk, kah?
"Grim ...," kali ini sebelah tangan Cessa terulur, "... takut ... sendirian ...."
"Sssh, Princess," Grim mengambil tangan Cessa yang terulur, "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut."
"Takut ...," kedua mata Cessa perlahan membuka, dan dia menoleh tepat kearah Grim. Matanya membelalak kaget saat melihat tangannya digenggam oleh pria itu.
Cessa hendak melepas tangannya tetapi Grim terus menggenggamnya. Tenaganya masih lemah sehingga dia hanya bisa memalingkan wajah.
"Kenapa, Princess? Kau malu karena mengigau?" Grim menggodanya.
Pipi Cessa terasa panas. Dia kembali mencoba melepaskan genggaman Grim, tapi tidak ada hasilnya sama sekali.
Grim mengulurkan sebelah tangannya yang lain dan menjangkau pipi Cessa. Wanita itu terdiam merasakan perasaan seperti disengat listrik saat pria itu menyentuhnya. Sial. Kenapa ia makin merindukan Grim seperti ini?
"Princess, setelah ini kita akan pergi berbulan madu,"
Ucapan itu sukses membuat Cessa menolehkan kepalanya, "Apa?"
"Kita akan pergi berbulan madu. Hampir dua tahun kita menikah, tapi kita tidak pernah sekalipun berbulan madu," ujar Grim, " Kita akan pergi berbulan madu sambil menyembuhkan kondisi tubuhmu. Jadi, tinggalkan pekerjaanmu dan kita pergi ke suatu tempat. Kau mau memberikan saran ke mana kita akan pergi?"
"T-tunggu, apa maksudmu aku harus meninggalkan pekerjaanku? Awal tahun depan aku sudah harus merancang show koleksi musim berikutnya!"
"Tinggalkan saja pada Chris. Dia pasti bisa mengatasinya," balas pria itu, "Dia manajermu. Sudah sewajarnya dia menggantikanmu."
"Bukan itu maksudku!" Cessa mengerang, "Bagaimana dengan Latiava. Dia ... dia istrimu juga."
Raut mendung langsung menggelayut di wajah Cessa memikirkan Latiava yang berstatus istri kedua Grim. Walau wanita pirang itu sudah mulai akrab dengannya, tapi status Latiava selalu membuat Cessa meringis pedih.
Grim menggenggam tangan Cessa lebih erat mendengar suara wanita itu, "Latiava pasti tidak akan keberatan. Dia patuh padaku."
"Kau pikir dia anjing yang menuruti majikannya?" sindir Cessa.
"Mungkin. Tapi saat ini aku tidak mau diganggu orang lain saat denganmu," pria itu mencium punggung tangan Cessa yang dibebat perban, "Apa salah jika aku ingin bersama istri bonekaku tersayang?"
"Kau dan rayuanmu itu tidak akan mempan untukku."
"Oh, tapi aku mendengar kau mengigaukan namaku dan mengatakan takut sendirian," Grim tersenyum puas melihat raut wajah Cessa yang terlihat marah, "Karena itu, kau harus mau ikut berbulan madu. Kita juga akan memulihkan kondisi tubuh dan kedua kakimu. Kau tidak mungkin mau terbaring di tempat tidur selamanya, 'kan?"
__ADS_1
"Tidak mau,"
"Karena itu kita akan pergi, segera setelah aku mengurus berkas-berkas di sini dan mungkin lusa kita akan berangkat ke tempat yang ingin kau kunjungi. Kau mau kita berbulan madu di mana?"
***
Chris masuk kembali ke kamar tempat Cessa dirawat dan melihat wanita itu tertidur. Grim entah berada di mana, dan itu lebih baik.
Chris mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Cessa. Mata wanita itu terbuka dan langsung berhadapan dengan mata biru Chris.
"Chris," Cessa tersenyum.
"Kau baik-baik saja?" tanya Chris, "Kakimu ... Glenn yang melakukannya, 'kan?"
"Dia memukul kedua kakiku dengan tongkat baseball yang dipenuhi paku," Cessa menggigil membayangkan rasa sakit hingga mati rasa yang ia rasakan waktu itu, "Dia juga bilang ingin menikahiku."
"Apa!?"
"Dia menyiksaku karena ingin menjadikanku miliknya," Cessa menghembuskan nafas, "Sepertinya aku dikelilingi oleh pria yang tidak normal."
"Kau juga menyindirku?" Chris mengerucutkan bibirnya.
Cessa tertawa, "Kau juga, tapi kau berbeda dalam arti yang khusus."
"Dan apa maksudnya itu?"
Cessa hanya tersenyum. Ia melirik kearah pintu yang terbuka tanpa suara dan Grim masuk ke dalam. Wajah pria itu lagi-lagi tidak enak dipandang. Ia yakin Grim mendengar ucapan tentang Glenn yang ingin menikahinya.
"Kebetulan kau berada di sini, Chris," kata Grim dengan nada biasa, "Aku akan mengajak Princess berbulan madu, dan kami akan berangkat lusa."
Chris yakin mulutnya terbuka lebar mendengar ucapan suami adiknya itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil menutup mata dengan sebelah tangan, merasa kaget sekaligus frustasi.
"Wow, tunggu sebentar, Grimvon. Kau bilang berbulan madu? Setelah dua tahun kalian menikah dan Cessa nyaris mati seperti ini, kau mengajaknya berbulan madu? Apa otakmu masih ada di kepalamu?"
"Tentu saja masih," Grim tidak mengindahkan sindiran pria pirang itu, "Aku mengajak Princess berbulan madu tidak hanya untuk liburan, tapi juga untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Kau tahu sendiri tulang patah di kaki dan lebam di tubuhnya akan sulit hilang jika tidak ditangani dengan benar. Karena itu aku memutuskan untuk membawanya berlibur sekaligus berobat."
"Dan Cessa mengiyakan?" tanya Chris tajam.
"Dia akan menjawabnya setelah mengatakannya padamu," Grim mendecak, "Kau terlihat seperti kakak yang terlalu protektif. Kau tampak menyeramkan."
"Tentu saja aku harus protektif untuk menghindarkan Cessa dari pria sepertimu dan Glenn." Chris mencibir, lalu menoleh kearah Cessa, "Kau serius ingin berbulan madu dengannya? Setelah dia mengurungmu dan membuatmu terluka seperti ini?"
Grim hanya diam. Dia tidak tahu dari mana Chris tahu kalau ia mengurung Cessa. Tetapi matanya terus menatap pada Cessa yang menggigit bibir bawahnya.
"Chris, apa aku boleh pergi dengan Grim?" tanya Cessa setelah cukup lama terdiam.
Chris menyipitkan mata. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, "Kau masih ingin bersama si brengsek ini?"
"A-aku ... kurasa begitu," Cessa menatap Chris takut-takut, "Aku tahu apa yang sudah dilakukan Grim, tapi peristiwa kali ini murni karena kecerobohanku."
Chris masih menatapnya dengan tatapan tajam hingga membuat Cessa makin gugup, "Chris, boleh ya? Kali ini, aku janji aku akan menceritakan segalanya padamu bila aku bersedih atau senang."
__ADS_1
Chris masih diam, dan Cessa menatap pria pirang itu takut-takut. Astaga, ini sama seperti saat kakaknya itu memergoki Grim di apartemennya dulu. Situasinya juga mirip.
"Aku tidak tahu apa kau bodoh atau apa, Lass," kata Chris, "Tetapi kalau kau memang menginginkannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau bahagia, aku juga. Kau bersedih, maka akupun sama."
"Aku mengizinkan, dengan syarat kau harus mau kurawat sebelum pergi dengan pria brengsek yang menjadi suamimu itu,"
"Kenapa kau terus menyebutku brengsek?" tanya Grim tidak terima.
"Karena kau membuat Cessa menjadi begini, seharusnya kau menyadari sendiri hal itu," balas Chris tidak mau kalah.
Grim mendecak dan melihat kearah Cessa lagi, "Dia sudah mengizinkan, dengan syarat yang membuatku ingin sekali langsung membawamu pergi."
Cessa mengangguk pelan, "Kau harus tepati persyaratannya, Grim."
"Iya, iya ..., aku tahu." Grim menghembuskan nafas, "Kalau begitu aku akan menyuruh anak buahku mengurus segala hal yang kita perlukan untuk berbulan madu."
Pria itu sempat melayangkan tatapan tajam pada Chris sebelum keluar. Chris mendecih dan membuat Cessa tertawa lirih, "Kalian juga sudah mulai akrab."
"Hanya karena kau nyaris mati seperti ini," desis Chris, "Ngomong-ngomong, kau belum menceritakan padaku ke mana kau akan pergi dengan Grimvon."
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Kata Cessa, "Dia mengajakku tepat saat aku baru sadar tadi."
***
Grim melihat Latiava berdiri di samping pintu ruangan tempat Cessa dirawat. Wanita pirang itu tampak murung dan mata mereka langsung berhadapan.
"Kau sedang apa, Latiava?"
"Aku ingin memberitahumu kalau dokter yang menangani Cessa ingin berbicara denganmu," jawab Latiava, "Grim, apa kau serius mencintaiku?"
"Kenapa kau malah bertanya begitu?" tanya Grim balik.
Latiava terdiam sebentar, "Apa kau menganggap cintaku sebagai permainan?"
Grim menatap Latiava lekat-lekat, "Kau menguping?"
"Jawab pertanyaanku, Grim." kata Latiava, "Katakan, apa kau juga mencintaiku?"
"Ya, kurasa," balas pria itu, "Kau tahu sendiri saat ini aku mencintai siapa."
Wajah Latiava memucat mendengar ucapan pria itu. Kepalanya menunduk menatap kedua kakinya.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi."
Grim berjalan melewati Latiava saat wanita itu kembali bersuara, "Jika ... jika aku menggunakan segala cara untuk mendapatkan hatimu, apa kau akan balik mencintaiku?"
Langkah Grim terhenti. Ia melirik sekilas punggung Latiava lewat bahunya, "Kurasa kau harus berusaha keras untuk itu. Kau harus ingat, untuk apa kita menikah."
Pria itu kembali melanjutkan langkahnya. Suara sepatu Grim adalah satu-satunya suara yang didengar Latiava saat ini. Raut wajah wanita itu tampak berubah setelah mendengar jawaban Grim barusan. Ia menatap pintu tempat Cessa dirawat dan mengetatkan kedua tangannya.
Sekali lagi, aku merasa kalah.
__ADS_1