
Cessa membuka matanya dan mengerang kesakitan merasakan kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan. Ia melirik ke bawah, kearah kedua kakinya yang dibebat perban dan tampak sekali membengkak. Wanita itu meringis karena merasakan rasa sakit yang sangat tersebut.
Mata Cessa mendongak dan melihat kalau ia masih di tempat yang sama. Kali ini ia meneliti ruangan tersebut dengan lebih jelas. Sebuah ruangan dengan dinding sewarna kayu mahoni, berbagai perabotan yang terbuat dari besi, dan juga sebuah sofa beludru merah marun yang kini ia duduki berada tepat di sebelah sebuah perapian. Entah di mana ia sekarang karena gorden jendela besar di samping perapian tertutup rapat dan tirai tersebut cukup tebal untuk ditembus oleh cahaya matahari.
Kepalanya pening, dan tenggorokannya terasa kering. Cessa ingat ia menjerit kesakitan karena penyiksaan Glenn, dan bagaimana pria itu menciumnya setelah menyiksanya ....
"Kau sudah sadar?"
Tubuh Cessa menegang mendengar suara itu dan kepalanya otomatis menoleh kearah Glenn yang tengah menyesap segelas wine di sisi tempat tidur.
"Nii-sama ...,"
Glenn meletakkan gelas wine di tangannya dan berdiri menghampiri Cessa. Wanita mungil itu kembali menggigil, takut kalau Glenn akan menghukumnya lagi. Tetapi ia terkejut ketika pria itu menggendongnya dan merebahkannya ke atas tempat tidur. Cessa menatap Glenn dengan ekspresi bingung.
"Kau pasti kesakitan karena tidur di sofa semalaman, bukan? Atau kau ingin tidur di pangkuanku?" tanya Glenn.
"T-tidak," Cessa menggeleng cepat. "Tidur semalaman? Sekarang jam berapa?"
Glenn tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Ia menyentuh kaki Cessa yang diperban dan wanita itu mendesis kesakitan, "Sakit?"
Cessa mengangguk takut hingga membuat Glenn terkekeh, "Itu hukumanmu. Aku tidak akan menghukummu lagi kecuali kau bersikap manis dan penurut. Kau bisa melakukannya, 'kan?"
Cessa ingin menyuarakan keberatan, tetapi mengingat kondisinya sekarang, ia tidak mungkin berkata bahwa ia ingin sekali pergi dari sini padahal ia baru saja keluar dari sarang buaya. Karenanya ketika melihat Cessa hanya diam, Glenn menganggapnya sebagai persetujuan. Jemari Glenn sekali lagi menelusuri wajah wanita itu, "Anak pintar."
"Kau lapar? Ingin makan sesuatu?" tanya Glenn.
"Air," jawab Cessa pelan.
Pria itu mengambil segelas air yang disediakan di atas meja. Cessa mengulurkan tangannya hendak meraih gelas tersebut ketika Glenn meminum isinya. Ia belum sempat bertanya ketika Glenn menciumnya dan meminumkan air itu dari mulutnya. Glenn melakukan itu sampai air di dalam gelas habis. Pipi Cessa memerah dan dia yakin bibirnya juga bengkak karena Glenn tidak hanya memberikan minum lewat mulutnya, tetapi juga melumat bibirnya dengan panas dan menuntut.
"Kau terlihat sangat manis, Hime. Sudah lama aku tidak melihatmu, aku sangat merindukanmu." Ujar Glenn.
"Kenapa ... kenapa Nii-sama mencariku?" Cessa memberanikan diri bertanya.
"Sudah jelas untuk menghukummu," balas Glenn, "Dan aku juga ingin menawarkanmu sesuatu. Aku yakin Otousan juga tidak keberatan dengan tawaran yang ingin kuberikan padamu, mengingat pria tua itu sudah berada di dalam tanah."
"A-apa? Otousan ... sudah meninggal? Kenapa?"
"Hm? Tentu saja karena dia sudah tua, 'kan? Kenapa kau masih bertanya?"
Glenn tertawa geli, ia mengelus surai Cessa, "Jadi, sekarang aku yang memegang kendali atas keluarga Lahemian, dan aku bisa melakukan apapun semauku. Termasuk mencarimu dan menikahimu."
Butuh waktu beberapa saat sebelum Cessa mencerna ucapan Glenn. Ketika ia memahaminya, matanya menatap pria yang tidak lain adalah kakak tirinya itu dengan pandangan horror, "Me-menikah?"
"Ya," senyum Glenn kembali terkembang, "Aku tidak ingin kau pergi jauh lagi."
Lidah Cessa terasa kelu. Dia hanya menatap Glenn seolah-olah pria itu sudah gila. Mengabaikan tatapan Cessa yang meragukannya, pria itu mengelus lengan Cessa, "Kau tentu ingin menikah denganku, 'kan? Kau juga mencintaiku."
"A-aku ... aku tidak ...," Cessa menggeleng, "Aku tidak bisa,"
Senyum di wajah Glenn langsung memudar. Matanya menatap tajam wajah Cessa, "Apa katamu?"
"Aku tidak bisa, Nii-sama. Aku sudah menikah."
Wanita mungil itu meringis kesakitan saat rambutnya dijambak oleh tangan Glenn. Pria itu menatap nyalang wanita di hadapannya, nafasnya memburu karena amarah.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi, dan aku akan kembali menghukummu," desis Glenn.
"Nii-sama, sakit ... aaakh!!"
Cengkeraman di rambutnya makin kuat dan membuat Cessa menjerit. Glenn mencampakkan kepala wanita itu dan menindih tubuhnya. Cessa masih mengaduh kesakitan ketika Glenn mencengkeram pergelangan tangan kirinya yang masih terluka dengan kuat.
"Sakit!!"
"Siapa pria brengsek yang merebutmu dariku? Apa itu Chris?"
Cessa menggelengkan kepalanya. Ia menggigt bibir bawahnya menahan rasa sakit dari luka di pergelangan tangan yang terbuka kembali, "Bukan ... bukan Chris,"
"Lalu? Pria mana? Katakan padaku, Hime, atau aku akan membunuhmu di sini sekarang!"
Glenn mencengkeram pergelangan tangan Cessa hingga mengeluarkan darah. Wanita itu menggigit bibirnya kuat-kuat sambil menahan tangis. Glenn benar-benar tidak berubah, selalu menyiksanya sebagai bentuk rasa sayang kepadanya.
Kakak tirinya ini benar-benar sudah gila.
Pria itu mengendurkan cengkeramannya melihat bibir Cessa yang berdarah. Tangannya yang berlumuran darah wanita itu menyentuh bibir dengan ujung jari, "Katakan padaku, Hime. Katakan siapa pria yang menikahimu dan aku akan membunuhnya."
"J-jangan, Nii-sama. Kumohon, jangan bunuh Grim ...."
"Aha, jadi nama pria brengsek itu adalah Grim?" Glenn tersenyum sadis, "Hanya ada satu Grim di benua Amerika ini yaitu Grimvon Verleon. Aku benar, bukan?"
Kali ini Cessa tidak bisa mengatakan apa-apa selain diam menahan tangis.
"Aku akan membunuhnya karena dia menghalangiku memilikimu. Kau mau menungguku, 'kan, Hime?" ujar Glenn lagi, "Tunggulah, maka aku akan membebaskanmu dari pria brengsek yang sudah menodaimu."
Kembali Glenn melumat bibir Cessa sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
***
Pria pirang itu menyuruh detektif itu untuk mencari tahu keadaan dan siapa pemilik vila tersebut. Ia lagi-lagi dibuat terkejut mendapati hasil yang benar-benar tidak pernah ia sangka mengenai pemilik vila tersebut.
Lahemian!
Chris tentu tahu nama keluarga tersebut, karena itu adalah keluarga Cessa sebelumnya. Pria yang membuat wanita mungil itu trauma sedemikian parah juga berasal dari keluarga tersebut, Zared Lahemian dan Glenn Lahemian. Chris masih ingat dengan jelas bagaimana keadaan Cessa setelah mengalami peristiwa yang membuat wanita itu terguncang. Chris bahkan harus terus mendampingi Cessa saat masa-masa terapi yang membuat wanita itu menjerit ketakutan.
Dan kini, keluarga itu kembali muncul, di saat Cessa masih memiliki masalah dengan Grimvon Verleon.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Buru-buru membereskan berkas-berkas di mejanya dan berlari keluar menuju mobilnya. Ia harus menemui detektif sewaannya saat ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Chris juga berharap Cessa masih bisa bertahan sampai ia bisa menemukannya. Jika tidak, mungkin ia akan kembali melihat wanita mungil itu seperti dulu.
"Kumohon, Lass, bertahanlah sampai aku menemukanmu," ujar Chris lirih. Tangannya segera menyalakan mesin mobil dan menuju kantor detektif sewaannya.
***
Latiava baru saja menyelesaikan pemotretan untuk sampul majalah wanita ketika dia mendengar ponselnya berbunyi. Sambil menunggu make-up artist-nya memperbaiki riasannya ia mengambil benda berbentuk persegi panjang tersebut dan melihat ada sebuah pesan dari Chris.
"Chris? Tumben sekali dia mengirimiku pesan," gumamnya sambil membuka pesan tersebut.
Keningnya berkerut ketika membaca pesan itu. Sedetik kemudian dia menekan nomor Grim dan meneleponnya. Tapi detik berikutnya ia termenung.
Cessa diculik dan kini tidak ada yang mengganggunya bersama Grim. pikiran itu terbersit dalam benaknya.
__ADS_1
Latiava kembali memikirkan bagaimana Grim selalu menyuruhnya untuk terus mengawasi Cessa dan memperhatikannya. Walau ia selalu melakukannya, tetapi ia tidak pernah benar-benar ingin mengawasi wanita mungil itu setiap saat. Memangnya dia siapa? Pengasuhnya?
Dengan pikiran itu, Latiava menutup telepon sebelum Grim sempat mengangkatnya. Ia meletakkan ponsel kembali ke atas meja di dekatnya dan menatap ke depan. Baginya, ini adalah kesempatan untuk mendominasi Grim tanpa harus repot mengawasi Cessa.
Toh, yang rugi bukan dirinya. Malah sebaliknya, ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan.
***
Cessa meringis saat Glenn memeluknya terlalu erat. Ia menatap wajah Glenn yang berada di perutnya. Pria itu memejamkan mata dan nafasnya terdengar teratur, tertidur. Glenn tidak mau melepas Cessa seperti anak kecil yang tidak mau dipisahkan dari mainannya.
Mata Cessa melihat ke sekelilingnya. Tidak ada jam, gorden tertutup rapat, dan tas hitam kecil berisi ponsel dan dompetnya terletak cukup jauh dari jangkauan. Glenn benar-benar orang yang teliti. Pria itu pasti tahu kalau ia akan mencoba menghubungi seseorang bila ada ponsel di dekatnya.
"Akh ...," Cessa kembali meringis saat tangan Glenn menyingkap gaun tidurnya, mengelus kakinya yang dibebat perban dan belum sempat ditangani dokter.
"Masih terasa sakit?" bisik Glenn sambil mendongak.
Cessa hanya diam dan memalingkan wajah ke arah lain. Glenn terkekeh dan kembali menyentuh kaki wanita itu hingga jeritan tertahan melompat keluar dari bibir Cessa.
"Kau tidak perlu berbohong, aku tahu rasanya sakit," ujar Glenn, "Kau tahu, ini hukuman karena kau sudah berani kabur dariku."
Glenn bangun dan membantu Cessa duduk di pangkuannya. Saat ini Cessa tidak punya kekuatan untuk melawan. Dalam kondisi seperti ini dia hanya bisa diam dan bertindak bak boneka penurut. Memikirkannya saja membuatnya teringat pada Grim.
Ah ..., kenapa ia teringat pada suami yang membuatnya sakit hati untuk ke dua kali?
Glenn mengelus surai Cessa yang berwarna merah muda. Ia tahu kebiasaan Cessa yang selalu mengganti warna rambutnya sejak masih sekolah. Pria itu juga tahu kebiasaan Cessa yang lain, yang selalu ia perhatikan bahkan saat ia masih sama-sama remaja dan mau mengikuti perintah ayahnya.
Bahkan perintah untuk memperkosa Cessa pun ia turuti karena saat itu kematian ibunya adalah pemicu yang membuatnya bertindak kasar pada wanita mungil di pangkuannya itu.
"Nii-sama, kau bilang Otousan sudah meninggal ...," kata Cessa, "... kapan?"
"Tiga tahun lalu. Aku yang membunuhnya dengan racun."
Tubuh Cessa langsung menegang mendengarnya. Glenn mengucapkannya seolah-olah membunuh adalah hal yang wajar. Ini sama persis seperti keluarga Verleon. Dalam hatinya, Cessa berpikir mengapa ia selalu terlibat dengan keluarga yang mudah melayangkan nyawa seseorang. Karma, kah? Atau ... memang ini sudah takdirnya?
Glenn memeluk wanita mungil itu erat-erat, "Besok aku juga akan mencari tahu di mana Grimvon Verleon dan langsung membunuhnya di tempat, jadi aku bisa bebas memilikimu." bisiknya di telinga Cessa.
"Jangan, Nii-sama. Kumohon ...,"
"Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?"
"Aku ... aku butuh waktu," ujar Cessa mencoba berbohong, "Aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Bisakah kau tidak mencari Grim dulu? Nii-sama bilang sudah lama tidak bertemu denganku. Apa kau tidak mau bersamaku dulu?"
Cessa tahu kalau kata-katanya tidak masuk akal. Tapi dia tidak ingin Grim dan Glenn bertemu, apalagi sampai saling membunuh. Cessa mengetahui tabiat mereka berdua, penuntut, pemaksa, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Bahkan membunuh pun akan mereka lakukan demi mencapai tujuan mereka.
Glenn mengecup kening Cessa, "Kau harus mau menungguku. Setelah semua berakhir, kita akan menikah. Kau menyukainya, 'kan?"
Menyukainya? Benarkah dulu ia ingin hidup bersama dengan pria ini? Pria gila yang mudah menyakitinya demi menunjukkan rasa sayang?
Glenn kembali merebahkan Cessa dan bangkit dari tempat tidur, "Aku akan pergi sebentar. Kau tetaplah di sini, aku akan kembali."
Cessa melihat Glenn menghilang dari balik pintu. Setelahnya, ia menatap langit-langit yang dihiasi lukisan awan dan langit biru. Pikirannya memikirkan Grim yang mungkin sedang mencarinya sambil memasang raut wajah marah. Dia juga membayangkan Chris yang mungkin siap mengomelinya bila tahu dia bertindak ceroboh dan berakhir diculik oleh Glenn.
Diam-diam Cessamerindukan kedua pria itu.
__ADS_1