The Hope

The Hope
Chapter 04


__ADS_3

Cessa mengembuskan nafas dan menatap hasil karyanya yang terpajang di manekin di hadapannya. Gaun sewarna gading itu tampak memukau dengan beberapa hiasan mutiara yang membentuk bunga mawar kecil di setiap ujung gaunnya. Lengannya yang panjang dan membentuk lengan terompet juga tak kalah indah, dilengkapi dengan sebuah tudung pengantin dengan hiasan bunga mawar dan lili putih seukuran bunga asli membuat gaun tersebut tampil begitu cantik bahkan memukau orang-orang yang melihatnya. Satu karya lagi yang sesuai dengan pesanan kliennya membuat Cessa tersenyum lebar. Ia langsung meminta salah satu pegawainya mengepak gaun itu dan mengirimkannya secepat mungkin.



Dering ponsel di atas meja membuat Cessa menyambar benda persegi panjang itu dengan sebelah tangan dan langsung menerima telepon yang masuk.



"Halo?"



"..."



"Apa tidak bisa ditunda? Saya sedang mengerjakan gaun-gaun yang lain."



"..."



Cessa mengerjap mendengar suara di seberang telepon. Lama dia diam mendengarkan ucapan si penelepon dan kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan keras, mengakibatkan beberapa pegawai dan anak magang di dekatnya menoleh kearahnya sekilas. Ia lalu menutup telepon dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.



"Melanie," Cessa memanggil salah satu pegawainya, "Hari ini Chris tidak datang?"



Pegawainya yang bernama Melanie dan sedang mengerjakan aksesori dari berlian di meja di dekat Cessa menggelengkan kepala, "Tidak, Nona. Tuan Chris hanya berpesan kalau dia baru akan datang sekitar dua hari lagi."



"Hmmm ...." Cessa manggut-manggut. "Kalau begitu, bila dia tiba-tiba datang kemari, suruh saja untuk pulang. Aku harus menemui seseorang sekarang."



"Baik, Nona."



Cessa membereskan barang-barangnya dan mengambil mantel tebal di dekatnya. Dia memberitahu semua pegawai dan anak magang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat dan beristirahat karena jam makan siang sudah tiba sejak tadi. Cessa sendiri melangkah keluar dari ruangan dan menuju lift untuk turun ke lantai bawah. Wanita itu keluar dari butiknya dan menyusuri jalan kota New York. Embusan nafas yang ia keluarkan berubah menjadi asap putih karena cuaca yang dingin. Beruntung flu-nya sudah tidak separah beberapa hari lalu, dan dia bisa pergi ke mana saja tanpa perlu diantar oleh Chris atau salah satu pegawainya.



Cessa berjalan menghampiri salah satu Starbuck dan memesan kopi caramel. Dia tidak bisa mentolerir kopi pahit atau kopi murni dan lebih memilih minum-minuman yang dicampur dengan manisan atau gula. Sejak kecil Cessa suka dengan makanan manis terutama coklat. Karena itu dia selalu punya persediaan coklat di rumahnya, bahkan di dalam kamarnya sekalipun ada kulkas khusus yang memuat minuman dan makanan mengandung coklat. Dia tidak terlalu peduli dengan anggapan orang-orang yang menganggap dia seperti anak kecil karena suka coklat. Toh, ini hidupnya. Dia tidak akan mau orang lain mengubah hidupnya hanya karena satu alasan kecil.



Cessa membayar kopi caramel yang dipesannya dan keluar dari toko itu, kembali berjalan ke suatu tempat di mana orang yang tadi meneleponnya ingin bertemu.



Kaki Cessa melangkah melewati sebuah taman yang sering dikunjungi oleh para pejalan kaki. Dia melewati taman itu tanpa memperdulikan beberapa pasang mata pria yang melihatnya dengan tertarik. Cessa sudah terbiasa dengan semua pandangan itu. Sejak kecil dia selalu mendapat tatapan serupa dan hingga kini pun dia masih tetap mendapatkannya.



Ia kemudian sampai di sebuah kafe kecil yang terletak tidak jauh dari taman. ketika membuka pintu, bunyi denting halus dari bel yang terpasang mampu menarik perhatian satu-satunya pengunjung kafe itu. Dia lalu menghampiri satu-satunya pelanggan itu dan duduk di hadapannya.



"Maaf aku terlambat. Kau tahu sendiri aku paling benci diganggu ketika bekerja." kalimat Cessa menggantung ketika melihat siapa yang duduk di hadapannya kini. "Kau—"



Grim yang duduk di hadapan Cessa tersenyum dengan sebelah bibir, "Kita bertemu lagi, Nona Princessa." Katanya.


__ADS_1


Cessa mengerjap bingung dan tidak percaya. Bukankah yang tadi meneleponnya adalah salah seorang klien yang memaksa ingin bertemu di kafe ini? Tapi kenapa yang muncul malah pria Verleon ini?



"Sedang apa kau di sini?" tanya Cessa tajam.



"Menunggumu, tentu saja." Grim menopang dagunya dengan sebelah tangan, "Tidak kusangka kau benar-benar datang. Sepertinya aku harus sering meminta bantuan salah satu relasiku yang menjadi klien tetapmu."



Grim terkekeh melihat wajah Cessa yang tampak dingin dan berbahaya. Wajah boneka Cessa terlihat lucu dan tidak cocok saat ia marah seperti ini. Terlalu manis. Grim heran kenapa banyak orang mengira wanita di hadapannya ini adalah wanita yang ramah namun tak pernah berbasa-basi dalam bekerja, padahal di hadapannya, wajah penuh kekesalan dan amarah-lah yang dia lihat dari wajah Cessa.



"Jika kau terus memasang wajah seperti itu, aku khawatir wajah bonekamu malah membuat pria mana pun yang melihat akan membawamu ke salah satu sudut gelap New York dan memerkosamu seharian."



Cessa menatap Grim dengan mata disipitkan. Ucapan pria ini benar-benar membuatnya muak. Apa pria ini tidak pernah diajari sopan santun ketika berbicara pada wanita? Atau mungkin karena dia terlalu sering bergonta-ganti pasangan sehingga hal tersebut adalah sesuatu yang biasa untuk diucapkan? Entahlah. Cessa tidak mau peduli, dan dia tidak ingin duduk lebih lama lagi. Dia kemudian berdiri dan hendak berjalan pergi ketika tangannya ditahan oleh Grim.



"Kau mau ke mana? Aku sudah memesankan makanan untuk kita." kata pria itu, "Duduklah dulu, temani aku mengobrol."



"Kau bisa mengajak teman kencanmu yang lain, Tuan Verleon. Aku sibuk." balas Cessa dingin, "Lepaskan tanganku."



"Tidak mau." Grim tersenyum lebar, dengan sekali sentak, ditariknya Cessa hingga jatuh ke pangkuannya. Wanita itu membelalak tidak terima dan berusaha berdiri, namun sialnya kedua tangan Grim sudah melingkari pinggangnya dan memeluknya erat.



"Lepaskan aku! Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak menyentuhku!" kata Cessa, "Kau ini benar-benar tuli, ya?!"




"Hm? Rupanya tubuhmu bisa bereaksi seperti itu." bisik Grim, "Boneka yang manis adalah boneka yang penurut."



Gigi Cessa gemeretak. Dia kembali mencoba menepis kedua tangan Grim yang melingkari pinggangnya tapi lagi-lagi tidak berhasil. Dari sudut matanya, dia melihat beberapa pelayan kafe menghampiri mereka dengan membawa kereta dorong yang berisi makanan entah berapa banyak. Tiga orang pelayan itu meletakkan makanan-makanan tersebut di atas meja tanpa melihat kearah mereka, seolah-olah apa yang sedang dilakukan oleh Grim padanya tak terlihat.



Selesai menyajikan makanan, mereka pergi dan kini tinggal Cessa dan Grim lagi. Cessa menoleh kearah Grim dengan sorot mata penuh amarah.



"Lepaskan aku sekarang, Tuan Verleon. Aku bisa mematahkan tanganmu jika aku mau." desis wanita itu, "Lepaskan. aku. sekarang!"



Grim hanya tersenyum lebar, tidak terpengaruh dengan ancaman Cessa. Sebaliknya, Grim malah menggendong Cessa ala bridal style dan mendudukkannya di kursi di sampingnya. Mata tajam Cessa tak lepas dari wajah Grim yang tersenyum tak berdosa padanya.



"Kau benar-benar seorang pemaksa, bebal, tuli, dan tidak punya etika." Kata Cessa mencemooh. "Katakan saja tujuanmu memanggilku ke sini lewat klien-ku."



"Makanlah. Aku sudah memesankan semua ini untukmu. Untuk kita lebih tepatnya." Kata Grim sambil mengangkat cangkir kopinya, "Sudah pernah kukatakan bahwa aku akan membuatmu tertarik padaku, salah satunya dengan cara ini."



***

__ADS_1



Grim tertawa dalam hati melihat ekspresi kesal dan amarah yang terlihat jelas di wajah Cessa. Suatu hiburan tersendiri melihat wajah cemberut dan aura membunuh yang mengimintidasi. Sama seperti perempuan itu...



Kenapa di saat seperti ini dia kembali teringat pada wanita itu?



"Makan." Kata Grim menyodorkan satu piring berisi spageti ke hadapan Cessa, "Atau kau ingin kusuapi seperti boneka sungguhan?"



"Kau benar-benar pintar menghina dan memuji di saat bersamaan rupanya." Kata Cessa, "Tapi terima kasih, Tuan Verleon, aku sedang diet."



"Diet apa? Tubuhmu sudah pendek, seperti siswi high school pula." Grim menyorot lekuk tubuh Cessa lekat-lekat, "Tapi setidaknya dada dan bokongmu lumayan. Suatu hal langka wanita semungil dirimu punya ukuran dada dan bokong yang sempurna."



Cessa merasakan pipinya memerah karena malu dan geram. Sekali lagi, Grim menghina sekaligus memujinya di saat bersamaan. Walau kata-kata manis yang keluar dari mulut pria itu bisa dibilang adalah pujian, tetapi makna yang terkandung dalam setiap ucapannya itu seperti bisa ular. Mematikan. Cessa mendengus lagi. mendorong piring makanan di hadapannya menjauh dari pandangan.



"Aku sudah bilang aku tidak lapar. Sekarang, biarkan aku pergi dan jangan ganggu aku."



Grim mendecak. Wanita boneka ini benar-benar menguji kesabarannya. Dia harus bersabar agar Cessa tertarik padanya. Tapi bagaimana caranya sementara Cessa lebih memilih memasang dinding permusuhan seperti sekarang? Ah, tidak. Dia harus mendapatkan Cessa. Harus. Karena kalau tidak, dia tidak akan bisa tenang setiap malam. Jika bisa, Grim akan membawa Cessa secara paksa ke mobilnya, dan menyetubuhinya di sana sampai dia puas.



Grim berdeham. Dia menatap Cessa lekat-lekat dengan tatapan tajam andalannya. "Tidak. Kau harus menemaniku makan dulu, baru aku akan melepaskanmu." ujar Grim, "Sekarang makan. Atau aku tidak akan segan-segan menyetubuhimu di sini, saat ini juga."



"Kau mengancanku?" Cessa mendelik, "Kau sadar kau sedang berhadapan dengan siapa?"



"Itu seharusnya kata-kataku, Nona Princessa." Jawab Grim tenang, "Kau seharusnya sadar sedang berhadapan dengan siapa, Grimvon Verleon yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah."



Cessa membuka mulut hendak membalas, tapi kemudian menutupnya lagi. Dia membuang muka ke arah lain dan mencibir tanpa suara. Jengkel. Dia benar-benar tidak mengerti bagian mananya dari Grimvon Verleon yang disukai oleh para wanita. Bahkan beberapa pegawainya adalah penggemar berat dari putra kedua Verleon ini. Benar-benar gila. Situasi macam apa yang membuatnya terjerumus ke dalam kondisi seperti ini?



Melihat Cessa yang tak juga menyentuh makanannya, Grim meletakkan cangkir kopi di tangannya dan menarik tangan Cessa hingga membuat wanita itu tersentak kaget.



"Sudah kubilan jangan sen—" Cessa terpekik kaget ketika Grim menggendongnya dengan gaya bridal style lagi. "Kau mau apa lagi sekarang? Turunkan aku!"



"Kau berisik sekali, Princess. Tenang saja. Aku belum berniat untuk menerkammu, belum." Grim tersenyum lebar, "Tapi saat ini aku tidak sabar untuk mencicipi bibirmu lagi."



Cessa mendelik mendengarnya. Dia berusaha melepaskan diri dari Grim tapi pria itu dengan mudah menahannya dan menggendongnya keluar dari kafe menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Grim mendudukkan Cessa di bangku penumpang dan sebelum wanita itu sempat melakukan apa pun, dia menutup pintu di depan Cessa sementara dia sendiri memutari mobil menuju kursi pengemudi.



"Apa yang mau kau lakukan, Tuan Verleon? Kau mau membawaku ke mana?"



Grim yang baru saja masuk ke dalam mobil segera memencet tombol pengunci hingga semua pintu mobil terkunci dan tertutup rapat. Cessa mendengar bunyi 'klik' yang menandakan semua pintu mobil terkunci dan membuat wajahnya agak memucat. Grim melihat perubahan raut wajah Cessa dan tersenyum, "Sekarang, bagaimana kalau aku mencicipi bibirmu lagi, bonekaku?"

__ADS_1


__ADS_2