
Cessa tidak mau terlena dengan ciuman Grim. Sekuat tenaga dia mendorong tubuh pria itu dari tubuhnya tetapi malah berakhir duduk dengan kedua kaki mengangkangi pria itu. Ciuman Grim makin dalam dan lidahnya sudah bermain dengan lidah Cessa. Wanita itu tersedak, merasakan keintiman yang disalurkan pria itu lewat lidah dan aura panas dari tubuhnya.
Tidak ... tidak ... berhenti!!
Kali ini Cessa kembali mendorong Grim dan ciuman itu terlepas. Wajah Cessa sudah memerah dan ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan sementara Grim tersenyum lebar dan menarik Cessa lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan.
"Kenapa, Princess? Kau ingin lebih? Sepertinya aku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman tadi." Ujar Grim.
Cessa menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan berusaha berdiri. Matanya menatap tajam Grim yang tersenyum kearahnya. Grimvon Verleon benar-benar iblis, pikirnya. Cessa harus cepat-cepat pergi dari sini kalau tidak mau Grim kembali menyerangnya. Membayangkannya saja sudah membuat Cessa merinding. Belum lagi Grim sudah dua kali menciumnya. Pipi Cessa kembali memanas. Pria seperti Grim adalah makhluk yang harus dihindarinya kalau dia ingin hidup tenang.
"Kau bajingan, Tuan Verleon." Kata Cessa, "Kuharap aku tidak pernah bertemu dengnamu lagi!"
Wanita itu kemudian berbalik dan keluar dari ruangan itu. Grim menatap kepergian Cessa dengan alis terangkat sebelum tertawa terbahak-bahak. "Ah, menarik sekali ..., aku jadi tidak sabar menanti hari di mana aku bisa menaklukkannya."
***
Cessa berjalan cepat, nyaris berlari keluar dari lingkungan Arterion University dan menghentikan sebuah taksi yang lewat. Ia langsung masuk dan menyebutkan nama apartemennya. Hal terbaik yang harus dia lakukan saat ini adalah pulang ke apartemennya terlebih dulu, membersihkan diri dari sentuhan Grim yang membuatnya merinding. Cessa harus menghubungi Melanie atau salah satu pegawai di butiknya kalau ia langsung pulang dan meminta mereka untuk menutup butik di jam biasa.
Tangannya merogoh tas yang dia kenakan dan mengerjap melihat ada sekitar sepuluh missed call dan tujuh pesan dari Chris. Dibukanya satu-persatu pesan dari pria itu dan memekik pelan, mengagetkan supir taksi yang menatapnya dengan penasaran.
Cessa, aku sudah berada di apartemenmu. Cepat kau pulang atau aku tidak akan segan-segan menerkammu saat kau pulang terlambat setelah aku mengirim pesan ini.
Chris
Double shit. batin Cessa. Kenapa hari ini semua pria yang ia tahu mendadak ingin menerkamnya? Cessa merasakan kelelahan luar biasa setelah membaca pesan Chris tersebut dan berniat untuk pergi ke tempat lain saat taksi yang ditumpanginya mulai memasuki kawasan real estate di mana apartemennya berada.
Hell, kenapa rasanya jarak antara apartemennya dan Anterion University sangat dekat sampai-sampai dia tidak sadar sudah berada di kawasan apartemennya? Terkadang Cessa ingin mengutuk ketidak-pekaannya pada waktu, dan sekarang sudah terlambat untuk menghindar dari managernya yang walaupun dia anggap seperti teman dan keluarga, tapi pria tetaplah pria. Lawan jenis yang membuat Cessa selalu tidak nyaman jika berada di dekat mereka.
Wanita itu kemudian memaksakan diri untuk keluar dari taksi saat sampai di depan pintu gedung apartemennya. Setelah membayar dan berbalik, dia melihat Hudson, petugas keamanan paruh baya yang berjaga di depan pintu gedung apartemen.
"Anda dicari oleh Tuan Scott, Miss." Kata Hudson ketika Cessa berjalan mendekatinya, "Sekarang dia sudah berada di apartemen Anda."
"Aku tahu, Hudson. Terima kasih sudah memberitahuku." Balas Cessa, "Ingatkan aku untuk membuatkanmu pudding atau cemilan yang bisa kau makan saat makan malam nanti."
__ADS_1
Hudson tersenyum sopan dan mengangguk. Membiarkan Cessa lewat dan langsung masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Cessa bersandar pada dinding dan mengembusakn nafas dengan keras. Ia kemudian menatap layar ponselnya lagi. Chris mengirimkan pesan yang terakhir dua jam sebelumnya. Itu artinya Chris sudah menunggunya selama dua jam. Dan salahkan hal itu pada Tuan Grimvon Verleon yang menculiknya secara paksa. Sekarang, Cessa harus menghadapi Chris yang walaupun tidak semengerikan Grim sifatnya, tapi cukup untuk membuat Cessa berpikir ulang untuk memicu amarah pria yang sudah menemaninya selama sepuluh tahun itu.
Denting halus dari lift dan pintunya yang terbuka mengalihkan pikiran Cessa. Dia lalu melewati koridor menuju pintu apartemen miliknya dan langsung membukanya. Toh Chris sudah masuk ke apartemennya lebih dulu, sudah pasti pintunya tak lagi terkunci. Ia melepas sepatu botnya dan berjalan menuju ruang tamu yang dihiasi satu set sofa kulit berwarna putih dan meja dari kaca. Karpet bulu halus berwarna putih melapisi lantai dari marmer berwarna hitam. Seperangkat audio theater dan televisi LED berukuran besar terpasang di dinding menghadap sofa. Ada juga bar mini di sudut ruang tamu yang mengarah langsung ke dapur. Dan ke sanalah tujuan Cessa.
Dia melemparkan tas dan mantelnya ke sofa dan menuju dapur. Matanya melihat Chris berdiri di depan kompor dan sepertinya sedang memasak sesuatu. Begitu mendengar langkah kaki Cessa, pria itu menoleh. Tatapan matanya tajam menatap Cessa, sayangnya wanita itu kebal dengan tatapan mata Chris yang sebenarnya bisa dibilang mematikan untuk sebagian besar kaum wanita.
"Kau pulang terlambat." Kata Chris. "Ke mana saja?"
"Aku diculik paksa." Desis Cessa sambil duduk di salah satu kursi, "Jangan membuatku menceritakan tentang ini. Aku sedang dalam mood yang tidak bagus."
"Dan aku juga sedang bad mood." Balas Chris datar, "Kau tidak menjawab telepon dan pesanku. Memangnya siapa yang menculikmu?"
Cessa merinding mendengar nada bicara Chris yang seperti ini. Matanya menatap Chris yang kini sedang menuang spageti dan hiasannya berupa daging cincang dan saus, kemudian menghidangkannya di depan Cessa.
"Apa aku harus memberitahumu?" kata Cessa menatap Chris, "Aku tidak yakin aku akan selamat darimu kalau aku memberitahumu siapa yang menculikku."
Chris menaikkan sebelah alisnya sambil melepas celemek yang dia pakai. Ditaruhnya benda itu di atas punggung kursi miliknya dan duduk menatap Cessa. "Well, lass, seharusnya kau tahu kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku. Aku managermu."
"Tenang saja, Chris. Walau tadi aku diculik paksa, setidaknya aku tidak terluka atau apa, jadi kau tidak perlu khawatir." Kata Cessa sambil menatap piring berisi spageti di hadapannya, "Kenapa kau masak spageti?"
"Karena hanya itu yang kutemukan di lemari makananmu. Sudah berapa lama kau tidak pergi belanja bulanan?" kata Chris.
Cessa memiringkan kepalanya, mengingat-ingat, "Kurasa ... hampir dua bulan. Selama ini aku selalu makan di luar." jawab Cessa.
"Dan itulah masalahmu." Chris menghela nafas, "Makan spagetimu dan setelah ini kita pergi belanja bahan makanan. Jangan membantahku. Kita juga masih punya urusan yang harus diselesaikan, terutama soal model pengganti untukmu."
Senyum Cessa terkembang lebar mendengarnya, "Benarkah? Siapa model penggantinya?"
"Makan dulu makananmu, baru kita bicara." kata Chris mulai memakan spageti bagiannya, "Habiskan semuanya atau aku akan membuatmu makan makanan hijau selama sebulan penuh."
"Hei, aku bukan anak kecil yang harus ditakuti dengan ancaman seperti itu." kata Cessa mencibir, "Kenapa kau terus memperlakukanku seperti anak kecil?"
"Karena kau memang wanita dewasa bertubuh gadis kecil yang bisa membuat pria manapun berpikiran untuk menyeretmu ke tempat tidur mereka dan melakukan hal-hal apapun yang mereka inginkan."
__ADS_1
Cessa terdiam mendengar ucapan Chris. Kenapa ucapan pria itu juga sama dengan ucapan Grimvon Verleon? Mereka berdua sama-sama mengancamnya dengan kalimat seperti itu.
"Tidak perlu. Biar aku sendiri saja yang membeli bahan makanan." Ujar Cessa, "Aku bisa melakukan hal itu sendiri, jadi kau tidak perlu repot-repot."
Chris hanya menatap Cessa, kemudian mengedikkan bahu, "Kalau begitu, kita bisa membicarakan hal lain."
"Hal seperti apa? Ngomong-ngomong, siapa model pengganti yang akan menjadi model utamaku?" tanya Cessa.
"Itu bisa kita bicarakan nanti, yang akan kita bicarakan ini lebih penting daripada model pengganti untukmu." Balas Chris.
"Memangnya ada hal yang lebih penting selain itu?" Cessa memutar bola matanya. "Kau tahu aku was-was kalau aku harus menjadi model utama dalam acaraku sendiri. Aku tidak berniat mempermalukan diriku sendiri di saat show nanti."
Chris tertawa mendengarnya. Dia menatap Cessa yang memakan spageti buatannya lekat-lekat, "Tapi kau tahu kau cukup manis dan seksi andai tubuhmu lebih tinggi sedikit."
"Kau bermaksud menghinaku, Chris?"
"Kurang lebih." Chris menyeringai. "Mengenai hukumanmu, ada hukuman yang harus kuberikan padamu karena pulang terlambat." Chris menyeringai ketika melihat wajah pucat Cessa, "Jangan harap aku akan membiarkanmu kabur, lass. Sudah kubilang suasana hatiku sekarang juga sama buruknya denganmu."
Cessa yang mendengarnya hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Dia baru keluar dari satu masalah, masalah yang lain menghampirinya dengan cepat. Sial. Cessa menghabiskan makanannya dengan cepat dan baru akan beranjak mengambil mantel di ruang tamu ketika Chris memanggilnya.
"Kau mau ke mana? Aku sudah bilang kalau aku harus memberikanmu hukuman, kan?" kata pria itu.
"Chris, hukumannya bisa ditunda? Aku mau membeli bahan makanan, seperti yang kau suruh—"
"Sssh ..., yang terpenting sekarang adalah hukumanmu." Kata Chris, "Ikut aku ke kamarmu. Sekarang."
Cessa ingin membantah, tapi melihat raut wajah Chris yang mengerikan membuat wanita itu merengut. Ia berjalan melewati Chris sambil mengentak-entak kakinya seperti anak kecil menuju kamarnya sementara Chris tertawa geli dalam hati melihat ekspresi Cessa barusan yang tampak seperti baru menelan pil obat pahit. Walau dia mengatakan akan menghukum Cessa, tapi hukuman yang dia maksud hanya menyuruh Cessa untuk istirahat selama dua hari penuh. Ingat betapa workaholic-nya wanita itu, kan? Itulah hukuman yang akan diberikannya pada Cessa. setidaknya untuk saat ini.
Ya. Setidaknya untuk saat ini dia tidak akan menerkam Cessa karena dia masih menganggap wanita di hadapannya ini sebagai teman dan keluarga. Namun ke depannya? Well, biar waktu yang menjawab. Chris lebih senang semuanya berjalan seiring waktu.
***
__ADS_1