
Show koleksi pakaian musim semi yang dirancang oleh Cessa bertempat di sebuah ballroom hotel bintang lima di New York. Persiapan sudah matang, dan Cessa kali ini turun langsung untuk melihat persiapan terakhir show yang akan dilaksanakan nanti malam. Chris yang berdiri di sebelahnya mengangguk singkat pada salah seorang kru yang sedang menata panggung.
"Panggungnya lebih besar dibanding tahun lalu." Cessa menatap panggung catwalk di depannya, "Apa karena tempat ini lebih luas?"
"Sepertinya," Chris mengedikkan bahu, "Setidaknya tempat ini cukup untuk menampung lebih dari lima ratus tamu undangan dan juga penonton umum."
Cessa mengangguk setuju. Wanita itu lalu berjalan menuju belakang panggung, di mana terdapat dua kamar ganti yang nantinya akan dipakai oleh para model yang menjadi bintang dalam show-nya. Ia memeriksa setiap pakaian yang sudah tersedia di sana dengan teliti dan kemudian beralih ke ruang ganti yang lain. Chris tetap menemaninya, dan sesekali memberikan penjelasan tentang siapa saja yang akan berjaga di dua ruang ganti tersebut selama show berlangsung.
"Kurasa tidak ada masalah," wanita itu mengangguk puas, "Show kali ini pasti berhasil seperti tahun-tahun sebelumnya. Terutama karena Plasidia menjadi model utama. Apa pakaian yang akan dia kenakan sudah datang dan ditaruh di ruang ganti khusus?"
"Baru saja datang, dan para staf sudah menempatkannya di ruang ganti tersendiri," balas Chris.
"Kalau begitu kita hanya perlu menunggu sampai malam tiba." Cessa tersenyum, "Ayo kita pergi. Aku mau makan siang di restoran yang biasa kita kunjungi."
Chris membalas senyum Cessa dan menggandeng tangan wanita itu keluar dari ballroom. Mereka berdua sempat menarik perhatian orang-orang yang mereka lewati. Tentu saja yang paling menarik perhatian adalah Cessa dengan wajah dan tubuh bak boneka sungguhan, membuat mereka berpikir kalau wanita yang bersama Chris adalah boneka hidup.
Cessa masuk ke dalam mobil dan menunggu Chris masuk juga dan duduk di belakang kemudi, "Chris, kita langsung pergi ke restoran atau jalan-jalan dulu?"
"Kau maunya seperti apa?" Chris balas bertanya. "Aku terserah kau saja, Cessa. Biasanya kau yang memilih."
Cessa menyandarkan punggungnya pada punggung kursi, "Kalau begitu kita langsung ke restoran saja. Setelah itu baru kita beli persediaan makanan manis untuk di rumah. Persediaanku sudah habis kemarin malam."
"Kau ini tidak bisa jauh-jauh dari makanan manis, ya? Kapan kau bisa bertambah tinggi kalau terus makan makanan seperti itu?" ujar pria yang sedang mengemudikan mobil itu.
"Hei, aku butuh asupan makanan manis agar bisa bekerja," balas Cessa, "Kalau aku tidak dapat asupan makanan manis, otakku akan terasa berkarat."
"Baik nona. Baik." Chris menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kita akan pergi membeli makanan manis sebanyak yang kau mau."
Cessa tersenyum lebar dan mengeluarkan ponselnya. Senyumnya memudar ketika melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Mendadak pikirannya tertuju pada Grim. Jangan-jangan nomor ini milik pria itu. Membuka pesan tersebut, senyuman benar-benar menghilang dari wajah wanita itu dan digantikan oleh raut wajah datar.
Pria itu benar-benar tukang paksa!
***
Mereka berdua sampai di restoran yang biasa mereka kunjungi. Hanya sebuah restoran kecil, tetapi Cessa sangat menyukai makanan yang disajikan karena berbeda dari restoran-restoran lain di Amerika. Menurut wanita itu, masakan restoran ini memanjakan lidahnya yang lebih suka masakan Asia. Chris juga lumayan menyukai makanan di restoran ini, asal bisa dimakan dan Cessa juga menyukainya, pria itu mau-mau saja makan di kedai pinggir jalan sekalipun.
Cessa turun dari mobil bersamaan dengan Chris. Salah seorang pelayan yang melihat mereka tersenyum, "Anda kemari lagi, Nona Angelia, Tuan Scott."
"Selamat siang, Hannah," sapa Cessa, "Kami berdua datang untuk makan siang. Apa ada meja yang kosong?"
"Kami baru saja buka, tentu saja banyak meja yang kosong." balas Hannah, "Masuklah ke dalam."
Cessa mengangguk dan menggandeng tangan Chris. Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan disambut oleh pemandangan yang memanjakan mata. Interior restoran ini didominasi oleh warna coklat tua, bahkan lantai yang mereka pijak dibuat dari kayu, begitu pula meja dan kursinya yang didominasi oleh kayu kualitas terbaik. Beberapa pot besar berisi tanaman hijau turut membuat suasana di dalam restoran itu terasa sejuk dan nyaman. Mengingatkan Cessa pada gaya interior rumah Asia Timur.
Dia dan Chris lalu duduk di meja favorit mereka yang dekat dengan pot-pot berisi bunga mawar putih. Cesa menyentuh ujung-ujung kelopak bunga yang mulai mekar sambil tersenyum lebar. Selain makanan manis, mawar putih adalah salah satu kesukaannya. Dia juga menyukai bunga lavender dan lili putih. Ketiga bunga itu sering ia pakai sebagai penghias ruangan di apartemennya.
__ADS_1
Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan daftar menu.
"Cessa, kau mau pesan apa?" tanya Chris sambil melihat daftar menu di hadapannya.
"Aku ingin chicken katsu dan tiramisu, minumannya aku ingin coklat panas," ujar Cessa tanpa melihat menu, kemudian tersenyum lebar pada si pelayan, "Aku ingin coklat panasnya tidak terlalu panas."
Pelayan itu mencatat pesanan Cessa, kemudian pesanan Chris yang berupa black pepper steak dan kopi. Setelah pelayan itu mencatat dan pergi, Chris menatap Cessa yang kembali memusatkan perhatiannya pada bunga mawar di dekat mereka. "Kau ini benar-benar tidak bisa jauh dari makanan manis. Bahkan di sini pun kau tetap memesan makanan itu."
"Aku perlu asupan makanan manis karena nanti malam show akan dimulai," balas wanita boneka itu, "Aku benar-benar gugup saat ini."
Chris tertawa melihat raut wajah Cessa yang dibuat seolah ia sedang tegang, "Kau itu desainer muda berbakat, Lass. Semua orang mengenalmu dan seharusnya kau tidak perlu gugup."
"Mau bagaimana lagi. Aku saja masih tidak percaya kalau sekarang aku menjadi salah satu dari lima desainer terfavorit di benua Amerika." Cessa mengedikkan bahu, "Keberuntungan pemula dan usaha keras takkan mengkhianati, benar 'kan?"
"Tepat sekali." pria itu mengangguk setuju, "Dan aku senang kau sudah mulai tersenyum dan berbicara lebih sering. Biasanya kau tidak pernah berbicara lebih dari dua patah kata dalam satu tarikan nafas."
"Kau mengejekku, Chris?"
"Tidak, aku memujimu, Sayang. Seharusnya kau berterima kasih padaku."
Cessa memutar bola matanya dan kemudian menatap Chris dengan kedua tangan bertumpu di atas meja. Chris melihat tatapan Cessa dan sebelah alisnya terangkat, "Apa?"
"Aku hanya ingin memandangmu. Salah, ya?"
"Kau sedang merayuku? Apa kau kerasukan sesuatu sampai-sampai ingin memandangku?" balas Chris terkekeh.
"Kalau kau sadar, Sayang, aku sudah melakukannya sepuluh tahun lalu," balas pria itu, "Kau tahu kalau aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri, Cessa. Kau tahu sendiri perasaanku seperti apa padamu."
Cessa tersenyum muram mendengarnya, "Tapi kau tahu sendiri keadaanku seperti apa," balas wanita itu. "Aku tidak cukup pantas bersanding denganmu, Chris. Karenanya aku tidak pernah berusaha melewati batas hubungan kita lebih dari sekedar pertemanan dan kakak-adik."
"Aku tahu, Cessa, aku tahu." Chris tertawa, "Kau tak perlu mengatakan hal itu. Aku hanya berharap kau siap menerima pria yang tepat untukmu. Dan ketika itu bukan aku pun, aku akan tetap menopangmu. Kau bisa selalu bergantung padaku, kapan saja seperti adik perempuan pada kakaknya."
"Hm, aku tahu." Cessa mengangguk, "Aku senang bisa mengenalmu, Chris. Kau benar-benar bertindak seperti kakakku, berbeda dengan dia."
Chris melihat tangan Cessa gemetar. Wanita itu pasti teringat kakak tirinya lagi. Tangannya meraih tangan Cessa dan menggenggamnya erat-erat, "Tidak perlu memikirkannya. Saat ini kau sudah jauh dari rumah, dan kedua pria brengsek itu tidak akan pernah bisa menyentuhmu selama aku masih hidup. Ayah dan ibuku juga tidak akan tinggal diam bila mereka menemukanmu dan menyiksamu lagi."
Cessa mengangguk. "Ya, Chris. Terima kasih. Kalau bukan karenamu dan keluargamu, aku tidak tahu nasibku akan seperti apa."
"Sudahlah. Jangan membahas hal-hal yang bisa membuatmu bersedih lagi." Chris tersenyum, "Kau harus ingat, kebahagiaanmu berarti kebahagiaanku juga, Cessa. Jika ada pria yang membuatmu tak nyaman, katakan saja padaku dan aku akan menghajarnya."
Wanita itu tertawa mendengar ucapan Chris, "Kau benar-benar kakak yang baik. Terima kasih, Chris. Aku juga tidak tahu kenapa aku membahas ini. Mungkin karena gugup aku membahasnya tanpa sadar."
"Itu kebiasaan burukmu yang lain," decak Chris, "Setelah makan kita akan membeli coklat dan makanan manis yang kau mau, setelahnya bersiap untuk show nanti malam."
***
__ADS_1
Show koleksi pakaian musim semi Princessa Angelia digelar!
Banyak tamu-tamu penting dan juga penonton yang mendapat undangan langsung dari sang desainer sendiri mengisi kursi-kursi yang sudah disediakan. Para model yang mengenakan pakaian rancangan sang desainer muda berbakat pun melakukan pekerjaannya dengan baik.
Cessa berada di salah satu kursi VIP yang memungkinkannya mendapatkan pemandangan yang lebih baik. Ia mengenakan gaun dengan bahan mengilap dan mempunyai potongan seperti kemben dengan rok yang mengembang hingga ke lutut. Rambutnya ia ikat dan disampirkan ke bahu kirinya yang terbuka lebar. Sepatu dengan heels setinggi lima senti juga menghiasi kakinya. Sepintas penampilan Cessa lebih mirip seperti seorang ballerina yang siap naik panggung.
Di bangku VIP ia tidak duduk sendiri. Di deretan bangku tersebut ada beberapa tamu penting dan juga keluarga Verleon. Cessa melihat Ivy dan ibunya duduk berdampingan tidak jauh darinya, ketiga pangeran Verleon-pun juga ikut hadir. Tatapan Cessa sempat beradu dengan Grim dan ia merasakan pipinya memanas. Buru-buru Cessa mengalihkan pandangannya kearah lain begitu pandangan mereka beradu selama lebih dari sepuluh detik.
Show itu berjalan lancar. Bahkan sangat lancar sampai beberapa orang istri artis dan pejabat mendatanginya saat pesta perayaan suksesnya show tersebut dilaksanakan setelahnya. Kebanyakan dari mereka ingin Cessa merancang gaun untuk mereka secara pribadi, dan beberapa sponsor juga memberikan selamat padanya atas kesuksesan show kali ini.
Setelah menerima ucapan selamat dan juga pesanan tak langsung dari para tamunya, Cessa memutuskan duduk di salah satu kursi dan menerima segelas sampanye ketika seorang pelayan lewat dan menawarkan minuman. Matanya melihat kearah Chris yang tengah dikerumuni para wanita, membuat Cessa tertawa geli. Padahal dia, dan juga Plasidia sebagai model utama, adalah bintangnya di pesta ini. Tetapi sepertinya penggemar managernya itu juga cukup banyak sampai-sampai pria itu kewalahan menangani para wanita yang menatapnya dengan tatapan memuja.
"Apa ada yang lucu?"
Kepala Cessa menoleh dan mendapati Grim berdiri tak jauh darinya. Pria itu bersandar pada dinding dengan segelas red wine di tangannya.
"Sejak kapan kau ada di situ?" wanita itu balik bertanya.
"Sejak dua puluh menit yang lalu. Lebih tepatnya setelah kau memutuskan untuk duduk di sini," balas Grim, "Boleh aku duduk di sampingmu?"
"Tidak ada yang melarangmu untuk duduk," ujar Cessa.
"Aku meminta izin, siapa tahu kau akan menghujaniku dengan kata-kat pedas nan tajam seperti biasanya," Grim tersenyum lebar, "Tapi sepertinya kau mulai mengurangi kebiasaanmu yang satu itu."
Pria itu lalu duduk di kursi di sebelah Cessa dan ikut memandangi para tamu yang tengah berpesta sambil sesekali menyesap wine-nya.
"Selamat atas kesuksesan show-mu," Kata Grim, "Pakaian rancanganmu sangat bagus. Tak heran kau dijuluki desainer muda berbakat dan termasuk dari jajaran lima besar desainer yang diminati di Amerika."
"Terima kasih," Balas Cessa pendek.
"Apa kau tidak menginginkan hadiah?" tanya Grim lagi.
"Untuk apa?" wanita itu bertanya dengan nada polos, "Kurasa kesuksesan seperti ini saja sudah cukup bagiku."
"Benarkah? Kau tidak mau menerima hadiah dariku?"
Grim mengeluarkan sesuatu dari saku jas abu-abu yang dikenakannya dan menyerahkan sebuah kotak kecil beludru berwarna hitam pada wanita itu, "Kau tidak mau menerima hadiah ini?"
Cessa menatap kotak di tangan Grim dan wajah pria itu bolak-balik, "Ini apa?"
"Hadiah, tentu saja. Kau mau menerimanya atau tidak?" balas Grim.
Cessa mengambil kotak itu dan membukanya. Isinya adalah sebuah cincin perak dengan bentuk seperti mahkota kecil dengan butiran-butiran berlian yang menghiasi. Alis wanita itu terangkat dan dia menatap Grim yang dengan santainya kembali menyesap minumannya.
"Kenapa kau memberiku hadiah?" tanya Cessa bingung, "Aku tidak sedang berulang tahun."
__ADS_1
"Apa hadiah harus diberikan pada saat ulang tahun saja?" Grim balas bertanya, "Terima saja. Anggap saja itu hadiah sekaligus tanda perjanjian kita. Aku harap kau tidak lupa soal perjanjian kita tentang 'terapi'mu."