
Cessa merengut menatap
sketsa gaun di tangannya. Pensil yang dia pegang diketuk-ketuk ke atas
meja. Saat iini ada lima orang klien yang memintanya untuk membuat gaun
pengantin dan gaun malam dalam minggu ini. bahkan ada satu klien yang
memaksa gaun pesannya harus selesai dalam waktu dua hari.
Wanita itu menaruh
kertas di tangannya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum
mengembuskannya perlahan. Ia kemudian memijat pelipisnya. Sepertinya dia
memerlukan asupan makanan manis saat ini. Kepalanya terasa pusing. Dia
baru hendak menekan intercom ketika ponselnya berdering dan nama Grim
tertera di layar ponselnya. Sejak hari di mana Chris memergoki Grim di
apartemennya, Grim tidak lagi menghubunginya dengan private number. Pria itu memberikan nomor ponsel dan alamat email-nya, juga sering mengajak Cessa jalan-jalan.
Tapi tetap saja, pria
satu itu selalu memberikan terapi yang sama setiap kali mereka bertemu
dan kalau Cessa mengingatnya itu hanya akan membuat pipinya memanas dan
berniat membenturkan kepala ke dinding.
Cessa menatap sejenak ponselnya sebelum menjawab telepon dari Grim, "Halo?"
"Kau ada di mana?" tanya pria itu di seberang telepon.
"Di butik, seperti biasa. Ada apa?" Cessa balas bertanya.
"Jangan kemana-mana, tetap di sana," ujar Grim, "Sebentar lagi aku akan berdiri di depan pintu ruanganmu."
"Apa? Tunggu, Grim?
Halo?" Cessa menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap benda itu.
Belum sempat dia mencerna ucapan Grim barusan, pintu ruangannya terbuka
dan pria yang baru saja meneleponnya itu berdiri di sana dengan raut
wajah tanpa dosa.
Grim tersenyum lebar
kearah Cessa dan masuk ke dalam menghampiri wanita itu. "Kurasa aku
terlalu cepat memunculkan diri. Ekspresimu benar-benar lucu, Princess."
"Kau menelepon tepat di depan pintu?" tanya wanita itu.
"Hm? Seperti biasanya. Kau tampak tak terkejut."
"Tentu saja. Kau selalu melakukan itu setiap kali mau bertemu denganku." Cessa memutar bola matanya, "Kenapa kau kemari?"
"Mengajakmu makan siang," Jawab pria itu, "Kau mau makan di sini atau kita pergi ke luar? Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Makan siang?" wanita itu mengerutkan kening, "Sekarang sudah jam makan siang?"
"Tentu saja. Sepertinya
benar kata Chris, kau gampang lupa waktu kalau sudah fokus pada satu
pekerjaan," Grim terkekeh, "Dia memberitahuku kalau kau orang yang
sering lupa waktu."
"Chris bilang begitu?" wanita itu mengerutkan kening, "Tunggu. Sejak kapan kau dekat dengan Chris?"
"Apa itu penting? Yang jelas dia sudah memberikan restu kita berhubungan," balas Grim, "Princess, berdiri sebentar."
"Kau mau apa?" Cessa menatap tajam pria itu.
"Ayolah, aku ingin memangkumu." Grim kembali tersenyum lebar, "Berdirilah. Kau mau aku berdiri di sini seharian?"
"Di sana ada sofa. Kenapa kau tidak duduk di sana saja?" balas Cessa.
"Hm ..., begitu? Baik
kalau itu maumu." Grim tersenyum lagi dan menyelipkan tangannya di
punggung dan dua kaki wanita itu dan menggendongnya.
"Astaga, Grim! Turunkan aku!"
"Kau bilang aku harus
duduk di sofa,' kan? Karena aku ingin memangkumu, kau juga harus ikut
aku duduk di sofa." ujar Grim enteng.
Cessa merengut. Dia
memukul dada Grim dan hanya bisa pasrah ketika pria itu membawanya ke
sofa dan duduk sambil memangkunya. Kedua tangan pria itu melingkari
pinggangnya sementara kepalanya bersandar di bahu Cessa. "Aromamu enak
sekali, Princess. Apa ini parfum beraroma mawar edisi terbatas?"
"Ibu Chris yang
membelikannya untukku," balas Cessa, "Aku tidak terlalu pemilih soal
parfum karena bila aku suka, aku akan membelinya."
"Hm ...."
"Apa?" tanya wanita itu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya suka menghirup aroma tubuhmu. Boleh aku menerkammu sekarang?"
"Aku akan menghajarmu kalau berani melakukannya," ancam Cessa, membuat pria itu terkekeh.
"Kau selalu mengancamku, tapi kenyataannya kau juga menikmati setiap perbuatanku," balas Grim.
"I-itu karena kau
memaksaku!" pipi Cessa memerah dengan cepat, "Kau yang menyuruhku untuk
terbiasa dengan sentuhanmu, dan kau juga mengatakannya sambil
mengancamku."
"Aku pernah mengancammu?" Grim bertanya dengan nada polos, berbanding terbalik dengan ekspresi jahil di wajahnya saat ini.
"Kau selalu melakukannya, jadi bukan salahku kalau aku juga mengancammu balik." Wanita itu mendengus.
Grim tertawa dan mengelus paha Cessa, membuat wanita itu mendelik kearahnya. "Kau mau apa lagi sekarang?"
"Menyentuhmu," jawab Grim enteng.
"Kau ..., tunggu, kau mau apa, Grim?"
Grim membaringkan Cessa
di sofa dan kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Mulut wanita itu
hendak protes, tapi ditahan oleh tangan Grim yang membekap mulutnya.
"Tenanglah. Aku mau memelukmu seperti ini. Aku lelah karena pekerjaanku yang menumpuk di universitas," ujar pria itu.
Cessa menyingkirkan
tangan Grim yang membekap mulutnya, "Kalau begitu kenapa kau malah lari
ke sini dan bukannya mengurusi pekerjaanmu sampai selesai?"
"Sekali-kali kabur itu baik untuk kesehatan. Bolos itu menyehatkan," balas Grim tersenyum lebar.
Cessa memutar bola matanya dan hendak duduk, tetapi tangan Grim menahannya.
__ADS_1
"Grim, aku punya pesanan
yang harus dikerjakan secepatnya," ujar wanita itu, "Dan aku
benar-benar harus mengerjakannya sekarang,"
"Hmm ..., kau tidak mau menemaniku tidur?" balas pria itu malas. "Aku mengantuk dan butuh sesuatu untuk dipeluk."
"Pulang saja ke mansionmu. Kenapa kau malah datang ke sini?"
"Aku rindu padamu."
"Kau hanya rindu pada tubuhku," balas wanita itu, "Jangan mengelak. Aku tahu kau memikirkannya."
Grim kembali tertawa dan
mencium puncak kepala Cessa. Wanita itu hanya mendengus, tapi tidak
menolak ketika pria itu memeluknya lebih erat. Cessa membiarkan Grim
terus memeluknya dan mengajaknya bicara. Sejujurnya, dia menyukai ini.
Entah berapa lama dia tidak pernah merasa setenang dan menyukai suasana
seperti ini. Chris memang sering memeluknya. Tetapi pria itu tahu
batasan karena Cessa masih dalam kondisi mental yang labil dan butuh
dukungan dari orang-orang yang dikenalnya.
Kecupan di keningnya membuat Cessa terbangun dari lamunannya. Matanya menatap Grim yang kini berada di atas tubuhnya. "Apa?"
"Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" Tanya Grim.
"Kau tidak dengar kalau hari ini aku banyak pekerjaan?" wanita itu balik bertanya, "Kenapa kau selalu tidak sabaran?"
"Kalau untukmu, aku memang selalu tak sabaran." Pria itu tersenyum lebar sambil melepas dasi dan jasnya.
Cessa membelalakkan
matanya melihat apa yang dilakukan Grim. Dia buru-buru duduk tapi tangan
pria itu mendorongnya kembali ke sofa.
"Grim, aku sudah bilang kalau aku banyak pesanan!"
"Who cares, Princess? Ngomong-ngomong, hanya kau yang bisa memasuki ruangan ini, 'kan? Selain Chris?"
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku berencana memberikanmu terapi di sini sekarang juga," jawab Grim sambil menyeringai.
Cessa merasakan pipinya
memerah. Grim mencium bibirnya dan mengelus pipinya dengan lembut. Ia
mengerang ketika tangan pria itu bergerak menyentuh leher dan tulang
selangkanya yang tertutupi blus tipis berwarna biru. Grim membuka mulut
Cessa dan memainkan lidah wanita itu, memperdalam ciuman mereka. Sejak
menyetujui perjanjian tak resmi soal terapi dari Grim dan setelah mereka
dipergoki oleh Chris, Cessa menjadi sedikit terbuka pada Grim dan itu
sudah cukup bagi pria itu untuk membuat Cessa terbiasa dengannya.
"Aahh ...." Cessa mendesah saat Grim mencium lehernya.
"Kau lebih terbuka dari sebelumnya, itu bagus," bisik pria itu, "Princess-ku sangat cantik ketika seperti ini."
Cessa memutar bola matanya dan memukul punggung pria itu, yang dibalas dengan tawa.
"Jadi, kita lanjutkan?" Tanya Grim.
"Kau yang memulai lebih dulu," balas wanita itu, kemudian menerima ciuman Grim sekali lagi.
***
Grim menyelimuti Cessa
dengan selimut yang ia temukan di balik bantal sofa. Cessa pernah bilang
demi merampungkan koleksi pakaian terbaru atau mengerjakan gaun-gaun
pesanan klien yang terkadang memaksa.
"Terima kasih," Cessa menyelimuti tubuhnya yang telanjang dengan selimut dan kemudian bergelung di pelukan Grim.
Kelelahan jelas terlihat
di wajah wanita itu, tapi tidak ada keluhan dari bibir Cessa karena dia
sudah bisa menerima sentuhan Grim.
Pria itu memeluknya dan mengelus rambutnya yang tergerai, "Besok malam kau punya rencana?"
"Tidak. Besok hari
Sabtu. Setiap hari Sabtu pagi aku akan pergi ke rumah orangtua Chris
untuk menengok mereka dan malamnya aku kembali ke apartemen," jawab
Cessa, "Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Besok aku tidak akan bisa mengunjungimu seperti biasa. Ada pekerjaan yang harus kuurus."
"Oh,"
"Hm? Apa ini? Kedengarannya kau akan merindukanku, Princess?" kata Grim.
"Dalam mimpimu, Grimvon. Kau terlalu percaya diri," balas wanita itu sambil memutar bola matanya.
Grim tertawa dan mencium
sekilas bibir Cessa, "Aku memang percaya diri, tampan, dan entah apa
lagi. Bukankah itu alasan kenapa aku digandrungi para wanita?"
"Oh, diamlah. Mendengarmu memuji diri sendiri membuatku ingin muntah," kata Cessa.
"Tapi aku hanya melihatmu seorang, Princess. Jadi berbanggalah. Saat ini cuma kau yang mengisi hati dan pikiranku," balas pria itu, kembali membuat pipi Cessa memerah.
"Kau menyebalkan," kata wanita itu, tapi lebih terdengar seperti bisikan dibanding hinaan.
Grim mengeratkan
pelukannya dan membiarkan Cessa bergelung nyaman. Cessa merasakan
perasaan aman yang sama seperti yang diberikan Chris padanya dan itu
membuatnya merasa lebih baik. Wanita itu bersyukur dia menyetujui
perjanjian dengan Grim.
Pintu ruangan tiba-tiba
terbuka dan menampilkan Chris yang sedang berjalan sambil menatap ponsel
di tangan. Ketika mendongak, dia mengumpat dan berbalik melihat
pemandangan yang ada di depannya.
"Astaga, apa kalian
tidak punya tempat lain selain di sini untuk bercinta?" gerutu Chris,
"Cessa, cepat pakai pakaianmu atau aku akan menyeretmu ke toilet di sana
dan mengguyurmu dengan air dingin!"
"Kau mengganggu," kata Grim, tapi senyum lebar terukir di wajahnya.
Cessa buru-buru bangkit
dari tidurnya dan mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Wanita
itu sempat melihat Chris menatapnya dengan ekspresi menderita dan
__ADS_1
tertawa. Ketika Cessa sudah masuk ke dalam kamar mandi, barulah Chris
berbalik kembali dan menatap Grim yang sedang memakai pakaiannya.
"Kalian benar-benar tak
tahu tempat dan waktu ketika melakukan terapi." Pria berambut pirang itu
menggerutu dan menghampiri sofa, "Untunglah aku yang masuk kemari,
bukan office girl yang biasa mengantarkan minuman dan cemilan untuk Cessa."
Grim hanya tersenyum
lebar. Dia memakai kemeja dan celananya dengan cepat, lalu mengenakan
jasnya sebelum duduk dengan nyaman di seberang Chris.
"Sebaiknya kalian mencari tempat yang lain untuk bercinta. Jangan di tempat kerja seperti ini," kata Chris.
"Kita lihat saja nanti," Grim tersenyum lebar.
Chris
menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Grim. Beberapa saat
kemudian, Cessa keluar dari toilet dengan pakaian rapi. Pipi wanita itu
agak merona dan dia menatap Chris sambil tersenyum malu.
"Aku tidak menyangka
akan melihat kalian bercinta di sini," kata Chris, "Lain kali, Cessa,
kalau Grimvon memintamu untuk terapi, jangan lakukan di tempat seperti
ini. Cari saja kamar hotel atau semacamnya, asal jangan di tempat
kerja."
"Hei, kau tidak punya hak untuk melarangku. Princess milikku." Sela Grim.
"Selama kalian tidak
terikat ikatan pernikahan, aku masih berkewajiban menasehatinya," balas
pria pirang itu, "Diamlah, atau aku akan mencabut restuku pada kalian."
Grim membuka mulutnya
hendak protes lagi tapi tidak jadi sementara Cessa menggaruk-garuk
tengkuknya. Entah bagaimana caranya Chris berhasil membuat Grim terdiam
seperti ini kalau pria itu sudah di luar batas. Contohnya seperti
sekarang.
"Lalu ..., kau kemari karena apa, Chris?" Tanya wanita itu.
Chris menarik nafas dan
mengembuskannya perlahan sebelum kemudian berbicara lagi, "Tidak ada.
Aku hanya ingin mengecek apa kau masih hidup atau tidak. Mengingat
betapa workaholic-nya dirimu ketika bekerja, aku khawatir kau bahkan lupa makan."
"Grim selalu menyuruhku
makan teratur," Cessa melirik sekilas kearah Grim, "Dia juga terkadang
membawakanku makanana ketika kau tidak sempat kemari."
"Itu bagus. Setidaknya
dia bertanggung jawab, kecuali untuk satu hal." Chris melirik tak suka
pada Grim dan dibalas pria itu dengan mengedikkan bahu.
"Aku tak tahan melihat Princess. Dia sangat menggoda."
"Oh, hentikan itu,
Grimvon." Cessa memutar bola matanya, "Abaikan kata-katanya, Chris. Yang
jelas aku baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun."
"Baguslah," Chris mengangguk, "Besok kau jadi ikut aku ke rumah orangtuaku?"
"Iya. Tapi, aku tidak menginap. Aku ada janji dengan pria yang duduk di sebelahmu itu. Dia memaksaku," balas Cessa.
Grim hanya tersenyum
lebar sementara Chris lagi-lagi menghela nafas. "Tak apa, sorenya aku
akan mengantarmu pulang ke apartemen," ujar pria pirang itu.
Cessa mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan
pergi. Aku tak tahan melihat pria ini dan dirimu sedang berbunga-bunga
seperti sekarang." Chris berdiri dan menatap Grim, "Pastikan kau tidak
membuatnya menangis, Grimvon."
"Kau sudah mengatakan itu ratusan kali. Aku tahu itu, Christopher Scott. Princess tidak akan menangis bila bersamaku."
"Aku malah sangsi kau
berjanji seperti itu," dengus Chris, kemudian kembali menatap Cessa,
"Kalau dia melakukan sesuatu padamu, hubungi aku dan aku akan
menghajarnya."
"Iya Chris, Iya ...." Cessa tertawa geli.
Chris tersenyum simpul
dan menghampiri Cessa dan mengecup puncak kepala wanita itu sebelum
keluar dari ruangan. Grim melihat Chris sudah keluar dan langsung
menghampiri Cessa, "Terkadang aku cemburu dia bisa menyentuhmu dengan
mudah," gerutunya.
"Chris kakakku. Setidaknya dia berperan sebagai kakak yang baik untukku," balas wanita itu.
"Hm ...."
"Apa?" Tanya Cessa.
"Tidak ada," Grim menggeleng, "Princess, ayo kita makan siang di luar. Aku lapar."
"Tapi, pekerjaanku bagaimana?"
"Kau bisa meninggalkannya. Ayolah, aku lapar, atau kau mau kita kembali bercinta sebagai gantinya?"
"Kau maniak!" desis wanita itu, "Baiklah, beri aku waktu sebentar untuk membereskan barang-barangku."
"Begitu lebih baik." Grim mencium pipi Cessa, "Aku akan menunggu di mobil kalau begitu."
Pria itu lalu berjalan
keluar dari ruangan dan meninggalkan Cessa sendirian. Wanita itu
menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendesis, "Dasar pemaksa. Maniak
bercinta. Kenapa aku mau saja mengikuti terapi darinya?"
Cessa tidak membuang waktu untuk membereskan barang-barangnya. Sepuluh menit
kemudian dia berjalankeluar butik dan langsung masuk ke dalam mobil Grim
yang sangat dikenalnya.
__ADS_1