The Hope

The Hope
Chapter 19


__ADS_3

Cessa merengut menatap


sketsa gaun di tangannya. Pensil yang dia pegang diketuk-ketuk ke atas


meja. Saat iini ada lima orang klien yang memintanya untuk membuat gaun


pengantin dan gaun malam dalam minggu ini. bahkan ada satu klien yang


memaksa gaun pesannya harus selesai dalam waktu dua hari.


Wanita itu menaruh


kertas di tangannya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum


mengembuskannya perlahan. Ia kemudian memijat pelipisnya. Sepertinya dia


memerlukan asupan makanan manis saat ini. Kepalanya terasa pusing. Dia


baru hendak menekan intercom ketika ponselnya berdering dan nama Grim


tertera di layar ponselnya. Sejak hari di mana Chris memergoki Grim di


apartemennya, Grim tidak lagi menghubunginya dengan private number. Pria itu memberikan nomor ponsel dan alamat email-nya, juga sering mengajak Cessa jalan-jalan.


Tapi tetap saja, pria


satu itu selalu memberikan terapi yang sama setiap kali mereka bertemu


dan kalau Cessa mengingatnya itu hanya akan membuat pipinya memanas dan


berniat membenturkan kepala ke dinding.


Cessa menatap sejenak ponselnya sebelum menjawab telepon dari Grim, "Halo?"


"Kau ada di mana?" tanya pria itu di seberang telepon.


"Di butik, seperti biasa. Ada apa?" Cessa balas bertanya.


"Jangan kemana-mana, tetap di sana," ujar Grim, "Sebentar lagi aku akan berdiri di depan pintu ruanganmu."


"Apa? Tunggu, Grim?


Halo?" Cessa menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap benda itu.


Belum sempat dia mencerna ucapan Grim barusan, pintu ruangannya terbuka


dan pria yang baru saja meneleponnya itu berdiri di sana dengan raut


wajah tanpa dosa.


Grim tersenyum lebar


kearah Cessa dan masuk ke dalam menghampiri wanita itu. "Kurasa aku


terlalu cepat memunculkan diri. Ekspresimu benar-benar lucu, Princess."


"Kau menelepon tepat di depan pintu?" tanya wanita itu.


"Hm? Seperti biasanya. Kau tampak tak terkejut."


"Tentu saja. Kau selalu melakukan itu setiap kali mau bertemu denganku." Cessa memutar bola matanya, "Kenapa kau kemari?"


"Mengajakmu makan siang," Jawab pria itu, "Kau mau makan di sini atau kita pergi ke luar? Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Makan siang?" wanita itu mengerutkan kening, "Sekarang sudah jam makan siang?"


"Tentu saja. Sepertinya


benar kata Chris, kau gampang lupa waktu kalau sudah fokus pada satu


pekerjaan," Grim terkekeh, "Dia memberitahuku kalau kau orang yang


sering lupa waktu."


"Chris bilang begitu?" wanita itu mengerutkan kening, "Tunggu. Sejak kapan kau dekat dengan Chris?"


"Apa itu penting? Yang jelas dia sudah memberikan restu kita berhubungan," balas Grim, "Princess, berdiri sebentar."


"Kau mau apa?" Cessa menatap tajam pria itu.


"Ayolah, aku ingin memangkumu." Grim kembali tersenyum lebar, "Berdirilah. Kau mau aku berdiri di sini seharian?"


"Di sana ada sofa. Kenapa kau tidak duduk di sana saja?" balas Cessa.


"Hm ..., begitu? Baik


kalau itu maumu." Grim tersenyum lagi dan menyelipkan tangannya di


punggung dan dua kaki wanita itu dan menggendongnya.


"Astaga, Grim! Turunkan aku!"


"Kau bilang aku harus


duduk di sofa,' kan? Karena aku ingin memangkumu, kau juga harus ikut


aku duduk di sofa." ujar Grim enteng.


Cessa merengut. Dia


memukul dada Grim dan hanya bisa pasrah ketika pria itu membawanya ke


sofa dan duduk sambil memangkunya. Kedua tangan pria itu melingkari


pinggangnya sementara kepalanya bersandar di bahu Cessa. "Aromamu enak


sekali, Princess. Apa ini parfum beraroma mawar edisi terbatas?"


"Ibu Chris yang


membelikannya untukku," balas Cessa, "Aku tidak terlalu pemilih soal


parfum karena bila aku suka, aku akan membelinya."


"Hm ...."


"Apa?" tanya wanita itu.


"Tidak apa-apa. Aku hanya suka menghirup aroma tubuhmu. Boleh aku menerkammu sekarang?"


"Aku akan menghajarmu kalau berani melakukannya," ancam Cessa, membuat pria itu terkekeh.


"Kau selalu mengancamku, tapi kenyataannya kau juga menikmati setiap perbuatanku," balas Grim.


"I-itu karena kau


memaksaku!" pipi Cessa memerah dengan cepat, "Kau yang menyuruhku untuk


terbiasa dengan sentuhanmu, dan kau juga mengatakannya sambil


mengancamku."


"Aku pernah mengancammu?" Grim bertanya dengan nada polos, berbanding terbalik dengan ekspresi jahil di wajahnya saat ini.


"Kau selalu melakukannya, jadi bukan salahku kalau aku juga mengancammu balik." Wanita itu mendengus.


Grim tertawa dan mengelus paha Cessa, membuat wanita itu mendelik kearahnya. "Kau mau apa lagi sekarang?"


"Menyentuhmu," jawab Grim enteng.


"Kau ..., tunggu, kau mau apa, Grim?"


Grim membaringkan Cessa


di sofa dan kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Mulut wanita itu


hendak protes, tapi ditahan oleh tangan Grim yang membekap mulutnya.


"Tenanglah. Aku mau memelukmu seperti ini. Aku lelah karena pekerjaanku yang menumpuk di universitas," ujar pria itu.


Cessa menyingkirkan


tangan Grim yang membekap mulutnya, "Kalau begitu kenapa kau malah lari


ke sini dan bukannya mengurusi pekerjaanmu sampai selesai?"


"Sekali-kali kabur itu baik untuk kesehatan. Bolos itu menyehatkan," balas Grim tersenyum lebar.


Cessa memutar bola matanya dan hendak duduk, tetapi tangan Grim menahannya.

__ADS_1


"Grim, aku punya pesanan


yang harus dikerjakan secepatnya," ujar wanita itu, "Dan aku


benar-benar harus mengerjakannya sekarang,"


"Hmm ..., kau tidak mau menemaniku tidur?" balas pria itu malas. "Aku mengantuk dan butuh sesuatu untuk dipeluk."


"Pulang saja ke mansionmu. Kenapa kau malah datang ke sini?"


"Aku rindu padamu."


"Kau hanya rindu pada tubuhku," balas wanita itu, "Jangan mengelak. Aku tahu kau memikirkannya."


Grim kembali tertawa dan


mencium puncak kepala Cessa. Wanita itu hanya mendengus, tapi tidak


menolak ketika pria itu memeluknya lebih erat. Cessa membiarkan Grim


terus memeluknya dan mengajaknya bicara. Sejujurnya, dia menyukai ini.


Entah berapa lama dia tidak pernah merasa setenang dan menyukai suasana


seperti ini. Chris memang sering memeluknya. Tetapi pria itu tahu


batasan karena Cessa masih dalam kondisi mental yang labil dan butuh


dukungan dari orang-orang yang dikenalnya.


Kecupan di keningnya membuat Cessa terbangun dari lamunannya. Matanya menatap Grim yang kini berada di atas tubuhnya. "Apa?"


"Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" Tanya Grim.


"Kau tidak dengar kalau hari ini aku banyak pekerjaan?" wanita itu balik bertanya, "Kenapa kau selalu tidak sabaran?"


"Kalau untukmu, aku memang selalu tak sabaran." Pria itu tersenyum lebar sambil melepas dasi dan jasnya.


Cessa membelalakkan


matanya melihat apa yang dilakukan Grim. Dia buru-buru duduk tapi tangan


pria itu mendorongnya kembali ke sofa.


"Grim, aku sudah bilang kalau aku banyak pesanan!"


"Who cares, Princess? Ngomong-ngomong, hanya kau yang bisa memasuki ruangan ini, 'kan? Selain Chris?"


"Memangnya kenapa?"


"Karena aku berencana memberikanmu terapi di sini sekarang juga," jawab Grim sambil menyeringai.


Cessa merasakan pipinya


memerah. Grim mencium bibirnya dan mengelus pipinya dengan lembut. Ia


mengerang ketika tangan pria itu bergerak menyentuh leher dan tulang


selangkanya yang tertutupi blus tipis berwarna biru. Grim membuka mulut


Cessa dan memainkan lidah wanita itu, memperdalam ciuman mereka. Sejak


menyetujui perjanjian tak resmi soal terapi dari Grim dan setelah mereka


dipergoki oleh Chris, Cessa menjadi sedikit terbuka pada Grim dan itu


sudah cukup bagi pria itu untuk membuat Cessa terbiasa dengannya.


"Aahh ...." Cessa mendesah saat Grim mencium lehernya.


"Kau lebih terbuka dari sebelumnya, itu bagus," bisik pria itu, "Princess-ku sangat cantik ketika seperti ini."


Cessa memutar bola matanya dan memukul punggung pria itu, yang dibalas dengan tawa.


"Jadi, kita lanjutkan?" Tanya Grim.


"Kau yang memulai lebih dulu," balas wanita itu, kemudian menerima ciuman Grim sekali lagi.


***


Grim menyelimuti Cessa


dengan selimut yang ia temukan di balik bantal sofa. Cessa pernah bilang


demi merampungkan koleksi pakaian terbaru atau mengerjakan gaun-gaun


pesanan klien yang terkadang memaksa.


"Terima kasih," Cessa menyelimuti tubuhnya yang telanjang dengan selimut dan kemudian bergelung di pelukan Grim.


Kelelahan jelas terlihat


di wajah wanita itu, tapi tidak ada keluhan dari bibir Cessa karena dia


sudah bisa menerima sentuhan Grim.


Pria itu memeluknya dan mengelus rambutnya yang tergerai, "Besok malam kau punya rencana?"


"Tidak. Besok hari


Sabtu. Setiap hari Sabtu pagi aku akan pergi ke rumah orangtua Chris


untuk menengok mereka dan malamnya aku kembali ke apartemen," jawab


Cessa, "Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Besok aku tidak akan bisa mengunjungimu seperti biasa. Ada pekerjaan yang harus kuurus."


"Oh,"


"Hm? Apa ini? Kedengarannya kau akan merindukanku, Princess?" kata Grim.


"Dalam mimpimu, Grimvon. Kau terlalu percaya diri," balas wanita itu sambil memutar bola matanya.


Grim tertawa dan mencium


sekilas bibir Cessa, "Aku memang percaya diri, tampan, dan entah apa


lagi. Bukankah itu alasan kenapa aku digandrungi para wanita?"


"Oh, diamlah. Mendengarmu memuji diri sendiri membuatku ingin muntah," kata Cessa.


"Tapi aku hanya melihatmu seorang, Princess. Jadi berbanggalah. Saat ini cuma kau yang mengisi hati dan pikiranku," balas pria itu, kembali membuat pipi Cessa memerah.


"Kau menyebalkan," kata wanita itu, tapi lebih terdengar seperti bisikan dibanding hinaan.


Grim mengeratkan


pelukannya dan membiarkan Cessa bergelung nyaman. Cessa merasakan


perasaan aman yang sama seperti yang diberikan Chris padanya dan itu


membuatnya merasa lebih baik. Wanita itu bersyukur dia menyetujui


perjanjian dengan Grim.


Pintu ruangan tiba-tiba


terbuka dan menampilkan Chris yang sedang berjalan sambil menatap ponsel


di tangan. Ketika mendongak, dia mengumpat dan berbalik melihat


pemandangan yang ada di depannya.


"Astaga, apa kalian


tidak punya tempat lain selain di sini untuk bercinta?" gerutu Chris,


"Cessa, cepat pakai pakaianmu atau aku akan menyeretmu ke toilet di sana


dan mengguyurmu dengan air dingin!"


"Kau mengganggu," kata Grim, tapi senyum lebar terukir di wajahnya.


Cessa buru-buru bangkit


dari tidurnya dan mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Wanita


itu sempat melihat Chris menatapnya dengan ekspresi menderita dan

__ADS_1


tertawa. Ketika Cessa sudah masuk ke dalam kamar mandi, barulah Chris


berbalik kembali dan menatap Grim yang sedang memakai pakaiannya.


"Kalian benar-benar tak


tahu tempat dan waktu ketika melakukan terapi." Pria berambut pirang itu


menggerutu dan menghampiri sofa, "Untunglah aku yang masuk kemari,


bukan office girl yang biasa mengantarkan minuman dan cemilan untuk Cessa."


Grim hanya tersenyum


lebar. Dia memakai kemeja dan celananya dengan cepat, lalu mengenakan


jasnya sebelum duduk dengan nyaman di seberang Chris.


"Sebaiknya kalian mencari tempat yang lain untuk bercinta. Jangan di tempat kerja seperti ini," kata Chris.


"Kita lihat saja nanti," Grim tersenyum lebar.


Chris


menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Grim. Beberapa saat


kemudian, Cessa keluar dari toilet dengan pakaian rapi. Pipi wanita itu


agak merona dan dia menatap Chris sambil tersenyum malu.


"Aku tidak menyangka


akan melihat kalian bercinta di sini," kata Chris, "Lain kali, Cessa,


kalau Grimvon memintamu untuk terapi, jangan lakukan di tempat seperti


ini. Cari saja kamar hotel atau semacamnya, asal jangan di tempat


kerja."


"Hei, kau tidak punya hak untuk melarangku. Princess milikku." Sela Grim.


"Selama kalian tidak


terikat ikatan pernikahan, aku masih berkewajiban menasehatinya," balas


pria pirang itu, "Diamlah, atau aku akan mencabut restuku pada kalian."


Grim membuka mulutnya


hendak protes lagi tapi tidak jadi sementara Cessa menggaruk-garuk


tengkuknya. Entah bagaimana caranya Chris berhasil membuat Grim terdiam


seperti ini kalau pria itu sudah di luar batas. Contohnya seperti


sekarang.


"Lalu ..., kau kemari karena apa, Chris?" Tanya wanita itu.


Chris menarik nafas dan


mengembuskannya perlahan sebelum kemudian berbicara lagi, "Tidak ada.


Aku hanya ingin mengecek apa kau masih hidup atau tidak. Mengingat


betapa workaholic-nya dirimu ketika bekerja, aku khawatir kau bahkan lupa makan."


"Grim selalu menyuruhku


makan teratur," Cessa melirik sekilas kearah Grim, "Dia juga terkadang


membawakanku makanana ketika kau tidak sempat kemari."


"Itu bagus. Setidaknya


dia bertanggung jawab, kecuali untuk satu hal." Chris melirik tak suka


pada Grim dan dibalas pria itu dengan mengedikkan bahu.


"Aku tak tahan melihat Princess. Dia sangat menggoda."


"Oh, hentikan itu,


Grimvon." Cessa memutar bola matanya, "Abaikan kata-katanya, Chris. Yang


jelas aku baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun."


"Baguslah," Chris mengangguk, "Besok kau jadi ikut aku ke rumah orangtuaku?"


"Iya. Tapi, aku tidak menginap. Aku ada janji dengan pria yang duduk di sebelahmu itu. Dia memaksaku," balas Cessa.


Grim hanya tersenyum


lebar sementara Chris lagi-lagi menghela nafas. "Tak apa, sorenya aku


akan mengantarmu pulang ke apartemen," ujar pria pirang itu.


Cessa mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan


pergi. Aku tak tahan melihat pria ini dan dirimu sedang berbunga-bunga


seperti sekarang." Chris berdiri dan menatap Grim, "Pastikan kau tidak


membuatnya menangis, Grimvon."


"Kau sudah mengatakan itu ratusan kali. Aku tahu itu, Christopher Scott. Princess tidak akan menangis bila bersamaku."


"Aku malah sangsi kau


berjanji seperti itu," dengus Chris, kemudian kembali menatap Cessa,


"Kalau dia melakukan sesuatu padamu, hubungi aku dan aku akan


menghajarnya."


"Iya Chris, Iya ...." Cessa tertawa geli.


Chris tersenyum simpul


dan menghampiri Cessa dan mengecup puncak kepala wanita itu sebelum


keluar dari ruangan. Grim melihat Chris sudah keluar dan langsung


menghampiri Cessa, "Terkadang aku cemburu dia bisa menyentuhmu dengan


mudah," gerutunya.


"Chris kakakku. Setidaknya dia berperan sebagai kakak yang baik untukku," balas wanita itu.


"Hm ...."


"Apa?" Tanya Cessa.


"Tidak ada," Grim menggeleng, "Princess, ayo kita makan siang di luar. Aku lapar."


"Tapi, pekerjaanku bagaimana?"


"Kau bisa meninggalkannya. Ayolah, aku lapar, atau kau mau kita kembali bercinta sebagai gantinya?"


"Kau maniak!" desis wanita itu, "Baiklah, beri aku waktu sebentar untuk membereskan barang-barangku."


"Begitu lebih baik." Grim mencium pipi Cessa, "Aku akan menunggu di mobil kalau begitu."


Pria itu lalu berjalan


keluar dari ruangan dan meninggalkan Cessa sendirian. Wanita itu


menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendesis, "Dasar pemaksa. Maniak


bercinta. Kenapa aku mau saja mengikuti terapi darinya?"


Cessa tidak membuang waktu untuk membereskan barang-barangnya. Sepuluh menit


kemudian dia berjalankeluar butik dan langsung masuk ke dalam mobil Grim


yang sangat dikenalnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2