The Hope

The Hope
Chapter 28


__ADS_3

“Jangan libatkan Chris dan kedua orangtuanya dalam masalah ini!” kata Cessa, “Jangan coba-coba, Grim.”



“Aku penasaran seperti apa yang akan terjadi bila aku menyengsarakan kehidupan mereka.” balas Grim, “Bagaimana menurutmu, Princess?”



Cessa menatap geram pria di depannya dan memejamkan mata sejenak, “Jangan libatkan Chris. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini.”



“Kalau begitu, menurutlah,” tangan Grim membelai pipi wanita itu, “Jadilah boneka penurut dan menerima apa yang kuperintahkan. Kau bisa melakukannya, ‘kan?”



Ucapan Grim membuat Cessa kembali marah. Tapi saat ini dia tahu bukan saatnya untuk melawan Grim. Dia hanya diam ketika pria itu beranjak dari atas tubuhnya dan merapikan pakaiannya yang agak berantakan. Cessa duduk tegak dan menatap punggung Grim yang membelakanginya, “Kau berjanji tidak akan melibatkan Chris dan keluarganya dalam masalah ini?”



“Aku mungkin bajingan bagimu, Princess, tapi aku tidak pernah berbohong pada setiap janjiku.” balas Grim sambil menoleh kearahnya, “Kau bisa tenang kalau kakak kesayanganmu itu tidak akan terluka seujung jari pun, begitu pula keluarganya.”



“Bersikap manislah selama kau menjadi istriku, Princess. Seperti yang selalu kau lakukan.”



Pria itu kemudian berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar, sementara Cessa masih diam dan menundukkan kepalanya. Walau sikapnya tampak diam, mata wanita yang sedang menunduk itu dipenuhi kemarahan.



Ketika Cessa sudah cukup tenang, dia keluar dan mendapati Grim sudah tidak ada di mana pun. Saat ke ruang makan, matanya langsung bertemu dengan Latiava yang sedang menyantap sarapannya dengan tenang. Rasa enggan merayapi hati Cessa. Dia tidak ingin makan bersama wanita pirang itu.



Tapi sialnya Latiava menyadari keberadaannya. Wanita itu tersenyum tipis dan kembali focus pada makanannya, “Kalau kau terus berdiri di sana, sebaiknya tidak usah masuk kemari.”



“Aku tidak berselera makan,” kata Cessa membalas, “Lanjutkan saja makanmu, Nyonya Kedua.”



“Apa pedulimu, Nyonya Pertama?” Latiava balas menyindir, “Asal kau tahu, aku membencimu sejak aku melihatmu kemarin malam.”



“Oh, begitu?” Cessa menaikkan sebelah alisnya, “Kukira hanya aku yang merasakan kebencian padamu.”



Latiava tertawa kecil dan meminum air putih yang disediakan sebelum kemudian berdiri dan mendekati Cessa. Karena Latiava lebih tinggi darinya, Cessa mau tidak mau mengangkat kepalanya ketika wanita pirang itu berdiri di depannya.



“Kau terlalu mungil, seharusnya kau tidak termasuk tipe Grim,” kata Latiava dengan nada mengejek, “Tapi aku tahu, Grim tidak memilihmu hanya karena kau mirip boneka. Tatapanmu mirip dengan wanita itu.”



Wanita itu?



Latiava mendengus melihat kerutan di dahi Cessa, “Sepertinya kau tidak tahu apa-apa soal masa lalu Grim, ya? Dan sepertinya kau tidak perlu tahu atau Grim akan menembak kepalaku.”



“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi terima kasih atas saranmu.” balas wanita mungil itu.



Latiava mengedikkan bahu. Dia berjalan melewati Cessa dan tidak melanjutkan sarapannya. Sementara Cessa sendiri hanya bisa menghela nafas dan lebih memilih untuk ke butiknya saja. Dia perlu pengalih perhatian untuk saat ini.



***


__ADS_1


Chris yakin kalau kemarin malam Cessa masih baik-baik saja. Tapi hari ini dia merasakan ada yang tidak beres dengan wanita mungil itu. Seharian ini Cessa seperti orang linglung. Jarinya nyaris terkena jarum beberapa kali, mendengarkan ucapannya dan para pegawai yang melapor padanya dengan pandangan setengah kosong, dan sering melamun.



“Lass, kau yakin tidak sedang memikirkan apa pun?” tanya Chris saat waktu makan siang sudah tiba.



Chris berinisiatif memesan makanan kesukaan Cessa dan sekarang mereka sedang berhadapan dengan meja penuh makanan favorit wanita itu.



Cessa menyesap jus lemon miliknya sebentar, “Aku tidak memikirkan apa pun, Chris.” katanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”



“Karena hari ini kau tidak seperti biasanya. Apa perlu kusebutkan apa saja hal-hal yang membuatmu tampak tak biasa hari ini?”



Cessa diam mendengar ucapan Chris. Dia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada punggung sofa, “Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya … hanya kecapekan saja. Kemarin malam aku tidak bisa tidur.”



“Apa kau sakit?” tanya pria pirang itu cemas, “Kau mau kuantarkan ke rumah sakit?”



Cessa cepat-cepat menggeleng, “Tidak, Chris. Aku sehat-sehat saja. Aku hanya perlu istirahat setelah ini. Tidak perlu sekhawatir itu padaku.”



Chris menyipitkan matanya tidak percaya. Jelas sekali kalau wajah Cessa tidak pucat. Tapi, karena Cessa sering melamun hari ini dan sering melakukan kesalahan … pasti ada yang tidak beres. Sayangnya dia tidak bisa memaksa wanita itu berbicara lebih tentang apa yang terjadi padanya. Ia hafal sifat keras kepala Cessa muncul sewaktu-waktu, contohnya seperti sekarang.



“Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku serius,” kata Cessa lagi, “Kau tidak perlu khawatir. Setidaknya aku tidak pernah merasa traumaku kambuh, Chris. Kau bisa tenang.”



“Aku tahu kau berbohong, Cessa. Tapi aku sendiri tidak tega untuk memarahimu.” Chris menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sudahlah. Kita makan saja. Kau pasti belum makan dari pagi, ‘kan?”




“Kau pikir aku tidak mendengar perutmu yang sedari tadi berbunyi? Kali ini kau benar-benar melewatkan sarapan dan harus dihukum dengan memakan semua makanan ini sampai habis.”



Bibir wanita itu mengerucut mendengarnya, “Makanan yang kau pesan ini sangat banyak. Kau pikir perutku yang kecil ini bisa menampung semuanya?”



“Kau mau hukumanmu ditambah? Apa perlu aku menyuapimu seperti bayi?” tanya pria itu balik dengan nada berbahaya.



Wajah Cessa makin ditekuk mendengar ucapan Chris. Pria ini benar-benar tahu cara agar dia mau menurut dan tidak mengeluh untuk menghabiskan makanannya.



***



Ketika sudah waktunya jam pulang dan sampai di mansion, Cessa dengan enggan memasuki tempat yang selama satu tahun ini ia anggap sebagai rumah. Mata bulat wanita itu memandang sekeliling ruang tamu yang ia lewati. Ada setitik rasa sakit di hatinya mengingat apa yang baru saja terjadi kemarin malam dan tadi pagi. Tapi Cessa tidak punya waktu untuk mengeluh, dia perlu menyelesaikan gaun-gaun pesanan kliennya.



Kakinya melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Cessa masuk ke dalam ruang kerja pribadinya dan mengunci diri di sana, menenggelamkan pikirannya pada pekerjaan hingga larut malam. Baru ketika jam di dekatnya menunjukkan pukul dua belas malam, wanita itu menghentikan kegiatannya dan menarik nafas dalam-dalam. Selama dia berada di ruangan itu, sudah lebih dari tiga gaun yang selesai, dan besok hanya tinggal dikirim pada kliennya.



“Sekarang aku harus tidur,” gumam wanita itu sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.



Cessa keluar dari ruangan tersebut dan menuju kamarnya di lantai pertama. Sekilas dia memandang pintu kamarnya dan Grim dulu. Matanya terasa panas saat mengingat ia memergoki Grim bercinta dengan Latiava. Buru-buru Cessa menggunakan tangannya untuk mengusap airmata yang nyaris jatuh dan berjalan lebih cepat menuruni tangga menuju kamarnya.

__ADS_1



Tapi, sampai di dalam kamarnya, Cessa malah merasa tidak punya tenaga untuk berdiri dan berakhir dengan duduk bersandar pada pintu di belakang punggungnya. Airmata lagi-lagi mengancam untuk keluar, dan Cessa tidak keberatan.



“Kenapa harus seperti ini lagi?” lirih wanita itu sambil terus menangis.



***



Malam itu, Grim tidak pulang ke mansion. Latiava juga tidak terlihat berkeliaran. Cessa jadi punya waktu untuk menenangkan diri. Sejak kemarin malam, tubuhnya menggigil seolah kedinginan dan sering berhalusinasi walau tidak sampai memecahkan atau melempar benda-benda di dekatnya.



Cessa tahu traumanya mulai kembali muncul. Tapi dia tidak berniat memberitahu hal ini pada siapapun, termasuk Chris. Kali ini, dia tidak bisa lagi bergantung pada pria yang selalu dianggapnya sebagai kakak itu karena teringat ancaman Grim.



Hari ini Cessa memilih untuk tidak datang ke butik. Karena kemarin malam dia kembali tidak bisa tidur dan berada dalam posisi duduk bersandar pada pintu, pagi harinya Cessa nyaris tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena kaku. Setelah bersusah payah ia berhasil berbaring di tempat tidur.



Wanita itu berbaring telentang dan memandang langit-langit kamar. Kedua matanya terasa berat tapi dia tidak bisa tidur.



“Ah, aku belum memberitahu Chris,” Cessa meraih ponsel dari dalam tas tangan yang tergeletak di sampingnya dan menelepon Chris.



“Ya, Cessa?”



“Hari ini aku tidak ke butik. Badanku terasa sakit.” kata Cessa saat Chris menjawab teleponnya.



“Kau sakit? Perlu diantar ke dokter?” tanya Chris terdengar khawatir.



“Tidak, Chris. Aku hanya perlu tidur. Besok pagi aku pasti akan ke butik.” jawab wanita itu, “Sampai besok, Chris.”



“Sampai besok, Sayang. Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa meneleponku.”



“Aku tahu, Kak. Bye.”



Cessa menutup telepon dan meletakkan ponsel di dekat kepalanya. Ia menghembuskan nafas dan memikirkan alasan apa lagi yang harus dia katakan pada Chris bila besok dia masih tidak bisa ke butik.



“Aku akan memikirkannya nanti,” gumamnya lirih, “Sekarang yang perlu kulakukan hanya tidur dan berharap aku masih kuat menghadapi traumaku yang mulai kambuh.”



***



Sementara itu, Chris yang sudah menutup teleponnya menatap benda persegi di tangannya dengan kening berkerut. Jarang sekali Cessa sakit. Biasanya wanita itu hanya sakit ketika musim gugur dan musim dingin dan itu pun hanya flu atau demam biasa. Dan baru-baru ini wanita itu juga baru sembuh dari penyakit musimannya.



“Ada yang tidak beres. Ini pasti ada hubungannya dengan sikap Cessa kemarin,” gumam Chris, “Jangan-jangan dia sedang bermasalah dengan Grim?”



Chris tidak bisa berhenti memikirkan berbagai kemungkinan apa yang terjadi pada Cessa. Karena itulah Chris kembali mengangkat ponselnya dan menelepon seseorang untuk menyelidiki masalah seperti ini. Dia harus tahu apa yang terjadi pada Cessa, dan jika itu berhubungan dengan Grim dia tidak akan segan-segan untuk membuat pria yang kini menjadi suami wanita itu merasakan akibatnya.

__ADS_1




__ADS_2