The Hope

The Hope
Chapter 07


__ADS_3

Cessa membuka mata ketika mencium aroma makanan yang sedang dimasak. Dia menggeliat dan menguap. Rasanya kemarin dia baru saja tidur dan tahu-tahu sekarang sudah pagi. Mengingat kejadian kemarin membuatnya mendengus. Chris berhasil membuatnya merasakan hukuman ala pria itu lagi. Sejak dulu Chris selalu memberikan hukuman yang walau bagi orang lain termasuk anugerah, tapi bagi Cessa adalah neraka.



Cessa bangun dari tempat tidur dan langsung menuju dapur, dia menemukan Chris sedang memasak sesuatu yang membuat senyumnya terbit. Chris sudah berpakaian rapi dan rambutnya agak basah karena tadi dia keramas. Pria itu melihat Cessa di pintu dapur dan mendecak.



"Pakai dulu kimono atau pakaian yang pantas, kau membuatku merasa seperti baru saja menerkammu kemarin malam." Ujar Chris.



Cessa memiringkan kepalanya sambil tertawa geli. Penampilannya saat ini memang bisa dibilang mampu membuat orang salah paham. Dengan kaus ketat berwarna hitam dan juga hotpants berwarna sama, semua orang pasti mengira dia dan Chris tidur bersama. Tapi bukannya menuruti ucapan Chris, Cessa malah mendekati pria itu dan memeluknya dari belakang, nyaris membuat Chris melepaskan spatula yang digunakannya untuk menumis sayuran.



"Cessa!"



"Aku mau makan dengan porsi yang lebih banyak. Aku lapar. Mau makan banyak." kata Cessa.



Chris memutar bola matanya dan menepuk kepala Cessa yang saat ini dalam mode manja. Selalu begini setiap kali dia menghukum Cessa. Wanita itu pasti akan selalu bermanja dengannya dan menggelayut seperti sekarang. Kebiasaan yang sangat dihafal Chris mengingat dia mengenal Cessa selama sepuluh tahun terakhir.



"Sebaiknya kau mandi dulu dan berpakaian yang pantas. Hari ini kau harus mengerjakan dua gaun pesanan klien, 'kan?" kata Chris, "Mandi, atau aku yang harus memandikanmu?"



"Kau tidak boleh melihat tubuh seksiku." Kata Cessa, "Tunggu, kau sudah sering melihatnya sejak kita berusia lima belas tahun, jadi ..., kurasa tidak apa kalau kau melihat."



"Cessa, mandi. Atau aku perlu membuatmu tidur lagi?"



"Tidak mau."



Cessa buru-buru berlari ke kamar mandi dan melaksanakan perintah Chris kali ini. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Andai ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka barusan, mereka semua benar-benar akan salah sangka dengan hubungannya dengan Cessa. Terutama karena keakraban mereka seperti tadi.



Dua puluh menit kemudian Cessa sudah mandi dan memakai blus hijau tua dan celana jins ketat. Chris sendiri sudah selesai menyajikan sarapan mereka di atas meja makan. Cessa menuang dua cangkir kopi untuk mereka.



"Kau tidak pulang ke apartemenmu kemarin?" tanya Cessa melahap salad sayur yang tersaji di depannya, "Kau menjagaku semalaman?"



Chris menyeruput kopinya sebelum menjawab, "Seseorang harus menjagamu agar tidak kabur dan melewatkan jam tidurmu. Hukumanku cukup berhasil, kan? Kau tidur nyenyak bahkan tidak sadar kalau hari sudah menjelang siang."



Cessa mencibir dan melahap satu sendok salad lagi, "Para pegawai di toko sudah diberitahu kalau aku akan datang terlambat?"



"Kau tenang saja. Apapun yang kutangani selalu berjalan dengan baik." ujar Chris, "Sekarang makanlah, lalu setelahnya aku akan mengantarkanmu ke butik. Aku masih harus menghubungi beberapa sponsor show-mu minggu depan dan juga model utamamu, karena dia super sibuk."



"Baiklah ...." Cessa manggut-manggut, "Chris?"



"Hm?"



"Aku boleh tambah salad lagi?"



***


__ADS_1


Cessa melangkah masuk ke dalam butiknya setelah mobil Chris menghilang dari pandangan. Wanita itu menyapa beberapa pegawai dan anak magang yang berpapasan dengannya dan dia masuk ke lift khusus miliknya sendiri menuju lantai tiga, tempatnya biasa bekerja.



Cessa merapikan rambutnya yang hari ini diikat membentuk ponytail dan merapikan pakaiannya. Blus hijau tuanya sedikit kusut di bagian lengan, tapi itu bukan masalah, karena lantai tiga adalah lantai khusus tempatnya mengurung diri, bekerja sendirian. Setiap ia mengerjakan gaun-gaun pesanan klien, Cessa selalu membutuhkan ruang tersendiri. Karenanya lantai tiga adalah tempat keramat bagi sebagian besar pegawai butiknya.



Bunyi denting halus lift membuyarkan lamunan Cessa. Ia berjalan keluar dari lift dan meletakkan mantelnya ke atas sofa merah beludru yang terletak di dekat meja kerjanya dan hendak menghampiri salah satu manekin yang memakai gaun rancangannya yang setengah jadi saat dia merasa ada sesuatu yang menatapnya. Cessa berbalik dan matanya sukses membelalak melihat seseorang yang tidak pernah dia kira akan berada di ruangan pribadinya ini.



"Grimvon Verleon? Apa yang kau lakukan di sini?"



Grim yang duduk di kursi kerja Cessa tersenyum simpul melihat reaksi wanita itu. Kedua tangannya bertumpu di atas meja sementara kedua matanya menatap Cessa lekat-lekat.



"Sudah kubilang, aku sedang berusaha menarik perhatianmu." Kata Grim, "Sepertinya kau sedang dalam mood yang baik hari ini. Apa ada sesuatu yang membuatmu tersenyum-senyum seperti itu?"



"Itu bukan urusanmu. Pergi dari ruanganku sekarang!"



"Tidak bisa." Grim berdiri dan berjalan menghampiri Cessa, "Aku sudah mendapatkan izin khusus dari pegawaimu untuk berada di ruangan ini."



Grim menunjukkan sebuah tanda pengenal yang tersemat di kerah jas pria itu. Melihat tanda pengenal dengan tulisan 'VIP' itu membuatnya mengerang dalam hati. Lain kali dia harus memberitahu pegawainya untuk tidak menyerahkan kartu pengenal khusus itu pada sembarang orang macam Grimvon Verleon.



Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam dan membuatnya merasa tak nyaman. "Apa yang kau lihat?" tanya Cessa dingin.



"Tidak ..., aku baru menyadari kalau kau tampak lebih menggoda bila rambutmu diikat seperti ini. Dan blusmu itu benar-benar membuatku ingin menerkammu sekarang juga." Kata Grim.




"Mundur. Atau aku bersumpah akan mematahkan tanganmu di sini sekarang juga." Ujar Cessa setengah menjerit.



"Hei, ini hanya aku. Kau pikir aku bisa digertak dengan ancaman seperti itu?" balas Grim sambil berjalan lebih dekat.



Cessa menahan tangan Grim yang hendak menyentuhnya dan memiting lengan pria itu dengan cepat. Grim sedikit terkejut dengan reaksi Cessa, tapi seulas senyum lebar tersungging di bibirnya. Walau pitingan Cessa cukup kuat, tetapi itu tidak seberapa bagi Grim yang pernah berlatih dan bahkan terjun ke militer secara langsung. Dengan mudah Grim membalik keadaannya dan berhasil memojokkan Cessa ke dinding, mengurung wanita itu dengan kedua tangannya.



"Perlawanan yang bagus, sayangnya itu tak sebanding dengan kemampuanku, Princess."



Mata bulat itu mengerjap menyadari situasinya berbalik dengan sangat cepat. Cessa berusaha keluar dari kurungan tangan Grim tapi tenaganya kalah dari pria itu. Cessa mengeluarkan desisan tak terima ketika Grim mendekatkan wajahnya hingga jarak diantara mereka nyaris tak ada lagi.



"Jauhkan wajahmu dariku, Grimvon Verleon." Desis Cessa, "Aku bersumpah aku akan mematahkan dua tanganmu ini dengan cepat, saat ini juga."



Grim terkekeh. Sama sekali tak terancam dengan ucapan Cessa. "Kau pandai menggertak, tapi harus kuakui tenagamu lumayan juga mengingat tubuhmu mungil seperti boneka." Kata Grim, "Tapi, serius Princess, kenapa kau sepertinya begitu anti denganku? Apa kau punya semacam trauma?"



Cessa terdiam mendengar kalimat terakhir pria itu. Trauma? "Aku benci pria playboy sepertimu." Kata Cessa, "Lepaskan aku! Aku harus bekerja!"



Grim mendengus mendengarkan jawaban yang tidak memuaskan itu. Tetapi sekali lagi, dia tidak berminat melepaskan Cessa saat ini. Jadi dia tetap mengurung Cessa dan menikmati ekspresi di wajah wanita itu.



"Demi Tuhan, Grimvon Verleon, lepaskan aku! Aku punya banyak pekerjaan hari ini." kata Cessa lagi, "Gaun adikmu bahkan belum sempat kukerjakan sampai hari ini sementara deadline-nya seminggu lagi."

__ADS_1



"Baiklah, baiklah ..., tapi aku akan tetap di sini, melihatmu bekerja." kata Grim, "Jangan tanya kenapa. Aku hanya ingin tahu seperti apa gaun yang akan dipakai Ivy nanti di pernikahannya."



Bukankah Grim bisa melihatnya nanti ketika pesta pernikahan adik tirinya itu berlangsung? Tapi Cessa tidak mau berdebat lagi. Hari ini dia perlu mengerjakan dua pesanan gaun milik klien dan harus selesai malam ini juga. Jika tidak dikerjakan sekarang, bisa-bisa dia harus menunda lagi dan membuat beban pikirannya bertambah.



Grim melepaskan Cessa dan membiarkan wanita itu bergerak menjauhinya. Cessa menatap Grim sebentar, kemudian bergerak mengerjakan pekerjaannya. Pria itu duduk di atas sofa beludru di dekat meja kerja Cessa dan memperhatikan wanita itu bekerja. Wajah Cessa tampak serius dan sesekali keningnya berkerut, membuat Grim sedikit penasaran dengan apa yang dipikirkan wanita tersebut. Namun dia tahu untuk tidak mengganggu Cessa saat ini. Kali ini Grim hanya melihat bagaimana Cessa bekerja.



Cessa sendiri tidak lagi memusingkan keberadaan Grim di ruangannya. Dia terlalu sibuk menjahit kain-kain di tangannya menjadi satu gaun utuh. Ketika satu gaun selesai, dia beralih ke gaun berikutnya. Ia duduk di hadapan manekin sambil tangannya terus bekerja. Grim seolah tak terlihat di mata wanita itu ketika sedang focus pada sesuatu.



Hampir sembilan jam Cessa bekerja tanpa henti, bahkan melewatkan jam makan siang. Grim sendiri menunggu dengan sabar sampai Cessa menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan barulah dia tahu kalau Cessa sudah mulai kelelahan. Grim melirik jam di tangannya, Sembilan jam bekerja bukanlah waktu yang sebentar. Diam-diam Grim memuji keseriusan wanita itu dalam bekerja.



Tapi tetap saja, sudah saatnya Cessa beristirahat sejenak. Grim bangkit dari duduknya dan menghampiri Cessa yang berkutat pada gaun ketiga, gaun pengantin Ivy, dan memeluk wanita itu dari belakang. Cessa terpekik kaget dan menoleh ke belakang tepat ketika bibir Grim mencium bibirnya sekilas.



"Hentikan kegiatanmu. Kau bahkan melewatkan makan siang." Kata Grim.



Cessa menolehkan kepalanya melihat jam di dinding. Sudah sore, dan sepertinya bahkan matahari sudah mau tenggelam tanpa dia sadari. Dia lalu menatap Grim lagi, "Dan kenapa kau masih ada di sini? Kukira kau sudah pulang dan membiarkanku hidup tenang hari ini."



"Sepertinya itu hal yang mustahil." Kekeh Grim, "Kau tidak sadar aku sedang memelukmu? Kau mulai terbiasa dengan sentuhanku, hm?"



Cessa menatap kedua tangan Grim yang melingkari pinggangnya dan menepis tangan pria itu dengan kasar. "Aku sudah tentu sadar, Grimvon Verleon." Katanya, "Berhenti mencoba menyentuhku. Kau tahu aku tidak mau tunduk padamu."



"Benarkah?" Grim menyandarkan dagunya di bahu wanita itu dan membuat Cessa merinding, "Kau benar-benar takut dengan sentuhanku, tapi kenapa dengan managermu tidak?"



"Apa urusanmu? Berhenti menggangguku dan pergi dari sini, Grimvon Verleon." Ujar Cessa



"Kau tahu, aku tidak suka saat kau memanggilku dengan nama selengkap itu," Grim mendecak, "Ah, tapi aku punya ide yang bagus agar kau bisa memanggil namaku tanpa embel-embel Verleon."



Cessa merasakan ketidak-beresan dalam ucapan Grim. Dan itu terbukti sedetik kemudian ketika pria itu membalik tubuhnya dan mulai mencium bibirnya. Lidah Grim bermain di bibirnya dan membuat ia tersentak. Kedua tangannya sudah bersiap hendak mendorong pria itu tetapi Grim sekali lagi bisa mengantisipasi gerakan Cessa. Grim menahan kedua tangan Cessa sementara sebelah tangannya menahan tengkuk wanita itu, memperdalam ciumannya, lidah Grim masuk ke dalam mulut Cessa dan menyentuh lidahnya.



Mata Cessa mengerjap, sementara otaknya tiba-tiba mengingat memori yang sudah coba ia kubur dalam-dalam. Wanita itu berontak dari ciuman Grim dan berusaha melepaskan diri.



Kau tidak bisa melawan, Cessa. Nikmati saja.



"Ber ... henti ...." Protes Cessa tidak digubris oleh Grim. Pria itu menahan kedua tangannya kuat-kuat dan bibirnya beralih pada leher Cessa, menyebabkan wanita itu bergidik. Sesuatu seakan pecah dalam kepala Cessa. Perlawanan wanita itu makin menggila ketika Grim menyentuh dadanya dan meremas lembut gundukan kenyal di balik pakaiannya. Cessa menggeleng kuat-kuat dan tubuhnya mulai gemetar.



Kali ini Cessa berhasil mendorong Grim menjauh. Ia langsung berdiri dari kursinya tetapi kemudian terjatuh ke lantai sambil memeluk dirinya sendiri. Tubuh Cessa yang gemetar hebat membuat Grim yang berniat menyerang Cessa lagi, terhenti. Bibir wanita itu membuka, mengatakan sesuatu yang nyaris tak terdengar oleh telinga Grim.



"A-aku tidak ... tidak bersalah. Kumohon jangan perkosa aku lagi ... aku tidak ..., tidak ..." bibir Cessa terus menggumamkan kata-kata itu dan membuat Grim mengerutkan kening.



Apa yang sebenarnya diucapkan wanita ini?



__ADS_1


__ADS_2