
WARNING!!!
TERDAPAT ADEGAN 21+++. JADI BAGI YANG NGGAK MAU PUASANYA BATAL ATO NGGAK KUAT IMAN, BACA CHAPTER INI HABIS BUKA PUASA AJA.
KALO NGEBANDEL, TANGGUNG SENDIRI YA. PUTRI NGGAK TANGGUNG JAWAB KALO KALIAN BLINGSATAN KEK CACING KEPANASAN.
😂😂😂
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
Pikiran Cessa masih kalut, dan dia tidak merasakan apa-apa dari ciuman Grim selain bayangan ayah tirinya yang dulu memerkosanya. Ia berusaha menjauhkan wajahnya dari Grim, tetapi pria itu menahannya. Bibir Grim kembali melumat bibirnya, kali ini lebih lembut dari kemarin dan membuat kesadaran Cessa sedikit demi sedikit kembali.
Tetapi itu belum cukup. Baru saja dia bisa mengenali Grim, bayangan kakak tirinya kemudian mengambil alih dan membuat wanita itu memejamkan matanya, ketakutan. Dibanding perlakuan ayah tirinya, kakak tirinya lah yang paling ia takuti. Bahkan ketika Cessa memohon padanya waktu itu, kakak tirinya tidak mau mendengarkan dan menyiksa Cessa dengan pengalaman yang membuat ia trauma hebat.
Grim merasakan perlawanan Cessa yang terkadan melemah. Ia mengalihkan ciumannya ke pipi wanita itu dan kemudian menjilati daun telinga Cessa. Membuat wanita boneka itu terkesiap.
"Ssshh ..., tak apa, Princess. Enyahkan bayangan dua bajingan yang pernah menodaimu itu dan lihat aku." bisik Grim, "Tidak apa-apa, aku yang sekarang menyentuhmu."
Cessa mengerjapkan matanya sekali, kemudian dua kali. Ia berusaha mendengarkan suara Grim yang terdengar jauh di telinganya sementara pria itu menyentuh kerah blus Cessa, mengelus leher wanita itu dengan lembut. Perlakuan itu membuat Cessa bisa merasakan kesdarannya meresap ke dalam tubuhnya secara perlahan. Bayangan ayah dan kakak tirinya mulai menghilang dari pandangannya.
Grim melihat sinar ketakutan di mata Cessa mulai memudar dan kembali mencium bibir wanita itu, kini dengan bergairah. Dibukanya kedua bibir Cessa dengan lidahnya dan menelusup masuk ke dalam mulut wanita itu, mencicipi rasa manis di lidahnya.
Cessa mengerjap begitu kesadarannya benar-benar pulih, tapi terlambat untuk berteriak ketika Grim memperdalam ciumannya. Cessa nyaris tersedak, entah karena ciuman Grim yang begitu bergairah atau sesuatu yang membuat tubuhnya terasa panas. Astaga, apa yang terjadi padanya?
Ciuman itu berlangsung lama, membuat Cessa nyaris terlena ketika Grim melepaskan ciumannya dan menatap Cessa lekat-lekat. Mata pria itu jelas sudah berkabut karena gairah tetapi ia terus menahannya dan membiarkan Cessa tenang terlebih dulu.
" ... kau mau lagi?" kata Grim dengan suara serak, yang sukses membuat Cessa kembali menggigil.
Wanita itu menggelengkan kepalanya lemah. Tapi Grim punya pemikiran sendiri. Sebelah tangannya menyentuh dada Cessa dan meremas gundukan kenyal wanita itu hingga Cessa terpekik kaget. Matanya yang bulat menatap Grim dengan tatapan tak terima.
__ADS_1
"Kau mau apa lagi?"
"Sudah jelas, kan? Melanjutkan apa yang kita mulai tadi, terapi penyembuhanmu." Balas Grim.
***
Cessa menatap Grim dengan tatapan tidak percaya dan berusaha untuk duduk. Tangan Grim menahan bahunya dan membuatnya tidak bisa bergerak di bawah tubuh pria itu.
"Kau tidak bisa kabur begitu saja, Princess. Terapimu belum selesai." Kata Grim, "Jangan coba-coba untuk kabur. Sudah kubilang hanya aku yang memiliki kunci lantai ini."
"Kenapa kau terus memaksaku?" balas Cessa, "Lepaskan aku, Grim. Aku mau pulang."
"Tidak. Aku tidak bisa melepaskanmu setelah melihat sinar puas di matamu barusan." Grim tersenyum lebar, "Ya, Princess, terapi tahap awal yang kuterapkan padamu berhasil dan kurasa kau sudah mulai bisa melihatku, bukan dua bajingan yang pernah menodaimu itu."
Mata Cessa mengerjap dan kedua pipinya terasa panas. Sial. Seharusnya dia tidak terlena dengan permainan yang dimainkan pria itu. Sekarang dia benar-benar kehabisan akal untuk melarikan diri dari Grim. Apa pun alasan atau ucapan yang dilontarkannya bisa dibalikkan dengan mudah oleh Grim dengan telak.
"Aahh ...." Cessa mengerang ketika tangan Grim kembali meremas dadanya. Mendadak dia merasakan tubuhnya memanas, padahal pendingin ruangan di tempat ini menyala di atas kepalanya.
Grim tersenyum melihat Cessa tidak menolak. Tangannya menelusup ke balik blus wanita itu dan menyusuri kulit perutnya yang lembut. Cessa menggigit bibirnya. Lagi-lagi dia merasakan bayangan kedua pria yang membuatnya trauma kembali muncul dalam pikirannya.
Kata-kata itu sangat manis dan membuat Cessa mengerjap karena airmata yang mulai mengalir. Ia menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi kedua matanya. Selama ini hanya Chris yang boleh melihatnya menangis, dan kalau Grim melihatnya menangis seperti ini, entah apa yang harus dirasakannya. Grim menyentuh lengan yang menutupi mata indah Cessa dan menurunkannya. "Jangan malu, Princess. Aku janji akan membuatmu terbiasa dengan sentuhanku."
Cessa melihat kesungguhan di mata Grim. Namun Cessa tidak cukup berani untuk mempercayai pria itu. Hati dan pikirannya masih terlalu takut untuk mempercayai pria lain selain Chris yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
Grim tidak menyia-nyiakan diamnya Cessa. Tangannya membuka kancing blus Cessa satu-persatu dan memperlihatkan kulit tubuhnya yang putih mulus. Dadanya masih tertutupi oleh bra berwarna hitam dan Grim juga melepas kait bra itu dengan mudah. Cessa hanya diam, membiarkan Grim melepaskan blus dan bra dari tubuhnya.
"Kenapa kau diam, Princess? Apa kau mau terapi ini dilanjutkan?" tanya Grim.
Mata Cessa memandang wajah Grim. Pipi wanita itu memanas dengan cepat. "Aku ... tidak tahu. Apa aku bisa mempercayaimu? Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanya Cessa pelan.
"Aku bersungguh-sungguh." Balas Grim, "Aku tidak suka jika melihat bonekaku menangis dan gemetar ketakutan hanya karena bajingan yang menodaimu dengan kasar masih terlukis jelas dalam ingatanmu."
Cessa kembali diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dibiarkannya Grim menyentuh dadanya yang kini tak dilindungi sehelai benang pun dan tersentak. Sentuhan pria itu terasa kasar namun lembut di saat yang sama. Cessa merasakan panas di tubuhnya naik sedikit demi sedikit. Tangan Grim meremas payudara Cessa dengan ritme yang beraturan dan membuat wanita itu mendesah. Cessa benar-benar mendesah dan hal itu membuat Grim tersenyum lebar.
__ADS_1
Ia lalu mencium bibir Cessa, kembali mencicipi rasa manis dari bibir wanita itu sementara tangannya tidak berhenti memainkan payudara Cessa. Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Menghentikan ciuman panas mereka, Grim membuka celana yang dipakai Cessa dan menariknya, nyaris merobek celana tersebut dan kini yang tersisa di tubuh wanita itu hanya celana dalam berwarna sama seperti bra-nya. Cessa sempat panik ketika Grim menyentuh celana dalamnya dan menggeleng kuat.
"J-jangan ...." Cessa menggeleng kuat-kuat, suaranya bergetar, "Jangan sentuh ... di sana."
"Tidak apa-apa, Princess. Aku tidak akan masuk ke dalammu kali ini. Belum saatnya. Untuk kali ini aku hanya akan membuatmu terbiasa dulu dengan sentuhanku." Kata Grim, "Sekali lagi, percaya saja padaku."
Mendengarnya, Cessa meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepalanya. Grim kemudian melanjutkan aksinya. Tangannya kemudian menelusup ke dalam celana dalam Cessa dan menyentuh liang kewanitaannya. Cessa terkesiap. Rasa lembab dan basah di tubuh bagian bawahnya membuatnya menggelinjang. Terlebih sentuhan Grim mengirimkan sensasi seperti sengatan listrik ke sekujur tubuhnya.
"Ahh ..., Grim ...." Cessa mengeluarkan desahan yang membuat Grim menggeram.
"Benar, Princess, sebut namaku." Bisik Grim, kemudian bibirnya mengatup di salah satu payudara Cessa dan mengulumnya.
Cessa merasa hampir gila. Ini pertama kalinya dia disentuh seintim ini dan pertama kalinya juga dia merasakan sensasi yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya menagih, dan tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram rambut Grim, menekan kepala pria itu agar lebih merangsangnya.
"Grim, aku ... aku rasa aku akan ...." Cessa mengerang. Sesuatu seakan meledak dalam kepalanya dan detik berikutnya tubuhnya melemas. Matanya menatap langit-langit kamar. Dia baru saja mendapatkan ******* pertamanya.
Grim mengeluarkan tangannya dari celana dalam Cessa dan mencium bibir wanita itu untuk menarik perhatiannya. "Kau sudah mulai terbiasa dengan sentuhanku, hm?"
Cessa mengerjap. Masih lemas setelah mendapatkan ******* pertamanya. "Tidak tahu ...." Katanya.
Grim tersenyum lembut dan mengelus kepala Cessa, "Kalau begitu, bersiaplah untuk terapi selanjutnya." Kata Grim, "Kali ini, aku akan masuk ke dalammu, Princess."
***
Sementara itu, Chris yang baru saja sampai di kamar apartemen Cessa mendapati tidak ada seorang pun di dalam apartemen yang didominasi oleh warna putih tersebut. Dia pikir Cessa sudah pulang lebih dulu dan sedang berbicara dengan Grimvon Verleon.
"Cessa?"
Chris berjalan ke arah pintu kamar Cessa dan membukanya. Wanita itu juga tidak ada di sana. Ia lalu mencoba menghubungi ponsel Cessa, tetapi panggilannya malah masuk ke voice mail.
"Ke mana perginya boneka mungil itu?" Chris bertanya-tanya sambil menatap ponselnya.
Cessa tidak ada di apartemennya, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Bila wanita itu tidak menjawab panggilannya, hanya ada beberapa kemungkinan. Yang pertama, Cessa sedang makan di luar. Kebiasaan yang selalu dilakukan Cessa kalau wanita itu sedang bad mood dan tidak ingin diganggu. Yang kedua, wanita itu sedang berada di tempat persembunyiannya, yang bahkan Chris tidak tahu di mana tepatnya. Chris hanya pernah mendengar dari Cessa kalau wanita itu menetapkan suatu tempat sebagai tempatnya untuk menyendiri.
Dan yang terakhir ... ini ada hubungannya dengan Grimvon Verleon. Ada kemungkinan jika Cessa bersama pria itu dan sedang berbicara, seperti yang diinginkan Grimvon Verleon.
__ADS_1
"Kuharap memang hanya berbicara." Kata Chris, "Jika Cessa kembali dengan keadaan tidak utuh, akan kupastikan pria Verleon itu menerima akibatnya."