
Chris bersandar pada counter dapur dan menatap Cessa yang kini duduk di kursi di balik meja makan
dan menundukkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak menyangka akan menemukan
Cessa bersama dengan pria yang nyaris membuat wanita itu kembali
mengingat traumanya dan berada di area pribadi milik wanita itu. Jadi
ucapan Cessa yang mengatakan ingin mencoba berkencan dan pilihannya
jatuh pada Grimvon Verleon itu benar.
Sungguh. Chris lebih
memilih Cessa menarik pria lain selain Grimvon Verleon karena dia
sendiri tahu reputasi pria itu di luar sana. Mana mau Chris melepaskan
Cessa pada pria dengan reputasi playboy yang melekat kuat seperti Grimvon?
Keheningan yang terjadi
di antara mereka berdua membuat Cessa merasa tidak nyaman. Mau berbicara
duluan dia juga takut membuat Chris semakin marah padanya, tetapi bila
tidak ada yang berbicara, keheningan ini akan membuat Cessa makin
ketakutan. Apalagi aura yang dikeluarkan Chris membuatnya seolah-olah
kehabisan nafas.
"C-Chris ...."
"Jelaskan padaku, Cessa,
apa yang sudah kalian lakukan tanpa sepengetahuanku," sela Chris,
membuat Cessa mendongak, "Jelaskan semuanya."
Wanita itu meneguk ludahnya dengan susah payah, "Semuanya?"
Pria itu mengangguk, "Semuanya. Dan jangan coba-coba berbohong, Lass. Kau tahu aku bisa mengetahui kapan kau berbohong."
Sekali lagi Cessa
menelan ludahnya. Suara wanita itu lebih terdengar seperti bisikan
ketika akhirnya ia berbicara, "Kami ... melakukannya."
Chris menaikkan sebelah
alis, mencoba mendinginkan kepala dan hatinya yang sudah sangat panas
saat ini ketika mendengar ucapan Cessa. 'Melakukannya'. Dari satu kata
itu saja Chris sudah tahu maksud wanita mungil yang ada di hadapannya
ini. Jika dia tidak mengendalikan diri, Chris yakin dia sudah mematahkan
meja di depan Cessa saat ini juga.
"Melakukannya? Apa yang kau maksud ...."
Cessa menganggukkan
kepalanya perlahan. Dia tahu Chris pasti marah padanya, tetapi pria itu
sendiri yang memintanya menjelaskan semuanya dari awal, 'kan?
"Cessa, saat ini
sebenarnya aku benar-benar marah. Amat sangat marah," ujar Chris,
"Kenapa dari sekian banyak pria, malah dia yang membuatmu begini?"
"Dia awalnya memaksaku,"
kata Cessa lagi, "Tapi dia berjanji akan bersikap lembut, dan aku ...,
aku ... Chris, aku minta maaf. Aku salah karena tidak memberitahumu.
Maafkan aku."
Chris memejamkan
matanya. Jemarinya memijat pangkal hidungnya sebelum kemudian kembali
membuka mata dan menatap Cessa, "Sudah berapa lama kalian seperti tadi?"
"Mungkin nyaris seminggu. Dia beberapa kali datang ke butikku," jawab Cessa.
"Seminggu ..., itu berarti sebelum show kemarin malam?" tanya Chris, dan Cessa mengangguk sebagai jawaban.
"Berarti terapi yang kau maksud waktu itu asalnya dari Grimvon, benar?"
Lagi-lagi wanita itu mengangguk. Dan mereka berdua kembali terdiam.
Pria itu menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. "Cessa, kau tahu aku sangat menyayangimu, 'kan?"
"Aku tahu."
"Kalau begitu, aku tidak
akan mempermasalahkan kau dekat dengannya. Tapi, aku minta dua hal
darimu. Yang pertama, kau akan menghubungiku jika ternyata Grim
membuatmu menangis apalagi terluka. Dan yang kedua, bila kau memantapkan
hati untuk terus bersamanya, kau harus membiarkanku memastikan kau
bahagia," ujar Chris, "Hanya itu yang kupinta. Kau tahu aku masih tidak
rela menyerahkanmu pada pria sebrengsek Grimvon Verleon."
Mata Cessa mengerjap mendengar ucapan Chris. Apa itu artinya Chris menyetujui Grim akan berada di dekatnya mulai sekarang?
Chris sepertinya
mengerti pandangan Cessa dan dia mendekati wanita itu, berdiri di
depannya, "Aku serius. Kalau kau memang benar-benar serius berhubungan
dengan Grimvon Verleon, maka aku hanya bisa memercayakanmu padanya.
Sekarang ini aku hanya bisa bertindak sebagai seorang kakak untukmu,
Cessa. Tapi bila Grim terbukti menyakitimu, maka aku tidak akan
segan-segan merebutmu darinya. Kau paham?"
Cessa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Seulas senyum manis tersungging di bibir
__ADS_1
wanita itu, "Terima kasih, Chris. Maaf sebelumnya kalau aku
merahasiakan ini darimu. Aku takut kau akan marah-marah dan langsung
menemui Grim untuk menghajarnya."
"Seharusnya kau
mengatakannya sejak awal agar aku bisa menghajarnya lebih cepat.
Lagipula apa gunanya otot-ototku yang terlatih ini kalau bukan untuk
menghajar pria brengsek macam Grimvon?" balas pria itu sambil berdecak.
Cessa tertawa kecil dan
mencium pipi Chris sebagai gantinya, "Jangan marah lagi, Kak. Kau tahu
aku paling takut melihatmu marah," ujarnya dengan senyum manis.
Chris mendengus dan balas mencium kening wanita itu, "Kau selalu bisa mengandalkanku, Lass. Kau harus selalu ingat itu."
Cessa mengangguk untuk
ke sekian kalinya. Chris kemudian berdiri tegak dan mengembuska nafas.
"Ayo, kita temui pria brengsek pilihanmu itu."
***
Grim masih duduk di
sofa. Tampak bosan dan sesekali melirik kearah pintu dapur. Lama sekali
Chris dan Cessa berbicara. Walau Grim yakin saat ini pria yang menjadi
manager wanita itu sedang menceramahinya, tetapi tetap saja, ini sudah
terlalu lama.
Dia baru hendak berdiri
dan menuju dapur ketika kedua orang itu keluar dari sana. Raut wajah
Chris masih sama seperti tadi walau sekarang tampak melunak, sementara
Cessa mengikuti pria itu di belakang.
"Grimvon Verleon, aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Chris, "Kau berjanji untuk tidak menyakitinya?"
Grim mendengar
pertanyaan itu dan alisnya sedikit terangkat. Apa ini? Pertanyaan dari
seorang kakak yang protektif pada adik perempuannya? Mata Grim melirik
kearah Cessa yang berdiri di belakang Chris, "Aku tidak akan menyakiti Princess. Aku tidak akan melakukannya."
Chris menaikkan sebelah alis. Tatapannya kini agak melunak walau raut wajahnya masih datar, "Kau akan memastikan dia bahagia?"
"Ya," Grim menjawab
mantap. "Lagipula, untuk apa aku menawarkan diri menjadi bagian dari
terapinya kalau aku tidak ingin dia bahagia?"
Chris mengangguk
mendengar ucapan Grim. Dia kemudian menoleh kearah wanita yang berdiri
di belakangnya, "Aku sudah memastikannya. Sekarang, aku tidak akan
Pria itu lalu menepuk kepala Cessa. Kemudian tanpa kata dia langsung berjalan menuju pintu.
"Chris," panggil Cessa, "Kau akan ke sini lagi besok pagi, kan?"
Chris yang baru mau
membuka pintu menoleh lagi kearah Cessa, "Tentu saja. Kalau kau tidak
diawasi, bisa-bisa kau jadi tengkorak berjalan karena melewatkan
sarapan."
Mendengar jawaban itu,
bibir Cessa merengut lucu dan membuat Chris tertawa. Pria itu kemudian
keluar dari apartemen meninggalkan Cessa dan Grim berdua di sana.
Grim bergerak mendekati Cessa dan menarik pinggang wanita itu mendekatinya, "Jadi, tadi itu apa?"
"Hanya nasihat ala Chris," Cessa mengedikkan bahu.
"Hmm ...."
"Apa?" tanya wanita itu ketika merasakan Grim menatapnya.
"Tak ada. Mau melanjutkan terapimu?"
"Apa pikiranmu selalu tak jauh-jauh dari hal seperti itu?" ujar wanita boneka itu, "Kenapa kau tidak sabaran seperti ini?"
"Karena aku tidak sabar untuk memasukimu lagi, Princess," bisik pria itu tepat di telinga Cessa, "Dan aku tidak menerima penolakan. Jadi bersikap baiklah atau aku akan kasar padamu."
"Kasar ...?"
"Aku tidak akan
melakukannya kecuali terpaksa," ujar Grim lagi, "Sekarang, ayo. Kita
lanjutkan terapimu yang tertunda karena tidur tadi."
Cessa hendak membantah
lagi ketika Grim tiba-tiba menggendongnya dan secara refleks wanita itu
melingkarkan kedua lengannya di leher Grim. Mata bulat wanita itu
menatap Grim dengan tatapan cemberut yang membuat pria itu terkekeh,
"Jangan memasang wajah begitu, Princess. Kau makin menggoda bila seperti itu."
"Dasar tukang pemaksa! Menyebalkan!"
"Terima kasih atas
pujiannya. Bagaimana kalau kita melakukannya di kamarmu? Di sofa hanya
akan membuat tubuhmu sakit besok pagi," kata Grim, sukses membuat pipi
Cessa memerah.
Grim membawa Cessa ke
kamarnya dan membaringkan wanita itu di atas tempat tidur. Ketika Grim
__ADS_1
hendak naik ke tempat tidur juga, ia bangkit dan berusaha menjauh tetapi
dicegah oleh tangan Grim yang kembali menariknya dan membuatnya
terbaring di atas tubuh pria itu.
"Grim!"
"Terapi kali ini masih sama seperti tadi. Diamlah dan baringkan kepalamu di dadaku," kata pria itu.
"Apa maksudmu berbaring di dadamu?" wanita itu mengerutkan kening.
"Dengarkan suara jantungku. Biasakan pendengaranmu mendengarkan detak jantungku, Princess."
Pipi Cessa kembali
memerah, tetapi dia menurut. Dia merebahkan kepalanya di dada Grim dan
mendengarkan degup jantung pria itu, yang terdengar sedikit cepat.
Matanya menatap wajah Grim yang tenang dan sedang tersenyum kearahnya,
"Apa kau bisa mendengar detak jantungku?"
"Hm ...." Wanita itu mengangguk.
"Kalau begitu, biarkan.
Aku lebih suka jika kau yang mendengarkan detak jantungku secara
langsung," ujar Grim, "Dan aku bisa memelukmu seperti ini."
Kedua tangan Grim
memeluk pinggang Cessa. Sebelah tangannya bergerak mengelus rambut
wanita itu dan membuat Cessa agak menegang, tetapi kemudian dia berusaha
rileks. Ini pilihannya, jadi dia harus bisa melewati semua ini. Cessa
menyembunyikan wajahnya di dada Grim dan menghirup aroma parfum pria itu
yang beraroma maskulin.
"Aku pernah bilang kalau
kau mau menerima terapi dariku, aku akan menceritakan tentang diriku,
begitu juga sebaliknya," kata Grim, "Apa kau mau mendengar ceritaku?"
"Selama itu tidak membuatku mengantuk," balas Cessa tanpa mengangkat wajahnya.
"Aku tidak akan
membiarkanmu tertidur ketika aku bercerita," kekeh pria itu, "Tapi ...,
aku harus mulai dari mana? Bagaimana kalau dari bunga kesukaanku?"
Kepala Cessa langsung mendongak, matanya menatap Grim dengan sorot tak percaya, "Bunga?"
"Benar, bunga," Grim mengangguk, "Kau suka bunga apa, Princess?"
Cessa memiringkan
kepalanya dan kemudian menjawab, "Bunga mawar, Lavender, Lily of the
Valley. Aku suka bentuk Lily of The Valley yang seperti lonceng kecil."
"Ternyata seleramu tak
jauh dari tubuhmu yang juga mungil," celetuk Grim sambil tertawa kecil
dan dihadiahi wanita itu dengan pukulan telak di dadanya. "Aku bercanda, Princess. Jangan marah seperti itu."
Cessa membuang muka
kearah lain dengan ekspresi cemberut. Pria ini benar-benar senang
meledek tinggi badannya yang tergolong mungil. Grim terkekeh lagi dan
menyentuh dagu wanita itu, memaksanya untuk menghadap kearahnya, "Aku
hanya bercanda. Jangan diambil hati."
"Kau menyebalkan," desis Cessa. "Lalu, bunga kesukaanmu apa?"
"Mawar putih."
"Mawar putih?" beo wanita itu, "Mengapa?"
"Karena melambangkan
kemurnian. Tetapi ada lagi yang membuatku suka bunga itu. Bunga itu juga
menjadi lambang kematian, di mana kau akan selalu diingat oleh orang
terkasihmu ketika kau sudah tiada." pria itu tersenyum lembut dan
menyentuh pipi Cessa.
Jantung Cessa rasanya
seperti mau melompat keluar ketika melihat senyum lembut pria itu. Dia
hanya diam ketika Grim memeluknya lebih erat dan menghirup aroma
rambutnya. Grim bersikap sangat manis kali ini walau kata-kata yang dia
lontarkan membuat Cessa ingin membanting pria itu saking kesalnya. Tapi,
sikap Grim yang seperti ini membuat Cessa terdiam.
"Grim,"
"Hm?"
"Kenapa kau selalu memanggilku 'princess'?" tanya wanita itu sambil mendongakkan kepalanya, "Apa karena kau tidak bisa menyebut nama 'Cessa'?"
"Aku bisa menyebut namamu seperti itu, tapi aku tidak mau," jawab Grim, "Bagiku 'Princess' adalah panggilan yang cocok untukmu dan hanya aku yang boleh menggunakannya."
"Kenapa?" Cessa bertanya lagi.
"Aku hanya membutuhkan satu 'princess' yang bisa menjadi ratuku suatu hari nanti," balas pria itu.
Lagi-lagi Cessa dibuat terdiam dan malu karena jawabannya. "Kau pasti bercanda."
"Tidak, aku tidak bercanda," balas pria itu. "Buktinya ada di tanganmu."
"Di tanganku? Cincin ini?" wanita itu melirik tangannya, tepat kearah cincin yang melingkari jari telunjuknya.
"Kau pikir kenapa aku
memberikan cincin itu padamu? Tentu saja untuk membuatmu tidak lari
dariku," jawabGrim, sukses membuat Cessa melongo.
__ADS_1