The Hope

The Hope
Chapter 18


__ADS_3

Chris bersandar pada counter dapur dan menatap Cessa yang kini duduk di kursi di balik meja makan


dan menundukkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak menyangka akan menemukan


Cessa bersama dengan pria yang nyaris membuat wanita itu kembali


mengingat traumanya dan berada di area pribadi milik wanita itu. Jadi


ucapan Cessa yang mengatakan ingin mencoba berkencan dan pilihannya


jatuh pada Grimvon Verleon itu benar.


Sungguh. Chris lebih


memilih Cessa menarik pria lain selain Grimvon Verleon karena dia


sendiri tahu reputasi pria itu di luar sana. Mana mau Chris melepaskan


Cessa pada pria dengan reputasi playboy yang melekat kuat seperti Grimvon?


Keheningan yang terjadi


di antara mereka berdua membuat Cessa merasa tidak nyaman. Mau berbicara


duluan dia juga takut membuat Chris semakin marah padanya, tetapi bila


tidak ada yang berbicara, keheningan ini akan membuat Cessa makin


ketakutan. Apalagi aura yang dikeluarkan Chris membuatnya seolah-olah


kehabisan nafas.


"C-Chris ...."


"Jelaskan padaku, Cessa,


apa yang sudah kalian lakukan tanpa sepengetahuanku," sela Chris,


membuat Cessa mendongak, "Jelaskan semuanya."


Wanita itu meneguk ludahnya dengan susah payah, "Semuanya?"


Pria itu mengangguk, "Semuanya. Dan jangan coba-coba berbohong, Lass. Kau tahu aku bisa mengetahui kapan kau berbohong."


Sekali lagi Cessa


menelan ludahnya. Suara wanita itu lebih terdengar seperti bisikan


ketika akhirnya ia berbicara, "Kami ... melakukannya."


Chris menaikkan sebelah


alis, mencoba mendinginkan kepala dan hatinya yang sudah sangat panas


saat ini ketika mendengar ucapan Cessa. 'Melakukannya'. Dari satu kata


itu saja Chris sudah tahu maksud wanita mungil yang ada di hadapannya


ini. Jika dia tidak mengendalikan diri, Chris yakin dia sudah mematahkan


meja di depan Cessa saat ini juga.


"Melakukannya? Apa yang kau maksud ...."


Cessa menganggukkan


kepalanya perlahan. Dia tahu Chris pasti marah padanya, tetapi pria itu


sendiri yang memintanya menjelaskan semuanya dari awal, 'kan?


"Cessa, saat ini


sebenarnya aku benar-benar marah. Amat sangat marah," ujar Chris,


"Kenapa dari sekian banyak pria, malah dia yang membuatmu begini?"


"Dia awalnya memaksaku,"


kata Cessa lagi, "Tapi dia berjanji akan bersikap lembut, dan aku ...,


aku ... Chris, aku minta maaf. Aku salah karena tidak memberitahumu.


Maafkan aku."


Chris memejamkan


matanya. Jemarinya memijat pangkal hidungnya sebelum kemudian kembali


membuka mata dan menatap Cessa, "Sudah berapa lama kalian seperti tadi?"


"Mungkin nyaris seminggu. Dia beberapa kali datang ke butikku," jawab Cessa.


"Seminggu ..., itu berarti sebelum show kemarin malam?" tanya Chris, dan Cessa mengangguk sebagai jawaban.


"Berarti terapi yang kau maksud waktu itu asalnya dari Grimvon, benar?"


Lagi-lagi wanita itu mengangguk. Dan mereka berdua kembali terdiam.


Pria itu menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. "Cessa, kau tahu aku sangat menyayangimu, 'kan?"


"Aku tahu."


"Kalau begitu, aku tidak


akan mempermasalahkan kau dekat dengannya. Tapi, aku minta dua hal


darimu. Yang pertama, kau akan menghubungiku jika ternyata Grim


membuatmu menangis apalagi terluka. Dan yang kedua, bila kau memantapkan


hati untuk terus bersamanya, kau harus membiarkanku memastikan kau


bahagia," ujar Chris, "Hanya itu yang kupinta. Kau tahu aku masih tidak


rela menyerahkanmu pada pria sebrengsek Grimvon Verleon."


Mata Cessa mengerjap mendengar ucapan Chris. Apa itu artinya Chris menyetujui Grim akan berada di dekatnya mulai sekarang?


Chris sepertinya


mengerti pandangan Cessa dan dia mendekati wanita itu, berdiri di


depannya, "Aku serius. Kalau kau memang benar-benar serius berhubungan


dengan Grimvon Verleon, maka aku hanya bisa memercayakanmu padanya.


Sekarang ini aku hanya bisa bertindak sebagai seorang kakak untukmu,


Cessa. Tapi bila Grim terbukti menyakitimu, maka aku tidak akan


segan-segan merebutmu darinya. Kau paham?"


Cessa


mengangguk-anggukkan kepalanya. Seulas senyum manis tersungging di bibir

__ADS_1


wanita itu, "Terima kasih, Chris. Maaf sebelumnya kalau aku


merahasiakan ini darimu. Aku takut kau akan marah-marah dan langsung


menemui Grim untuk menghajarnya."


"Seharusnya kau


mengatakannya sejak awal agar aku bisa menghajarnya lebih cepat.


Lagipula apa gunanya otot-ototku yang terlatih ini kalau bukan untuk


menghajar pria brengsek macam Grimvon?" balas pria itu sambil berdecak.


Cessa tertawa kecil dan


mencium pipi Chris sebagai gantinya, "Jangan marah lagi, Kak. Kau tahu


aku paling takut melihatmu marah," ujarnya dengan senyum manis.


Chris mendengus dan balas mencium kening wanita itu, "Kau selalu bisa mengandalkanku, Lass. Kau harus selalu ingat itu."


Cessa mengangguk untuk


ke sekian kalinya. Chris kemudian berdiri tegak dan mengembuska nafas.


"Ayo, kita temui pria brengsek pilihanmu itu."


***


Grim masih duduk di


sofa. Tampak bosan dan sesekali melirik kearah pintu dapur. Lama sekali


Chris dan Cessa berbicara. Walau Grim yakin saat ini pria yang menjadi


manager wanita itu sedang menceramahinya, tetapi tetap saja, ini sudah


terlalu lama.


Dia baru hendak berdiri


dan menuju dapur ketika kedua orang itu keluar dari sana. Raut wajah


Chris masih sama seperti tadi walau sekarang tampak melunak, sementara


Cessa mengikuti pria itu di belakang.


"Grimvon Verleon, aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Chris, "Kau berjanji untuk tidak menyakitinya?"


Grim mendengar


pertanyaan itu dan alisnya sedikit terangkat. Apa ini? Pertanyaan dari


seorang kakak yang protektif pada adik perempuannya? Mata Grim melirik


kearah Cessa yang berdiri di belakang Chris, "Aku tidak akan menyakiti Princess. Aku tidak akan melakukannya."


Chris menaikkan sebelah alis. Tatapannya kini agak melunak walau raut wajahnya masih datar, "Kau akan memastikan dia bahagia?"


"Ya," Grim menjawab


mantap. "Lagipula, untuk apa aku menawarkan diri menjadi bagian dari


terapinya kalau aku tidak ingin dia bahagia?"


Chris mengangguk


mendengar ucapan Grim. Dia kemudian menoleh kearah wanita yang berdiri


di belakangnya, "Aku sudah memastikannya. Sekarang, aku tidak akan


Pria itu lalu menepuk kepala Cessa. Kemudian tanpa kata dia langsung berjalan menuju pintu.


"Chris," panggil Cessa, "Kau akan ke sini lagi besok pagi, kan?"


Chris yang baru mau


membuka pintu menoleh lagi kearah Cessa, "Tentu saja. Kalau kau tidak


diawasi, bisa-bisa kau jadi tengkorak berjalan karena melewatkan


sarapan."


Mendengar jawaban itu,


bibir Cessa merengut lucu dan membuat Chris tertawa. Pria itu kemudian


keluar dari apartemen meninggalkan Cessa dan Grim berdua di sana.


Grim bergerak mendekati Cessa dan menarik pinggang wanita itu mendekatinya, "Jadi, tadi itu apa?"


"Hanya nasihat ala Chris," Cessa mengedikkan bahu.


"Hmm ...."


"Apa?" tanya wanita itu ketika merasakan Grim menatapnya.


"Tak ada. Mau melanjutkan terapimu?"


"Apa pikiranmu selalu tak jauh-jauh dari hal seperti itu?" ujar wanita boneka itu, "Kenapa kau tidak sabaran seperti ini?"


"Karena aku tidak sabar untuk memasukimu lagi, Princess," bisik pria itu tepat di telinga Cessa, "Dan aku tidak menerima penolakan. Jadi bersikap baiklah atau aku akan kasar padamu."


"Kasar ...?"


"Aku tidak akan


melakukannya kecuali terpaksa," ujar Grim lagi, "Sekarang, ayo. Kita


lanjutkan terapimu yang tertunda karena tidur tadi."


Cessa hendak membantah


lagi ketika Grim tiba-tiba menggendongnya dan secara refleks wanita itu


melingkarkan kedua lengannya di leher Grim. Mata bulat wanita itu


menatap Grim dengan tatapan cemberut yang membuat pria itu terkekeh,


"Jangan memasang wajah begitu, Princess. Kau makin menggoda bila seperti itu."


"Dasar tukang pemaksa! Menyebalkan!"


"Terima kasih atas


pujiannya. Bagaimana kalau kita melakukannya di kamarmu? Di sofa hanya


akan membuat tubuhmu sakit besok pagi," kata Grim, sukses membuat pipi


Cessa memerah.


Grim membawa Cessa ke


kamarnya dan membaringkan wanita itu di atas tempat tidur. Ketika Grim

__ADS_1


hendak naik ke tempat tidur juga, ia bangkit dan berusaha menjauh tetapi


dicegah oleh tangan Grim yang kembali menariknya dan membuatnya


terbaring di atas tubuh pria itu.


"Grim!"


"Terapi kali ini masih sama seperti tadi. Diamlah dan baringkan kepalamu di dadaku," kata pria itu.


"Apa maksudmu berbaring di dadamu?" wanita itu mengerutkan kening.


"Dengarkan suara jantungku. Biasakan pendengaranmu mendengarkan detak jantungku, Princess."


Pipi Cessa kembali


memerah, tetapi dia menurut. Dia merebahkan kepalanya di dada Grim dan


mendengarkan degup jantung pria itu, yang terdengar sedikit cepat.


Matanya menatap wajah Grim yang tenang dan sedang tersenyum kearahnya,


"Apa kau bisa mendengar detak jantungku?"


"Hm ...." Wanita itu mengangguk.


"Kalau begitu, biarkan.


Aku lebih suka jika kau yang mendengarkan detak jantungku secara


langsung," ujar Grim, "Dan aku bisa memelukmu seperti ini."


Kedua tangan Grim


memeluk pinggang Cessa. Sebelah tangannya bergerak mengelus rambut


wanita itu dan membuat Cessa agak menegang, tetapi kemudian dia berusaha


rileks. Ini pilihannya, jadi dia harus bisa melewati semua ini. Cessa


menyembunyikan wajahnya di dada Grim dan menghirup aroma parfum pria itu


yang beraroma maskulin.


"Aku pernah bilang kalau


kau mau menerima terapi dariku, aku akan menceritakan tentang diriku,


begitu juga sebaliknya," kata Grim, "Apa kau mau mendengar ceritaku?"


"Selama itu tidak membuatku mengantuk," balas Cessa tanpa mengangkat wajahnya.


"Aku tidak akan


membiarkanmu tertidur ketika aku bercerita," kekeh pria itu, "Tapi ...,


aku harus mulai dari mana? Bagaimana kalau dari bunga kesukaanku?"


Kepala Cessa langsung mendongak, matanya menatap Grim dengan sorot tak percaya, "Bunga?"


"Benar, bunga," Grim mengangguk, "Kau suka bunga apa, Princess?"


Cessa memiringkan


kepalanya dan kemudian menjawab, "Bunga mawar, Lavender, Lily of the


Valley. Aku suka bentuk Lily of The Valley yang seperti lonceng kecil."


"Ternyata seleramu tak


jauh dari tubuhmu yang juga mungil," celetuk Grim sambil tertawa kecil


dan dihadiahi wanita itu dengan pukulan telak di dadanya. "Aku bercanda, Princess. Jangan marah seperti itu."


Cessa membuang muka


kearah lain dengan ekspresi cemberut. Pria ini benar-benar senang


meledek tinggi badannya yang tergolong mungil. Grim terkekeh lagi dan


menyentuh dagu wanita itu, memaksanya untuk menghadap kearahnya, "Aku


hanya bercanda. Jangan diambil hati."


"Kau menyebalkan," desis Cessa. "Lalu, bunga kesukaanmu apa?"


"Mawar putih."


"Mawar putih?" beo wanita itu, "Mengapa?"


"Karena melambangkan


kemurnian. Tetapi ada lagi yang membuatku suka bunga itu. Bunga itu juga


menjadi lambang kematian, di mana kau akan selalu diingat oleh orang


terkasihmu ketika kau sudah tiada." pria itu tersenyum lembut dan


menyentuh pipi Cessa.


Jantung Cessa rasanya


seperti mau melompat keluar ketika melihat senyum lembut pria itu. Dia


hanya diam ketika Grim memeluknya lebih erat dan menghirup aroma


rambutnya. Grim bersikap sangat manis kali ini walau kata-kata yang dia


lontarkan membuat Cessa ingin membanting pria itu saking kesalnya. Tapi,


sikap Grim yang seperti ini membuat Cessa terdiam.


"Grim,"


"Hm?"


"Kenapa kau selalu memanggilku 'princess'?" tanya wanita itu sambil mendongakkan kepalanya, "Apa karena kau tidak bisa menyebut nama 'Cessa'?"


"Aku bisa menyebut namamu seperti itu, tapi aku tidak mau," jawab Grim, "Bagiku 'Princess' adalah panggilan yang cocok untukmu dan hanya aku yang boleh menggunakannya."


"Kenapa?" Cessa bertanya lagi.


"Aku hanya membutuhkan satu 'princess' yang bisa menjadi ratuku suatu hari nanti," balas pria itu.


Lagi-lagi Cessa dibuat terdiam dan malu karena jawabannya. "Kau pasti bercanda."


"Tidak, aku tidak bercanda," balas pria itu. "Buktinya ada di tanganmu."


"Di tanganku? Cincin ini?" wanita itu melirik tangannya, tepat kearah cincin yang melingkari jari telunjuknya.


"Kau pikir kenapa aku


memberikan cincin itu padamu? Tentu saja untuk membuatmu tidak lari


dariku," jawabGrim, sukses membuat Cessa melongo.

__ADS_1


 


 


__ADS_2