
Cessa merasa lebih baik keesokan harinya setelah tidur nyenyak semalaman. Kemarin Chris juga menginap, memastikan dia tidak terbangun tengah malam karena mimpi buruk. Satu hal yang membuat Cessa meringis kesal karena traumanya kembali karena pria bernama Grimvon Verleon. Entah apa yang akan dia lakukan jika bertemu pria itu lagi.
Sekarang dia sedang menunggu Chris selesai memasak sarapan untuk mereka berdua. Sudah menjadi kebiasaan jika Chris menginap di apartemennya, ia akan memasak dan memastikan Cessa tidak melewatkan sarapan dan makan siang. Hanya Chris yang boleh masuk ke apartemennya selama ini karena hanya pria itu saja yang tahu Cessa luar dan dalam.
"Kau benar-benar bertindak seperti Mom." Kata Cessa geli saat Chris menghidangkan sepiring omelette rice di hadapannya, "Terima kasih, Mom."
Chris mendesis tak senang walau sinar matanya berkata sebaliknya. Pria itu hanya mengacak-acak rambut Cessa dan kemudian membuat omelette rice-nya sendiri. Cessa melahap sarapannya dengan hati yang jauh lebih tenang dibanding kemarin. Beberapa menit kemudian Chris juga ikut makan bersamanya.
"Hari ini kita akan langsung bertemu model penggantimu." Kata Chris, "Namanya Plasidia. Kau kenal nama itu, kan?"
Cessa mengangguk. Wanita muda seusianya itu adalah model terkenal di seluruh benua Amerika. Tidak ada yang tidak mengenal namanya, bahkan wajah cantiknya sering menghiasi majalah-majalah dan berbagai variety show di televisi.
"Jadi dia yang akan menjadi model utamaku? Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa menghubunginya, Chris." Ujar Cessa, "Dia adalah model muda dengan jam terbang yang cukup tinggi, dan kau berhasil membuatnya mau menjadi model utamaku. Entah bagaimana aku harus berterima kasih."
"Kau berlebihan, lass. Kau tahu sendiri apapun yang kutangani akan berakhir dengan lancar dan baik." Chris terkekeh, "Jika kau ingin berterima kasih, luangkan waktumu untukku dan kita bersenang-senang, berdua saja."
Cessa memiringkan kepalanya kemudian mengedikkan bahu, "Kau tahu sendiri aku masih belum bisa melihatmu sebagai pria, Chris. Jangan berharap banyak." Kata wanita itu.
"Kau membuat harga diriku jatuh." Chris bergumam dengan raut wajah seolah tersiksa dan membuat Cessa tertawa. "Jadi selama ini kau menganggapku apa?"
"Kakak laki-laki yang terlalu protektif pada adik perempuannya." Balas Cessa, "Jika orang yang pertama kali melihat kita beinteraksi, mungkin mereka mengira kau mengidap sister complex."
Chris mencibir dan mencubit hidung Cessa, "Terus saja kau meledekku. Padahal kau memang perlu diawasi selayaknya adik kecil berusia tujuh tahun."
"Hei!!"
Chris terkekeh melihat raut wajah Cessa berubah cemberut, "Sudahlah. Habiskan makananmu. Setelah ini kita langsung bertemu dengan Plasidia dan managernya."
Cessa menurut dan memakan sarapannya dengan cepat. Setelah mencuci piring dan mengambil mantel dan tas, dia mengikuti Chris keluar dari apartemen. Sesekali Chris melontarkan godaan pada Cessa mengingat tinggi wanita itu hanya sampai dadanya membuat Cessa lebih terlihat seperti boneka ketimbang manusia ketika mereka melihat bayangan mereka sendiri di dinding lift yang menyerupai cermin.
"Kadang-kadang aku berpikir kau ini boneka dan bukannya manusia sungguhan." Celetuk Chris yang dihadiahi pelototan dari Cessa, "Tapi kalau bonekanya sepertimu, kurasa aku tidak keberatan memajangmu di lemari kaca khususku, bagaimana?"
"Chris, kau mulai terdengar seperti perayu ulung." Cessa mengerutkan kening, "Di mana Kak Chris yang kukenal selama ini? Kau pasti seseorang yang menyamar menjadi dia."
Chris tertawa dan merangkul bahu Cessa, "Kau ini ..., tidak bisa menanggapi leluconku, ya? Apa itu terlalu berat?"
Pintu lift terbuka perlahan. Mereka berdua keluar bersamaan. Cessa menyentil tangan Chris yang berniat mencubit pipinya. "Tidak. Tapi aku ...," kata-kata Cessa terhenti dan matanya tertuju ke depannya.
Chris yang tidak mengerti kenapa Cessa terdiam menoleh dan matanya menyipit melihat apa atau siapa yang berdiri di hadapan mereka. Grimvon Verleon. Sikap Chris langsung berubah dan dia memposisikan dirinya di depan Cessa, melindungi wanita itu dari pandangan Grim yang setajam elang.
"Minggir." Kata Grim datar. "Aku perlu berbicara dengan Princess."
"Kami ada janji temu dengan model show Cessa. Sebaiknya Anda-lah yang minggir." Balas Chris tak kalah datar.
__ADS_1
Grim mendengus. Ditatapnya Cessa yang berada di belakang punggung Chris dan melihat wajah wanita itu sedatar tembok. "Princess, aku perlu bicara denganmu."
"Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan." Kata Cessa, "Sebaiknya kau pergi dari hadapanku atau aku tidak segan memanggil security di sini."
"Silakan saja, dan setelahnya kau akan kehilangan apartemen nyamanmu ini." balas Grim, "Hanya berbicara, Princess. Hanya berbicara."
Chris menyipitkan matanya tak senang sementara Cessa mengamati raut wajah Grim lekat-lekat. Hanya sekali lihat dia tahu Grim memang hanya ingin berbicara. Tetapi perlakuan Grim kemarin membuatnya tidak bisa memercayai pria itu begitu saja. Siapa yang tahu Grim akan menyerangnya lagi seperti kemarin?
"Aku akan mempertimbangkannya. Tapi sekarang aku perlu bertemu modelku. Datang saja ke apartemenku jika kau memang ingin berbicara." Kata Cessa.
"Cessa!?" Chris menatap Cessa tak percaya. Kenapa wanita ini malah mengizinkan Grim berbicara dengannya? Di apartemennya pula!
"Baiklah." Grim mengangguk setuju, "Tapi hanya berdua. Bagaimana?"
Kening Cessa berkerut samar, tapi dia sudah setuju akan berbicara dengan Grim jadi dia mengangguk pelan. "Baiklah. Hanya berdua. Sekarang minggir atau aku akan memanggil security untuk mengusirmu."
Grim sedikit menepi dan membiarkan mereka berdua melewatinya. Tatapan Grim tidak lepas dari punggung Cessa, terutama ketika tangan wanita itu menggenggam erat tangan Chris. Ingin rasanya Grim menarik Cessa dan menendang Chris karena memperlihatkan kemesraan kecil seperti itu di hadapannya. Tetapi kali ini dia tidak bisa berbuat banyak, setelah mempelajari lagi semua berkas informasi mengenai Cessa, Grim tahu dia tidak boleh sembarangan bertindak, apalagi jika ada Chris di dekat wanita itu, pergerakannya mendekati Cessa akan terhalang sama sekali.
***
"Kau yakin mau berbicara dengannya, Cessa?" tanya Chris ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil yang menanti mereka di depan pintu gedung apartemen.
"Yakin." Kata Cessa, "Kalau tidak, kenapa aku mau menuruti permintaannya?"
"Aku tidak akan berbicara di ruangan tertutup dengannya. Kau tahu sendiri gedung apartemenku punya sistem kamera pengawas dan petugas keamanan yang berjaga di setiap lantai." Kata Cessa, "Aku tidak akan kenapa-kenapa, Chris. Grimvon Verleon boleh saja masuk ke apartemenku, tetapi dia tidak akan bisa menyentuhku dengan mudah seperti kemarin. Percaya padaku."
"Aku tentu saja percaya padamu, lass. Tapi aku masih tidak bisa menerima kalau pria itulah yang menciummu lebih dulu ketimbang aku." balas Chris, yang sukses membuat Cessa mengerjapkan mata dengan mulut setengah terbuka.
***
Rasanya tidak ada waktu untuk beristirahat bagi Cessa harii ini. Dia sudah bertemu dengan pengganti model utamanya, dan Cessa harus mengakui, selain cantik, Plasidia adalah model yang cerdas. Pembicaraan mereka tidak hanya berputar dalam konteks pekerjaan, tetapi juga hal-hal lain yang mungkin tidak akan Cessa diskusikan kecuali dengan Chris. Sangat menyenangkan bisa mendapatkan Plasidia sebagai model utamanya, dan dia berterima kasih pada Chris dalam hati. Managernya itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.
Setelah menemui Plasidia Roosefelt, Cessa langsung menuju butik dan mengurung diri di ruangan pribadinya, mengerjakan gaun pengantin untuk Heavylia Verleon. Gaun milik Ivy tidak sulit untuk dibuat karena desain yang diminta cukup simpel dan mudah untuk dikerjakan sendiri. Dalam waktu enam jam, Cessa selesai merampungkan gaun pengantin itu dan mengirim pesam pada Ivy untuk datang ke butiknya besok pagi untuk mengepas gaun. Setelahnya, Cessa membereskan barang-barangnya dan meminta salah seorang anak magang untuk menutup butik hari ini.
Cessa baru saja hendak memakai mantelnya ketika ponselnya berbunyi. Wanita itu mengeluarkan ponsel yang sebelumnya ia taruh di dalam tas dan melihat nomor asing menelepon di layar ponselnya, terlebih lagi nomor itu menggunakan private number.
"Siapa yang meneleponku dengan private number?" gerutu Cessa sambil menggeser tombol dial ke area hijau dan menempelkan benda itu ke telinga kirinya, "Halo?"
"Kapan kau pulang?" suara asing itu membuat kening Cessa berkerut, "Aku sudah menunggumu seharian. Jadi bisakah kau beritahu aku kapan kau akan pulang?"
Barulah dia sadar kalau itu suara Grimvon Verleon. Menyadari hal ini, Cessa hanya bisa mendecak dan kembali melanjutkan memasang mantel sebelum langkahnya menyusuri koridor menuju lift. "Bisakah kau sabar? Aku baru selesai bekerja dan aku tidak suka jika diingatkan sola jam pulang." Setelah berkata begitu, Cessa mematikan telepon dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Memasuki lift, dia mematut penampilannya sendiri di dinding lift. Tidak ada yang berantakan. Hanya matanya yang tampak lelah, selebihnya dia masih segar seperti boneka. Ketika pintu lift terbuka di lantai pertama, Cessa memberitahu salah seorang pegawainya di meja resepsionis untuk menutup butik seperti biasa dan memberikan kartu kunci pada security yang akan berjaga nanti malam.
__ADS_1
Wanita itu kemudian melangkah keluar dari butik dan mengerjap melihat pria yang barusan meneleponnya ternyata sudah ada di hadapannya sambil bersedekap. Walau sekarang sudah sore menjelang malam, Grimvon Verleon masih tampak gagah dan ... oke, ini perasaan Cessa saja atau aura yang dikeluarkan pria itu tampak mendominasi? Ia menggigil mengingat apa yang dilakukan pria itu semalam dan berpikir apakah berbicara berdua saja dengan pria ini adalah hal yang tepat?
"Kau lama." kata Grim, "Apa kau seharian berada di dalam sana?"
"Kalau iya, lalu kenapa?" balas Cessa, "Bukankah sudah kubilang untuk menunggu? Kenapa kau ada di sini?"
"Aku ingin menjemput bonekaku." Jawab Grim, membuat Cessa memutar bola matanya, "Dan aku tidak mau mengambil resiko kau kabur dan tidak jadi berbicara denganku."
"Aku bukan orang yang ingkar janji. Jadi kau tidak perlu khawatir." Kata Cessa, "Sudahlah. Aku mau pulang, kau bisa duluan saja ke apartemenku. Bilang pada Hudson yang berjaga di sana kalau kau menungguku."
"Tidak, aku akan mengantarmu pulang." sahut Grim, membuat wanita itu menatapnya dengan mata disipitkan. "Jangan menatapku seperti itu. Ayolah, masuk ke dalam mobilku."
Cessa masih belum bergerak dari tempatnya bahkan ketika Grim sudah masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca di samping kursi penumpang. Mata pria itu menatapnya, "Hei, kau tidak berniat membuatku menunggu lebih lama, 'kan?" tanya Grim.
"Aku curiga, jangan-jangan kau bukan hanya sekedar bicara." kata Cessa, "Apa pun yang ada pada dirimu menyerukan bahaya bagiku."
Grim tertawa mendengar ucapan Cessa kemudian membuka pintu mobil di hadapan Cessa, "Aku tidak akan menerkammu saat ini, Princess. Belum. Setidaknya bukan saat ini." kata pria itu, "Sekarang, masuklah."
Cessa menatap Grim lekat-lekat sebelum kemudian mengembuskan nafasnya pelan-pelan. Kuharap aku tidak menyesali ini, batinnya sambil masuk ke dalam mobil Grim dan memasang seat belt-nya. Grim melirik Cessa sekilas sebelum mengemudikan mobilnya menuju jalan kota New York. Tidak ada yang berbicara di antara mereka dan Cessa lebih menyukai suasana seperti ini. Cessa lebih suka diam dan melamun ketika tidak ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.
"Princess,"
Panggilan itu membuat Cessa menoleh. Mata Grim tetap focus ke jalanan, tapi dia tahu pria itu tadi memanggilnya. "Ya?"
"Kau punya trauma sampai-sampai tidak mau kusentuh?" tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Katakan saja, kau pernah diperkosa oleh ayah dan kakak tirimu?"
Badan Cessa menegang mendengarnya. Itu bukan pertanyaan tapi lebih seperti pernyataan. Grimvon Verleon pasti sudah mencari tahu soal dirinya sampai ke akar. Kalau sudah begini Cessa tidak bisa mengelak sama sekali.
Grim sudah membaca berkas mengenai masa lalu Cessa, dan mengetahui kalau wanita itu pernah mengalami pemerkosaan selama beberapa tahun oleh ayah dan kakak tirinya. Dari berkas itu juga Grim tahu selama tahun-tahun yang menyebabkan mental Cessa goyah dan beberapa kali harus berkonsultasi dengan psikiater itu, Christopher Scott-lah yang menemaninya. Karena itu tak heran jika Chris menjadi manager Cessa dan bersikap protektif pada wanita itu setiap kali ada pria yang mendekat. Masa lalu itu dikubur Cessa dalam-dalam dengan bantuan psikiater dan ketika keluarga Scott pindah ke New York, mereka membawa Cessa yang waktu itu masih dalam kondisi labil karena mentalnya masih harus disembuhkan bersama mereka.
"Kalau iya, lalu kenapa?" tanya Cessa berusaha menekan rasa getir dalam suaranya, "Kalau kau ingin menertawakan atau mengejekku, silakan. Tapi setelahnya aku akan menghajarmu sampai babak belur."
Grim terkekeh mendengar jawaban yang diselipi ejekan dari bibir Cessa. "Aku hanya tidak menyangka, di balik penampilanmu yang bak boneka itu kau punya satu-dua rahasia yang cukup besar seperti itu. Apa managermu juga tahu tentang hal ini?"
"Chris temanku sejak kecil, jadi tentu saja dia tahu. Dan keluarganya yang menampungku ketika aku disakiti oleh kedua pria bajingan itu. Karena itulah aku benci dengan pria macam dirimu dan mereka, bajingan, playboy, player tak tahu malu." kata Cessa datar, "Lalu, apa hanya itu yang ingin kau bicarakan denganku? Membongkar aib dan rahasiaku?"
"Tidak, Princess! Tidak ..., aku malah ingin menawarkan diri membantumu sembuh." Kata Grim.
Cessa menatap Grim seolah-olah pria itu mendadak menjadi seorang alim dan berpakaian ala pendeta di hadapannya, bukan pria yang pernah menyerangnya tanpa permisi seperti kemarin. "Sembuh?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Benar, sembuh." Grim kali ini menatap Cessa, "Aku akan membantumu sembuh dan percaya bahwa tidak semua pria seperrti ayah dan kakak tirimu."
__ADS_1