
Grim menjemputnya saat ia pulang dari butik setiap hari sejak pria itu melamarnya, dan berhubung Cessa juga sudah memberitahu Chris dan kedua orangtua pria itu sebagai walinya, semua masalah nyaris terselesaikan, sisanya hanya menyiapkan segala hal untuk pernikahan mereka yang akan diselenggarakan sebulan lagi.
Grim sudah menunggu di depan mobilnya sambil bersedekap, memperhatikan gerakan Cessa yang berjalan kearahnya. Langit sudah nyaris gelap ketika Cessa keluar dari butik.
"Berhenti memandangiku seperti itu. Kau membuatku risih," kata Cessa ketika ia sampai di hadapan Grim, tetapi senyum lebar di wajahnya tidak menyatakan kalau ia keberatan dipandang.
"Aku hanya memikirkan cara untuk memasukimu selama seminggu penuh."
"Kau bajingan!"
Grim tertawa mendengar ucapan Cessa dan mengecup bibir wanita itu, "Kita langsung pergi ke butik untuk memilih gaun."
"Kau lupa aku seorang desainer, Grim? Aku bisa membuat gaun untuk diriku sendiri," balas wanita itu, "Tidak perlu ke butik lain, bagaimana kalau kita pergi makan saja?"
"Kau lapar?"
"Aku belum makan sejak siang tadi." Cessa menunjukkan cengiran tanpa dosa yang membuat pria itu gemas.
Grim mendecak dan mencubit hidung wanita itu hingga mengaduh kesakitan, "Kau benar-benar keras kepala. Ayo, kita pergi ke restoran di hotelku saja!"
"Restoran ... di hotel?"
Grim melihat raut wajah Cessa yang sedikit berubah dan terkekeh, "Kenapa? Kau ingin mempercepat malam kita yang ke sekian?"
"Kau ...," Cessa hendak mengumpat, tapi kemudian mengurungkannya, "Terserah kau saja!"
Cessa masuk ke dalam mobil diikuti Grim yang masih tertawa. Pria itu duduk di balik kemudi dan melirik kearah Cessa yang memasang ekspresi cemberut. "Hei, jangan marah, Princess. Aku hanya bercanda tadi."
"Aku tak mendengarmu," balas wanita itu tanpa menoleh.
Grim kembali tertawa, tapi kemudian sebuah ide melintas di kepalanya. Dia sengaja menyalakan mesin mobil dan berlama-lama untuk menarik perhatian wanita itu.
"Grim, kenapa kau tidak mengemudikan mobilmu dari tadi—astaga! Wajahmu terlalu dekat!" Cessa mendorong wajah Grim yang hanya beberapa inci dari wajahnya ke belakang.
Grim tersenyum lebar. Dia memegang dagu Cessa dan membuat wanita itu mau tidak mau menatapnya, "Jangan mengalihkan pandanganmu. Dan jangan marah."
"Aku tidak marah, tapi kesal," balas Cessa, "Di otakmu itu apa ada sekrup yang lepas sampai-sampai setiap saat pembicaraan kita tidak pernah keluar dari hobimu itu?"
"Karena itu hobi, tentu saja aku perlu melampiaskannya," pria itu membalas dengan nada enteng, "Jangan terus mengeluh, Princess. Sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Verleon, jadi biasakan dirimu bersamaku."
Cessa memutar bola matanya dan menepis tangan Grim di dagunya, "Sudahlah. Kapan kita berangkat kalau terus berbicara? Aku sudah lapar."
Grim mencium kening Cessa dan kembali duduk di balik kemudi, "Kalau begitu, kita akan makan makanan kesukaanmu, bagaimana?"
"Terserah kau saja," Cessa menarik nafas dalam-dalam, "Yang jelas aku perlu menyiapkan diri untuk bertemu dengan keluargamu besok."
"Jangan khawatir, keluargaku tidak akan menggigitmu," balas Grim, "Sebaliknya, mungkin mereka akan sangat menerimamu ke dalam keluarga kami."
__ADS_1
Cessa manggut-manggut. Dia memutuskan untuk menatap ke luar jendela mobil. Setahun yang lalu dia berpikir untuk tidak pernah berurusan dengan Verleon setelah pernikahan Ivy berlangsung. Tapi sekarang, dia sudah terlibat dengan Grim, berkencan dengan pria itu, dan bahkan ....
Cessa menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Soal terapi dan yang berhubungan dengan itu tidak boleh dia pikirkan sekarang. Yang sekarang menjadi pikirannya hanya satu: apa dia pantas bersama dengan Grim?
***
Restoran yang dipilih Grim untuk tempat makan malam mereka memang benar-benar berada di hotel, tapi restoran itu menyajikan makanan kesukaan Cessa. Wanita itu tersenyum saat melihat hidangan Asia di hadapannya.
"Aku tidak menyangka kau suka makanan Asia," kata Grim sambil menyesap wine di gelasnya, "Bukankah selama ini kau tinggal di Amerika?"
"Bukankah kau sudah menyelidiki tentang diriku?" balas wanita itu, "Aku pernah tinggal di Jepang saat berusia tujuh tahun ... dan aku anak tanpa orangtua."
Cessa menatap makanannya dan melirik kearah Grim, sepertinya pria itu ingin dia terus bercerita padahal ia sudah tahu seperti apa masa lalunya. Ia mengambil gelas wine di samping piring dan menyesapnya pelan-pelan sebelum kembali berbicara, "Jujur saja, aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum usiaku tujuh tahun. Ketika aku berada di panti asuhan, keluarga tiriku mengangkatku sebagai anak. Setelahnya aku tinggal di Amerika sampai sekarang."
"Aku tidak pernah mendapat informasi yang satu itu," balas Grim, "Kau tidak ingat apapun sebelum berusia tujuh tahun?"
Cessa mengangguk, "Pengurus panti mengatakan kalau aku ditemukan dalam keadaan terluka parah dan nyaris mati saat musim dingin di dekat sebuah sungai. Pengurus panti juga mengatakan mereka tidak tahu aku berasal dari mana atau siapa yang melukaiku sedemikian parah hingga aku hilang ingatan. Satu-satunya petunjuk yang mereka miliki adalah tanda lahir di belakang telinga kananku, tapi itu tidak berarti banyak karena hampir semua orang punya tanda lahir."
Grim mengangguk-angguk. Dia pernah melihat tanda lahir di belakang telinga kanan Cessa. Dan harus dia akui, tanda lahir itu cukup unik, berbentuk seperti angka delapan berwarna kemerahan, namun bila dilihat sekilas terlihat seperti kupu-kupu kecil.
"Sudahlah, kenapa kita malah membahas hal seperti ini?" kata Cessa, "Setelah makan malam, kita mau ke mana?"
"Tumben sekali kau bertanya."
"Aku sedang berusaha membuka diri, karena itu aku bertanya padamu," wanita itu memutar bola matanya, "Kau bilang aku harus terbuka padamu?"
"Aargh ..., kenapa kau selalu membahas hal itu?" Cessa menyipitkan matanya, "Dasar maniak!"
Grim terkekeh. Dia hanya menatap Cessa yang kembali menyantap makanannya kemudian ikut makan. Setengah jam kemudian mereka keluar dari restoran itu dan pria itu mengajaknya ke lantai tertinggi hotel.
"Kau mau apa mengajakku ke lantai tertinggi hotel ini?" tanya Cessa curiga, takut kejadian pertama kali pria itu memaksanya terapi kembali terulang.
"Jangan takut seperti itu, Princess. Aku tidak akan melakukan hal yang pertama kali kita lakukan." Grim melihat kecurigaan wanita itu, "Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
Cessa memiringkan kepalanya, tetapi dia mengikuti pria itu memasuki lift. Cukup lama lift itu membawa mereka ke lantai tertinggi hotel, dan ketika sampai, Grim menggenggam tangan Cessa dan mengajaknya ke salah satu kamar yang ada di sana. Wanita itu sempat berpikir Grim akan kembali memaksakan terapinya, tapi ternyata mereka terus berjalan menuju balkon dan ketika sampai di sana, barulah Cessa tahu apa yang ingin ditunjukkan Grim.
"Waaa ...." mata Cessa berbinar melihat pemandangan kota New York di hadapannya. Lampu-lampu yang menyala dari setiap gedung yang dia lihat. Dia jarang melihat pemandangan kota seperti ini di malam hari dan ketika melihatnya langsung membuat senyumnya merekah.
"Aku tidak tahu kalau kota New York seindah ini ketika malam hari," ujar Cessa, "Tapi mungkin sesuai dengan julukannya, 'Big Apple, The City that Never Sleep'. Kota ini tidak pernah tidur dan menyajikan pemandangan yang indah di malam hari."
"Begitukah? Aku hanya sekali memandangi pemandangan kota ini dan sebelumnya tak pernah tertarik untuk memerhatikannya," celetuk pria yang berdiri di sebelahnya, "Tapi melihatmu suka dengan pemandangan seperti ini, kurasa aku harus mencoba untuk menyukainya juga. Siapa tahu kita bisa bercinta di alam terbuka?"
Cessa memutar bola matanya dengan ekspresi jengah sebelum memukul dada pria itu. Kenapa otak Grim selalu tak jauh-jauh dari hobinya bercinta? Benar-benar menyebalkan.
Grim hanya tersenyum simpul dan menarik wanita boneka itu ke dalam pelukannya, sebelah lengannya melingkari bahu wanita itu, bibirnya mencium puncak kepala Cessa, "Kau tahu, Princess, saat ini aku benar-benar bahagia."
"Oh ya? Bahagia karena apa?"
__ADS_1
"Kau." Grim tersenyum lembut, "Baru kali ini aku mengenal wanita setangguh dan sekeras kepala dirimu dan pada akhirnya menerima lamaranku. Kau tidak tahu betapa senangnya aku sekarang ini."
Cessa tertawa mendengarnya dan mencubit pipi pria itu, "Kata-katamu seperti perayu saja. Oh, aku lupa. Kau memang seorang perayu, playboy ulung. Apa kata-kata itu juga kau ucapkan pada setiap wanita yang bersamamu selama ini?"
"Kau tahu sendiri reputasiku sebagai playboy itu seperti apa, Princess." pria itu terkekeh, "Aku memang perayu, tetapi untuk urusan siapa yang memiliki hatiku, kau pasti juga tahu seperti apa jawabannya."
Ucapan itu membuat Cessa tersenyum. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada Grim dan menikmati pemandangan kota New York dalam diam. Jantung Cessa saat ini berdebar-debar, bukan hanya karena kata-kata pria itu barusan, tetapi juga karena suasana yang mendukung seperti ini. Untuk beberapa lama tidak ada yang berbicara di antara mereka.
"Princess."
"Hm?"
"Sudah larut. Aku akan mengantarmu pulang," ujar pria itu, "Besok aku akan menjemputmu dan kita akan menemui keluargaku."
"Oke." Cessa mengangguk.
Grim membawa Cessa keluar dari kamar tersebut dan bersama-sama menuju lift. Di dalam sana, Grim kembali menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan menyandarkan dagunya di kepala wanita itu.
"Apa ini? Kenapa kau malah terkesan manja seperti ini?" Tanya wanita itu sambil mendongak menatap Grim.
"Kau terlalu mungil dan aku tidak tahan untuk tidak memelukmu," balas Grim.
"Kau mengejekku lagi." wanita itu cemberut, "Sekarang bertambah satu orang yang akan mengejekku setiap hari. Pertama Chris, dan sekarang kau."
Grim tertawa lembut dan mengecup puncak kepala wanita itu untuk meredakan kemarahannya, "Walau kau mungil, kau juga punya sisi liar, itu yang kusuka darimu. Liar di ranjang itu bagus."
Cessa mendecak antara kesal dan malu mendengar ucapan Grim. Untung saja di dalam lift ini hanya ada mereka berdua. Wanita itu tidak bisa membayangkan bila ada orang lain yang mendengarkan obrolan mereka, Cessa yakin dia akan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah malu dari pandangan orang-orang.
Grim melihat pipi Cessa agak merona dan mencubit pipi wanita itu, "Jangan malu. Kenapa kau sering sekali merasa malu?"
"Kau pikir itu karena ulah siapa?" balas wanita itu kesal.
"Memangnya ulah siapa?" Grim balik bertanya dengan nada yang polos yang dibuat-buat.
"Kau menyebalkan, Grimvon," desis Cessa tidak mau kalah.
"Tapi sisi menyebalkanku ini yang bisa mematahkan es di dalam hatimu. Akui saja." Grim kembali membalas, dan kali ini wanita itu tidak tahu harus membalas apa.
Sebagai gantinya, Cessa menendang kaki pria itu hingga mengaduh kesakitan. Melihatnya, seulas senyum terukir di bibir wanita itu, "Rasakan!"
Grim memang mengaduh, tetapi sinar di matanya tidak menunjukkan demikian. Sebuah ide melintas di dalam kepalanya, sebuah pembalasan kecil untuk Cessa terbentuk dalam pikirannya. Begitu pintu lift terbuka, ia segera menggendong wanita itu dengan posisi bridal style. Cessa yang kaget langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Grim dan menatap pria itu dengan mata membelalak. Mata wanita itu juga menangkap senyuman jahil di bibir Grim.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Grim?" tanya wanita boneka itu dengan pandangan curiga.
Pria itu tersenyum lebar sebagai gantinya. Cessa merasa ingin mencekik leher Grim saat ini juga, tetapi pria itu tidak memberikan kesempatan baginya untuk protes karena dengan langkah cepat, Grim membawanya keluar dari hotel dan menuju mobil yang entah kapan sudah siap menunggu mereka.
__ADS_1