The Hope

The Hope
Chapter 35


__ADS_3

Matanya terus mengawasi. Dia sudah sering memimpikan hari seperti ini akan datang. Dan ternyata ketika hari itu tiba, dia tidak bisa menahan rasa senangnya. Seperti seorang anak kecil yang berhadapan dengan hadiah natal, ia menyentuh kulit halus di bawah telapak tangannya itu secara perlahan, seakan takut merusaknya.



"Kita bertemu lagi, Hime."



----



Cessa mengerang. Kepalanya terasa sakit. Tubuhnya mencoba bergerak, tapi rasanya sulit, terutama karena dia merasakan kedua tangannya terikat oleh sesuatu. Borgol, kah? Menilik dari dinginnya benda yang membuatnya tidak bisa bergerak itu, Cessa yakin benda tersebut adalah borgol.



Kedua matanya ditutup hingga Cessa tidak bisa melihat apapun. Walaupun mulutnya tidak, ia tetap diam. Rasa was-was merayapi tubuhnya seperti ribuan semut. Ia ingat apa yang terjadi sesaat sebelum pingsan. Mobil hitam, dua orang yang menyergapnya, dan dirinya yang dibius. Ketakutan sudah terlihat di wajahnya.



Suara langkah kaki membuatnya berjengit kaget. Lalu ia merasakan ada seseorang yang berjongkok di sampingnya, melepaskan penutup matanya. Ketika kain panjang itu terlepas, Cessa mengerutkan kening, membuka matanya perlahan dan terkesiap keras. Wajah yang tidak pernah ingin ia lihat lagi berada tepat di hadapannya, masih seperti yang dulu.



"Kau tampak kaget melihatku, Hime," ujar orang itu, "Lama tidak bertemu, kau semakin cantik saja."



"Glenn Nii ... -sama?"



Wajah yang tidak lain milik pria bernama Glenn Lahemian itu menampilkan seulas senyum yang walau terlihat menawan bagi orang yang pertama kali melihat, tapi bagi Cessa seperti hukuman mati.



Glenn meletakkan kain penutup mata yang dilepasnya ke atas tempat tidur. Cessa menatap kedua tangannya yang ternyata terborgol di salah satu kaki meja di dekat tempat tidur. Wanita itu menjeritkan kepanikan di dalam hati. Kenapa ia bisa berada di sini? Kenapa Glenn ada di sini?



"Kau tampak gugup," Glenn menyentuh pipi Cessa dan membuat wanita itu kembali tersentak, "Sudah lama kita tidak bertemu, apa kau lupa dengan wajahku? Ah, tunggu. Kau tadi menyebut namaku. Kau tidak lupa."



"K-kenapa ... kau ... ada di sini?" Cessa bertanya dengan suara lemah, nyaris seperti mencicit.



"Kenapa? Tentu saja untuk mencari putri nakal yang kabur dari tangan sang pangeran," Glenn tersenyum makin lebar, "Aku datang untuk menghukummu, tuan putri yang nakal."



***



Grim menatap kedua pengawal yang tadi menjaga pintu kamar Cessa dengan tatapan membunuh paling mematikan. Wajah kedua pengawal tersebut dipenuhi lebam yang pastinya tidak akan hilang selama seminggu.



Pria itu menghembuskan nafas kasar dan melirik wanita yang terbaring di tempat tidur. Wanita itu bukan Cessa, melainkan pelayan yang seharusnya mengantarkan makanan.



Wanita itu lagi-lagi berusaha kabur. Kata Grim dalam hati.



"Kalian adalah dua orang yang berkompetensi tinggi. Bagaimana bisa menjaga seorang wanita kalian tidak mampu!?"



Kedua pria berbadan kekar itu terdiam. Grim mengusap wajahnya dengan kasar. Masih tidak bisa menerima kalau Cessa kembali kabur, kali ini bahkan dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menemukan wanita itu dan menyeretnya kembali.



"Periksa rekaman CCTV mansion, cari pelayan yang terlihat mencurigakan. Aku akan mencarinya di luar!" Grim menatap kedua pengawalnya tersebut, "Dan jika kalian gagal kali ini, bukan hanya kalian kehilangan pekerjaan, tapi juga nyawa kalian!"



Kedua pria kekar itu mengangguk dan segera melaksanakan perintah.



Grim sendiri berjalan keluar dari kamar. Dia segera menghampiri mobilnya yang masih terparkir di depan pintu masuk mansion dan belum sempat ditaruh di garasi khusus saat ia sampai tadi. Ia harus cepat-cepat menemukan Cessa kalau tidak mau kehilangan akal sehatnya.



***



Cessa memejamkan matanya takut saat Glenn menyentuh wajah dan lehernya, kemudian sentuhan itu berhenti di bibirnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutannya kembali muncul ketika matanya bertatapan dengan Glenn barusan.



"Hime, tatap aku,"



Seolah terhipnotis, Cessa membuka kedua matanya. Sinar ketakutan terlihat jelas di mata wanita boneka itu. Glenn tersenyum dan tangannya berpindah ke kaki Cessa.



"Kau tahu, aku hampir gila untuk mencarimu. Kau tidak ada di Jepang dan aku mencoba mencarimu di beberapa Negara. Siapa sangka aku menemukanmu di kota yang tak pernah tidur di benua Amerika ini?" bisik Glenn.


__ADS_1


"Lepaskan ... aku ... Nii-sama," Cessa berusaha berbicara walau gemetar. "Tolong, lepaskan aku."



"Ck, ck, ck. Padahal kita baru bertemu, kenapa kau mau berpisah denganku secepat itu?" Glenn bertanya dengan suara lembut.



Cessa malah merinding mendengar nada lembut itu. sebelah tangan Glenn mengelus kakinya. Ia tidak punya kekuatan, atau lebih tepatnya tidak bisa bergerak sedikit pun di bawah kuasa Glenn. Suara dan bahkan ucapan pria itu seolah menjadi hipnotis tersendiri baginya.



Glenn mengambil sebuah benda yang tidak Cessa lihat sebelumnya di belakang pria itu, sebuah tongkat baseball dengan beberapa paku yang menancap di sana. Melihat benda itu, Cessa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya ketika melihat sebuah benda yang bisa saja menjadi alat pembunuh jika berada di tangan seorang Glenn Lahemian.



"Kenapa, Hime? Kau kelihatan takut." ujar Glenn.



BUUK!!



"AAAARRGGHH!!"



Cessa menjerit ketika tongkat itu dipukulkan kuat-kuat ke kaki kirinya. Kedua tangannya bergerak-gerak mencoba melepaskan diri dari borgol yang membelenggunya. Tindakan itu membuat raut wajah Glenn menggelap. Ia kembali melayangkan pukulan keras ke kaki wanita itu dan membuatnya menjerit sekali lagi.



BUUK! BUUK!!



Wanita mungil itu terisak. Rasa sakit di kaki kirinya belum reda ketika sebuah tamparan keras melayang ke pipinya.



"Diam! Atau aku akan memukulmu lagi!" bentak Glenn.



Cessa kesakitan, dia tentu saja tidak mau menurut. Kedua tangannya masih terus bergerak mencoba melepaskan diri.



"Kau benar-benar putri yang nakal, Hime," Glenn kembali memukulkan tongkat itu ke kaki Cessa, kali ini kaki kanannya.



"Sakit! Tolong hentikan, Nii-sama!!" pinta Cessa setengah menjerit.



"Kau pikir aku akan berhenti?" tanya Glenn dengan suara tenang, "Ini hukuman karena kau membuatku frustasi mencarimu selama ini."




"Apa kau tahu seberapa lama aku mencarimu dan menemukanmu sudah disentuh pria lain?" tanya Glenn.



BUUK!!



"Kau tahu bagaimana sabarnya aku menunggu waktu yang tepat untuk merebutmu kembali dari pria brengsek yang membawamu pergi? Siapa namanya? Chris, bukan?"



BUUK!!



Cessa menggeleng. Rasa sakit yang kuat di kedua kakinya membuatnya tidak bisa mengatakan apapun. Dari kedua pergelangan tangannya yang diborgol juga mengeluarkan darah karena ia terus menarik-narik tangannya agar terbebas dari besi dingin tersebut.



"Kau tidak tahu, tentu saja. Kau juga tidak tahu betapa aku ingin sekali membuatmu tidak bisa ke mana-mana dan kabur lagi seperti dulu." Glenn kembali melayangkan tamparan di wajah Cessa.



Darah sudah mulai mengalir dari kedua kaki Cessa yang mati rasa. Kedua kaki wanita itu tampak diam tidak bergerak. Cessa yakin kedua kakinya patah, menilik dari rasa sakit tajam yang menusuk dan bagaimana kedua kakinya tidak terasa seperti kakinya lagi. Rambutnya juga berantakan, beberapa helai menempel di pipinya karena terkena keringat dingin dan juga airmatanya yang mengalir.



Glenn memukulkan tongkat yang sudah berlumuran darah itu ke kaki Cessa sekali lagi dan membuat wanita itu menjerit parau sebelum membuang benda tersebut ke sudut ruangan. Disentaknya wajah wanita mungil itu dan melumat bibirnya. Wanita itu tersentak dan berusaha mendorong Glenn menjauh.



Tetapi tenaga pria itu lebih kuat dari dirinya yang kelelahan berusaha melepaskan diri tadi. Lidah pria itu masuk ke dalam mulutnya dan Cessa tersedak karena tidak siap dengan ciuman panas Glenn. Cukup lama pria itu melumat bibirnya dan ketika selesai, Cessa merasakan pipinya memanas.



Kedua tangan Glenn menangkup wajahnya, menjilat sisa airmata yang mengalir di sudut mata Cessa, "Dan kau tahu ..., aku merindukanmu."



Cessa diam mendengarnya. Setengah sadar, ia kembali mencoba mendorong Glenn menjauh. Pria itu tidak membiarkan Cessa melakukannya. Ia mendekap wanita mungil itu dan membuka borgol yang membelenggu kedua tangannya. Glenn menggendong Cessa menuju sebuah sofa dan mendudukkannya di sana. Ditatapnya kedua kaki Cessa yang berdarah dan menyentuhnya.



"Aaakkh!!"

__ADS_1



"Ini cukup untuk membuatmu tidak pernah kabur dariku lagi," kata Glenn, "Tunggulah, aku akan memanggil pelayan untuk membersihkan darahmu."



Glenn menekan sebuah intercom di atas meja dan memanggil pelayan. Tiga orang pelayan itu mengerti apa yang harus mereka lakukan dan melakukan tugas mereka. Dua orang diantara mereka membantu Cessa berganti pakaian dengan sebuah gaun tidur tipis sementara yang satu lagi membersihkan darah dan merawat luka di kaki Cessa dengan hati-hati, pelayan itu juga membersihkan dan mengobati luka di kedua pergelangan tangan Cessa yang tadi diborgol.



Cessa masih setengah sadar walau tubuhnya masih gemetar. Setelah ketiga pelayan itu selesai mengerjakan pekerjaan mereka, Glenn menyuruh mereka pergi. Ia sendiri duduk di hadapan Cessa seperti seorang anak kecil yang duduk di hadapan ibunya.



"Kau benar-benar manis, Hime, terutama ketika diam seperti ini." Glenn menyentuh rambut Cessa, "Beristirahatlah. Kita akan bermain setelah kau cukup sehat untuk itu."



Dan lagi-lagi, seperti dihipnotis, Cessa benar-benar tertidur.



***



Latiava bingung ketika ia pulang dan meliht Grim di mansion dengan wajah gusar. Ia sempat bertanya apa ada sesuatu yang terjadi tetapi pria itu hanya menampilkan wajah dingin dan tidak menjawab.



Latiava tentu saja tidak mau menyerah. Ia menelepon Chris untuk menanyakan apa terjadi sesuatu pada Cessa karena seharusnya wanita mungil itu karena ia belum melihat Cessa sama sekali di mansion.



"Aku tidak tahu di mana Cessa. Terakhir kali aku melihatnya ia berada di mansion dan sedang mengerjakan gaun pesanan klien" Ujar Chris ketika Latiava meneleponnya.



"Apa dia biasa pulang lebih larut dibanding karyawan ketika di butik?" tanya wanita pirang itu.



"Cessa tidak mau ada orang yang mengetahui wajahnya. Itu maklum, mengingat bila wajahnya terpampang di majalah atau media lainnya malah akan memudahkan bajingan yang membuatnya trauma menemukannya."



"Benar juga ...," Latiava mengiyakan, "Tapi, kau yakin tidak tahu di mana si pendek itu?"



"Kalaupun aku tahu, aku sudah tentu tidak akan memberitahumu." Balas Chris, "Kelihatannya kau khawatir sekali."



"Well, tentu saja aku khawatir karena Grim baru saja pulang setelah sebelumnya dia bilang dua mengurung Cessa di kamarnya dan tiba-tiba wanita itu menghilang."



"Grim mengurung Cessa? Berani sekali pria itu melakukannya!"



Latiava tertawa hambar mendengar amarah dalam suara Chris, "Katanya itu tindakan pencegahan. Kalau tidak, si pendek itu pasti akan berusaha kabur. Dan nyatanya Cessa benar-benar kabur."



"Cessa tidak akan kabur bila masalah yang ia hadapi tidak begitu berat untuk dia tanggung," Chris kembali membalas, "Aku akan mencarinya. Kau sebaiknya istirahat saja, Latiava."



"Tanpa kau suruh pun aku akan beristirahat." Sungut Latiava, "Aku heran, bagaimana Cessa bisa bertahan dengan kakak yang cerewet sepertimu."



"Lebih baik aku daripada pria bajingan yang membuatnya terluka berkali-kali," balas Chris setengah menggerutu, "Sampaikan salam pada Grimvon, bilang padanya kalau aku bertemu dengannya, aku akan menghajarnya sampai tidak bisa bangun lagi."



"Kau berniat menghajar Grim? Hentikan pikiranmu itu sebelum kau berakhir terkena masalah yang lebih parah."



"Terima kasih atas saranmu, tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku," Chris terdengar santai tetapi nada suaranya berkata lain, "Bila aku sampai melihat Cessa kembali menangis karena ulahnya, aku akan membawa Cessa pergi dan tidak akan memberikannya kembali."



"Cih, seperti Romeo kacangan saja."



Chris tertawa di seberang sana. Ia mengucapkan selamat malam dan menutup telepon. Latiava menatap ponselnya setengah merenung. Dia tidak habis pikir, betapa beruntungnya Cessa memiliki kakak seperti Chris.



Andai dia menjadi pasangan Chris, apa dia akan ...



"Astaga, apa yang kupikirkan?" Latiava menepuk kedua pipinya, "Sadar, Latiava Evander. Chris masih tidak ada apa-apanya dibandingkan Grim. Chris itu hanya teman. Hanya teman!"



Latiava mengulangi pikiran itu berkali-kali dalam otaknya. Ia tidak mau sampai berandai-andai bisa bersama Chris. Lagipula pria pirang itu kakak angkat Cessa dan sudah jelas tertarik pada wanita mungil itu. Ia tidak boleh sampai berpikiran bisa menjadi pasangan Chris.



Dia hanya mencintaiGrim. Hanya Grimvon Verleon, tidak ada yang lain.

__ADS_1




__ADS_2