The Hope

The Hope
Chapter 34


__ADS_3

Grim menunggu sampai tangis Cessa mereda. Ia membiarkan wanita mungil itu tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa saat jemarinya menghapus jejak airmata di wajah Cessa.



"Karena kau sudah tahu, sekarang aku lega," kata Grim, "Aku tidak punya rahasia besar yang harus kusembunyikan darimu lagi."



Cessa masih tetap diam. Ia beranjak berdiri dari pangkuan Grim tetapi pria itu mencegahnya, "Jangan pergi, Princess. Kau tahu kau tidak bisa pergi dari tempat ini begitu mudah."



"Aku tahu," balas Cessa pendek.



Sebelah alis Grim terangkat mendengar jawaban bernada kosong yang dilontarkan Cessa. Ia menghela nafas dan membiarkan wanita itu duduk di sampingnya, "Kau harus tahu kalau aku tidak suka bila kau mencoba untuk kabur."



Wanita itu tidak mendengarkan. Di dalam pikirannya ia sudah memikirkan rencana untuk kabur. Cessa tidak mau jika masih harus terus merasakan pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan oleh Grim. Sudah cukup ia merasakan menjadi pembunuh untuk kedua kali hanya karena pria yang ia cintai berkhianat.



Dia tidak mau merasakannya lagi.



"Ah, aku lupa sesuatu," kata Grim tiba-tiba. "Karena kau sudah mengenal Spade, kurasa tidak ada salahnya memberitahumu sesuatu."



"Kali ini apa?" tanya Cessa datar.



"Kalau kau bertemu dengan Spade, kusarankan jangan sampai membuatnya terluka," jawab Grim.



Ucapan yang terdengar seperti larangan itu mau tidak mau membuat kening Cessa berkerut, "Memangnya kenapa?"



"Yang jelas Spade tidak boleh sampai terluka, bukan karena dia memiliki kulit dan tubuh seperti bayi baru lahir," Grim terkekeh, "Itu hanya ... sekedar peringatan. Kau tidak akan suka jika melihat Spade terluka dan berlumuran darah."



Cessa diam mendengarnya. Walau tidak mengerti kenapa Grim memberitahukan hal itu kepadanya, ia tetap tidak mengenyahkan rencana melarikan diri yang ia susun sedemikian rupa.



Grim mengelus pipi Cessa dan mengecupnya, "Aku akan pergi sebentar. Ada sesuatu yang harus kuurus. Dan kau akan kukurung di sini."



"A-apa?"



"Kau pasti punya rencana untuk kabur dari sini, jadi aku terpaksa melakukannya." Grim tiba-tiba berubah dingin, "Aku tidak mau kau melakukan kesalahan yang sama lagi."



"Kau tidak bisa melarangku!" Cessa menyela, "Aku yang berhak mengatur kehidupanku sendiri, bukan kau!"



"Tapi aku suamimu, Princess." Grim tersenyum, "Apa pun yang kau putuskan, itu bergantung padaku sebagai suamimu."



"Kau—"



Grim tidak mengindahkan protes Cessa selanjutnya. Secepat kilat ia membungkam bibir wanita itu dengan ciumannya. Cessa nyaris tersedak karena ciuman tiba-tiba itu dan mengerang frustasi. Grim tidak berniat melepaskannya bahkan dengan sebuah ciuman seperti ini. Pria itu menguncinya sampai ia benar-benar lemas.



Cessa menarik nafas dalam-dalam ketika ciuman itu berhenti dan merutuki diri sendiri. Mudah sekali ia ditaklukkan hanya dengan ciuman. Hatinya merasa jijik pada diri sendiri karena merasa seperti wanita murahan.



"Jangan berpikir kau wanita rendahan, Princess. Kau lebih dari itu." kata Grim yang melihat ekspresi wajah Cessa yang suram.



"Lalu kau menganggapku apa? Boneka penurut, 'kan?" Cessa berujar sinis.



Grim tidak membalas ucapan Cessa. Ia beranjak dari ruangan itu dan meninggalkan Cessa yang menatap punggung pria itu dengan tatapan terluka.



***



Hampir dini hari sejak Grim pergi dari ruangan itu dan Cessa sudah mendapatkan akal sehatnya secara utuh. Kini ia memikirkan sebuah cara agar bisa keluar dari mansion ini hidup-hidup. Ia mencoba menganalisa situasinya saat ini.


__ADS_1


Dari apa yang ia lihat selama ini, mansion milik Grim termasuk mansion yang sulit ditembus. Dia sendiri jika tidak berstatus sebagai Nyonya Verleon, tidak akan bisa masuk ke mansion ini tanpa harus dimintai kartu identitas dan digeledah barang bawaannya untuk mencegah tindakan musuh-musuh pesaing Verleon Corps. Tetapi Grim bilang dia mengurungnya di sini ... bukan tak mungkin bahwa pria itu kini menempatkan pengawal di depan pintu dan siap menghalaunya kapan saja.



Tapi pasti ada satu celah, walau celah itu sekecil lubang jarum. kata Cessa dalam hati.



Wanita itu menggigit kuku ibu jarinya, mencoba memikirkan satu saja rencana agar ia bisa kabur.



Cessa mengambil ponselnya, mencoba menghubungi siapapun yang bisa ia mintai pertolongan. Tapi kemudian dia mengurungkan niat itu. Bila ia menelepon seseorang, yang pertama kali ia hubungi adalah Chris, dan firasatnya mengatakan kalau Chris dan keluarganya sedang diawasi saat ini oleh anak buah Grim.



Tidak akan ada gunanya bila ia meminta pertolongan dari kakaknya itu saat ini. Cessa kembali tenggelam dalam lamunannya.



Hanya satu rencana ....



Cessa menghentikan aktivitasnya. Dia melihat kearah pintu lekat-lekat. Satu rencana terbersit dalam otaknya. Ia menghampiri intercom yang ada di samping tempat tidur dan menekan nomor. Cessa harus menunggu beberapa saat sebelum intercom tersambung ke dapur.



"Ada yang bisa dibantu, Ma'am?" tanya suara di intercom.



"Aku lapar. Aku ingin kau mengantarkan makanan ke kamarku," kata Cessa, "Kau bisa melakukannya, 'kan?"



Ada jeda yang cukup panjang di seberang sana, dan Cessa merasakan detak jantungnya menggila hanya karena menunggu.



"Kami bisa mengantarkannya. Anda ingin makan makanan apa, Nyonya Verleon?"



Cessa menarik nafas lega. Satu masalah kecil terlewati sudah dengan jawaban dari intercom, "Tidak apa-apa. Aku ingin makanan yang tidak terlalu berat. Segera antarkan ke kamarku."



"Kami mengerti. Apa Anda memerlukan hal lain?"



"Tidak. Hanya itu." jawab Cessa.




Sambungan intercom terputus. Cessa meremas tangannya agak kuat dan menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya keluar. Rencananya sudah berjalan cukup lancar. Kini tinggal keberuntungan saja yang harus ia raih agar bisa kabur.



***



Satu jam kemudian pintu kamarnya diketuk. Cessa menoleh kearah pintu dan melihat seorang pelayan yang membawa kereta makanan masuk ke dalam. Wajah pelayan itu tampak agak takut, dan seperti perkiraan Cessa, ada dua orang pria berpakaian serba hitam dan menatap lekat-lekat pelayan tersebut.



Kedua pria itu pasti pengawal yang diperintahkan Grim untuk mengawasinya.



"Saya membawakan makanan untuk Anda, Ma'am," ujar pelayan itu, "Anda tidak menyebutkan dengan jelas makanan apa yang Anda minta, jadi koki kami membuat beberapa menu yang kami rasa cocok untuk Anda."



"Hm," Cessa mengangguk, "Kau bisa membantuku sebentar? Aku ingin berendam."



"Tentu, Ma'am,"



Pelayan itu langsung menuju kamar mandi dan Cessa menoleh kearah pintu yang masih terbuka dengan kedua penjaga yang menatap ke dalam, "Kalian tidak keberatan untuk menutup pintu, bukan?"



Kedua penjaga itu merespon pertanyaannya dengan sebuah anggukan, salah seorang dari mereka menutup pintu.



Rencana berikutnya dimulai.



***



Pelayan yang tadi membawakan makanan keluar setelah membantu Cessa berendam dan menaruh makanan di atas meja. Kedua pengawal tadi kembali membukakan pintu untuk si pelayan. Mereka sempat curiga karena melihat rambut pelayan tersebut agak basah, tetapi tidak bertanya lebih jauh.

__ADS_1



Pelayan tersebut berjalan masuk menuju lift khusus pegawai. Bersamaan dengan itu, Grim kembali dan berjalan lurus kearah mereka. Pria itu berjalan mendekat dan sempat melirik pelayan tadi berjalan terburu-buru sambil menunduk.



"Princess tidak mencoba kabur, 'kan?" tanya pria itu datar.



"Tidak, Tuan. Semuanya terkendali."



"Bagus," Grim mengisyaratkan mereka berdua untuk menyingkir dan dia membuka pintu. Ia melihat berbagai macam makanan yang tersedia di atas meja, kemudian kearah tempat tidur, di mana Cessa berbaring membelakangi Grim.



Grim mendekati tempat tidur, melihat Cessa menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut membuatnya tersenyum geli. Walaupun marah, dan mungkin frustasi, Cessa masih berperilaku imut di depannya. Wanita seperti Cessa tidak pernah ia temukan sebelumnya ..., atau mungkin setelah Eve, dia tidak pernah menemukan wanita lain yang memenuhi kriterianya sampai Cessa datang.



Rasanya Grim tidak ingin melepaskan wanita seunik Cessa begitu saja.



Ia duduk di samping kepala wanita itu dan mengelus rambutnya perlahan. Namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah. Ia mengelus rambut Cessa lagi, merasakan ada yang salah. Dengan sekali sentak, ia membalikkan tubuh Cessa agar menghadapnya.



Yang terjadi selanjutnya ia memanggil kedua pengawal di depan pintu dan memukuli mereka dengan satu pukulan masing-masing di wajah mereka.



***



Pelayan yang tadi mengantarkan makanan kembali ke dapur untuk mengantar kereta makanan, setelahnya ia berbalik pergi sambil membawa sebuah tas kecil hitam keluar dari dapur langsung menuju bagian belakang mansion. Pelayan itu juga melepas sesuatu di rambutnya, sebuah rambut palsu, yang menyembunyikan warna rambut mencoloknya yang berwarna merah muda.



Wanita itu tidak lain adalah Cessa.



Cepat-cepat Cessa membuang rambut palsu berwarna pirang yang sama persis dengan pelayan yang ia buat pingsan di kamar itu ke sembarang arah Bersyukur karena dia sempat melihat satu wig yang bisa ia pakai di lemari pakaiannya. Rencananya jadi lebih sempurna dan dia bahkan bisa mengelabui kedua pengawal itu dengan suaranya yang ia ubah dengan kemampuannya meniru suara orang lain.



Ia berjalan cepat mengendap ke gerbang mansion, memastikan dirinya tidak terlihat bukanlah hal mudah bagi orang awam, tetapi Cessa bisa melakukannya. Berkat latihannya selama bertahun-tahun mencoba kabur dari rumahnya dulu untuk bersembunyi di rumah Chris. Ketika sampai di luar dengan sukses, ia berniat mencari taksi. Bila ia berjalan kaki, sudah pasti dia akan tertangkap basah oleh kamera pengawas yang dipasang di setiap sudut jalan kota New York. Cessa tidak mau mengambil resiko Grim menggunakan kekuasaannya sebagai putra Verleon untuk melacaknya dengan mudah. Sudah ia putuskan ia akan kabur. Ke mana ia akan pergi bisa ia pikirkan nanti. Yang jelas ia perlu menjauh dari pria itu untuk menenangkan pikiran dan hatinya.



Bagaimana jika Grim tahu ia kabur dan menyiksa Chris?



Satu pikiran itu membuat Cessa berhenti melangkah. Benar juga. Grim tahu hubungannya dengan Chris dan keluarganya. Di satu sisi dia tidak ingin melibatkan Chris, tapi di sisi lain dia juga tidak tahan jika harus bersama Grim.



Sebutlah ia sedang berpikiran pendek saat ini, tetapi wanita mana yang rela jika suaminya sendiri mengatakan kalau ia tidak lebih dari seorang pengganti?



Dengan pemikiran itu, Cessa mengangguk mantap dan kembali berjalan sambil berusaha mencari taksi.



Sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di dekatnya sempat menarik perhatian Cessa. Mobil itu tampak seperti mobil lain yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya yang entah pergi ke mana. Toh, mobil-mobil yang ditinggalkan seperti ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah di kota ini.



Cessa berjalan melewati mobil itu tanpa menyadari kalau dari dalam mobil sedan hitam tersebut keluar dua orang yang langsung menyergapnya. Cessa membelalak kaget. Ia belum sempat melakukan apa-apa saat hidungnya ditutupi saputangan yang sudah dibubuhi obat bius. Dalam waktu singkat, wanita mungil itu memejamkan mata dan kehilangan kesadaran. Kedua orang itu segera membawa Cessa masuk ke dalam mobil. Mereka mengikat kedua tangan wanita itu dan menutupi matanya dengan sebuah saputangan panjang berwarna gelap. Salah seorang dari mereka mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.



"Kami sudah mendapatkannya," ujar orang itu pada orang yang dihubunginya.



"Bagus. Bawa dia kemari. Jangan sampai ada seorangpun yang melihat."



"Dimengerti."






Btw, ada yang bisa nebak siapa yang nyulik Incess?


Incess diculik sama siapa ini???? 😱😱😱😱



__ADS_1


__ADS_2