
Lima tahun kemudian
Cessa menatap ke luar jendela. Musim dingin sudah tiba dan hari ini salju turun. Sudah lama sekali dia tidak melihat salju. Saat masih kecil, dia selalu bermain lempar bola salju sendirian atau terkadang dengan para pelayan, setelahnya dia akan pergi ke kolam teratai dan menghabiskan waktu sambil memperhatikan satu-persatu salju yang turun.
Pintu ruang kerjanya diketuk, Cessa menoleh dari jendela dan melihat Chris masuk sambil membawa kantung plastic berisi kopi dan juga makanan hangat, menilik dari aromanya, Cessa yakin itu hamburger dan kentang goreng, juga kungpou chicken favorit Chris.
"Kau lagi-lagi bekerja terlalu keras," Chris menaruh kantung plastic yang dibawanya ke atas meja dan mencium kening Cessa, "Apa kau tidak lelah?"
"Show musim dingin akan berlangsung tidak lama lagi. Aku harus mengerjakan pesanan beberapa klien sebelum fokus ke acara itu," balas wanita mungil itu, "Kau membawa banyak makanan. Apa kau berusaha menggemukkanku?"
"Kau memang perlu menggemukkan badan. Lihat saja betapa kurusnya dirimu di depan cermin," cibir Chris.
Cessa tertawa. Dia menaruh jarum jahit di tangannya dan mengikuti Chris duduk di sofa. Pria itu mengeluarkan makanan yang dibawanya dan memberikan satu hamburger dengan isi keju dan daging pada Cessa. Wanita itu melahap makanannya dengan senyum sambil sesekali melihat kembali ke luar jendela.
"Setelah ini kita akan pergi ke tempat biasa. Menemui klien, dan kemudian bertemu beberapa sponsor show," kata Chris melahap kungpou chicken-nya.
"Hmm ..."
"Kau mau pergi ke tempat lain?" tanya Chris.
"Aku mau menjenguk Grim,"
Ucapan itu sukses membuat Chris terdiam. Dia menatap Cessa yang tetap makan sambil menatap ke luar, lalu menghela nafas.
"Bunga mawar putih tiga tangkai?" tanya pria itu lagi.
"Grim suka mawar putih," balas Cessa, "Itu bunga yang harus kubawa setiap kali mengunjunginya. Kalau tidak, dia pasti akan marah."
Chris tertawa kecil dan menepuk-nepuk kepala Cessa sebelum kemudian sibuk dengan makanannya.
"Bagaimana kabar Mommy dan Daddy?" kali ini Cessa yang bertanya tentang kedua orangtua Chris.
"Sangat baik. Mereka bahkan sedang bermain dengan cucu mereka saat aku kemari," Chris terkekeh, "Mereka berdua sepertinya senang karena akhirnya mendapatkan seorang cucu."
"Seharusnya kau melakukan itu sejak dulu, memberikan mereka cucu." Celetuk Cessa.
"Lass, jangan mulai lagi," Chris menggeram, pura-pura marah.
__ADS_1
Kali ini Cessa tertawa. Chris juga, sudah lama sekali dia tidak melihat Cessa sehidup sekarang. Sejak dulu, dia selalu melihat wanita itu seperti selalu membawa beban berat di pundaknya. Seolah-olah beban itu adalah hal yang harus dia tanggung walau akhirnya itu menyakiti diri Cessa sendiri.
Chris menelan suapan terakhir makanannya dan meminum soft drink yang dibuka oleh Cessa, "Aku akan menyiapkan mobil. Jika kau sudah selesai makan, kita langsung berangkat."
Cessa mengangguk. Chris lalu keluar dan meninggalkan Cessa sendirian. Setelah pintu ditutup, Cessa menaruh kembali hamburger di tangannya ke atas meja dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Kepalanya menunduk, menatap kedua tangan di pangkuannya dengan sorot mata sendu.
"Tidak, aku tidak boleh terus bersedih. Grim akan marah kalau aku memasang wajah seperti itu."
Ia menggeleng-gelengkan kepala dan menepuk pipinya. Memasang senyum yang tidak sampai ke matanya, kemudian beranjak dari sofa. Cessa mengumpulkan barang-barangnya dan menaruhnya ke dalam tas. Setelahnya dia menekan intercom dan meminta salah seorang office girl untuk membersihkan makanan di atas meja. Dia menyambar mantel tebal berwarna coklat di atas kursinya dan keluar dari ruang kerja butiknya yang nyaman dan hangat.
***
Bella baru saja menaruh satu pot berisi bunga lili ketika sebuah mobil berhenti di depan toko bunga miliknya. Wanita dengan wajah cantik itu menoleh dan mendapati iparnya masuk ke dalam toko.
"Hai, Bella," Cessa tersenyum melihat Bella, "Tokomu cantik seperti biasa,"
"Dan kau terlihat lebih muda," Bella mengerutkan kening, "Aku masih tidak mengerti mengapa kalian, orang-orang Asia, bisa awet muda seperti ini."
Cessa terkekeh dan mengikuti Bella menuju meja kasir. Wanita itu mengambil sebuah buket bunga kecil berisi bunga lili dan mawar putih, seperti yang biasa dipesan Cessa setiap hari.
"Aku heran mengapa kau tidak bosan dengan bunga-bunga ini," Bella menatap buket bunga yang kini berpindah ke tangan Cessa, "Terlalu putih dan ... polos."
Bella memiringkan kepalanya mendengar ucapan Cessa, "Seperti biasa, kau benar."
Cessa tersenyum lebar, dia merogoh tas hendak mengeluarkan dompet ketika Bella mengangkat tangannya, "Tidak perlu membayar. Anggap saja itu hadiah dariku."
"Eh? Tapi ..."
"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga akan menutup toko sebentar lagi," kata Bella, "Aku berencana pindah dari kota ini."
"Kau mau pindah? Ke mana? Maksudku, ke kota mana?"
Bella menggelengkan kepalanya, "Aku masih belum tahu. Mungkin saja aku pindah ke luar negeri atau pergi ke suatu tempat yang bisa membuat pikiranku tenang."
"O-oh ..."
Mereka berdua terdiam selama beberapa menit setelahnya. Cessa kemudian pamit dan memastikan Bella untuk terus mengontaknya bila wanita itu benar-benar akan pindah dari New York.
__ADS_1
Cessa masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt. Dia menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan pada Bella yang membalasnya dengan tersenyum.
"Semuanya sudah berubah," kata Cessa.
"Hm? Kau mengatakan apa, Lass?" tanya Chris.
"Semuanya berubah, dan kuharap perubahan ini mengarah pada hal yang bagus," jawab Cessa, "Aku juga berharap Grim juga begitu."
Chris tersenyum. Dia menatap ke jalan dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan sikap rileks, "Kurasa pria bodoh itu juga berubah, Cessa. Kau sendiri melihatnya, 'kan?"
Wanita mungil itu memiringkan kepalanya, "Ya, Grim memang sudah berubah."
***
"Kau yakin tidak ingin kutemani?" tanya Chris ketika mereka sampai di tempat tujuan mereka.
"Aku yakin. Lagipula aku sudah kemari berkali-kali," balas Cessa sambil melepas seatbelt dan membuka pintu mobil.
Dia berdiri dan merasakan embusan angin pergantian musim dingin yang begitu menyengat menyapa kulitnya. Seulas senyum tersungging di bibirnya menyadari dia masih bisa merasakan dinginnya angin saat ini. Ia lalu berbalik dan melihat kaca mobil terbuka, "Aku akan kembali dalam waktu dua jam. Kau bisa pergi ke suatu tempat lebih dulu. Aku akan menghubungimu."
"Baiklah," Chris menyerah, "Kalau sudah selesai, segera hubungi aku."
"Tentu,"
Chris menutup kaca mobil dan pergi dari tempat itu. Setelah mobil pria itu menghilang dari pandangan, Cessa berbalik dan menyusuri jalan setapak di depannya. Taman yang didominasi oleh rumput hijau di tempat ini benar-benar menyejukkan mata. Cessa tidak pernah bosan melihat rerumputan yang terlihat seperti permadani itu sepanjang dia menyusuri jalan setapak. Tempat ini mungkin dianggap angker oleh semua orang karena sepi dan jarang ada orang yang lewat, tetapi itulah yang disukai Cessa.
Dia mencintai ketenangan, dan tempat ini adalah tempat terbaik yang bisa membuatnya tenang bertemu dengan Grim.
Ia berbelok ke kanan dan menyusuri jalan yang kini sedikit berbeda. Ada beberapa pohon bunga kecil berwarna putih yang menghiasi. Cessa melangkahkan kakinya ke tempat di mana terakhir ia melihat kekasih hatinya. Kakinya berjalan dengan lambat dan dengan usaha penuh untuk sampai di tempat tujuannya. Wanita mungil itu bersenandung kecil sambil menyentuh bunga-bunga kecil itu.
Langkahnya sedikit dipercepat saat melihat tempat di mana ia akan bertemu Grim. Senyumannya mengembang tatkala rasa rindu kembali merasuk ke dalam relung hatinya. Entah sudah berapa tahun berlalu dan ia selalu seperti saat ini, berdiri termenung menatap kondisi dua buah makam yang bersejajar di depannya.
"Apa kabar, Grim?"
TAMAT
__ADS_1