
Cessa mendelik. Kapan pria ini bisa belajar untuk mendengarkan ucapan seseorang? Ketika tangan Grim hendak menyentuhnya, Cessa bergerak cepat dengan mencengkeram lengan kekar tersebut dan menekan titik di mana Grim mengerang kesakitan. Kuku Cessa bahkan menancap tepat di dekat pembuluh darah lengan Grim.
"Jangan coba-coba menyentuhku lagi, Tuan Grimvon Verleon. Kalau tidak aku tidak akan segan-segan membuat tanganmu cedera seumur hidup." Kata Cessa penuh ancaman. Tangannya masih tetap mencengkeram lengan Grim yang tampak memerah karena darah yang menetes.
Grim terkekeh. Cessa rupanya tipe wanita pembangkang. Tipe yang dia suka dan menjadi tantangan sendiri untuk menaklukkan wanita seperti Cessa.
"Kau mencoba mengancamku, Nona Princessa? Kau sadar situasi yang sedang kau hadapi sekarang?" balas Grim, "Kau sendirian di sini, di dalam mobil dan terkunci bersamaku. Apa menurutmu yang bisa kulakukan padamu, hm?"
Cessa mengkertakkan gigi. Dia sangat tahu situasinya sekarang, tetapi dia sudah terlampau kesal dengan setiap ucapan dan tindakan Grim. Dengan sentakan keras dia melepas tangan Grim dan menatap kuku-kuku jarinya yang ternoda darah, lalu menatap Grim lagi.
"Aku lebih baik tidur bersama Chris ketimbang harus tidur denganmu, Tuan Verleon." Kata Cessa, "Aku benci dengan tipe pria playboy. Pria sepertimu lebih baik mati saja di lautan."
Jawaban Cessa membuat Grim mengerjap sebelum akhirnya tertawa. Astaga. Wanita ini benar-benar lucu. Bahkan di saat terdesak seperti ini pun dia masih bisa mengejek Grim dengan kata-kata pedasnya. Princessa Angelia benar-benar wanita yang bertemperamen keras di balik tubuh mungil dan seperti boneka yang dimilikinya.
"Baiklah, kurasa kali ini aku kalah, Nona Princessa. Untuk kali ini aku akan melepaskanmu." Kata Grim, "Tapi aku tidak akan melepaskanmu sekarang sebelum kau menemaniku ke suatu tempat terlebih dahulu."
Cessa memutar bola matanya, jengah. "Memang kau mau membawaku ke mana? Kalau kau berpikiran ingin tidur denganku, kusarankan untuk membuang jauh-jauh pikiran itu sebelum aku membuatmu impoten."
Grim tertawa terbahak-bahak kali ini. Dia tidak menyangka kalau ucapan seperti itu bisa keluar dari bibir Cessa.
"Sepertinya aku tidak bisa memaksamu lebih dari ini untuk sekarang. Kalau begitu aku akan mencari jalan lain." kata Grim, "Katakan, apa kau suka pendekatan yang terang-terangan dan penuh kata-kata rayuan?"
Cessa mendengus dan tidak menjawab. Saat ini mood-nya sudah benar-benar buruk dan dia akan selalu diam jika mood-nya sudah dalam tahap tidak bisa diselamatkan lagi untuk satu waktu. Karenanya Cessa lebih memilih diam dan tidak mengindahkan kekehan Grim di sebelahnya.
"Bisakah kau melepaskanku sekarang? Aku sibuk dan sudah membuang-buang waktuku hanya untuk bertemu dengan pria playboy sepertimu." Kata Cessa dengan nada kesal. "Buka pintu mobil sialan ini dan biarkan aku pergi. Sekarang!"
"Dan aku juga sudah mengatakan padamu kalau aku tidak mau melepaskanmu sebelum kau menemaniku ke suatu tempat, kan?" balas Grim, "Jangan coba-coba bermain-main denganku, Nona Princessa. Kau tahu aku bisa saja membuatmu bertekuk lutut di hadapanku sekarang, tapi aku tidak melakukannya."
"Oh." Cessa tidak berminat berbicara lebih jauh. Lebih baik dia diam dan menuruti keinginan Grim, untuk saat ini. Di lain kesempatan, dia harus lebih berhati-hati lagi. Dia tidak mau terlibat lebih jauh dengan keluarga Verleon, terutama dengan pria yang duduk di sebelahnya ini.
Di mata Cessa, apapun yang ada pada Grimvon Verleon menyerukan tanda bahaya dan dia harus menjauhinya sejauh mungkin.
Grim melihat Cessa diam dan tersenyum tipis. Dengan santainya dia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menuju jalan raya. Pria itu bahkan tidak peduli dengan luka bekas kuku Cessa di tangannya ataupun makanan di kafe yang belum sempat ia bayar. Ia bisa melakukannya nanti.
__ADS_1
***
Chris baru saja datang ke butik Cessa ketika salah seorang pegawai mengatakan bahwa wanita itu sedang ada di luar, bertemu klien. Kening Chris berkerut mendengarnya. Biasanya klien akan menghubunginya terlebih dahulu sebelum bertemu Cessa. Setiap klien maupun pelanggan tetap Cessa tahu seperti apa temperamen wanita itu di saat sedang bekerja, bagai diktator dan menginginkan semuanya serba sempurna. Memang bukan sifat yang baik, tapi sifat itulah yang membuat Cessa disegani dan dihormati tidak hanya dari pihak pegawainya, tetapi juga para klien yang berbisnis dengannya.
Setelah mengucapkan terima kasih pada pegawai itu, Chris mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Cessa. Tetapi nomor ponsel wanita itu tidak aktif. Satu lagi keanehan yang membuat kening Chris berkerut lebih dalam. Cessa tidak pernah meninggalkan ponselnya kehabisan baterai atau tertinggal di suatu tempat. Cessa tidak pernah lepas dari ponselnya sekalipun dia sedang bekerja. Tapi sekarang ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi.
"Ke mana boneka itu pergi?" gerutu Chris. "Padahal aku membawakan berita bagus mengenai pengganti model utama show-nya."
Chris memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya dan masuk ke dalam mobil. Sebaiknya dia menghubungi Cessa lagi nanti ketika wanita itu sudah berada di apartemennya. Karena dia tahu, bila Cessa tidak mengangkat teleponnya, itu artinya wanita itu sedang dalam mood yang sangat-sangat buruk saat ini.
***
Grim melajukan mobilnya menuju Anterion University dan langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus miliknya sendiri. Cessa yang baru saja tersadar dari lamunannya menatap bangunan tinggi yang begitu dia kenal, universitas milik keluarga Verleon.
"Kenapa kita kemari?" tanya Cessa, "Kau berniat menculikku ke universitas?"
"Aku rektor muda di sini, tentunya aku punya beberapa keistimewaan di tempat ini." balas Grim sambil melepas seat-beltnya. "Ayo, ikut aku."
Grim memutari mobilnya dan menggenggam tangan Cessa. Wanita itu sempat menarik tangannya dari genggaman Grim dan dihadiahi tatapan tidak suka dari pria itu.
"Aku sudah mengatakan berkali-kali kalau aku tidak suka disentuh." Kata Cessa, "Kau tidak pernah mendengarkan, ya?"
"Aku mendengarkan." Balas Grim, dan kemudian tangannya merangkul pinggang Cessa, menariknya mendekat hingga pipi wanita itu menabrak dadanya. "Kalau aku tidak boleh menyentuh tanganmu, berarti menarikmu ke dalam pelukanku tidak masalah, kan?"
Cessa mendelik tidak terima. Dia mencoba melepaskan diri tetapi seperti tadi, usahanya sia-sia. Grim malah semakin menariknya dan membiarkan mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu-lalan melihat kearah mereka.
"Tuan Verleon, hentikan ini!"
"Kau selalu memanggilku dengan sebutan 'Tuan Verleon'. Kenapa kau tidak pernah menyebut namaku?" kata Grim, "Apa namaku terlalu sulit disebutkan? Jika kau memanggilku dengan namaku, maka aku juga akan memanggilmu dengan sebutan yang kupilih."
Untuk ke sekian kalinya Cessa mendengus. Otak dan telinga pria ini sebenarnya terbuat dari apa? Apa Grim tidak pernah mengenal kata menyerah atau mengalah? Ini benar-benar menyusahkan.
"Kalau kau tidak mau memanggilku dengan namaku, maka aku akan membawamu ke kantorku dan kita bisa bercinta di sana seharian." Bisik pria itu tepat di telinga Cessa, membuat wanita itu menggigil, "Sebut namaku sekarang."
__ADS_1
Cessa menatap tajam mata Grim, tapi ketika dia merasakan tangan Grim yang memeluk pinggangnya mulai bermain-main di sana, Cessa tidak punya pilihan lain selain mengangguk. "Baiklah... Grimvon."
"Bukan itu." tangan Grim naik hingga nyaris menyentuh dadanya dan membuat Cessa terkesiap kaget, "Bukan dengan nama seperti itu. Coba lagi."
Cessa menggeram menahan amarah, tetapi mengingat tangan Grim yang kini mulai mengelus blus putih di balik mantel yang dia kenakan, mau tak mau dia menyerah. "Baiklah, baiklah Grim. Kau puas sekarang?"
"Itu lebih baik." Grim tersenyum lebar dan mencium puncak kepala Cessa, "Ayo kita ke ruanganku."
"Kau bilang kau tidak akan membawaku ke sana kalau aku menyebut namamu." Kata Cessa protes, "Biarkan aku pulang sekarang, Grim."
"Kau terlalu banyak protes, Princess. Aku hanya akan membawamu ke ruanganku, tidak lebih. Kecuali kalau kau menggodaku dan membuatku ingin menerkammu, itu bisa dianggap sebagai kecelakaan yang menguntungkan." Kata Grim dengan senyum lebar. "Sekarang ayo, dan jangan membantahku."
Cessa hendak melancarkan protes lagi tetapi tangan Grim sudah beranjak ke pantatnya hingga ia menelan kata-kata yang sudah hampir dia ucapkan. Matanya mendelik pada Grim yang tersenyum bak malaikat tak berdosa pada para mahasiswa yang berpapasan dengan mereka.
Grim membawa Cessa menuju ruangannya di lantai dua gedung bagian barat. Pria itu mendorong Cessa masuk ke dalam ruangan yang... memang khas seorang rektor, orang-orang yang bekerja di sebuah universitas. Bedanya ruangan Grim jauh lebih luas dan ada satu pintu di dekat lemari berisi buku-buku literature dan juga pot tanaman hijau berukuran sedang. Cessa menatap pintu itu curiga, dia yakin dia tahu ruangan apa yang ada di balik pintu tersebut.
Pria itu lalu beranjak ke meja kerjanya dan melihat Cessa masih berdiri di tempatnya membuat Grim mendecak, "Apa yang kau lakukan di situ?" tanyanya, "Kemari ke sini."
Cessa menatap Grim lama-lama sebelum menuruti keinginan pria itu. Dia berdiri di hadapan Grim dengan wajah datar, tapi Grim mengisyaratkan Cessa untuk berdiri di sampingnya. Wanita itu menghela nafas jengkel sebelum berdiri di samping Grim. Tangan pria itu lalu menariknya dan lagi-lagi Cessa berada di pangkuan Grim yang memeluknya erat dari belakang.
"Grimvon Verleon!!"
"Sssh ..., jangan berisik. Aku sedang mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaanku saat ini." bisik Grim, "Diam dan jangan bergerak dari posisimu sekarang. Mengerti?"
Cessa ingin protes, tetapi melihat tangan Grim mengambil salah satu berkas di atas meja dan mulai membaca, mau tidak mau Cessa harus menahan semua amarah dan lontaran kata-kata tajamnya di dalam hati. Dia tidak tahu kenapa Grim membawanya kemari, tetapi Cessa memikirkan nasib gaun-gaun yang belum selesai ia buat. Bahkan gaun pengantin milik adik tiri Grim saja belum sempat ia sentuh!
Grim menyandarkan dagunya di pundak Cessa dan membaca semua laporan yang masuk ke ruangannya itu dengan cepat. Sesekali Grim melirik kearah Cessa yang tampak kesal dan seperti ingin kabur dari tempat ini. Grim tertawa dalam hati. Menikmati wajah penuh amarah Cessa benar-benar menyenangkan. Bibir Cessa yang mengerucut tampak menggoda dan membuatnya ingin mencicipi rasa manis bibir itu sekali lagi.
Karenanya Grim mengabaikan pekerjaannya yang belum selesai dan menolehkan wajah Cessa sebelum melumat bibir wanita yang ada di pangkuannya itu. Mata Cessa terbelalak dengan perlakuan Grim yang untuk kedua kalinya mencuri ciumannya. Tangan Cessa hendak menampar wajah Grim namun Grim lebih cepat, menahan kedua tangan Cessa dan memperdalam ciumannya.
Oh, shit.
__ADS_1