
Chris membuka pintu ruang kerja Cessa dan menemukan wanita itu sedang tekun mengerjakan satu gaun pengantin. Keningnya berkerut dan bibirnya agak mengerucut, membuat Chris agak geli. Beginilah ekspresi seorang Princessa Angelia ketika sedang serius bekerja. Bahkan setelah menikah, wanita itu tidak mau berdiam diri layaknya nyonya besar. Dia terus mencari cara agar dia terus bekerja, menggerakkan tubuhnya dan tidak peduli lelah yang melanda setelah percintaan dengan suaminya di malam sebelumnya.
Pria itu menutup pintu di belakang punggungnya dan menghampiri Cessa, "Hei,"
Cessa mendongak dan langsung bertatapan dengan Chris yang tersenyum lebar padanya, "Oh, Hai Chris. Kukira kau tidak datang hari ini."
"Aku tidak mungkin tidak datang, Cessa. Terlebih lagi kita harus memantau kondisi panggung dan pakaian-pakaian koleksi musim gugurmu yang akan diperagakan malam ini," balas Chris, "Ini gaun siapa?"
"Entahlah. Aku hanya ingin membuat satu gaun pengantin. Yang jelas ini bukan pesanan siapa pun." balas wanita itu, "Menurutmu gaun ini bagus atau tidak?"
Chris menatap gaun yang ada di hadapannya. Gaun pengantin dengan kain satin merah muda nyaris putih itu tampak menawan. Dengan desain mirip seperti gaun seorang putri, mengingatkan Chris tentang film kartun di mana seorang putri menikah dengan sang pangeran tampan. Gaun itu juga dihiasi dengan kerutan di bagian dada dan punggungnya yang backless tentu akan memamerkan punggung sang pengantin wanita. Roknya juga mengembang layaknya kelopak mawar. Sangat cantik.
Matanya kemudian melirik meja di dekat manekin tempat gaun itu dipasang. Di sana dia juga melihat sebuah buket bunga mawar yang terbuat dari kain berwarna putih, serta tudung pengantin dengan sebuah tiara mungil yang indah. Chris tahu dua benda itu juga buatan Cessa. Selain mendesain dan membuat pakaian atau gaun pengantin, Cessa juga hobi membuat aksesori pelengkap untuk pakaian rancangannya sendiri. Satu lagi kelebihan Cessa sebagai desainer muda berbakat yang diminati oleh banyak orang. Wanita itu juga mengenal beberapa perancang perhiasan terkenal yang memudahkannya mendapatkan perhiasan pelengkap yang menawan dan indah.
"Bagus. Menawan, lebih tepatnya." kata Chris, "Aku heran, jarang sekali kau ingin membuat gaun tanpa ada orang yang memesannya."
"Aku tiba-tiba mendapatkan ide untuk membuat gaun ini. Kurasa aku akan menyimpannya dan tidak akan kuperlihatkan pada satupun pelangganku." Cessa terkekeh, "Mungkin ... ini akan kuberikan pada anakku nanti. Menurutmu bagaimana?"
"Kau baru menikah dengan Grim beberapa minggu yang lalu dan otakmu sudah memikirkan bayi." Chris tertawa, "Kau benar-benar bahagia, Cessa."
"Menurutmu begitu?"
"Jika kau sampai memikirkan membuat anak, itu artinya kau bahagia. Akui saja." Chris tersenyum lebar, "Aku berharap kau terus seperti ini, Lass. Rona merah benar-benar membuatmu terlihat lebih cantik."
Cessa membalas ucapan Chris dengan senyuman lebar, kemudian menyelesaikan jahitan pita pada bagian belakang gaun dan kemudian bergabung dengan Chris yang sudah lebih dulu duduk di sofa.
"Di mana suamimu? Biasanya dia terlihat di sekitarmu dan tidak pernah mau beranjak pergi." ujar Chris.
"Grim ada urusan di perusahaan. Nanti malam dia baru akan menjemputku saat show digelar." jawab Cessa, "Aku hanya berharap dia tidak memaksaku menjalani terapi lagi. Hampir setiap malam kami melakukannya dan aku selalu merasa pegal keesokan harinya."
"Jadi itu alasanmu sering datang terlambat ke butik. Kalian benar-benar ... ah, aku jadi iri. Kapan aku juga bisa seperti kalian?"
Cessa tertawa terbahak melihat ekspresi cemberut di wajah Chris dan kemudian mengelus pipi pria itu, "Astaga, Chris, kalau kau cemburu seharusnya kau mencari pacar, atau kekasih, atau mungkin calon istri yang harus kau kenalkan pada Agatha dan William. Mereka khawatir kau akan terus melajang seperti ini seumur hidup."
"Hei, aku sudah berusaha tapi aku tidak bisa. Pikiranku masih tertuju padamu." Chris tersenyum miris, "Jangan khawatir, aku tidak berniat merebutmu dari Grim. Kau bahagia maka akupun bahagia."
"Aku tahu, Chris. Aku tahu ...." Cessa tertawa, "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku ingin makan sesuatu yang asin hari ini."
"Bagaimana dengan Grim? Aku tidak mau dia cemburu padaku dan berpikir yang tidak-tidak." kata Chris.
"Aku akan meneleponnya. Ayolah, rasanya sudah lama sekali kita tidak makan siang bersama. Kita juga bisa mengajak Agatha dan William."
"Ide yang bagus." Chris mengangguk, "Kau telepon Grim dulu, baru setelahnya kita pergi makan siang."
Cessa tersenyum lebar dan segera mengambil ponselnya untuk menelepon Grim.
__ADS_1
***
Grim baru saja menyelesaikan menanda-tangani dan memeriksa dokumen yang masuk ketika ponselnya berdering. Dia melihat sekilas nama Cessa di layar ponsel kemudian tersenyum. Tangannya meraih benda persegi tersebut dan menjawab telepon dari istrinya.
"Halo, Princess? Tumben sekali kau menelepon sebelum aku menjemputmu." kata pria itu sambil bersandar pada punggung kursi.
"Kau ini ada-ada saja, Grim," suara Cessa di seberang sana terdengar geli, "Oh ya, aku ingin pergi makan siang bersama Chris. Tidak apa, kan? Kau juga akan menjemputku nanti malam saat show digelar."
"Makan siang dengan Chris?" Grim melirik jam tangannya, "Rupanya sudah waktunya makan siang, ya?"
"Memang. Jadi ... bagaimana? Boleh, kan? Lagipula aku pergi bersama Chris, bukan dengan pria lain."
"Kalau kubilang Chris juga termasuk kategori 'pria lain', apa kau akan tetap pergi makan siang dengannya?" balas pria itu sambil tersenyum geli.
"Grim ...." suara Cessa terdengar merajuk, membuat Grim gemas dan ingin langsung menerkam wanita itu bila ia ada di hadapannya, "Ayolah. Chris itu kakakku. Dia tidak akan berbuat macam-macam padaku. Kau tahu itu."
"Aku tahu, Princess. Aku hanya bercanda." Grim tertawa, "Kau boleh pergi dengannya. Tapi hanya sebatas makan siang, kalau kau melanggar, kau yang akan menjadi makan malamku nanti."
"Grim, apa sekrup di dalam otakmu ada yang lepas lagi? Kenapa kau selalu mengalihkan pembicaraan ke arah itu?" keluh Cessa, "Kau tahu kau sudah sering membuatku melakukannya setiap malam dan aku menderita pegal-pegal di pagi hari karena ulahmu."
"Itu resiko kau menggodaku setiap malam," kata Grim, "Sudahlah, intinya aku mengizinkanmu. Kau boleh pergi makan siang dengan Chris."
"Baiklah. Aku akan menunggumu menjemputku nanti malam." balas Cessa, "Kau juga harus makan siang. Jangan sampai kau tidak makan hanya karena fokus bekerja."
"Sampai jumpa nanti, Grim." balas Cessa, kemudian memutus sambungan telepon.
Grim menatap ponsel di tangannya sambil tersenyum. Dia baru akan meletakkannya ke atas meja ketika benda itu kembali berdering. Ia melihat layar ponselnya dan keningnya berkerut melihat nomor itu tak bernama. Sedikit penasaran, jarinya menggeser tombol menerima telepon dan mendengarkan suara orang yang meneleponnya di seberang sana.
***
"Ah, makanan di tempat ini memang selalu yang terbaik."
Cessa tersenyum lebar setelah menikmati makanan favoritnya di restoran yang biasa ia kunjungi bersama Chris. Wanita itu tampak lebih bersemangat dan ceria. Sejak menikah, Cessa memang jarang melewatkan jam makan dan membuat tubuhnya yang dulu tampak seperti tulang belulang berjalan menjadi lebih berisi. Untuk hal ini, Chris berterima kasih pada Grim karena mau membuat Cessa tidak lagi lupa waktu untuk makan.
Atau ... mungkin alasan wanita itu selalu tepat waktu untuk makan adalah karena bercinta dengan suaminya? Chris meringis memikirkannya. Perasaan iri lagi-lagi menyelinap dalam hatinya.
"Chris, kau kenapa? Apa makanannya tidak enak?" suara wanita yang duduk di depannya membuat Chris mendongak.
"Tidak. Aku hanya memikirkan kau sekarang jauh lebih bahagia, dan aku pun juga bahagia." ujar Chris, "Kau juga tidak pernah melewatkan jam makan. Itu bagus."
"Mau bagaimana lagi. Grim akan menyodorkan semeja penuh makanan padaku jika aku tidak makan sama sekali saat jam makan tiba." Cessa meringis, "Dia pemaksa, dan setelah menikah pun dia tetap memaksaku untuk terus makan teratur."
"Itu namanya perhatian, Lass. Bukan paksaan." celetuk Chris sambil terkekeh.
"Terserahlah," Cessa mengibaskan tangannya, "Apa kau sudah selesai makan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke suatu tempat?"
__ADS_1
"Memangnya kau mau ke mana?"
"Aku ingin pergi ke toko bunga, membeli bunga mawar putih." jawab Cessa, "Aku ingin menghias ruang kerjaku di mansion dengan bunga mawar putih."
Chris manggut-manggut dan memakan makanannya, "Kita akan pergi ke toko bunga yang biasa atau mencari di dekat sini?"
"Ke toko yang biasa saja. Aku terbiasa membeli bunga di sana," jawab wanita itu, "Dan lagi, aku biasa mendapatkan diskon saat membeli bunga di tempat itu."
"Sekali wanita tetap saja wanita," pria itu memutar bola matanya, "Kau terdengar seperti Mom ketika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan shopping."
"Itu sudah menjadi sifat normal setiap wanita, Chris. Seharusnya kau terbiasa." kekeh wanita itu, "Setelahnya kita bersantai saja di ruang kerjaku di butik, bagaimana?"
"Ide yang bagus. Atau kita bisa membeli cemilan dan mungkin tiduran saja di atas sofa?"
"Sempurna." Cessa tersenyum lebar, "Sambil bermain game di ponsel?"
"Dan menjadi anak remaja lagi." celetuk Chris, kemudian tertawa bersama Cessa.
"Rasanya itu sudah lama sekali." kata wanita itu di sela tawanya, "Kapan terakhir kali kita bermain game di ponsel bersama-sama?"
"Kurasa sudah lebih dari lima tahun. Apa kita akan melakukan hal itu nanti di ruang kerjamu?"
"Ini jam istirahat. Aku yakin tidak akan bermasalah kalau aku menggunakannya untuk bersantai lebih lama. Lagipula tidak banyak pakaian yang harus kukerjakan dan setelah persiapan show koleksi musim gugur, pekerjaanku sedikit berkurang." kata Cessa.
"Baiklah, kita akan melakukan kegiatan yang sudah lama tidak kita lakukan." Chris tersenyum lebar.
Mereka berdua selesai memakan makanan mereka masing-masing dan kemudian keluar dari restoran. Cessa merapatkan syal yang melilit lehernya. Udara dingin di musim gugur membuat bibirnya mengerucut. Dia paling benci udara dingin karena sedikit saja terkena angin yang dinginnya menusuk tulang, ia akan jatuh sakit dan tidak bisa bergerak selama seminggu.
"Kau kedinginan?" tanya Chris melihat Cessa menggosok-gosok tangannya yang sudah dilapisi sarung tangan tebal.
"Ini perasaanku saja atau memang udara di musim gugur tahun ini lebih dingin dari sebelumnya?" keluh wanita itu, "Aku ingin cepat-cepat pergi ke tempat hangat dan minum teh atau coklat hangat."
"Hmmm ..., apa bukan ke pelukan suamimu dan melanjutkan kegiatan kalian berdua di atas ranjang?" goda Chris.
"Ya Tuhan, kau juga jangan menggodaku, Chris. Kenapa kau dan Grim senang sekali menggodaku?" Cessa mengerang protes, "Kalian menyebalkan!"
Pria itu tertawa, "Mau bagaimana lagi? Kau memang cocok digoda, Sayang. Terima saja."
Cessa menggembungkan pipinya dan memukul lengan pria berambut pirang itu, "Kau dan Grim sama-sama menyebalkan. Kalian menyebalkan!"
"Hei, setidaknya yang menggodamu Cuma kami berdua, bukan orang-orang lain. Seharusnya kau bersyukur karena kami menggodamu dalam batas wajar," Chris kemudian termenung, "Tunggu. Kalau Grim yang menggodamu, kata-katanya lebih menjurus ke percintaan kalian. Ah ..., aku merasa cemburu lagi gara-gara kau, Cessa!"
Kali ini Cessa yang tertawa melihat wajah Chris yang ditekuk.
__ADS_1