The Hope

The Hope
Chapter 41


__ADS_3

Cessa menatap ke luar jendela mobil dan melihat jalan-jalan yang begitu asing daripada di kota Jakarta. Pemandangan di kota ini memang sama seperti ibukota Indonesia tersebut, padat penduduk, ramai, dan tentu saja macet. Tetapi ada yang berbeda, Cessa tidak tahu apa yang menyebabkan kota ini begitu berbeda, ia hanya tahu begitu saja.



"Ini kota apa?" tanya wanita mungil itu penasaran.



Miranda yang ikut bersama mereka melirik lewat kaca spion mobil, "Ini adalah kota Surabaya, Nyonya. Apa Anda pernah mendengar patung Suro dan Buaya?"



Cessa mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat sebelum kemudian mengangguk, "Kurasa aku pernah mendengarnya."



"Patung itu menjadi ikon di kota ini, letaknya berada tepat di depan Kebun Binatang Surabaya. Di sini juga terdapat berbagai tempat wisata lain yang bisa Anda berdua kunjungi, dan mungkin di sini Anda bisa menikmati pemandangan unik yang sedang menjadi trend di media sosial baru-baru ini," kata Miranda lagi, "Tuan Verleon sudah meminta saya untuk memesan kamar di hotel. Saya memesan kamar dengan pemandangan yang terbaik, jadi Anda bisa bersantai sekaligus menikmati pemandangan yang indah dari balkon hotel."



Wanita mungil itu mengangguk-anggukkan kepalanya, matanya masih menatap ke luar jendela.



Sesampainya di depan hotel yang dimaksud Miranda, Grim langsung membawa Cessa ke lantai dua puluh, di mana kamar yang sudah dipesankan untuk mereka berada. Cessa menatap Grim yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri, "Kau sedang memikirkan apa?"



"Tidak apa-apa, Princess. Aku hanya sedang memikirkan tidur siang."



"Oh,"



"Kenapa kau hanya menjawab seperti itu?" tanya Grim.



"Apa aku harus merasa antusias?" Cessa bertanya balik.



Grim terkekeh dan menunduk mencium pipi wanita mungil itu, "Kau mau aku melakukannya dengan kasar atau dengan lembut? Kebetulan aku membawa pita sutra dan beberapa benda yang mungkin akan membuat tidur siang kita lebih menyenangkan."



Pipi Cessa memerah mendengar ucapan Grim. Wanita itu mengalihkan pandangannya dan membuat Grim tertawa geli, "Jangan khawatir, terapimu kali ini tidak akan seperti dulu. Karena sekarang aku suamimu, tentu aku bisa melakukan apapun yang aku mau kepadamu."



"Apa kau harus mengatakan hal itu di sini? Di dalam lift?" Cessa meringis, untung saja di lift ini tidak ada orang lain selain mereka.



"Harus, agar kau tidak lupa setiap kali kau disentuh oleh pria lain, maka aku yang akan membersihkannya. Di tubuhnya hanya boleh ada tanda dari milikku, bukan milik pria lain."



Kini wanita mungil itu terdiam mendengar nada kepemilikan pria di sampingnya itu, "Kau benar-benar serius rupanya."



"Kapan aku tidak pernah serius, Princess? Kalau itu menyangkut dirimu, aku tidak akan pernah main-main."



***



Mereka sampai di dalam sebuah kamar yang didominasi warna kayu mahoni. Cessa menggigil mengingat kamar tempat Glenn menyekapnya pun berwarna sama. Dan sentuhan di pundaknya membuat wanita mungil itu mendongak, mendapati Grim tersenyum lembut kepadanya.



"Jangan khawatir, aku tidak akan sesadis pria brengsek itu,"



"Apa kau berencana untuk menjadi seorang pria brengsek?" balas Cessa, "Tunggu, kau sudah melakukannya. Dengan menikahi Latiava, menceritakan dosa masa lalumu yang benar-benar masih tidak bisa kutolerir hingga sekarang."



Kali ini giliran Grim yang meringis mendengar ucapan datar istrinya. Ia berjalan dan berjongkok di hadapan Cessa, menangkup kedua tangan wanita mungil itu dengan kedua tangannya, "Kau boleh percaya atau tidak, tetapi apa yang kukatakan waktu itu benar... aku mencintaimu."



"Apa aku harus memercayainya?" Cessa menatap Grim tidak percaya, "Kau sudah membuatku sakit hati berkali-kali."



"Dan aku akan memulihkannya berkali-kali. Sebrengsek apapun diriku, sebejat apapun perlakuanku padamu, aku tidak akan membuatmu berpaling pada orang lain," Grim tersenyum sambil membelai surai merah muda Cessa, "Karena yang memiliki hatiku kini hanya satu orang dengan nama seperti seorang putri."



***


__ADS_1


Cessa lebih memilih untuk duduk diam di dekat balkon, menghabiskan waktunya menunggu Grim selesai mandi dengan membaca buku sambil mendengarkan music. Hobi yang jarang ia tekuni ketika ia menjadi workaholic dan tidak punya kesempatan untuk bersantai.



Jemarinya baru membuka lembar buku berikutnya ketika dia melihat warna yang asing diantara hijaunya pepohonan di kota Surabaya. Ia mendongak dan melihat tidak jauh dari hotel tempatnya menginap ini ada beberapa tempat yang dihiasi warna merah muda.



"... sakura?"



"Kurasa itu pemandangan unik yang dikatakan Miranda," Grim muncul dari dalam kamar dengan kemeja putih dan celana jins. Rambutnya agak basah karena baru saja keramas, "katanya di tempat ini ada beberapa lokasi yang memiliki pohon dengan bunga-bunga merah muda, mirip seperti pohon sakura."



"Benarkah?" mata Cessa menampilkan antusias yang tak bisa dibendung, "Bisakah kita ke sana?"



"Kau mau pergi melihat ke sana?"



Cessa mengangguk cepat, "Aku mau lihat!"



"Kau seperti anak kecil kalau seperti ini," Grim terkekeh, "Tunggu aku beberapa menit, dan kita akan pergi ke sana."



---



Mata Cessa menatap takjub hamparan pepohonan dengan bunga-bunga merah muda yang menyerupai bunga sakura tersebut. Warna dan bentuknya memang mirip seperti bunga sakura, mengingatkan Cessa pada kampung halamannya di Jepang. Sebuah kelopak bunga jatuh di pangkuannya.



Grim baru saja menyuruh sopir mobil mereka untuk menunggu agak jauh dari tempat mereka turun dan melihat istrinya yang sibuk melahap pemandangan di depan matanya.



"Ini bunga apa?" tanya Cessa ketika merasakan Grim mendekatinya.



"Miranda bilang, pohon-pohon ini adalah pohon Tabebuya, berasal dari Brasil dan memiliki kemiripan seperti bunga sakura," kata Grim, "Dan seperti yang kau lihat, bahkan di negara tropis seperti ini kita merasa seperti berada di negara dua musim, 'kan?"




Cessa kembali menatap hamparan warna merah muda di hadapannya dan mengangguk pelan. Raut wajahnya berubah mendung ketika dia mengingat salah satu kenangannya selama di Jepang.



"Kenapa wajahmu murung, Princess?" tanya Grim yang melihat Cessa hanya diam saja.



"Aku teringat kenanganku di Jepang," kata wanita itu, "Saat aku masih kecil, Okaasan pernah mengajakku pergi hanami, berdua saja, dan beliau pernah mengatakan sesuatu padaku."



"Apa itu?"



"Carilah kebahagiaanmu sendiri. Walau kau bukan yang terbaik, tetapi apa yang kau lakukan hingga mencapai batas akan menuai hasilnya," ujar Cessa, "Kata-kata beliau masih kuingat sampai sekarang. Dan juga ... permintaan maaf ketika beliau bunuh diri."



Cessa memejamkan mata, mengingat dengan jelas bagaimana wajah ibunya, Naomi Lahemian yang awalnya begitu hidup tiba-tiba menjadi tanpa emosi dan sering memandang kosong. Ia bahkan ingat dengan jelas kata-kata yang diucapkan beliau sesaat sebelum menenggak racun di tangannya.



'Kau bukan anakku. Walaupun kau mirip dengan putriku, kau tetap bukan anakku ..., maaf karena sudah menyayangimu dengan kebahagiaan palsu.'



Merasakan remasan di pundaknya, kedua mata Cessa membuka dan langsung menatap tepat kearah Grim yang membuat kepalanya mendongak, "Tidak perlu dipikirkan. Yang sudah berlalu, biarkan saja berlalu. Kau bukan lagi seorang Lahemian, tapi seorang nyonya dari Grimvon Verleon."



"Apakah itu ancaman? Apa aku harus merasa senang untuk hal itu?"



"Kau harus. Kalau tidak, aku akan menghukummu dengan pita sutra dan borgol." Grim terkekeh melihat wajah Cessa yang memberengut, "Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan kejam seperti dulu. Lagipula kau bisa patah begitu saja bila aku terlalu kasar."



"Apa karena sekarang kondisiku seperti ini?" desis Cessa, "Kau dan pikiran mesummu itu benar-benar tidak bisa kutolerir sampai saat ini."



"Tapi karena itu kau tidak bisa jauh dariku, 'kan?" Grim mencubit hidung wanita mungil itu dengan gemas, "Jangan terlalu banyak protes. Sekarang kita nikmati saja bulan madu kali ini dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang berat."

__ADS_1



Cessa hendak memprotes lagi, tetapi melihat tatapan para pejalan kaki yang begitu kentara menatap kearah mereka membuat ia diam. Dia mencubit punggung tangan kanan Grim yang memegangi pundaknya, "Kita lihat saja nanti,"



Walau meringis kesakitan karena Cessa mencubit tangannya, Grim tetap tersenyum lebar dan mencium puncak kepala wanita mungil itu, agak lama sebelum ia kembali berbicara, "Kita lihat saja apa kau nanti masih bisa mendesahkan namaku di atas ranjang atau tidak."



Sekali lagi, Grim menerima cubitan dari jemari Cessa.



***



Berbulan madu seperti ini sebenarnya tidak pernah Cessa bayangkan. Sambil menyembuhkan kedua kakinya, Grim benar-benar melaksanakan ucapannya, membuat Cessa nyaris tidak bisa bergerak dari ranjang hanya untuk mengambil minuman atau membalas pesan Chris yang menanyakan kabarnya selama berbulan madu.



Selama mereka berdua di atas ranjang, Grim tidak pernah melepaskan Cessa barang sedetik pun. Pria itu seperti tidak mau kehilangan mainannya ketika Cessa bangun dan hendak melakukan sesuatu. Ada saja alasan yang diutarakan pria Verleon itu untuk terus menahannya di tempat tidur.



Tapi sialnya, Cessa menyukainya. Ia bahkan tidak bisa memungkiri kalau Grim benar-benar lebih liar dibandingkan dulu dan membuat tulang-tulangnya serasa dilolosi. Ketika menemaninya untuk mengobati kedua kakinya pun, Grim tidak pernah absen berada di dekatnya. Pria itu yang menguatkannya dan tidak mengeluh saat dia menggenggam tangan Grim erat-erat demi menahan rasa sakit saat pengobatan.



Namun, hasilnya sepadan. Hanya dalam tiga kali berobat di tempat Kakek Arga, kedua kaki Cessa sudah bisa berjalan dengan normal, bahkan dia bisa berlari walau masih harus pelan-pelan. Baik Cessa maupun Grim benar-benar senang dengan keadaan ini, setidaknya Cessa tidak perlu berada terlalu lama di kursi roda.



Sekarang mereka sedang berada di hotel tempat mereka menginap selama di kota Surabaya. Selama di kota ini, Miranda mengajak mereka ke berbagai tempat yang menjadi tempat wisata favorit di kota tersebut, termasuk ke Kebun Binatang Surabaya dan Jembatan Suramadu yang masih terkenal sampai sekarang.



"Princess,"



"Hm?" Cessa menoleh kearah Grim yang tahu-tahu memeluknya dari belakang.



"Apa aku dimaafkan?"



"Dimaafkan untuk apa?" tanya Cessa balik.



"Karena belum bisa menjagamu dengan benar. Aku bahkan baru tahu kau diculik waktu itu kalau saja aku tidak menelepon Chris," kata Grim, "Aku juga minta maaf karena menikahi Latiava. Tapi pernikahan kami ... itu terpaksa."



"Aku tidak mau tahu detailnya," kata Cessa, "Aku tidak mau ketenangan jiwaku terusik lagi karena satu hal itu."



"Berarti kau memaafkanku?"



Cessa menatap wajah Grim yang balas menatapnya, "Apa aku harus mengatakannya dengan jelas?"



"Kau tidak mengatakannya dengan jelas. Yang kau katakan padaku selama ini hanya namaku yang kau desahkan berkali-kali di atas ranjang."



"Aaargh ..., kenapa kau dan otak mesummu itu," Cessa memutar bola matanya dengan gemas, "Kau tahu kenapa aku masih tidak membunuh diriku sendiri sampai hari ini?"



"Jangan katakan kata terkutuk itu," desis Grim, "Aku tidak suka."



"Aku mengatakannya karena aku sudah jatuh terlalu dalam dengan perasaanku, Grimvon." Ujar Cessa, "Kau bilang kau mencintaiku. Apa itu masih bisa kupercaya?"



"Aku harus melakukan apa lagi agar kau percaya dengan hal satu itu?"



"Jangan sakiti aku lagi," kata Cessa, "Jangan buat aku merasakan sakit lagi untuk ke sekian kali."



Grim terdiam cukup lama mendengar ucapan wanita mungil itu. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Cessa, "Aku akan berusaha. Aku akan mengusahakan yang terbaik."



"Kalau begitu, itu sudah cukup. Aku memaafkanmu."

__ADS_1



__ADS_2