The Hope

The Hope
Chapter 03


__ADS_3

Grim menatap bangunan bertingkat tiga yang ada di depannya. Dari balik kaca mobil dia bisa melihat orang-orang berjalan keluar-masuk gedung dengan nama "Angel's Collection" tersebut. Matanya kemudian beralih pada pria pirang yang baru keluar dari mobil sedan putih di depannya. Grim ingat pria itu sebagai manager dari Princessa.



Matanya melihat manager Princessa memegang ponsel dan menelepon seseorang. Grim tidak mendengar apa yang diucapkan pria pirang itu, tetapi alisnya terangkat ketika dari dalam gedung, Princessa keluar dengan wajah ditekuk. Wanita itu berbicara dengan managernya sambil bersedekap, kemudian mengibaskan tangannya. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi ketika Princessa melihat tepat kearahnya, Grim tersenyum dengan sebelah bibir. Sepertinya wanita boneka itu terlalu peka dengan sekitarnya.



Grim penasaran apa yang akan dikatakan Princessa bila ia keluar dari mobil dan menunjukkan diri.



***



"Kau sedang melihat apa?"



Chris menatap ke arah mata Cessa memandang, tepat ke arah mobil berwarna hitam mengkilap yang terparkir di belakang sedannya.



"Tidak. Aku hanya merasa ada yang mengawasiku." Cessa kembali menatap Chris, "Kau yakin model yang kuminta menjadi bintang showku minggu depan tidak bisa hadir? Apa alasan yang dibuatnya?"



"Dia bilang dia sedang berlibur dengan kekasihnya dan tidak ingin diganggu."



Cessa memutar bola matanya jengkel dan mengumpat dalam bahasa kasar. Selalu begini, model utama yang ia minta menjadi bintang utama shownya pasti selalu bermasalah. Entah ini kutukan atau apa baginya, yang jelas jika satu model yang ia kontrak melanggar janji, ke depannya ia tidak akan lagi mau meminta bantuan dari sang model karena pasti mereka mengajukan seribu satu alasan untuk menghindar. Padahal Cessa bukan desainer yang angin-anginan kecuali kalau sedang sakit seperti sekarang. Cessa memijat pelipisnya. Kepalanya pusing memikirkan dia harus mencari model pengganti dalam waktu seminggu. Flu yang belum sembuh total juga membuat kepala Cessa lebih pusing dari biasanya.



"Kita harus secepatnya mencari pengganti." Kata Cessa, "Apa model-model yang lain punya jadwal kosong minggu depan saat show?"



Chris menggeleng dan lagi-lagi Cessa mengumpat. Wajah bonekanya jadi terlihat lucu kalau sedang marah begini. Tapi sayangnya Cessa sedang dalam mood yang tidak baik. Dan jika satu saja yang membuat mood wanita itu bertambah buruk, bisa-bisa semua pegawal dan anak magang yang bekerja padanya akan terkena perang dingin tak beralasan dari Cessa.



"Aku minta kontak beberapa model yang kira-kira bisa menjadi model utamaku." Cessa mendecak, "Jangan sampai aku yang harus mengisi bagian itu. Jangan sarankan aku untuk jadi model utama di showku sendiri, Chris."



"Hei, memangnya aku mengatakan hal seperti itu?" balas Chris mencibir, "Kenapa kau tidak mau jadi model dalam showmu sendiri? Bukankah itu bisa memperluas lingkup kerjamu selain menjadi desainer?"



Cessa mendelik pada Chris yang tertawa geli setelah mengucapkannya, "Aku lebih suka bekerja di balik layar. Kau tahu sendiri alasannya."



"Oke, lass. Aku menyerah. Kalau sudah disangkut-pautkan dengan alasanmu yang itu aku tidak bisa berbuat apa-apa." Chris mengedikkan bahu, "Aku akan mencarikan model untukmu, tapi jika benar-benar tidak ada lagi pilihan, kaulah yang harus melakukannya."



"Hanya jika tidak ada model lain aku akan melakukannya." Cessa tersenyum dengan sebelah bibir, "Tapi itu tidak pernah terjadi."



"Dan kuharap kali ini kau akan menjadi model untuk showmu sendiri." Balas Chris kemudian menepuk kening, "Aku lupa kau masih sakit. Seharusnya aku tidak mengajakmu berbicara di udara dingin seperti ini. Sebaiknya kau masuk ke dalam sebelum mati beku di depanku."



Cessa menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan managernya itu, "Kau berlebihan, Chris. Justru dengan berada di udara terbuka dan bergerak aku akan sembuh lebih cepat. Aku sudah pernah mengatakannya padamu."



Chris meringis. Tapi lagi-lagi dia melihat Cessa tampak fokus ke satu titik, ke arah mobil hitam yang ada di dekat mereka.



"Sebenarnya apa yang kau lihat, Princess? Apa mobil itu milik salah seorang anak magang?" tanya Chris.


__ADS_1


"Tidak tahu." Cessa mengedikkan bahu, "Kalau begitu, laksanakan tugasmu sekarang juga. Aku minta kau mengontak mereka semua kurang dari tiga hari ini."



Chris kembali mengeluh dan mengacak-acak rambut Cessa yang ditata dengan mode twintail, karena itu tidak heran beberapa pasang mata yang lewat di depan butik pusat milik Cessa ini memperhatikan wanita itu.



"Aku akan melaksanakannya sebaik mungkin. Tapi sebagai gantinya aku minta hadiah darimu."



Cessa memiringkan kepalanya, "Memangnya kau ingin minta hadiah apa? Rasanya gajimu tak pernah kukurangi, bahkan aku memberikanmu bonus yang tak sedikit."



Chris mendecak dan menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Cessa. "Bagaimana kalau one night stand denganku? Kita bisa sedikit bersenang-senang malam ini." Bisik Chris.



Cessa menaikkan sebelah alisnya dan menyentil kening Chris hingga pria itu mengaduh kesakitan. "Dalam mimpimu, Christophet Scott. Kalau kau memaksaku, akan kupastikan tanganmu patah atau minimal cedera sehingga tidak bisa mengemudi." balasnya.



"Itu akan membuat harga diriku jatuh. Ayolah, kali ini saja ...," Chris melihat mata Cessa menatapnya tajam, "Oke, oke. Aku akan segera mengontak model pengganti untukmu. Tapi, ingat jika tidak ada model lain, kau yang harus melakukannya."



"Berhenti mengulangi kata-kata yang sama. Lakukan saja tugasmu." ujar Cessa.



Chris terkekeh, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Cessa memperhatikan sampai sedan Chris tak terlihat lagi dalam pandangannya. Ia lalu beralih pada mobil hitam yang masih terparkir di dekatnya. Perasaannya mengatakan kalau pengendara mobil itu sudah memperhatikannya sejak tadi.



Dengan langkah pelan dia menghampiri kaca pengemudi mobil tersebut dan menatap kaca mobil yang tampak tebal dan gelap dari luar tersebut. Tepat ketika ia ingin mengetuk, kaca mobil tersebut turun secara perlahan dan menampilkan seseorang yang membuat kedua alisnya terangkat.



"Well, apa yang membuatmu berada di sini, Tuan Verleon?"




"Jika benar begitu, kenapa tidak langsung masuk saja? Pegawaiku tentu akan melayanimu dengan segera." Balas Cessa, "Atau kau malu untuk sekedar masuk ke dalam butik yang pengunjungnya sebagian besar adalah wanita?"



Grim memicingkan matanya. Ini perasaannya saja atau nada suara dalam pertanyaan Cessa terdengar seakan mengejeknya? Ia lalu keluar dari dalam mobil dan menyadari kalau tinggi Cessa hanya sampai dadanya. Walau dia sudah tahu berbagai hal mengenai gadis itu termasuk tinggi badannya, Grim tidak mengira Cessa terlampau mungil dari dugaannya selama ini.



"Apa kau sedang menyindirku, Nona Princessa? Asal kau tahu, aku bisa membeli seluruh isi butikmu dalam sekejap." balas Grim.



Cessa mengerjap mendengarnya lalu tertawa kecil, "Jika kau memang sanggup, sayang sekali harus kukatakan aku akan menolaknya." katanya sambil melihat reaksi terkejut dari Grim walau sekilas.



"Aku lebih senang jika para pelangganku tidak memperlakukan pakaian buatanku dengan sembarangan hanya karena mereka dapat membeli sebanyak apapun. Setiap pakaian yang terpajang di butikku kubuat dengan hasil pikiran dan rasa cinta. Aku akan sangat marah bila ada pelanggan seperti dirimu yang menganggap karyaku hanyalah sesuatu yang murah dan hanya sekali pakai."



Kali ini Grim yang mengerjap mendengar penuturan Cessa. Pria itu tertawa. Wanita ini benar-benar tak takut padanya. Menarik sekali.



"Aku minta maaf jika ucapanku tadi membuatmu tersinggung, tapi aku serius. Aku bisa membeli seluruh isi butikmu bila aku mau." Kata Grim, "Dan mungkin termasuk dirimu, Nona Princessa."



Cessa tersenyum dengan sebelah bibir. Verleon di hadapannya ini rupanya arogan dan juga sombong. Dari setiap kata yang dilontarkan pria itu, Cessa bahkan bisa menebak bahwa pria di hadapannya ini adalah tipe yang suka gonta-ganti wanita seperti berganti underwear. Jenis pria yang dibenci Cessa.



"Well, Tuan Verleon, aku tersanjung dengan ucapanmu. Tapi aku jamin aku tidak akan termakan rayuanmu. Rayuan seperti itu tak mempan padaku." Kata Cessa. "Aku tak tertarik padamu."

__ADS_1



Grim tersenyum lebar mendengar ucapan Cessa, "Benarkah? Bagaimana jika kau sebenarnya tertarik padaku tapi tidak mau mengakuinya?"



"Hanya dalam mimpimu, Tuan Verleon." Cessa menggunakan jawaban sama seperti yang dia ucapkan pada Chris, "Karena aku membenci tipe pria sepertimu. Sangat benci."



Grim kembali tertawa mendengar jawaban Cessa. Wanita mungil ini benar-benar di luar ekspektasinya.



"Kau yakin sekali dengan ucapanmu. Bagaimana kalau tarik lagi kata-katamu dan mencoba bersenang-senang denganku?"



Grim mengulurkan tangannya menyentuh pipi Cessa dan wanita itu berjengit kaget. Cessa mendorong Grim hingga pria itu menabrak mobil di belakangnya.



"Jangan coba-coba menyentuhku." desis Cessa, "Aku benci disentuh pria sepertimu!"



Kening Grim berkerut tak suka. Apa-apaan wanita ini? Apa Cessa berlagak sok jual mahal padanya? Jalang kecil, pikirnya. Padahal setiap wanita yang dia sentuh bahkan bercinta dengannya tidak pernah membalasnya seperti ini.



"Kau tak suka disentuh, hm? Lalu bagaimana dengan ini?"



Grim menarik tangan Cessa dan memojokkan wanita itu ke pintu mobilnya. Tidak hanya itu, Grim mencium bibir Cessa dan melumatnya. Cessa yang terkejut dan syok hanya membelalakkan matanya hingga dia merasakan lidah Grim mulai menjelajahi mulutnya, kedua tangan Cessa bergerak mendorong pria itu dan menamparnya dengan keras.



"Kau pikir apa yang kau lakukan, pria sialan!?" kata Cessa marah, "Sudah kubilang jangan menyentuhku, apa telingamu tuli?"



Grim tersenyum mengejek dan mengelus pipinya yang baru saja terkena tamparan. Lumayan sakit juga. Siapa sangka wanita mungil seperti Princessa bisa menampar dengan keras seperti ini? Bahkan Grim merasa sudut bibirnya berdarah. Ia menatap Cessa yang balas menatapnya dengan tatapan permusuhan dan mendengus.



"Kau berlagak jual mahal rupanya. Padahal kau sendiri menikmati ciumanku tadi."



Cessa menggeram menahan amarah. Pria ini benar-benar kurang ajar. Kedua tangan Cessa mengepal erat dan membuat telapak tangannya terasa sakit. Tapi dia tidak peduli.



"Tuan Verleon, sekali lagi kau berusaha menyentuhku maka aku akan mematahkan satu jari atau bahkan lenganmu." ujar Cessa, "Aku tak peduli kau lebih tinggi dan kuat dariku. Kau bersikap kurang ajar padaku, maka kau akan merasakan akibatnya."



"Memangnya wanita boneka sepertimu bisa apa?" balas Grim, "Bukankah lebih baik kau mengikutiku dan membiarkanku mencicipi tubuhmu? Itu terdengar lebih menyenangkan, bukan? Aku masih ingin merasakan bibirmu itu, bahkan lebih."



Mata Cessa membelalak. Dia tidak percaya jika pria itu menggoda sekaligus melecehkannya di satu ucapan yang sama. Berani sekali pria itu. Andai Cessa dalam kondisi normal, sudah tentu dia akan menghajar wajah Verleon di hadapannya ini tanpa ampun.



Grim melihat Cessa hanya diam dan tersenyum licik. Ia menundukkan wajahnya mengecup bibir wanita itu dan membuat Cessa kembali kaget. Hampir saja satu pukulan melayang ke wajahnya kalau saja Grim tidak menghentikannya sebelum terlambat.



"Kita akan lihat, Nona Princessa. Aku yakin kau akan tunduk padaku cepat atau lambat." tandas Grim, kemudian masuk kembali ke mobilnya dan pergi dari sana.



Cessa memandang benci pada mobil Grim yang mulai jauh dari pandangan. Mood yang tidak bagus dan juga pembicaraannya dengan pria itu membuat suasana hatinya makin memburuk. Bisa dipastikan para pegawainya akan terkena perang dingin tak beralasan dari Cessa setelah ini.



"Pria sialan. Suatu hari nanti aku akan menghajarnya, bahkan kalau perlu membunuhnya." geram Cessa sebelum berbalik kembali ke butiknya.

__ADS_1




__ADS_2