The Hope

The Hope
Chapter 26


__ADS_3

Pernikahan yang mereka jalani benar-benar mimpi yang indah bagi Cessa. Grim selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian. Hal-hal kecil pun selalu diperhatikan oleh pria itu. Kesampingkan dengan hobi bercintanya yang seolah tak pernah mati, selebihnya, Grim akan menjadi pria paling lembut dan penyayang yang pernah Cessa temui.



Chris yang awalnya pernah menentang hubungan bahkan pernikahan keduanya pun bisa bernafas lega melihat Cessa selalu tersenyum dan tak pernah kambuh traumanya. Itu hal yang bagus bagi pria itu dan juga kedua orangtuanya. Kebahagiaan Cessa adalah satu hal yang paling menggembirakan keluarga Scott.


Cessa juga berpikiran mungkin dia benar-benar sudah merasakan kebahagiaan paling indah dalam hidupnya bersama Grim. Dan dengan muluknya dia berharap bahwa kebahagiaan ini akan terus berlanjut.



Sayangnya, hari itu kebahagiaan yang ia rasakan selama setahun bersama Grim hancur karena satu hal.



***



Cessa baru saja melangkah masuk ke dalam mansion ketika dilihatnya kondisi tempat itu agak gelap karena beberapa lampu yang sudah dimatikan. Hanya satu atau dua pelayan yang terlihat mondar-mandir sambil membawa peralatan bersih-bersih. Ia sempat menyapa para pelayan tersebut sebelum menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamarnya dan Grim berada.



Tapi keningnya kemudian berkerut dalam melihat kamar itu juga kosong. Tidak ada tanda-tanda bahwa Grim sudah pulang atau setidaknya berada di kamar. Ruangan itu masih sama seperti yang terakhir kali Cessa lihat pagi tadi.



Ke mana perginya Grim? Apa dia belum pulang sampai selarut ini?



Ia meletakkan tas tangannya dan mengeluarkan ponsel hendak menelepon Grim ketika dia melihat pria itu baru saja datang dan memasuki kamar dengan raut wajah lelah.



“Grim,” Cessa tersenyum menyambut kedatangan pria itu, “Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang?”



Grim mendongak dan sedikit terkejut melihat Cessa, tapi kemudian dia berdeham dan menggeleng pelan, “Aku harus menyelesaikan beberapa berkas yang masuk hari ini dan jumlahnya cukup banyak. Apa kau menungguku?”



“Tidak, aku tidak menunggumu,” kata Cessa sambil mendengus geli, “Tentu saja sebagai istrimu aku menunggumu, Grim. Aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan air mandi untukmu, dan setelahnya kau bisa istirahat. Apa kau sudah makan?”



Grim hanya mengangguk tanpa membalas pertanyaan Cessa dan menuju kamar mandi. Cessa melihat sikap Grim yang tak biasanya seperti ini merasa aneh. Tumben sekali pria itu tidak menggodanya hari ini. entah Cessa harus menganggapnya sesuatu yang baik atau buruk. Namun dia tidak ingin mempermasalahkan hal itu sekarang. Saat ini dia hanya perlu menjadi istri yang baik untuk Grim, suaminya.



Setelah mandi, Grim langsung berbaring di sisi lain tempat tidur dan tidak memperhatikan tatapan bingung dari Cessa. Tidak biasanya pria itu langsung berbaring di tempat tidur tanpa menggodanya lebih dulu.



“Grim,”



“Hm?”



“Kau tidak seperti biasanya hari ini,” kata Cessa, “Apa ada masalah di perusahaan?”



“Tidak ada,” jawab Grim tanpa menoleh, “Aku lelah, Princess. Selamat tidur.”



“Selamat tidur.” ujar Cessa. Matanya tetap menatap punggung Grim di depannya.



Grim benar-benar bersikap aneh. Ada apa sebenarnya dengan pria itu?



***



Cessa mengerjakan gaun pengantin putih di hadapannya dengan kening berkerut. Tangannya sudah siap menambahkan potongan kain berikutnya, tetapi entah kenapa tubuh dan otaknya tak mau bekerja sama. Sedari pagi dia tidak bertemu dengan Grim. Pria itu sudah menghilang saat dia bangun pagi ini, ketika bertanya pada para pelayan, mereka bilang Grim berangkat pagi-pagi dan melewatkan sarapan.



Kenapa rasanya ada yang aneh dengan sikapnya? Batin Cessa bertanya-tanya. Sejak kemarin malam dia memang memperhatikan sikap suaminya itu berbeda walau tak terlalu terlihat. Buktinya Grim tidak mengajaknya bercinta semalam dan itu menambah daftar kecurigaannya.



“Mungkin sebaiknya aku bertanya padanya saat pulang,” gumam wanita itu, “Saat ini aku harus berkonsentrasi. Aku tidak boleh merusak gaun pengantin ini.”



“Dan kau memang harus melakukannya kalau tidak aku akan pusing memikirkan alasan apa yang harus kuberikan pada klien yang memesan gaun itu.” suara itu membuat Cessa mendongak dan mata bulatnya mengerjap melihat Chris sudah berdiri di sampingnya.


__ADS_1


“Astaga, kapan kau datang, Chris?”



“Sekitar lima belas menit yang lalu dan selama itu juga aku melihatmu melamun dengan kening berkerut seperti mau menghadapi perang dunia,” kekeh Chris, “Kau punya masalah dengan Grim, Lass?”



“Tidak, aku hanya heran saja dengan sikap Grim kemarin malam,” jawab Cessa setengah merenung, “Biasanya tiap malam dia menggoda dan mengajak bercinta, tapi kemarin malam dia tidak melakukannya. Dan juga pagi tadi dia pergi entah ke mana sebelum aku bangun.”



“Hmmm,” Chris manggut-manggut, “Berpikir positif saja, mungkin dia harus kerja lembur dan hari ini dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya.”



“Tapi, dia tipe orang yang tak pernah mau meninggalkan pekerjaan sebelum selesai.” kata Cessa lagi, “Kurasa tidak mungkin alasan dia berangkat pagi-pagi buta hanya karena menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.”



“Kita hanya bisa berpikir positif, Sayang. Jangan sampai otakmu dipenuhi dugaan negatif, atau kau akan merasakan kesakitan lagi karena traumamu kambuh,” ujar Chris, “Kalau kau penasaran dengan apa yang dia lakukan, kenapa kau tak menanyakannya secara langsung?”



“Aku memang berniat melakukannya,” wanita itu mengangguk, “Tapi entah kenapa aku merasa bila aku melakukan itu aku akan mendapatkan jawaban yang tidak kuinginkan.”



Kali ini Chris termenung mendengar ucapan Cessa. Biasanya insting wanita di hadapannya ini tak pernah salah, bila ada sesuatu yang aneh, dia akan cepat merasakannya dan ketika mencari tahu penyebabnya, ia bisa seperti boneka kosong karena apa yang ia cari tahu sesuai dengan dugaannya. Jika benar Cessa merasakan Grim berubah dan apa yang dipikirkan wanita itu menjadi kenyataan ….



“Cessa, percaya padaku. Grim pasti hanya seperti itu selama dua atau tiga hari,” kata Chris lagi, “Jika sesuatu terjadi padamu dan itu karena Grim, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarnya. Jangan sampai aku melihatmu meneteskan airmata bahkan sampai menangis karena ulahnya.”



Cessa menatap Chris lekat-lekat sebelum mengangguk, “Aku tahu, Kak. Kau tak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya.” ujarnya sambil tersenyum kecil.



“Bagus. Kalau begitu, kita selesaikan gaun ini dan setelahnya kita pesan pizza atau sesuatu yang bisa kita makan di sini sambil mengobrol.” Chris menepuk kepala Cessa, “Kau tak perlu khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja.”



Dalam hati, Cessa berharap demikian.



***




“Kau sudah pulang, Princess,” Grim tersenyum, “Aku merindukanmu. Kemarilah.”



Cessa memiringkan kepalanya tidak mengerti. Aneh. Dia benar-benar merasakan sesuatu yang aneh dari Grim terutama sikapnya. Kemarin dia tampak tak peduli pada Cessa dan lebih memilih untuk tidur lebih dulu, tapi sekarang … kenapa pria itu malah bersikap seolah-olah kemarin malam dia mengacuhkan Cessa?



Cessa masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri dan Grim mengerutkan kening. Raut wajah wanita itu tampak bingung dan sepertinya juga curiga padanya. “Kau kenapa?”



Wanita itu menggeleng pelan, “Tidak ada. Aku hanya merasa kau cukup aneh dua hari ini.” katanya jujur, “Apa ada masalah di perusahaan, Grim? Kau bisa menceritakan masalahmu padaku.”



“Tidak ada, kau tidak perlu khawatir,” balas Grim, “Yang lebih terpenting sekarang aku ingin memasukimu, Princess.”



“Eh? Eh?”



Cessa belum sempat bereaksi ketika Grim menarik tubuhnya dan mulai mencium bibirnya dengan ganas. Wanita itu kelabakan, Grim tidak pernah seperti ini sebelumnya.



“Grim, tunggu sebentar …, ahh ….” ia mendesis, sentuhan Grim selalu membuatnya merasa seperti jeli dan tidak bisa berbuat apa-apa, “Grim, kau kenapa?”



“Tidak apa-apa, Princess, bagaimana kalau kita melakukan ini sampai pagi?” bisik pria itu dengan nada menggoda.



Grim kembali menjamah tubuhnya, tapi kali ini Cessa bisa menahan dirinya. Tangannya menggenggam tangan Grim yang hendak membuka blus yang ia kenakan sementara matanya menatap lekat-lekat pria di depannya, “Ada apa denganmu, Grim? Kau benar-benar berbeda kali ini!”



Namun, bibir Cessa langsung terkatup rapat ketika melihat raut wajah Grim yang menggelap. Detik berikutnya, ia merasakan rasa sakit di wajahnya dan menyadari pipinya terasa panas. Mata Cessa menatap Grim yang tampak menahan marah dan sebentar lagi siap meledak.


__ADS_1


“Kau … menamparku?” tanya wanita itu tak percaya.



Pria itu hanya diam, kemudian tanpa mengatakan apa-apa ia beranjak pergi dan membanting pintu di belakang punggungnya, meninggalkan Cessa sendirian, masih tidak mengerti apa yang terjadi dengan Grim kali ini.



***



Keesokan paginya Cessa tidak melihat Grim kembali ke kamar. Ketika bertanya pada pelayan pun mereka mengatakan kalau pria itu pergi sejak kemarin malam dan belum kembali. Mendengar jawaban seperti itu Cessa hanya bisa menghela nafas. Diam-diam dia mengelus pipinya yang kemarin ditampar oleh Grim. Rasa panas dan sakitnya masih terasa.



Mungkin Grim hanya sedang kelelahan dan sedang banyak pikiran, kata Cessa dalam hati mencoba berpikir positif, Dia mungkin sedang menenggelamkan diri dalam pekerjaan.



Cessa memasukkan ponselnya yang baru selesai di-charge dan memeriksa apa Grim menghubunginya. Melihat tidak ada notifikasi apa pun dari pria itu, ia memasukkan benda persegi itu ke dalam tasnya dan berangkat ke butik.



Begitu sampai di butik, Cessa tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk memikirkan sikap Grim kemarin. Cessa lebih memilih menyibukkan diri, mengerjakan gaun-gaun pengantin dan juga membuat aksesori seperti yang selalu dia lakukan untuk mengalihkan pikirannya.



Saking seriusnya bekerja, lagi-lagi wanita itu tidak menyadari kalau Chris masuk ke dalam ruang kerjanya. Pria berambut pirang itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketekunan Cessa yang menurutnya kali ini terlalu berlebihan.



“Cessa, apa kau berencana bermalam di sini?”



Mata wanita itu mengerjap. Dia menoleh dan melihat Chris berdiri di sampingnya, “Kapan kau datang?”



“Rasanya aku selalu mendengar pertanyaan yang sama setiap kali aku menemuimu. Apa tidak ada pertanyaan lain?” tanya Chris balik.



“Tidak,” Cessa tersenyum kecil, “Duduklah. Apa ada yang ingin kau laporkan padaku?”



“Aku hanya berpikir apa kau tidak pernah beristirahat? Kau tahu sekarang jam berapa?”



Kening Cessa berkerut, dia menoleh kearah jam di dinding, “Aku tak sadar kalau sekarang nyaris menjelang malam.” Gumamnya, “Tapi sepertinya aku memang perlu bermalam di sini malam ini, Chris.”



“Hm? Kenapa? Apa kau bertengkar dengan suamimu?”



“Tidak, aku tidak bertengkar dengannya,”  wanita itu menggeleng, “Aku hanya … hanya ingin menyendiri. Kau tak perlu menungguku di sini, Chris.”



“Siapa bilang aku ingin menunggumu?” balas pria itu, “Aku hanya penasaran karena kau belum pulang padahal hari sudah menjelang malam begini. Biasanya kalau kau berada di sini lebih dari jam pulang, kau pasti sedang memikirkan sesuatu atau sedang stres.”



Cessa langsung terdiam mendengarnya. Dia lupa kalau dia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Chris. Pria itu mengetahuinya luar dalam. Tidak ada yang luput dari penglihatannya. Namun kali ini, Cessa benar-benar ingin sendiri. Firasatnya mengatakan dia harus melakukan ini.



“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang stress?” tanya Cessa.



“Tidak juga. Tapi, siapa tahu kau berbohong, ‘kan?” balas Chris, “Katakan, Cessa, apa kau sedang dalam masalah?”



“Tidak,” Cessa menjawab cepat, “Aku tidak sedang berada dalam masalah. Aku hanya ingin mengerjakan gaun-gaun ini secepatnya. Itu saja.”



“Kau yakin?” Chris menyipitkan matanya mendengar jawaban Cessa yang kelewat cepat.



“Sangat yakin. Kau bisa tenang, Chris. Aku tidak sedang dalam masa-masa di mana traumaku akan kambuh setiap saat.” Cessa tersenyum lebar, “Kalau kau lelah, kau bisa pulang. Aku akan tetap di sini sampai besok pagi.”



Chris tidak bisa berkata apa-apa. Tahu bila Cessa sudah memutuskan sesuatu dia tidak akan mengubah keputusannya bahkan jika dipaksa. Pria itu hanya menghela nafas pelan-pelan sebelum kemudian kembali berbicara, “Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku hanya akan berada di sini sampai aku mengantuk.”



Cessa hanya membalasnya dengan senyum tipis dan kembali mengerjakan gaun-gaun pesanannya.

__ADS_1




__ADS_2