The Hope

The Hope
Chapter 33


__ADS_3

Sejak malam Cessa menelan obat penggugur janin, Grim nyaris tidak pernah pulang. Bahkan Latiava yang masih sering menjadi 'ibu pengawas' Cessa juga heran dengan perubahan sikap pria itu. Latiava memang sering menemani Grim ke manapun pria itu pergi, meninggalkan Cessa sendirian di mansion atau bekerja sendirian. Seolah-olah Cessa adalah orang luar padahal dialah istri sah Grim yang sebenarnya.



Cessa sendiri juga tidak peduli. Sejak malam itu, ia sudah memutuskan untuk mencoba melupakan sakit hatinya karena harus menggugurkan kandungannya. Walau semua itu memang keputusannya sendiri, tapi tetap saja dia merasa bersalah, yang akhirnya ia tepis dengan bekerja lebih keras dibanding biasanya. Ia bahkan tidak memikirkan kalau Grim tidak mencintainya lagi atau tidak. Baginya pernyataan Grim mengenai Eve yang menjadi cinta pertamanya sudah menjelaskan segala hal.



Namun, tetap saja ada yang aneh. Walaupun Grim tidak pernah pulang lagi ke mansion, anehnya Latiava sekarang lebih sering berada di dekatnya. Biasanya wanita pirang itu selalu beralasan dia berada di sekitarnya karena suruhan Grim. Tapi kali ini sepertinya tidak.



Malam ini, Grim pulang. Pria itu tampak agak kacau tetapi masih terlihat focus. Cessa sempat melirik suaminya itu sebentar sebelum melanjutkan makan malamnya. Beruntung sekali Latiava tidak ada di mansion hari ini karena pergi Boston untuk menghadiri acara yang turut mengundangnya sebagai model utama.



"Kau makan dengan teratur. Itu bagus," kata Grim saat melihat wanita mungil itu makan cukup banyak.



Cessa hanya diam. Dia terus mengunyah makan malamnya tanpa berniat melirik kearah Grim sekalipun.



Pria itu duduk di sampingnya dan mengisyaratkan pelayan untuk menyiapkan makanan untuknya. Dua orang pelayan di belakang mereka segera melaksanakan perintah untuk melayani sang empunya rumah. Salah seorang pelayan menuangkan segelas wine kesukaan pria itu dan meletakkannya di hadapan Grim.



"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ujar Grim sambil menyesap wine-nya.



"Bisa kau lakukan besok? Aku lelah dan ingin beristirahat."



"Tidak. Aku ingin berbicara, setelah makan kita pergi ke kamar." Grim tidak mendengarkan penolakan Cessa, "Jangan membantahku, Princess. Kau tahu aku tidak suka bila kau membantah."



Kembali Cessa diam. Ia menghembuskan nafas kesal dan tetap melanjutkan makannya. Hampir dua puluh menit setelah menyantap makan malam, kini mereka duduk berhadapan di kamar yang selama ini Cessa tempati, kamar tamu. Wanita itu bersikeras dia tidak mau pergi ke kamar mereka dulu karena tidak ingin teringat Latiava dan Grim yang bercinta di sana.



Ah ..., lagi-lagi Cessa merasakan rasa sakit yang menusuk di dadanya.



Pria itu diam selama berjam-jam, begitu pula Cessa. Walau Grim tidak terlalu suka Cessa yang pendiam, tapi ia cukup paham, mungkin cerita yang akan ia ceritakan ini akan membuat wanita itu memarahinya, atau bahkan membunuhnya.



Yah ..., Grim juga tidak peduli. Dia ingin menceritakan segalanya malam ini.



Cessa duduk di sisi tempat tidur, sementara Grim duduk di kursi di seberang Cessa, menatap wajah wanita itu lekat-lekat sebelum mulai bicara, "Princess, kau tahu tentang kutukan di keluarga Verleon, 'kan?"



"Aku tahu. Lalu?"



"Ini semua ada hubungannya dengan kutukan tersebut, atau setidaknya hal yang pernah kami anggap kutukan," ujar Grim, "Kau tahu, setiap Daddy menikah dan melahirkan anak pertama, istrinya akan meninggal sesaat setelah melahirkan. Ibu Zerfist, aku, dan juga Spade, juga mengalami hal yang sama. Ibu kami meninggal tepat setelah melahirkan kami. Setelah usia kami cukup tua, Daddy memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita bermarga Valkyrie. Kau mungkin sudah bisa menebaknya."



Rosaline Valkyrie, kata Cessa dalam hati.



"Ibu baru kami memiliki seorang putri, Heavylia Valkyrie, yang tentunya kau tahu, adalah istri Trace. Dialah yang berhasil mematahkan kutukan yang terjadi dalam keluarga Verleon. Namun bukan itu inti cerita yang ingin kukatakan padamu.



"Kau mungkin tahu, atau mendengar desas-desus bahwa demi mematahkan kutukan itu kami harus menikahi seorang wanita dan mematahkan kutukan tersebut, dan wanita itu berasal dari keluarga Valkyrie. Ivy ditugaskan oleh ayah kandungnya untuk mematahkan kutukan Verleon, dengan menjadi pengantin salah satu dari kami bertiga. Daddy berniat mengenalkan Ivy pada kami sebagai calon istri salah satu diantara kami. Well, Ivy memang memenuhi kriteria itu, tetapi kami tidak memikirkannya. Kemudian rencana itu berubah, kami mengetahui bahwa suami Rosaline sebelumnya, Arnold, meninggal sehingga Daddy menikahinya."



Grim menatap wajah Cessa sebentar, kemudian melanjutkan, "Setelah beberapa bulan kami mengenal Ivy, aku, Zerfist dan Spade ... kami bertiga memperkosanya secara bergilir."



Cessa mengerjapkan mata. Apa ... apa kata Grim tadi?



Memperkosa ...?



Dengan adik tirinya sendiri?



"Kau bercanda," kata Cessa, "Kau bercanda, 'kan?"



"Tidak. Aku tidak bercanda," Grim menggeleng, "Setelah kami memperkosanya, kami berkali-kali memperkosa Eve hingga kami yakin Eve berganti tempat dengan Ivy. kami berpikir kalau Eve adalah wanita ... jalang. Namun ternyata kami salah besar, dan itu menjadi awal mula kami tidak bisa lepas dari bayang-bayang seseorang yang kau temui di makam waktu itu."



"T-tunggu dulu. Aku sama sekali tidak paham," Cessa mengangkat tangannya, "Kau bilang kau dan kedua saudaramu memperkosa Ivy secara bergilir, lalu tidak bisa lepas dari bayang-bayang seseorang di makam ..., lalu siapa Ivy yang sekarang menjadi istri Trace?"



"Ivy, yang menjadi istri Trace, adalah saudara kembar dari wanita yang kami cintai, Heavenia Valkyrie," kata Grim, "Wanita yang kucintai pertama kali adalah Heavenia Valkyrie, Eve. Dan dia adalah orang yang makamnya pernah kita kunjungi. Rosaline Valkyrie ternyata memiliki putri kembar. Heavenia dan Heavylia adalah putri kembar itu. mereka bertukar tempat untuk menyelidiki kutukan yang menimpa keluarga Verleon dan menyelesaikannya dengan kematian Eve yang diracun setelah melahirkan Lamia."


__ADS_1


Cessa mengerutkan kening. Terlalu banyak informasi. Dia terdiam selama beberapa saat untuk mencernanya. Kemudian saat dia benar-benar sadar, dia menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan marah dan terluka, "Kau bilang kau memperkosa Ivy, atau Eve, dan dia adalah adik tirimu sendiri? Kau gila!?"



"Well, memang kedengarannya gila, tapi itulah kenyataannya." Grim mengedikkan bahu, "Eve masih menjadi wanita yang paling kucintai bahkan sampai saat ini."



"Eve lebih lembut darimu. Dia juga tidak pernah berkata kasar, pendiam, manis, dan selalu membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya. Baik sifat, sikap, dan segala hal dari kalian berdua sangat berbanding terbalik, terutama soal fisik.



"Saat Eve meninggal, aku, termasuk Zerfist dan juga Spade tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Hampir setiap malam kami membayangkan kalau wanita itu masih hidup di antara kami. Kutukan yang ternyata adalah pembunuhan yang dilakukan oleh pesaing kami itu merenggut wanita yang kami cintai. Jika saja Eve tidak pernah bertukar tempat dengan Ivy, mungkin Eve masih hidup di antara kami."



Wanita mungil itu memejamkan matanya. Rasanya mendengar Grim menyebut nama Eve dengan nada lembut seperti itu membuatnya sakit hati.



"Karena itulah aku menceritakanmu ini agar kau tahu seperti apa posisimu, Princess." Grim kembali berbicara.



"Kau mengatakan secara tidak langsung bahwa aku adalah pengganti Eve," desis Cessa terluka, "Kau mengatakannya untuk membuatku sadar kalau aku tidak lebih dari seorang pengganti! Lalu untuk apa kau menikahiku? Kau membayangkan aku sebagai Eve, begitu!? Kau benar-benar bajingan!!"



Cessa merasakan air matanya ingin tumpah. Dia tidak habis pikir, kenapa Grim memberitahu hal ini kepadanya.



"Aku mungkin bajingan, Princess. Tapi aku bahkan menjadi lebih brengsek dari sebelumnya karenamu," ujar Grim, "Aku mencintaimu."



"Kau tidak mencintaiku," Cessa menggelengkan kepalanya frustasi, "Kau mencintai Eve, dia yang kau inginkan. Ah ..., pantas saja, Latiava pernah bilang kalau mataku mirip dengan cinta pertamamu. Dia Eve, 'kan?"



Grim terdiam melihat Cessa nyaris terisak. Wanita itu berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah.



"Dan kau bilang kalau kau dan kedua saudaramu itu memperkosanya berkali-kali? Apa kalian sudah tidak waras?"



"Ya. kami sudah tidak waras. Kami tergila-gila akan tubuhnya hingga saat Eve berubah menjadi Ivy, kami semakin jatuh dan jatuh dalam kegelapan cinta yang dibuat olehnya."



"Kalian gila! Kalian bertiga benar-benar gila!" kata Cessa, "Ivy adik kalian walau statusnya adalah adik tiri, tapi kalian ...."



"Princess, kubilang aku mengatakan ini untuk menyadarkanmu tentang posisimu," kata pria itu, "Yang kumaksud di sini adalah aku mulai bisa menerimamu, sebagai orang yang kucintai."




"Aku tidak berbohong,"



"Pembohong! Pembohong! PEMBOHONG!!"



Cessa berdiri dari sofa dan berlari menuju pintu. Tangannya hendak membuka pintu tersebut saat Grim menahan gerakan tersebut dan mengunci wanita itu dalam pelukannya.



"Lepaskan aku! Kau bajingan! Kau pembohong, Grimvon Verleon!!"



Cessa meronta keras, berusaha lepas dari dekapan Grim yang entah kenapa makin erat. Ia memukul, memaki, dan berteriak histeris agar Grim melepaaskannya, yang tidak didengarkan oleh pria itu. Merasakan kalau tenaganya melemah karena menangis dan saat sudah sampai batasnya, Cessa jatuh terduduk, menangis terisak sementara Grim terus memluknya.



"Princess," panggil Grim.



Cessa masih terus menangis. Dia bahkan tidak mau melihat kearah Grim ketika pria itu memanggilnya. Saat ini yang dia inginkan hanya pergi. Jauh dari Grim.



Jauh dari pria yang sudah ia percaya, tapi mematahkan kepercayaan itu dengan mudahnya.



Grim hanya diam walau masih terus memeluk Cessa. Tubuh wanita itu berguncang karena isak tangis dan jujur saja, membuat pria itu merasakan sakit di hatinya. Mendadak ia teringat percakapannya dengan Eve dulu.



"Grim," panggil Eve. Grim hanya menatap sendu wajah Eve.



"Apa kau mau berjanji kepadaku?"



"Apa itu?" Grim mengerutkan keningnya.



"Berbahagialah."

__ADS_1



"Hanya itu?"



"Hanya itu."



"Kau tahu bahagiaku adalah bersamamu." Ujar Grim lagi.



Eve menggeleng, "Tidak denganku."



Raut wajah Grim mulai mengeras mendengar jawaban tersebut, "Apa maksudmu?"



"Kau tidak mencintaiku." Tandas Eve, membuat Grim membeku dan seketika itu keheningan menyelimuti mereka berdua.



"Kau tidak mencintaiku," ulang Eve, "Karena itu, kau harus mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku yakin kau mampu."



"Jika aku tidak mampu dan ingin memilikimu, bagaimana?" Grim balik bertanya.



"Kau tidak akan bisa. Aku tidak ditakdirkan untuk bersamamu, begitu juga dengan Zerfist dan Spade."



Ingatan itu berkelebat begitu saja di dalam kepalanya. Melihat Cessa yang tampak menyedihkan seperti ini membuat Grim merasa menyedihkan juga. Tanpa melepas pelukannya, Grim menggendong wanita mungil itu dan memangkunya di sisi tempat tidur. Cessa masih menangis. Kedua tangan wanita itu memukul dadanya, walau tidak keras, tapi itu sudah cukup membuktikan bahwa Cessa masih tidak bisa menerima kenyataan yang dipaparkan olehnya.



"Eve bunuh diri karena kami,"



Cessa terdiam dengan perkataan Grim, walaupun airmatanya tetap mengalir deras di kedua pipinya.



"Ia merasa tidak dicintai karena kami selal menganggapya Ivy. Kami tidak pernah memanggil nama Heavenia yang sebenarnya. Aku tahu ia mencintai salah satu dari kami, tetapi karena kami selalu menganggapnya Ivy ... ia merasa hidupnya telah berakhir diikuti dengan misinay yang telah selesai. Rasa sakit yang Eve rasakan lebih buruk daripada milikmu, Princess. Eve menyadarkanku jika selama ini aku hanya terobsesi padanya, dan ia tahu jika aku akan mencintai orang lain. Dan kini aku percaya karena ... aku mencintaimu."



"Princess," panggil Grim lagi, "Tolong, hapus airmatamu."



"Kau membohongiku...," kata Cessa, "Kau pikir ..., kau pikir aku ini apa? Boneka yang tidak punya akal dan hati? Kau pikir aku ini ... orang yang bodoh!?"



Cessa memukul dada Grim lagi, kali ini lebih keras. Grim sempat mengernyit karena pukulan Cessa kali ini lebih bertenaga dari sebelumnya.



"Kau bajingan! Kau sadar kau sudah membuatku lebih menderita dari sebelum bertemu denganmu? Grimvon, kau ..., kau ...,"



Cessa meringis. Gemetar di tubuhnya makin menjadi ketika bayangan-bayangan masa lalunya kembali muncul. Traumanya kembali kambuh.



Grim menyadari perubahan sikap wanita mungil itu. Ia menangkup wajah Cessa, melihat warna pucat menghiasi wajahnya, "Princess, jangan lagi."



Suara Grim berhasil mengembalikan sedikit kesadaran Cessa, ia mendesis tidak suka dan menyentak kedua tangan Grim yang menangkup wajahnya dengan penuh amarah, "Kau juga menikahi Latiava ..., kau brengsek, Grimvon!"



"Aku mencintai kalian berdua, apa itu salah?"



Jawaban itu membuat Cessa makin merasa benci. Rasa benci, sakit hati, dan jijik bercampur menjadi satu di dalam hatinya.



"Dengar, Princess, walaupun Eve memiliki kelebihan yang tidak kau punyai, tapi kau memiliki yang tidak dimiliki oleh Eve yaitu kesabaranmu. Caramu menanggapi setiap ancamanku dengan berani, dan tidak pernah mencoba untuk menjauh padahal kau bisa saja melanggar peringatanku.



"Kau berbeda dari Eve, Princess. Sangat berbeda. Walau dulu aku selalu mengungkapkan cinta pada Eve sesering aku melakukannya padamu, tetapi kau jelas berbeda. Yang kurasakan pada Eve hanyalah obsesi karena itulah aku mudah mengatakan cinta padanya. Tapi kau membuat seorang Grimvon Verleon mencintai seorang wanita tanpa harus mengajukan syarat berarti."



"Kini aku bisa mengatakan cinta padamu seorang. Hanya denganmu, Princess. Aku jatuh cinta padamu."



Lagi-lagi Cessa terdiam. Ia benci pada kenyataan yang dipaparkan oleh Grim. Ia benci ketika harus dibandingkan dengan orang yang sudah mati. Ia juga membenci dirinya sendiri karena mau saja merelakan hatinya untuk seorang Grimvon Verleon.



Ya. Saat ini ia jelas-jelas menyadari kalau hatinya sudah jatuh terlalu dalam untuk mencintai Grimvon Verleon, pria bajingan yang membuatnya harus menahan rasa sakit yang dua kali lebih besar dari trauma yang disebabkan oleh masa lalunya.



Tapi, bila sesakit ini, apa dia masih harus bertahan?

__ADS_1




__ADS_2