The Hope

The Hope
Chapter 08


__ADS_3

Chris baru saja sampai di depan butik Cessa dan kemudian berjalan masuk ke dalam butik tersebut. Dia berpapasan dengan salah seorang pegawai yang sedang mengepak beberapa gaun dan pakaian ke dalam kotak putih. Ia menghampiri pegawai itu dan menanyakan di mana Cessa. "Sarah, di mana Cessa?"



"Nona Princessa ada di ruangannya yang biasa di lantai tiga." Kata Sarah, "Oh, tapi kurasa Nona sedang bersama Tuan Grimvon."



"Grimvon? Maksudmu ... Grimvon Verleon?" tanya Chris dengan kening berkerut.



"Ya. Beliau datang sebelum Nona Princessa datang pagi tadi, dan sejak itu mereka belum turun dari lantai tiga." Ujar Sarah, "Kurasa mereka berdua sedang bermesraan. Siapa tahu mereka mungkin sedang melakukan hal yang ... intim."



Chris diam mendengarnya. Dia tahu betul sifat Cessa yang anti laki-laki dan jarang mau menerima sentuhan dari lawan jenis. Dengan dirinya saja Chris harus mengusahakan berbagai cara agar Cessa mau disentuh. Tapi mendengar Cessa sedang berdua dengan Grim di ruangan pribadi wanita itu membuat kening Chris berkerut dalam.



"Aku tetap akan menemuinya. Terima kasih atas infonya, Sarah." Kata Chris, kemudian masuk ke dalam lift menuju lantai tiga.



Chris tidak menyia-nyiakan waktu. Saat lift sampai di lantai tiga, Chris berjalan cepat, nyaris berlari menuju pintu di ujung koridor di mana ruangan tempat Cessa biasa membuat gaun-gaun rancangannya berada. Ia membuka pintu yang terbuat dari kaca tebal itu dan membelalak melihat apa yang dilihatnya. Cessa terduduk di lantai sambil memeluk dirinya sendiri sementara Grimvon Verleon berdiri di hadapan Cessa dan menatap wanita itu dengan tatapan dingin.



"Cessa!" Chris menghampiri dan berlutut di sisi Cessa. Tangannya terulur hendak menyentuh Cessa ketika wanita itu menjerit dan menjauh dari jangkauan Chris.



"J-jangan menyentuhku! Jangan menyentuhku!"



Cessa mundur dengan wajah ketakutan menatap Chris dan Grim bergantian. Wajah wanita itu tampak pucat dan dipenuhi rasa horror yang membuat siapapun bingung ketika melihatnya, tapi tidak untuk Chris. Pria itu tahu apa yang menyebabkan Cessa seperti itu karenanya dia menoleh kearah Grim yang menatap dengan kepala sedikit dimiringkan.



"Apa yang kau lakukan padanya, Tuan Verleon?" desis Chris dengan nada berbahaya.



"Aku hanya menciumnya dan tiba-tiba saja dia jadi begini." Jawab Grim, "Dia kenapa? Apa dia benar-benar tidak mau disentuh oleh pria? Dia ini lesbian, ya?"



"Jika Anda sadar, Cessa tidak mau disentuh oleh pria. Bukan berarti dia seorang lesbian." Balas Chris, "Sebaiknya Anda pergi dari sini sebelum saya memanggil petugas keamanan."



"Hei, aku tidak bersalah. Aku hanya bertemu dengan Princess. Apa yang salah dari itu?" kata Grim tidak terima, "Kau sendiri juga laki-laki, 'kan? Apa kau tidak pernah tertarik menyentuhnya?"



Oke. Sepertinya Chris harus bersabar menghadapi seorang Grimvon Verleon. Chris tidak lagi menghiraukan Grim yang menatapnya dan beralih pada Cessa yang meringkuk ketakutan, "Cessa, ini aku Chris. Kau kenal aku, kan?"



Cessa menggeleng kuat-kuat. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri sementara bibirnya masih meracaukan hal yang sama seperti yang Grim dengar dari tadi. "Jangan perkosa aku, tolong ..., aku tidak bersalah ... aku tidak pernah ... tidak pernah melakukannya ...."



"Cessa," Chris menjangkau Cessa dan dihadiahi pukulan dari wanita itu, "Cessa, sadar! Ini aku Chris. Kau tidak lagi di rumah. Kau di New York."



Tetapi Cessa menggeleng kuat-kuat dan menepis tangan Chris berkali-kali. Airmata mulai mengalir dari kedua mata Cessa. Chris tidak punya pilihan lain, dia menarik paksa wanita itu ke dalam pelukannya dan menenangkan Cessa dengan mengelus punggungnya pelan-pelan.


__ADS_1


"Cessa, kau tidak lagi di rumah. Kau tidak bersama pria bajingan itu lagi." bisik Chris, "Tidak apa-apa, aku di sini. Aku yang menjagamu."



Cessa berontak berkali-kali dari pelukan Chris, namun sentuhan dan elusan di punggungnya sedikit demi sedikit membuat Cessa tenang. Hingga akhirnya perlawanan wanita itu terhenti. Kedua mata Cessa mengerjap beberapa kali sebelum menutup dan dia hilang kesadaran. Grim yang melihatnya hanya bisa terdiam. Cessa mau saja disentuh oleh managernya ini tapi kenapa dengannya dia seperti berhadapan dengan wabah penyakit? Apa yang salah dari dirinya?



Chris merasakan Cessa pingsan dalam pelukannya dan mengembuskan nafas. Digendongnya Cessa dan menyadari Grim masih berdiri di tempatnya, tak bergerak sedikitpun.



"Dia mau disentuh olehmu, tapi selalu menolak sentuhanku." Kata Grim mendengus, "Rupanya dia lebih memilih untuk disentuh managernya sendiri."



"Anda tidak tahu apa-apa tentang Cessa." kata Chris tak terima. Kedua matanya menatap tajam Grim, "Anda tidak tahu apa yang sudah dialami Cessa sampai dia menjadi seperti ini, jadi Anda tidak berhak menyimpulkan hal yang negatif padanya."



Grim mendecak mendengarnya, "Lalu apa namanya jika dia tak mau kusentuh? Jalang? Atau pelacur kecil?"



"Jaga mulut Anda, Tuan Verleon. Saya bisa saja menghajar Anda saat ini, tetapi saya berbaik hati untuk tidak melakukannya." kata Chris tajam, "Saya yakin Anda menyelidiki tentang Cessa sebelum bertemu dengannya waktu itu, kenapa Anda tidak mencoba mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada Cessa sebelum memutuskan pendapat yang salah tentang dirinya?"



Chris tidak membiarkan Grim menjawab lagi. Dia segera membawa Cessa pergi dari sana dan mengambil mantel dan tas wanita itu dari atas sofa beludru. Chris tidak mengalami kesusahan yang berarti selama menggendong Cessa dan keluar dari ruangan tersebut.



Grim sendiri mendecak tak senang dan juga berjalan keluar dari sana. Sepertinya dia perlu pelepasan atau minuman keras untuk menjernihkan pikirannya saat ini.



***




Dia berada di kamarnya, tetapi Cessa tidak ingat bagaimana ia bisa berada di sini padahal dia jelas-jelas ingat masih berada di butiknya. Dia masih berusaha mengingat ketika pintu kamarnya terbuka dan Chris masuk sambil membawa nampan berisi semangkup sup dan segelas air.



"Hei, kau sudah bangun." Chris meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja dan menghampiri Cessa, "Sudah merasa lebih baik? Apa kepalamu terasa sakit?"



Cessa hanya mengangguk. "Kenapa ... aku ada di apartemen?" tanyanya bingung, "Apa tadi aku pingsan?"



"Kau tidak ingat apa-apa sebelum kau pingsan?" tanya Chris balik, "Kau tadi bertemu dengan Grimvon Verleon. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi yang kutahu kau sudah meringkuk di lantai dan meracau karena traumamu kambuh."



Cessa mengerjap mendengarnya dan mengembuskan nafas lelah. Rupanya begitu. Pantas saja dia tidak ingat apa yang terjadi padanya sebelum ini. Ia lalu mengalihkan wajahnya ke arah lain. "Aku ... apa aku menyakitimu, Chris?"



"Tidak. Kau hanya memukulku sekali, tapi tenang saja. Aku sudah terbiasa dengan pukulanmu ketika traumamu kambuh." Balas Chris, "Kau baik-baik saja, kan?"



"Hm ...." Cessa bergumam, "Maaf karena aku memukulmu."



Chris tersenyum dan mengusap kepala Cessa dengan lembut. "Sekarang kau harus makan. Kutebak kau pasti tidak sempat makan siang karena terlalu focus bekerja tadi." katanya, "Aku membuatkanmu sup kentang dan daging. Ada es krim juga di kulkas kalau kau mau."

__ADS_1



"Kau bertindak seperti ibu-ibu." Kata Cessa terkekeh, "Terima kasih sudah memperhatikanku, Chris. Kau sendiri sudah makan?"



"Aku sudah makan duluan tadi. Sekarang kau yang harus makan dan setelahnya minum obat." Kata Chris. "Aku akan membeli bahan makanan. Kau belum sempat membelinya karena kemarin aku menghukummu."



Cessa merengut mengingat hukuman dari Chris. Dia lalu duduk dengan dibantu pria itu dan menatap nampan yang kini diletakkan di pangkuannya. "Kau benar-benar tahu cara memanjakanku rupanya. Ini bukan sup kentang dan daging biasa, kan?"



Chris tersenyum lebar mendengar ucapan Cessa dan bersyukur wanita itu mulai memakan supnya. Dia lalu pergi keluar dan membiarkan Cessa makan terlebih dulu sebelum kembali sambil mengenakan mantelnya.



"Aku pergi dulu. Jika sudah selesai, taruh saja nampan dan mangkuknya di atas meja. Aku akan mencucinya nanti." Ujar Chris, "Kau ingin dibelikan sesuatu?"



"Tidak perlu, Chris. Kurasa setelah ini aku akan tidur lagi saja." balas Cessa, "Ah ya, soal model utamaku bagaimana?"



"Kit akan membicarakannya besok. Kau istirahat saja hari ini." Chris menepuk kepala Cessa, "Aku pergi dulu."



Cessa mengangguk dan menatap Chris yang berjalan keluar dari kamarnya. Beberapa saat kemudian dia mendengar suara pintu depan dibuka dan ditutup, barulah Cessa menarik nafas dan mengembuskannya. Mata wanita itu mendadak kosong sementara tangannya yang memegang sendok memain-mainkannya. Pikirannya teringat apa yang dilakukan Grim di butiknya tadi dan itu membuatnya kembali menggigil.



"Tidak!" Cessa menggeleng, "Jangan mengingatnya lagi. Jangan memikirkannya lagi. Aku tidak berada di rumah terkutuk itu, dan dia tidak ada di sini."



Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya. Cessa melakukan itu berulang kali sampai dia merasa lebih tenang dan tubuhnya tidak lagi menggigil. Cessa merasa beruntung Chris ada untuknya, mengingat dia dan pria itu sudah berteman lebih dari sepuluh tahun, Chris tentu tahu apa yang terjadi dengannya sampai-sampai dia punya trauma yang mampu membuatnya pingsan setiap kali trauma itu menyerang. Chris juga tahu rahasia tergelapnya yang selama ini disembunyikan dari orang-orang.



Cessa menggelengkan kepalanya dan kembali menatap sup yang dimasakkan oleh Chris dan tersenyum. "Chris selalu bertindak sebagai kakakku. Kapan dia mau mencari jodohnya sendiri?" gumamnya tertawa kecil sebelum kembali memakan makanannya.



***



Sementara itu, Grim yang sedang duduk di ruang kerjanya di mansion Verleon melempar berkas-berkas berisi data diri Cessa dan dia mendecak kesal. Saat pertama kali dia menerima semua berkas itu, dia belum membacanya secara teliti, terutama berkas yang berisi informasi masa lalu wanita boneka itu.



"Sial!" Grim mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak habis pikir kenapa informasi sepenting ini bisa dilewatkannya begitu saja.



Dia lalu mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor. "Selidiki lebih lanjut mengenai Princessa Angelia." Kata Grim pada orang yang menerima teleponnya, "Dan pastikan semua berkas yang lebih lengkap ada di mejaku besok pagi!"



Grim memutus sambungan telepon dan kini matanya tertuju pada foto Cessa yang termasuk dalam berkas-berkas informasi tentang wanita itu.



Dia... aku tertarik padanya. Bukan sekedar tertarik, aku ingin memilikinya untuk diriku sendiri!



__ADS_1


__ADS_2