
Cessa baru saja turun dari mobil Grim dan melihat mobil pria itu menjauh dari butiknya ketika mobil Chris memasuki area parkir butik dan si pengemudi keluar dari dalam mobil dengan tergesa. Raut wajah Chris tampak begitu khawatir. Pria itu langsung menghampiri Cessa dan tanpa banyak bicara memperhatikan kondisi wanita itu lekat-lekat.
"Cessa, kau ke mana saja semalam?" tanya Chris. "Kau tidak ada di apartemenmu ketika aku datang ke sana."
"Ah, aku menginap di hotel. Suasana hatiku sedang buruk kemarin," jawab Cessa menggaruk-garuk kepalanya.
Mata Chris menyipit mendengar jawaban Cessa. Dia belum bisa percaya dengan jawaban wanita itu, "Benarkah? Apa Grimvon Verleon yang menyebabkan suasana hatimu buruk semalaman sampai-sampai kau tak pulang ke apartemen?"
Cessa mengedikkan bahu, "Begitulah. Berbicara dengan pria itu membuatku sakit kepala, dan akhirnya aku memilih menginap di hotel semalam," kata wanita itu berbohong.
Lebih baik dia berbohong pada Chris soal kejadian semalam daripada membuat pria itu menghajar Grim. Chris tidak akan senang jika tahu dirinya dan Grim melakukan hubungan 'itu' semalam. Cessa yakin, pria yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu akan melakukan tindakan yang biasa dilakukan oleh seorang kakak laki-laki pada kekasih adik perempuannya. Tetapi melihat raut wajah Chris masih menyiratkan ketidak-percayaan, Cessa mengibaskan tangannya. "Tidak apa, Chris. Setidaknya pria itu tidak menyakitiku. Dia hanya membuat mood-ku buruk."
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu." Chris menghela nafas, "Aku membawakanmu sarapan. Sebaiknya kita masuk ke dalam dan kau harus makan sarapanmu."
Cessa menurut. Saat ini dia lebih baik menuruti ucapan Chris. Berdua mereka masuk ke dalam butik dan langsung menuju lantai tiga. Cessa melepas mantelnya dan menaruhnya di atas sofa bersama dengan tasnya. Wanita itu tidak menyadari pandangan aneh dari Chris yang berdiri di belakangnya.
Ia membuatkan teh untuk teman sarapan dan duduk di sofa beludrunya. Chris sendiri duduk di seberang sofa dan mengeluarkan kotak makanan yang berisi telur gulung dan beberapa potong daging panggang berbau harum. Cessa mengambil sumpit dan mencomot satu telur gulung di dalam kotak dan memakannya.
"Kau benar-benar tahu cara membuatku menjadi lebih baik, Chris," kata wanita itu sambil tersenyum, "Bagaimana kau athu aku ingin makan telur gulung?"
Chris membalas senyum Cessa. "Aku juga membuatkanmu daging ayam panggang dan sayur rebus. Ibumu sering membuatkanmu makanan ini setiap pagi. Tentu saja aku mengingatnya sebagai salah satu cara membuatmu senang."
Cessa tersenyum lebar. Chris benar-benar tahu jenis makanan apa saja yang dia suka. Walau tinggal dan besar di benua Amerika, Cessa memiliki darah Asia Timur dari ibunya dan lebih sering mengkonsumsi makanan yang sama seperti tempat kelahiran sang ibu. Wanita itu jarang makan makanan orang Amerika yang terkesan terlalu berat bagi perutnya karena tidak terbiasa. Hanya sesekali dia mau makan makanan Amerika jika berada dalam suatu pesta. Selebihnya dia lebih suka makan sayur dan buah dalam jumlah yang cukup untuk sehari dan kadang dia juga makan daging jika memang ingin.
Cessa kembali mengambil satu telur gulung dan mendesah. Masakan Chris persis sama seperti masakan ibunya. Pria ini benar-benar memperhatikannya, bahkan rasa masakannya pun mirip dengan rasa masakan ibunya sendiri.
Tiba-tiba Cessa teringat perjanjian tak tertulis dari Grim. Dia berhenti makan sejenak dan menatap Chris yang sedang melahap makanan bagiannya.
"Chris."
"Hm?" Chris mendongak dan melihat Cessa sedang menatapnya, "Ada apa?"
"Menurutmu ..., apa traumaku bisa sembuh?" tanya wanita itu.
Chris mengerutkan kening. Tumben sekali Cessa menanyakan hal seperti itu. "Traumamu bisa sembuh, Lass. Kalau kau mendapatkan terapi yang tepat dan mau menjalaninya. Bukankah selama ini aku selalu menyarankanmu untuk mengikuti terapi dari psikiatermu, tapi kau malah kabur dan berdalih kalau pekerjaanmu banyak."
Cessa meringis mendengar nada teguran dari Chris dan memain-mainkan sumpit di tangannya, "Berarti kalau aku mengikuti terapi yang tepat, aku akan benar-benar sembuh?" tanyanya lagi, "Chris, apa ..., apa aku boleh berharap kalau aku mengikuti terapi, trauma yang kupunya akan hilang tanpa bekas?"
__ADS_1
"Kau boleh berharap, dan seharusnya kau memang melakukan hal itu." balas Chris, "Kesembuhanmu adalah yang terpenting, Cessa. Bahkan orangtuaku berharap kau sembuh dari trauma sialan itu dan menjalani hidup yang lebih tenang."
Cessa manggut-manggut. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Terima kasih atas saranmu, Chris. Sekarang aku merasa lebih baik." ujar wanita itu sambil tersenyum.
Chris membalas senyuman itu dan menggenggam sebelah tangan Cessa yang ada di atas meja, "Kapanpun, Sayang. Kau tahu aku selalu ada untukmu kalau kau butuh bantuan."
Cessa kembali tersenyum manis. Dia melanjutkan makannya dan lagi-lagi tidak menyadari kalau Chris sedang menatapnya lekat-lekat.
Setelah sarapan, Chris pergi untuk mengurus persiapan show besok. Cessa sendiri mulai mengerjakan gaun-gaun kliennya yang lain sambil menunggu Ivy datang ke butiknya. Wanita yang ditunggunya itu datang sekitar satu jam kemudian bersama sang ibu, Rosaline Valkyrie. Cessa menatap ibu Ivy dengan tatapan kagum. Walau sudah berusia paruh baya, wanita itu masih tampak cantik dan anggun.
"Hai, Cessa. Apa kau sudah menunggu lama?" sapa Ivy.
"Tidak. Kurasa baru lima belas menit aku menunggu," jawab Cessa, "Kita langsung saja. Gaunmu ada di sana. Mari ikuti aku."
Cessa membimbing dua wanita itu menuju salah satu manekin di mana sebuah gaun pengantin berwarna putih lembut tanpa lengan terpajang. Ivy menatap gaun itu dengan pandangan kagum. Cessa benar-benar desainer berbakat. Gaun yang ia minta dengan deskripsi simpel dan sederhana itu tampak elegan.
Gaun pengantin dengan model mermaid tail itu dihiasi sulaman benang berwarna emas dan butiran-butiran mutiara yang membentuk bunga mawar kecil di setiap ujung bawah gaunnya tampak sangat cantik. Ada hiasan pita berukuran sedang di belakang gaun tersebut, memberi kesan yang lebih manis lagi karena ujung pita itu mencapai dan menyapu lantai. Sebuah tudung pengantin tak ketinggalan, dengan hiasan berbentuk mahkota bunga mawar putih yang terbuat dari kain yang dibentuk sedemikian rupa. Ada untaian mutiara putih juga di sana. Siapa pun yang memakainya akan merasa seperti putri duyung yang baru saja keluar dari air dan siap menikahi sang pangeran.
Cessa berdiri di sebelah gaun itu dengan senyum simpul, "Bagaimana menurutmu? Aku berusaha mencocokkannya dengan deskripsi yang kau minta. Aku bisa menambahkan beberapa hal bila gaun ini kurang memuaskan," kata Cessa.
Ivy menggeleng, dia melirik kearah ibunya yang juga tampak terpesona dengan gaun pengantin tersebut, "Kurasa tidak ada yang perlu ditambahkan. Gaun ini benar-benar sempurna sesuai deskripsi yang kuinginkan," balas wanita itu.
Ivy mengangguk dan dibantu oleh wanita itu ia mencoba gaun pengantin tersebut. Rosaline sendiri menunggu dan begitu Ivy keluar dari ruang ganti, ia berdecak kagum melihat putrinya tampak semakin cantik dengan gaun tersebut.
"Kau cantik sekali, Ivy." Puji Rosaline, "Trace pasti akan berpikiran sama ketika melihatmu dengan gaun ini."
"Terima kasih, Mom. Sayang sekali Trace tidak bisa ikut karena harus mengurus beberapa hal di mansionnya ketimbang menemaniku mengepas gaun." Ivy memutar bola matanya sambil tersenyum. Ia lalu menoleh kearah Cessa yang berdiri di belakangnya. "Gaunnya benar-benar indah. Tak salah kalau Mom merekomendasikanmu, Cessa."
"Terima kasih, Ivy." Balas wanita itu, "Kalau begitu aku akan segera mengepaknya dan mengirimkannya ke mansionmu setelah ini."
"Ya. Aku tidak sabar memperlihatkan gaun ini pada Trace." Senyum Ivy terkembang.
Wanita itu kembali mengganti gaun tersebut dengan pakaiannya semula. Cessa menghidangkan teh dan cemilan setelahnya. Ivy kembali dari ruang ganti dan duduk di sofa bersama ibunya sementara Cessa duduk di seberang mereka.
"Kau benar-benar desainer berbakat, Cessa. Gaun itu sangat indah. Aku benar-benar menyukainya," kata Rosaline.
"Terima kasih, Nyonya. Saya hanya membuat gaun sesuai dengan deskripsi yang diberikan Ivy dan menambahkan sedikit aksesori agar gaun itu terlihat lebih baik," jawab Cessa.
__ADS_1
Rosaline tersenyum lembut dan meminum tehnya, "Oh, kudengar besok kau akan menggelar show untuk koleksi pakaian musim semimu?" tanya beliau.
Cessa mengangguk, "Persiapannya sudah selesai hari ini, dan besok tinggal pergi ke medan perang." Wanita itu tertawa, "Aku sudah mengirimkan undangan kepada beberapa rekan dan klienku, juga Anda dan Ivy. Kuharap kalian bisa datang ke show-ku besok."
"Tentu kami akan datang. Koleksi pakaianmu adalah yang paling dinanti di benua Amerika," balas Rosaline. "Ah, benar juga, apa kau juga mengundang Zerfist dan yang lainnya?"
"Kurasa sudah. Manager saya yang mengatur semuanya termasuk siapa saja yang akan diundang." Jawab Cessa.
Rosaline manggut-manggut. Sementara Ivy menatap Cessa dengan tatapan aneh, dan itu disadari oleh wanita itu, "Ada masalah, Ivy?"
"Tidak apa-apa." Ivy menggeleng, "Aku hanya merasa senang memikirkan bagaimana reaksi Trace melihat gaun itu."
Cessa hanya tersenyum. Ivy benar-benar beruntung bisa memiliki pendamping seperti Trace de Randolf. Bisa dilihat dari ucapan wanita itu kalau ia sangat mencintai sang calon suami. Diam-diam Cessa agak iri dengan kebahagiaan yang akan didapat Ivy. Kapan dia akan mendapatkan kebahagiaan seperti itu juga?
Mengobrol dengan ibu dan anak Valkyrie itu cukup menyenangkan. Cessa merasakan kehangatan dari Rosaline. Kehangatan seorang ibu yang terkadang dia rindukan. Ketika sudah waktunya mereka pulang, Cessa mengantar mereka sampai ke depan butik. Saat itulah Ivy berbalik dan menatapnya lekat-lekat.
"Kau tidak tertarik pada salah satu dari ketiga kakak tiriku, 'kan?" tanya wanita itu.
Cessa terdiam mendengar pertanyaan itu, "Aku tidak tahu apa aku tertarik pada salah satu dari mereka," jawab Cessa, "Aku hanya sekali bertemu mereka, dan tidak tahu seperti apa karakter mereka, jadi kurasa aku tidak tertarik untuk saat ini."
"Kau yakin?" Ivy bertanya lagi, "Kuberi kau satu saran, Cessa, jangan sampai kau terlibat dengan salah satu dari mereka bertiga. Aku tidak mau kau merasakan kepahitan hidup yang sama seperti Eve."
Cessa hanya diam. Ia tahu Ivy benar-benar serius dengan ucapannya. Karenanya Cessa tersenyum. Tapi siapa orang yang disebut Ivy dengan nama Eve?
"Tidak apa-apa, Ivy. Aku tidak berencana untuk terlibat lebih jauh dengan salah satu dari mereka apalagi ketiganya. Aku masih mencintai hidup lajangku yang tenang," ujar Cessa.
Ivy mengerjap mendengarnya kemudian tertawa kecil, "Baiklah. Kurasa aku tidak perlu khawatir, tetapi jika kau bermasalah dengan salah satu dari mereka, beritahu aku. Aku akan menghajar mereka."
"Tidak perlu, Ivy," Cessa tertawa kecil, "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan aku juga punya Chris. Managerku itu akan marah-marah dan mengamuk kalau melihatku sakit sedikit saja."
"Kalau begitu, aku tak khawatir lagi." Ivy tersenyum, "Sampai jumpa besok, Cessa. Kita akan bertemu lagi di show-mu. Semoga sukses."
Cessa mengangguk dan memperhatikan Ivy masuk ke dalam mobil bersama dengan Rosaline. Dilihatnya mobil yang membawa kedua wanita itu semakin menjauh. Ketika mobil itu sudah menghilang dari pandangannya, Cessa merenungkan ucapan Ivy barusan.
Apa dia yakin dia tidak akan pernah berurusan dengan salah satu dari tiga pangeran Verleon itu? Lalu bagaimana dengan Grim dan perjanjiannya? Sepertinya Cessa harus menyembunyikan hal itu dari beberapa orang termasuk Chris dan Ivy. Kedua orang itu menunjukkan kepedulian mereka padanya dan itu cukup membuatnya terharu.
Cessa hanya berharap dia tak menyesali keputusannya menerima perjanjian dari Grim dan merahasiakan hal tersebut dari beberapa orang seperti kedua orang yang yang mempedulikannya. Ya. Ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi dia masih penasaran. Siapa Eve yang dimaksud oleh Ivy. Bukankah dia sendiri yang bernama Heavenia Verleon?